Pertemuan Temu Regio Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) Regio Sumatera 2026 memasuki hari kedua pada Sabtu, 14 Februari 2026, dengan suasana penuh semangat kebersamaan dan persaudaraan. Para peserta yang berasal dari berbagai keuskupan di Sumatera mengikuti rangkaian kegiatan yang padat, mulai dari sharing program, pendalaman materi, hingga refleksi pengalaman pelayanan di lapangan.
Sejak pagi hari, peserta diajak mendengarkan sharing laporan program dari beberapa keuskupan. Berbagai pengalaman pelayanan disampaikan secara terbuka, mulai dari upaya pendampingan iman anak dan remaja, kaderisasi animator misi, hingga pengembangan bahan pastoral dan media pewartaan. Melalui sharing ini, peserta semakin menyadari bahwa karya misi Gereja membutuhkan proses yang berkelanjutan, komitmen bersama, serta kreativitas dalam menjawab kebutuhan umat di setiap wilayah pelayanan.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan sharing dari keuskupan lainnya yang menampilkan beragam kegiatan seperti perayaan Hari Anak Misioner, Minggu Misi Sedunia, kegiatan SOMA, hingga kaderisasi melalui program T-SOM. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan anak dan remaja dalam kehidupan Gereja menjadi perhatian penting dalam pelayanan KMKI. Sinergi lintas komisi serta keterlibatan para alumni program juga menjadi kekuatan dalam menjaga keberlanjutan karya misi.

Pada sesi berikutnya, peserta mendapatkan pendalaman materi mengenai tata kelola KMKI yang disampaikan oleh DirNas KMKI, RP. Alfonsus Widhi Wiryawan, SX. Dalam pemaparan tersebut ditegaskan bahwa arah pelayanan KMKI saat ini semakin luas, tidak hanya berkaitan dengan anak melalui SEKAMI, tetapi juga mencakup keluarga, panggilan, serta keterlibatan seluruh umat dalam semangat misioner melalui empat pilar karya misi Gereja. Peserta juga diajak memahami roadmap nasional yang menempatkan tahun 2026 sebagai fokus penguatan formasi, materi, missio, dan subsidi.
Menjelang sore hingga malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan sesi sharing heart to heart yang menjadi ruang refleksi bersama. Dalam kelompok-kelompok kecil, peserta berbagi pengalaman nyata pelayanan di paroki maupun keuskupan, termasuk tantangan mengumpulkan remaja, keterbatasan pendamping, hingga kebutuhan kreativitas dalam metode pendampingan iman. Diskusi juga menyoroti pentingnya pengembangan media digital melalui website Missio Nusantara sebagai sarana pewartaan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Pembahasan mengenai metode pendampingan anak dan remaja juga menjadi perhatian bersama. Anak-anak membutuhkan pendekatan yang sederhana, konkret, dan menyenangkan, sementara remaja membutuhkan ruang dialog, kebersamaan, serta pendamping yang mampu menjadi sahabat perjalanan iman mereka. Refleksi ini menjadi pengingat bahwa karya misi Gereja harus terus berkembang mengikuti dinamika zaman tanpa kehilangan identitas iman Katolik.
Hari kedua Temu Regio KMKI Regio Sumatera pun ditutup dengan rasa syukur dan harapan. Pertemuan ini tidak hanya memperkaya wawasan peserta, tetapi juga meneguhkan kembali semangat panggilan misioner dalam pelayanan Gereja. Diharapkan, semangat kebersamaan dan sinergi yang terbangun selama pertemuan ini dapat terus diwujudkan dalam pelayanan nyata di masing-masing keuskupan, demi pertumbuhan iman anak, remaja, dan seluruh umat Allah.



Penulis : R.A.Swani Pramesti



