Hari Orang Miskin Sedunia, 14 November 2021

“Berilah karena kamu telah menerima dengan berkelimpahan.” Kira kira begitulah kalimat yang saya pahami yang terdapat dalam salah satu naskah kitab suci.

Apa yang kita terima sebagai yang berkelimpahan ? Pertama-tama bukanlah materi/finansial. Tetapi rahmat, berkat, melalui sakramen. Terutama Sakramen Ekaristi. Kekayaan Injil Tuhan kita Yesus Kristus, Roh Kudus yang dianugerahkan sebagai penolong hidup kita.

Sakramen Ekaristi adalah sakramen belaskasih Allah yang merelakan dirinya mengalami sengsara, wafat, dimakamkan dan bangkit untuk kita. Sakramen Ekaristi lambang pemberian diri Kristus bagi kita umat-Nya.

Melalui sakramen-sakramen yang kita terima, kita dimampukan untuk bertumbuh. Berbuah. Menjadi manusia dewasa secara rohani. Mampu. Berusaha melalui talenta yang dianugerahkan Allah untuk  berkarya dalam dunia dengan profesi masing-masing.

Dengan berkarya dan berusaha membuahkan hasil untuk membantu setiap manusia memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dalam kisah tentang talenta, salah satu orang yang Tuan beri kepercayaan, justru menyimpan talenta yang dipercayakan kepadanya. Dan ketika Tuannya pulang, ia mengembalikan talentanya itu kepada Tuannya dan menuduh tuannya kejam. Inilah mewakili kaum miskin, yang bukan hanya tidak mampu mengembangkan talenta tapi malah menuduh tuannya kejam.

Orang miskin bukan hanya orang tak berkemampuan pertama-tama secara materi, tapi juga secara moral dan sosial. Mereka tidak mampu menolong dirinya sendiri.

Semua umat Kristiani yang telah diberi anugerah secara melimpah dipanggil untuk membantu, menolong saudara-saudari kita yang ada bersama dan diantara kita yakni orang-orang miskin. Mereka membutuhkan uluran tangan. Sapaan kasih.

Kita tidak dapat berdiam diri apalagi sekadar memberikan tuduhan bahwa mereka tidak mau berusaha. Keberadaan mereka menjadi bagi kita sebuah kesempatan /peluang untuk selalu mengingatkan kita bahwa Allah hadir di dunia yang merepresentasikan diri-Nya sebagai kaum papa dan miskin.

Kita diberi kesempatan untuk melayani-Nya dalam diri orang-orang miskin lemah dan tak berdaya. Seperti sabda Kristus, “Kamu harus memberi mereka makan.”

Bersamaan dengan peringatan hari orang miskin sedunia yang kita peringati pada tanggal 14 November 2021 ini, kiranya tepat kalau kita mengaitkannya dengan situasi dunia di mana pandemi Covid belumlah sepenuhnya hengkang dari dunia.

Kita sudah dingatkan bahwa pandemi covid bukan satu-satunya yang  melanda dunia dan umat manusia, tapi kita sudah akan dihadapkan pula pada satu persoalan besar bahwa  tahun 2050  dunia akan dilanda gawat darurat iklim (climat emergency). Suhu memanas. Udara tak lagi ramah dengan kehidupan manusia. Kekeringan akan terjadi di mana-mana.

Akan ada banyak orang berdiam diri di ruang ber AC. Tentu hal ini hanya berlaku bagi sebagian orang yang sangat beruntung. Air menjadi sesuatu yang berharga. Mahal sekali!  Siapa yang dapat membeli? Hanya orang yang hidup berkelimpahan, yang ia peroleh dari hasil bisnis besar yang barangkali justru berkait erat dengan terjadinya pemanasan global seperti pengerukan sumber daya alam, penebangan pohon  tanpa mengindahkan akibat yang di timbulkan hanya berpikir untuk keberlangsungan bisnis mengeruk untung sebesar-besarnya. Petani tak lagi bisa menggarap sepetak lahan karena kering-kerontang. Akibat dari pemanasan global ini lagi-lagi jumlah orang-orang miskin akan meningkat tajam.

Sampah! Ya sampah, kalau kita jujur siapa penghasil sampah rumah tangga terbesar adalah orang kota dengan puluhan ribu ton sampah setiap hari. Dikumpulkan. Diangkut. Yang mengerjakan adalah orang-orang yang kurang beruntung. Mereka berpacu dengan bau.

Sampah dari rumah tangga yang dikumpulkan menjadi tumpukan yang menggunung dibuang kemana? Jauh dari pemukiman penduduk cluster terpandang tapi dekat dengan rumah kumuh warga miskin. Merekalah pertama yang dikepung oleh bau menyengat. Dari tumpukan sampah terjadi proses kimia yang menghasilakan gas metana  salah satu sumber pemanasan global yang akan menghantui kehidupan seluruh umat manusia. Dan yang menjadi korban pertama adalah orang-orang miskin yang tidak punya pilihan bahkan untuk menolong diri mereka sendiri..

Saya menyerukan kepada kita semua tanpa membedakan suku, ras, agama, bangsa untuk bersama melakukan tindakan nyata saat ini. Sekarang kita tidak punya pilihan waktu.  Bersama-sama sebagai kelompok masyarakat, institusi, lembaga apa pun namanya kita harus mempelajari isu ini secara serius dan membuat langkah konkrit paling sederhana mengurangi beban tempat pembuangan sampah dengan seminim mungkin menggunakan bahan bahan sekali pakai, mengolah sampah organik yang ada di dapur rumah kita menjadi lebih bermanfaat seperti pembuatan Eco Enzyme yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.

Di atas semua tentu yang paling penting adalah bagaimana kita dapat mendorong dan mengawal kebijakan pemerintah dalam hal scenario penanggulangan untuk mengatasi krisis iklim, melalui kebijakan penanganan kebakaran hutan, deforestasi, restorasi hutan  mangrove, pemanfaatan  lahan-ruang hijau sebagai lahan-lahan pembangunan rumah mewah  yang merusak lingkungan demi kepentingan segelintir orang kaya yang dapat membeli fasilitas dan berkolusi dengan pemerintah.

Takut. Cemas. Gelisah. Tk memperbaiki keadaan apalagi bersikap acuh tak acuh adalah bentuk sikap tidak peduli yang sangat menyakiti semesta dan manusia yang terdampak langsung oleh krisis iklim ini yakni orang-orang miskin di sekitar anda dan bahkan dunia. Kita dipanggil untuk melakukan tindakan nyata sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan kita dengan segala kelimpahan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita masing-masing.

Selamat memperingati Hari orang Miskin Sedunia.

Sr. Vincen HK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *