SEJARAH KEHADIRAN FRANSISKAN DI LAMPUNG

 

Ordo Fratrum Minorum (OFM) atau Ordo Saudara-Saudara Dina adalah salah satu lembaga hidup bhakti yang berusaha menghidupi Injil seturut teladan St. Fransiskus dari Assisi. Berdasarkan namanya tampak bahwa Fransiskus menghendaki Ordo-nya menjadi ordo yang menghayati hidup bersaudara dengan seluruh ciptaan sambil tetap sederhana dan dina.

Tahun 2009 yang lalu OFM Indonesia merayakan 80 tahun kembali berkarya di Indonesia. Setelah 80 tahun hadir kembali di Indonesia, karya Fransiskan tersebar di beberapa daerah di wilayah Jawa (Jakarta, Bogor, Jogjakarta) dan Indonesia Timur (NTT, Timor Leste, Papua). Setelah Kapitel Provinsi pada September 2016 yang lalu, OFM Indonesia kini mulai menjajaki tempat karya baru di Sumatera dan Kalimantan.

Di wilayah Sumatera, terhitung sejak tahun 2014, para Fransiskan mulai hadir dan berkarya di Lampung. Di mulai pada 04 Januari 2014, ketika Br. Bambang Tri Margono OFM, seorang Fransiskan yang juga berprofesi sebagai dokter,hadir dan berkarya di Rumah Sakit Maria Regina – Kota Bumi. Saat itu, kehadiran Br. Bambang tidak terkait langsung dengan Keuskupan. Kontrak kerja yang terjadi saat ituadalah kontrak kerja antara Susteran FSGM dengan Persaudaraan OFM Indonesia.

Namun, kehadiran Br. Bambang seperti membuka jalan bagi kehadiran misi Fransiskan di Keuskupan Tanjungkarang. Setelah Br. Bambang hadir di Kota Bumi, terjadilah pembicaraan antara Persaudaraan Fransiskan Indonesia dengan Keuskupan Tanjung Karang. Pembicaraan ini melahirkan kontrak kerja.Pada 02 Februari 2014, RP. Bonivantura Y. Lelo OFM, seorang Imam Fransiskan, hadir danberkarya sebagai Pastor rekan di Paroki Kabar Gembira – Kota Bumi.

Hubungan kerja sama ini terus berlanjut. Melalui izin Yang Mulia Bapa Uskup, OFM Indonesia kembali mengirim anggotanya pada 24 Juli 2014. Saat itu,Diakon Kristian Emanuel Stefan OFM diutus untuk menjalankan masa diakonatdi Paroki Keluarga Kudus – Way Kanan. Setelah ditahbiskan Imam pada 08 Desember 2014, RP. Stefan tetap berkarya di Baradatu, sebagai Pastor rekan.

Pada pertengahan 2015, Bapa Uskup Yohanes Harun Yuwono kembali mengizinkan persaudaraan Fransiskan Indonesia menambah jumlah anggotanya yang berkarya di Lampung. Tanggal 20 Juli 2015 Diakon Ruben Basenti Moruk OFM diutus menjalankan masa diakonat di Unit Pastoral St. Theodorus – Liwa – Lampung Barat. Dia pun tetap bertugas di Liwa setelah ditahbiskan Imam pada tanggal 19 November 2015.

Melihat bahwa sudah ada empat saudara Fransiskan berkarya di Lampung, mereka tinggal terpencar – tidak dalam satu komunitas – maka pada 28 Juli 2015 terjadi perubahan komposisi tempat pelayanan. RP. Bovan dan Br. Bambang yang sebelumnya tinggal dan bertugas di Kota Bumi pindah ke Baradatu. RP. Bovan mendapat SK baru dari Keuskupan untuk menjadi Pastor Rekan di Paroki Keluarga Kudus – Baradatu, sedangkan Br. Bambang tetap menjalani tugasnya sebagai dokter di Kota Bumi. Dengan demikian, Br. Bambang setiap hari melakukan perjalananpulang-pergi Baradatu – Kota Bumi. Pada saat itu, RP. Ruben masih melayani di UP St. Theodorus Liwa sebagai Pastor Rekan.

Tanggal 25 November 2015 terjadiperistiwa yang mengejutkan. Br. Bambang mengalami kecelakaan lalu lintas dalam perjalanannya kembali dari Kota Bumi ke Baradatu sekitar pkl. 21.30 di wilayah Ogan Lima – Lampung Utara. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari belakang.Saat itu,Br. Bambang sedang berhentiuntuk mengenakan jas hujan karena hujan mulai turun. Peristiwa itu adalah peristiwa tabrak lari.

Kecelakaan ini membuat salah satu tulang tangan kirinya patah. Tanggal 02 Desember 2015, melihat keadaan lukanya yang tidak juga membaik, Provinsial OFM memanggilnya untuk berobat ke Jakarta. Peristiwa ini rupanya menjadi akhir masa pelayanannya di Lampung. Karena alasan kesehatan, kontrak kerjanya dengan Rumah Sakit Maria Regina tidak dapat diperpanjang.

Kepergian Br. Bambang digantikan dengan kehadiran dua saudara diakon. Pada 08 Agustus 2016, Diakon Andry Hanafi OFM dan Diakon Berman Sitanggang OFM tiba di Lampung.  Diakon Andry mendapat perutusan menjalani masa diakonatnya di Paroki Keluarga Kudus – Baradatu, sedangkan Diakon Berman mendapat perutusan menjalani masa diakonat di Unit Pastoral St. Theodorus Liwa – Lampung Barat.

Pada tanggal 11 Agustus 2016, saatperayaan ekaristi pentahbisan Imam dan Diakon Keuskupan Tanjung Karang, para saudara Fransiskaan yang berkarya di Lampung menerima beberapa SK baru dari keuskupan. RP. Ruben mendapat SK menjadi Pastor Rekan di Paroki Keluarga Kudus – Baradatu. RP. Bovan mendapat SK menjadi Pastor Kepala di unit Pastoral St. Theodorus – Liwa, sedangkan RP. Stefan mendapat SK menjadi Pastor Paroki di Paroki Keluarga Kudus – Baradatu.

Pada tanggal 21 November 2016 Diakon Berman dan Diakon Andry ditahbiskan menjadi Imam di Karot – Flores. Persaudaraan OFM Indonesia mengutus RP. Andry OFM untuk tetap menjalankan tugas pelayanan di Paroki Keluarga Kudus – Baradatu. Sedangkan RP. Berman diutus menjalankan tugas perutusan yang baru di Tanah Suci Yerusalem. Sebagai gantinya, RP. Niko Darto OFM diutus menjalankan tugas pelayanan di unit Pastoral Liwa. Tanggal 26 Februari 2017, RP. Niko tiba di Liwa.

Sampai saat ini, ada lima saudara Fransiskan yang berkarya di Keuskupan Tanjung Karang. Tiga saudara melayani di Paroki Keluarga Kudus Baradatu, yakni RP. Stefan, RP. Ruben, dan RP. Andry. Dua saudara melayani di Unit Pastoral Liwa, yakni RP. Bovan dan RP. Niko. Dalam menjalani tugas pelayanan yang dipercayakan keuskupan kepada mereka, mereka berusaha untuk tetap membawa spirit utama ordo, yakni menghidupi Injil sambil hadir sebagai saudara yang dina bagi seluruh ciptaan. (Sdr. Stefan OFM)