Kongregasi FSGM di Tanjungkarang

 

Arti Nama

FSGM merupakan kependekan dari Fransiskanes dari St. Georgius Martir (pernah menggunakan nama FRPR). FSGM tiba di Pringsewu 4 Juni 1932.

Visi Kongregasi Fsgm

”Dengan melihat orang-orang miskin dan menderita, melihat Yesus yang tertikam, namun memberikan hidup baru”

Spiritualitas

Kesiagaan menanggung perendahannya dalam kemiskinan dan kerendahan hati serta pengosongan diri untuk menampakkan cintakasih Allah yang penuh kerahiman dalam pengabdian kita sehingga melahirkan kehidupan baru.

Sejarah

Cinta Akan Kemiskinan, Gembira Dalam Karya, dan Setia Dalam Doa. Itulah semangat yang diperjuangkan para suster Fransiskanes dari St. Georgius Martir (FSGM), Thuine. Semangat itu merupakan wasiat pendiri Kongregasi FSGM, Mdr. Anselma Bopp. Sebelum masuk biara, Mdr. Anselma kecil bernama Pauline Bopp. Tanggal 19 Juli 1855 ia mengucapkan profesi pertama dalam Kongregasi Salib Suci dengan nama Sr. Anselma . Suatu hari ia dipanggil Pemimpin Jenderal, Madame de Glaubitz, untuk membuka biara baru bersama seorang suster yang lebih tua. Pasalnya, dua suster dari Strassburg berkeliling mencari donatur di daerah Emsland, Jerman Utara. Di sana mereka berjumpa dengan P.Gerhard Dall (80). Setelah mendengar tentang karya karitatif yang beraneka ragam dan betapa miskin kongregasi yang masih muda itu, P.Gerhard Dall berfikir suster-suster seperti itu dapat menolong masyarakat desa Thuine yang miskin dan menderita karena wabah penyakit.

Mendapat Perutusan

  1. Gerhard Dall mengajukan permohonan kepada Suster-suster Salib Suci agar mengutus dua suster ke Thuine. Tak lama kemudian Pemimpin Jenderal mengutus Sr. Anselma ke tempat yang kurang mereka kenal itu karena ia yakin akan keteguhan dan bakat-bakat yang dimiliki Sr. Anselma.

Awalnya, Sr. Anselma dan Sr. Marianna merasa berat. Mereka tinggal jauh dari biara induk, berada di masyarakat yang berbeda bahasa, kebiasaan, dan suasananya. Selain itu, mereka tinggal di gubuk yang kurang pantas untuk dihuni. Rumah itu belum disiapkan ketika mereka datang.

Di Thuine banyak orang membutuhkan pertolongan karena wabah penyakit dan kemiskinan yang melanda desa itu. Sebelum tempat tersedia, datanglah anak-anak, orang sakit, dan lanjut usia yang perlu diselamatkan. Segera P. Gerhard Dall dan masyarakat sekitar mendirikan rumah perlindungan anak-anak dengan sekolah dasarnya juga ruang merawat orang sakit yang kemudian menjadi rumah sakit kecil.

Setelah duabelas tahun biara itu berdiri, kemungkinan kecil mendapat penambahan suster dari Strassburg karena letak Thuine sangat jauh. Selain itu, di bawah pemerintahan Perancis yang saat itu tidak bersahabat dengan Jerman. Seandainya ada pemudi yang melamar masuk biara di Thuine, akan dikirim ke Strassburg dan tidak dapat diharapkan kembali ke Thuine sesudah profesi. Maka, P. Gerhard Dall didukung Uskup Osnabrűck YM. Yohanes Heinrich Beckmann mengurus izin agar biara di Thuine boleh melepaskan diri dari Kongregasi Suster-suster Salib Suci. Tanggal 25 November 1869 berdirilah Kongregasi Suster-suster Fransiskanes dari St. Georgius Martir, Thuine. Mdr. Anselma (34) menjadi pendiri dan pemimpin jenderal pertama. Mdr. Anselma menopang penderitaan batin dengan hidup doa ketika ia harus berpisah dengan Kongregasi Suster-suster Salib Suci.

“Seandainya ketika itu saya tidak yakin akan kehendak Tuhan, tentu saya tidak berbuat demikian,” tuturnya. Selama sembilan tahun Mdr. Anselma menyerahkan segala tenaga dan kemampuannya, mengabdi dan melayani sesama. Pengabdian yang sama dijalani sembilan tahun berikutnya dengan memeras tenaga yang tersisa karena menderita penyakit TBC. Sungguh, Tuhan telah meletakkan tangan di atasnya dan membimbing ke jalan yang tidak dipilihnya sendiri.

Tanggal 17 Juli 1887 Mdr. Anselma meninggal dunia dalam usia 52 tahun. Biji gandum itu telah jatuh di tanah dan mati. Namun, menghasilkan banyak buah. Biara Thuine berkembang menjadi kongregasi dan menjadi biara induk. Dan, membuka cabang di berbagai negara: Jerman Utara, Belanda (1875), Jepang (1920), Amerika Serikat (1923), Indonesia (1932), Tanzania-Afrika (1960), dan di Brazil (1972). Karya-karya yang telah dimulai itu diteruskan hingga sekarang.

Tiba Di Indonesia

Sekitar tahun 1905 terjadi perpindahan penduduk dari Pulau Jawa ke Lampung, Sumatera Selatan. Keadaan di daerah yang subur ini masih banyak rawa dan air tergenang. Penyakit malaria, TBC, desentri, dan borok merajalela. Meski para penduduknya sudah bekerja keras membuka hutan, kebutuhan sehari-hari belum tercukupi. Kehidupan serupa juga dialami para transmigran di daerah Pringsewu. Dalam sejarah misi Katolik di Lampung, Pastor Strater SJ dan Pastor Van Oort SCJ menjadikan Pringsewu sebagai pusat misi pertama. Waktu itu, perasaan Uskup Palembang Mgr Dr Meckelholt SCJ tersentuh melihat keadaan itu.

Ia membutuhkan kehadiran para suster guna membantu dan mengembangkan karya kerasulan dan para imam di daerah Lampung. Karena sudah lama mengenal Suster-suster Fransiskanes dari St. Georgius Martir Thuine, ia segera menulis surat mohon bantuan. Pimpinan Jenderal tidak dapat menolak permintaan itu. Ia mengirim empat suster misionaris ke Indonesia: Sr. M. Odulpha Schwalenberg, Sr. M. Solanis Meyer, Sr. M. Arnolde Wouters, dan Sr. M. Engelmunda Van Orten. Dari Denekamp Nederland selama tiga minggu para misionaris muda ini berlayar dengan kapal Indrapura melalui Pelabuan Mersaile Perancis ke Batavia.

Sampai di Pelabuhan Sundakelapa, mereka disambut Suster-suster Ursulin dan menginap di Susteran Jalan Pos 2 Jakarta. Esok harinya mereka melanjutkan perjalanan ke Lampung. Di Pelabuhan Panjang, Sumatera, mereka disambut Suster-suster Hati Kudus, P. Van Oort SCJ, P. A. Hermelink Gentiaras SCJ, dan P. Kuipers SCJ. Para penjemput merayakan Misa dan mengumandangkan lagu “Te Deum Laudamus” sebagai ungkapan syukur. Pada 4 Juni 1932 mereka tiba di Pringsewu.

Kepakan Sayap

Sehari setelah tiba di Pringsewu Sr. M. Arnolde membuka klinik di kamar tamu. Hari demi hari orang yang berobat bertambah banyak. Umumnya penderita malaria. Setelah menolong pasien di klinik, Sr. M. Arnolde bersepeda ke desa-desa. Ia membuka pengobatan di rumah-rumah kepala kampung. Para suster juga mempedulikan bidang pendidikan. Meski di Pringsewu dan sekitarnya sudah ada Volkschool (SD milik misi, Kongregasi mendirikan SD St. Beda School. Seiring waktu hidup dan karya para suster semakin dikenal masyarakat luas.

Akhirnya, pekerjaan bertambah banyak, sementara tenaga suster kurang mencukupi. Di samping itu, para suster mulai terjangkit malaria. Keadaan itu disampaikan ke Pusat Kongregasi. Tak lama kemudian kongregasi mengirim tiga suster, Sr. M. Cortilia Welendorf, Sr. M. Edelgardis Hannink, dan Sr. M. Adelia Grase. Mereka bertugas mengajar, merawat, mengunjungi rumah-rumah, dan bekerja di rumah tangga susteran. Hidup dan karya para suster menyentuh beberapa gadis yang bekerja sebagai guru.

Mereka didatangkan dari Jawa Tengah. Tanggal 6 Agustus 1936, dua pemudi bergabung. Dan, novisiat dibuka. Anggota Kongregasi FSGM semakin banyak. Kongregasi ini mengepakkan sayap di Keuskupan Tanjungkarang, Jakarta, Palembang,Semarang, Atambua, Bali, Papuasampai Timor Leste.

Sebagai ungkapan rasa terimakasih dari provinsi Indonesia atas cinta, bantuan dan pengorbanan para suster dari provinsi St.Antono, Belanda, dimana sejak tahun 1962 tidak ada lagi panggilan, sementara di Indonesia mempunyai cukup suster muda, maka pada 8 September 2007 diutuslah empat suster untuk tinggal dan berkarya di sana, di keuskupan Utrech, Denekamp Karya kerasulan FSGM meliputi pendidikan, kesehatan, rumah tangga, sosial, dan Pastoral Kategorial seperti: mendampingi kegiatan OMK, OFS (Ordo Fransiskan Sekular), Bimbingan Belajar & penambahan gizi bagi kelompok marginal (anak-anak tukang becak, pemulung, kuli pasar, dll). Selain itu, memberikan bantuan tenaga untuk SLB Dian Grahita, Jakarta.

Setiap saat para suster FSGM ini memperjuangkan wasiat pendiri kongregasi mereka untuk hidup:cinta akan kemiskinan, setia dalam doa, dan gembira dalam karya! (M. Fransiska FSGM)

FSGM 2017

Pemimpin Provinsi Indonesia

Sr. M. Aquina, FSGM

Vikaris Provinsi

Sr. M. Albertha, FSGM

Penasihat Provinsi II

Sr. M. Yoannita, FSGM

Penasihat Provinsi III

Sr. M. Lusie, FSGM

Penasihat Provinsi IV

Sr. M. Benediktin, FSGM

Sekretaris Provinsi

Sr. M. Klarensia, FSGM

 

KOMUNITAS FSGM

  1. Komunitas St. Yusup, Pringsewu
  2. Novisiat St. Maria
  3. Komunitas St. Clara, Padangbulan
  4. Komunitas St. Fransiskus, Tanjungkarang
  5. Komunitas St. Fransiskus, Pahoman
  6. Komunitas St. Maria, Metro
  7. Komunitas Maria Fatima, Gisting
  8. Komunitas Maria Regina, Kotabumi
  9. Komunitas Maria Immaculata, Kalirejo
  10. Komunitas St. Clara, Nyukangharjo
  11. Komunitas St. Mariam, Pajarmataram
  12. Komunitas St. Fransiskus, Panutan
  13. Komunitas St. Fransiskus, Gedungmeneng

 

Karya-karya

FSGM mempunyai tiga yayasan, yakni Yayasan Dwi Bakti yang menangani bidang pendidikan; Yayasan Santo Georgius yang menangi kesehatan yang bermutu dan penuh kasih yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat demi mingkatkan derajat kesehatan.; serta Yayasan Anselma yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan bagi orang miskin dalam berbagai bentuk.

Bidang pendidikan yang menjadi karya FSGM adalah pendidikan formal, mulai TK, SD, SMP dan SMA Fransiskus. Untuk mendukung pendidikan ini, FSGM juga mempunyai beberapa asrama, yakni Asrama Putri Elisabeth 2 dan 3 Pringsewu, asrama Santa Maria Metro, serta asrama di Pasir Gintung untuk SMP dan Gedung Meneng untuk SMA.

Dalam bidang kesehatan, FSGM mempunyai Rumah Sakit Panti Secanti yang terletak di Gisting, Tanggamus, dan RSB Maria Regina, Kota Bumi, Lampung Utara.

Selain itu, FSGM juga mengelola sebuah panti asuhan di Pringsewu, yakni PA St. Vinsentius Pringsewu.

Suster FSGM juga mempunyai satu rumah retret, yakni Rumah Retret La Verna, Pringsewu.

Biara Pusat:

PROVINSIALAT FSGM

Alamat rumah pusat:

Susteran St. Yusup, jalan Gereja no. 13, Pringsewu 35373, Lampung.

INDONESIA, Bandar Lampung

Email : santoyusup@fsgm-indonesia.org