SELAYANG PANDANG KEHADIRAN “CONGREGASI PASSIONIS”

DI KEUSKUPAN TANJUNG KARANG, KHUSUSNYA DI UNIT PASTORAL ST. GREGORIUS AGUNG BANDAR SAKTI (2001 – 2017)

 

Santo Paulus dari Salib

Apa itu “Congregasi Pasionis”.

Kongregasi Pasionis (Congregatio Passionist/ CP) didirikan oleh Santo Paulus dari Salib. Sebuah Kongregasi yang mengabdikan dirinya pada pewartaan Sengsara Tuhan. Para anggotanya disebut biarawan Pasionis, yakni sekelompok orang yang hidup bersama dalam komunitas, yang mau mengikuti Kristus Tersalib. Waktu disediakan untuk doa komunitas dan dimensi hidup kontemplatif. Spiritualitas Pasionis itu aktif-kontemplatif, yang dengan cara kreatif menyatukan kehidupan kontemplatif dan kehidupan pastoral aktif. Kontemplatif dengan merenungkan misteri Sengsara Tuhan dan aktif dalam pewartaan misteri itu. Dengan spiritualitas seperti itu, karya Kongregasi Pasionis berpusat pada pewartaan Sabda Salib. Hal itu dieksplisitkan dalam pelayanan bimbingan retret, bimbingan rohani, sakramen tobat, pewartaan spiritualitas sengsara Yesus, katekese umat dan bermisi di paroki-paroki (Misi Umat Pasionis/ MUP).

Santo Paulus dari Salib mengumpulkan rekan-rekannya untuk hidup bersama dan memaklumkan Injil Kristus kepada umat manusia. Dia menyelidiki dengan tajam kejahatan-kejahatan sezaman dan dengan tegas memaklumkan bahwa Sengsara Yesus, karya terbesar dan agung cinta kasih ilahi, adalah obatnya yang mujarab. Dengan kekuatan Salib, kebijaksanaan Allah itu, para Biarawan Pasionis berusaha mengalahkan penyebab penderitaan manusia. Maka perutusan mereka diarahkan kepada pewartaan melalui pelayanan Sabda Salib agar semua orang dapat mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Dengan mengambil bagian pada Penderitaan Kristus setiap orang dapat menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya supaya memperoleh kemuliaan-Nya. Para Biarawan Pasionis, Imam maupun Bruder, mengambil bagian pada kerasulan itu menurut bakat, kemampuan dan tugas masing-masing.

Congregasi Passionis di Indonesia.

Biarawan Pasionis berkarya di Indonesia sejak tahun 1946. Yang pertama datang adalah para misoinaris pasionis asal Belanda. Tahun 1961 Biarawan Pasionis Belanda mulai didampingi oleh Biarawan Pasionis Italia. Mereka mulai melakukan tugas pewartaan dan pelayanan di Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Sanggau. Sekarang telah terbentuk dua Gereja Lokal, yaitu Keuskupan Ketapang (1961) dan Keuskupan Sanggau (1982). Sejak permulaan, Biarawan Pasionis yang datang ke Indonesia sebanyak 56 orang, yaitu 29 dari Belanda, 27 dari Italia, dan kini tersisa  2 orang. Namun benih yang telah mereka taburkan sudah berbuah, dimana saat ini jumlah Biarawan Pasionis Indonesia dari tahun ke tahun terus bertambah. Atas perkembangan yang positif ini, baik dari jumlah anggota maupun karya pastoral yang aktual di tengah umat, pada tgl. 21 Januari 2007 kehadiran Pasionis di Indonesia dinyatakan secara resmi menjadi “Provinsi” yang ke-25 dalam Congregasi Passionis di tingkat dunia. Saat ini, Congregasi Pasionis hadir juga di Keuskupan Malang, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sintang, Keuskupan Palangkaraya, Keuskupan Maumere, Keuskupan Tanjung Karang, Keuskupan Bogor, Keuskupan Agung Ende dan Keuskupan Larantuka.

Congregasi Pasionis (CP) di Lampung.

Congregasi Passionis (CP) resmi hadir dan ambil bagian dalam karya pastoral Gereja di Keuskupan Tanjung Karang- Lampung sejak tanggal 11 Januari 2001. Dengan melewati masa orientasi di Katedral, di Pajarmataram dan di Bandar Jaya yang bertujuan untuk mengenal medan, situasi sosial, situasi geografis, dan secara khusus komitmen pastoral di Keuskupan ini. Kini Congregasi Passionis sudah 17 tahun turut berkarya di Keuskupan Tanjung Karang- Lampung, tepatnya di Paroki/ Unit Pastoral “St. Gregorius Agung” Bandar Sakti- Lampung Tengah. Sekarang ada 2 (dua) Imam Pasionis yang berkarya di Paroki/ Unit Pastoral Bandar Sakti, yakni RP. Rafael Gabhe, CP dan RP. Gaspar Lewan Lengary, CP.

Pada awal sebelum definitif menjadi Unit Pastoral, wilayah ini masuk dalam wilayah pelayanan Paroki Santa Lidwina Bandar Jaya. Sejak tahun 1999 karena jarak yg cukup jauh dari pusat Paroki dan banyaknya pula Stasi di Paroki Bandar Jaya, maka beberapa stasi di wilayah ini digabung menjadi satu, yang disebut “Rayon Utara” yang terdiri dari: Stasi Umas Jaya, Stasi Bandar Sakti, Stasi Bandar Agung, Stasi Gunung Madu Plantations (GMP), Stasi Multi Agro, Stasi Astra Ksetra, Stasi Gula Putih Mataram (GPM), dan Kring Trans Indotani. Pada saat itu dilayani oleh para Pastor dari Congregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ) dan imam Projo (PR).

Seiring dengan perkembangan dan berjalannya waktu serta kebutuhan pelayanan pastoral terhadap umat yang terus meningkat, maka Keuskupan Tanjung Karang (Bapa Uskup) mengeluarkan kebijakan bahwa wilayah Rayon Utara (bagian dari Paroki Bandar Jaya) ini menjadi Kuasi Paroki atau yang lebih dikenal dengan nama Unit Pastoral yang berpusat di Stasi Bandar Sakti (tahun 2001). Dan pada tanggal 03 September 2001 wilayah-wilayah yang ada di Rayon Utara ditingkatkan statusnya menjadi “Unit Pastoral” yang berpusat di Bandar Sakti. Unit Pastoral Bandar Sakti (U.P.B.S) ini diresmikan langsung dan diberkati oleh Bapak Uskup Andreas Henrisoesanta, SCJ, tanggal 3 September 2001 dengan pelindung Santo Gregorius Agung. Dan pada saat peningkatan status menjadi “Unit Pastoral”, Bapa Uskup menetapkan dan menugaskan sebagai Pastor di Unit Pastoral ini adalah Pastor dari Congregasi Pasionis (CP) yaitu Pastor Marius Lami, CP (3 September 2001).

Beberapa waktu kemudian tepatnya Bulan November Tahun 2002, Unit Pastoral ini mendapat tambahan Pastor dari Congregasi Pasionis (CP), yaitu Pastor Paulus Menge, CP. Pada tahun 2004 Kongregasi Pasionis menambahkan satu tenaga imam untuk pelayanan di Unit Pastoral ini, yaitu Pastor F.A. Susilo Nugroho, CP, sekalian menyiapkan diri untuk menggantikan peran pelayanan Pastor Marius Lami, CP yang akan menjalani tugas sebagai misionaris di wilayah Amerika Selatan (Argentina). Seiring berjalannya waktu saat itu sempat ditempatkan pula beberapa frater CP yang menjalani TOP di wilayah U.P. Bandar Sakti, antara lain Frater Diakon Hernowo Basuki, CPdan Frater Diakon Damasus Jehaut, CP serta ditahun berikutnya Frater Iswanto, PR sebagai calon imam Keuskupan Tanjung Karang-Lampung. Patut kita syukuri bahwa semua calon imam yang menjalani masa TOP (Tahun Orientasi Pastoral) di wilayah U.P. Bandar Sakti ini memiliki keseriusan untuk menjadi imam bagi Tuhan dan Gereja-Nya, dimana mereka semua telah menerima rahmat Tahbisan Imamat dan sedang berkarya sebagai imam hingga saat ini.

Pada tahun 2004 (Bulan Januari), Keuskupan Tanjung Karang kembali mengeluarkan kebijakan atas dasar pertimbangan letak geografis pelayanan dan pertimbangan beberapa Stasi yang berada di dalam Perusahaan GULAKU, maka beberapa wilayah yang tadinya masuk dalam wilayah pelayanan Paroki Murni Jaya (Tulang Bawang Barat) diserahkan pelayanannya kepada Unit Pastoral Bandar Sakti (U.P.B.S) sebanyak 2 Stasi dan 3 tempat pelayanan khusus yang disetarakan dengan Stasi/ lingkungan yaitu: Stasi Sweet Indo Lampung (SIL), Stasi Indo Lampung Perkasa (ILP), KM. 43, Stasi Sidorejo, Stasi Tanjung Sari, dan Kring ILP KM. 66. Dengan demikian jumlah tempat pelayanan menjadi bertambah dan medan jalan pun semakin menantang mental dan tenaga serta komitmen pelayanan seorang imam.

Pertumbuhan dan Kondisi Umat.

Sesuai dengan pendataan (sensus) umat di Unit Pastoral Bandar Sakti sampai dengan tahun 2016 jumlahnya adalah 1.480 jiwa. Jumlah ini pasti akan berubah seiring  dengan banyaknya umat, khususnya di lingkungan perusahaan/ PT, yang akan pensiun di akhir tahun kerja mereka. Sekalipun baru didefenitifkan pada tahun 2001 sebagai Unit Pastoral, namun dinamika relasi umat di Unit Pastoral Bandar Sakti sangat terasa dan semakin hari semakin baik, dan ini juga berdampak pada adanya perkembangan yang sangat positif dalam kehidupan berpastoral. Hubungan antara umat di stasi maupun umat dengan umat yang ada di stasi lain berjalan dengan baik. Juga umat dengan Dewan Pastoralnya, umat dengan Pastornya dan juga Dewan Pastoral dengan Pastornya, terjalin sebuah relasi yang sangat baik.

Demikian juga hubungan pastor dan umat dengan masyarakat di sekitar Stasi/ Lingkungan telah terjalin dengan baik, kondusif dan harmonis. Hal ini dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari seorang Pastor dan juga pada momen-momen tertentu, dimana Pastor terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan pemerintahan. Semuanya ini dapat berjalan berkat kerja sama, dialog dan semangat toleransi yang telah tumbuh di tengah-tengah masyarakat, khususnya di tengah-tengah umat katolik yang berada di Stasi-stasi perusahaan maupun di stasi diluar perusahaan.

Dinamika Kepengurusan Dewan Pastoral.

Untuk lebih mendekatkan Gereja dengan umat dan agar umat sendiri terlibat langsung dengan setiap kegiatan hidup menggereja yang aktif dan efektif diperlukan kepengurusan dewan pastoral. Sejak tahun 1999, stasi atau wilayah-wilayah yang kini berada di U.P. Bandar Sakti telah menghidupi model kepengurusan dewan pastoral dengan sebutan “Kepengurusan Partisipatif Kolegial” dengan didukung oleh 5 (lima) pilar Gereja yaitu: Bidang Liturgia, Bidang Kerigma, Bidang Koinonia, Bidang Diakonia, dan Bidang Martiria. Sejak terbentuknya Unit Pastoral Bandar Sakti ini (3 September 2001), konsep Kepengurusan Partisipatif Kolegial tadi lebih ditingkatkan dan diefektifkan di seluruh stasi, dan hasilnya adalah pendampingan atau pembinaan terhadap umat dapat berjalan dengan baik. Memang tidak ada yang sempurna, tetapi kita telah mulai dan sedang memeliharanya untuk mencapai hasil yang lebih baik. Inilah yang harus menjadi komitmen bersama, antara Pastor dan pengurus dewan pastoral (DEPAS) di U.P. Bandar Sakti.

Kemandirian.

Pembinaan atau pendampingan terhadap umat telah berjalan dengan baik dan ini dilakukan secara kontinyu dan terprogram. Konsep ini sudah tertanam sejak pencanangan U.P. Bandar Sakti menuju umat/ Gereja Mandiri. Bahkan di pertengahan tahun 2012 lalu Bapa Uskup Mgr. Andreas Henrisoesanta, SCJ masuk usia pensiun (Emiritus) dan umat tetap mempunyai semangat yang tinggi untuk tetap melaksanakan karya pastoral sebagaimana yang telah disepakati bersama. Untuk itu, didalam mewujudkan visi dan misi Gereja Lokal (di U.P. Bandar Sakti) sangat diperlukan seorang Gembala atau Pastor yang memiliki komitmen teguh terhadap sebuah kebijakan atau gerak pastoral yg telah dirancang bersama. Maka diperlukan sosok seorang Pastor yang selalu dapat bersama-sama dengan umat di wilayahnya, menjadi gembala yang baik, mau mendengar dan dapat bekerja sama dengan umat dan Dewan Stasi maupun Dewan Pastoralnya. Figur Pastor yang didambakan oleh umat adalah Pastor yang tanggap terhadap dinamika yang muncul di tengah-tengah umat, rela membangun relasi dengan masyarakat (tokoh agama, pemerintah, lembaga-lembaga kemasyarakatan atau LSM) yang beragam.

Bagaimana Gerak Pastoral Akhir-Akhir Ini.

Gerak pastoral di U.P.Bandar Sakti dalam 5 tahun terakhir ini sedang giat berproses menuju umat/ paroki yang mandiri. Proses ini sudah ditunjukkan sejak di defenitifkan sebagai Unit Pastoral (kuasi Paroki). Misalnya, mulai dari urusan kegiatan pastoral, pembinaan kelompok kategorial umat, kehidupan rumah tangga internal Pastoran, pembangunan fasilitas peribadatan: kapel di KM 66, di Trans Indotani, Tanjung Sari, Sidorejo, dan mesti menjadi perhatian umat setempat. Demikian juga U.P. Bandar Sakti telah menyediakan rumah pastor yang baru dan rumah yang lama akan dimanfaatkan sebagai sekretariat U.P.Bandar Sakti serta tempat konsultasi bagi umat beriman. Disediakan pula beberapa sarana lainnya yang mendukung gerak pastoral dimasa yang akan datang. Selanjutnya tata ruang dan halaman pastoran baru perlu ditingkatkan, gudang  stasi, Gua Maria tempat berdevosi dan lapangan volly untuk olahraga dan dalam kondisi tertentu bisa dimanfaatkan sebagai lahan parkir kendaraan umat bahkan lahan kemah yang nyaman bagi remaja dan OMK se-U.P. Bandar Sakti. Hingga saat ini Unit Pastoral Bandar Sakti meliputi 13 (tiga belas) tempat pelayanan misa, 11 (sebelas) diantaranya Stasi dan 2 (dua) lingkungan atau kring.

Disisi lain, demi memudahkan koordinasi dan pelayanan umat agar lebih efektif, maka pelayanan di U.P.Bandar Sakti dibagi menjadi 2 (dua) wilayah, yaitu Wilayah Barat dan Wilayah Timur. Demikian juga komposisi kepengurusan di tingkat Dewan Pastoral pun melibatkan umat dari kedua wilayah tersebut. Umat di wilayah barat tetap diberi porsi yg lebih banyak karena pusat pelayanan U.P.Bandar Sakti berada di zona wilayah Barat. Pembagian wilayah ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa bentangan jarak pelayanan yang sangat luas dan jauh serta medan yang berat, apalagi di musim penghujan. Adapun jarak dari Bandar Sakti (pastoran) sampai ke wilayah pelayanan terjauh di wilayah Timur berjarak kurang lebih 120 km.

Adapun pembagian wilayah itu adalah sebagai berikut:

Wilayah Barat: Umas jaya, bandar sakti, bandar agung, gunung madu plantation, multi agro dan astra ksetra.

Wilayah Timur:  Gula Puti Mataram (GPM), Sweet Indo Lampung (SIL), Indo Lampung Perkasa (ILP) KM. 43,  KM 66,  Sidorejo, Tanjung Sari dan Trans Indotani.

Namun peran Dewan Pastoral cukup efektif dalam membantu pelayanan Pastor. Hal ini karena sudah diakomodir dengan komposisi kepengurusan Depas (Dewan Pastoral) yang ada di masing-masing wilayah, yang dapat bekerja sama dengan Dewan Stasi di masing-masing wilayahnya.

Sebagai catatan penting untuk diketahui bahwa di U.P.Bandar Sakti terdapat 2 (dua) sekolah dibawah naungan Yayasan Pendidikan Katolik (Xaverius) yang berada di wilayah Barat, mulai dari tingkat TK s.d. SMP dan 99% dari jumlah guru di 2 (dua) sekolah tadi beragama Katolik. Kondisi ini sangat membantu berkembangnya karya pastoral di wilayah U.P. Bandar Sakti dan seluruh gurunya berperan aktif sesuai talenta di bidangnya masing-masing.

Pada tahun 2012 (tepatnya pada akhir Bulan Oktober), U.P.Bandar Sakti patut bersyukur bahwa pimpinan Congregasi Pasionis bersedia mengirimkan satu pastor untuk berkarya di U.P.Bandar Sakti, yakni Pastor Rafael Gabhe, CP. Penambahan tenaga ini pun masih belum bisa menjawab kebutuhan pelayanan Misa atau Ekaristi setiap minggunya. Mengapa? Karena bentangan wilayah dan jarak yang sangat jauh serta medan pastoral yang berat. Namun patut bersyukur, kini pelayanan Misa atau Ekaristi sudah dapat terlayani 2 minggu sekali. Demikian pula pelayanan diluar Misa, seperti: pendampingan umat, Katekese, rekoleksi pasutri, pembinaan orang muda katolik, BIA, BIR, misdinar, Wanita Katolik/ WK, pelayanan 6 Sakramen, dll, tetap  terlayani dengan baik hingga saat ini. Dan pada tahun 2015 (16 April), Congregasi Pasionis mengutus RP. Gaspar Lewan Lengary, CP ke U.P. Bandar Sakti untuk menggantikan RP. Marius Lami,CP yang mendapat tugas baru di Rumah Retret Arca Gadok- Keuskupan Bogor.

Demikianlah kilas balik tentang kehadiran para imam dari Congregasi Pasionis (CP) di U.P.Bandar Sakti selama kurun waktu 17 tahun (sejak tahun 2001 s.d. 2017), yang awalnya memang dimulai dari “nol”. Inilah sebuah perjuangan yang terbangun secara sinergis antara awam dengan Pastornya. Memang upaya dan perjuangan untuk membangun “Umat” (“Gereja”) bukan hal yang mudah, tetapi dengan semangat kebersamaan dalam membangun “team work”. Kiranya kebersamaan dan kerja sama kita sekalian selama ini menjadi bagaikan perwujudan komitmen kasih kita kepada Kristus dan Gereja-Nya. Kita diingatkan kembali melalui dialog Yesus dengan Rasul-Nya, Santo Petrus: Simon anak Yunus, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ini? Sampai tiga kali ditanyakan oleh Yesus Kristus kepada Simon. Dan  Simon Petrus menjawab: Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau. Kiranya keterlibatan kita selama ini dan ke depan menjadi semacam jawaban kita atas pertanyaan yang ditujukan kepada Rasul Petrus: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”. Terima kasih Tuhan, Engkau telah dan terus membantu kami untuk memajukan persekutuan umat-Mu di wilayah ini dan terus menjadi gembala kami. Semoga dengan doa St. Paulus dari Salib dan pertolongan Roh Kudus membuat kami terus berkarya bersama di wilayah U.P.Bandar Sakti ini untuk kemuliaan-Mu dan untuk persekutuan kami serta kesaksian hidup kami atas Injil-Mu yang suci. Sebagai Gembala umat di wilayah ini, kami sadar bahwa kami penuh dengan kekurangan dan kelemahan, dan kami percaya bahwa dalam ketidaksempurnaan kami itu Engkau akan menyempurnakannya.

Semoga Sengsara Kristus selalu tertera dalam hati umat beriman dan mendorong mereka untuk mengikuti Kristus dengan sungguh-sungguh seperti Ia yang telah memberikan cinta-Nya yg total untuk kita supaya kita selamat. Proficiat Congregasi Pasionis. Dan semoga umat Katolik di U.P. Bandar Sakti semakin berkembang dan bertumbuh dalam iman akan Yesus Kristus.

 

Salam,

 

Rafael Gabhe, CP

Pastor Kepala U.P. Bandar Sakti