Ordo Fratrum Minorum Conventualium (OFMConv)

Ordo Saudara Dina didirikan oleh Santo Fransiskus Assisi pada tahun 1209. Sejak awal Ordo, ada saudara-saudara yang tinggal di biara-biara (conventus atau convent) dan ada juga yang mengembara. Saudara-saudara yang tinggal di biara dikenal dengan nama para Konventual sedangkan para saudara yang mengembara dikenal dengan nama Spiritual. Kedua model hidup tersebut menjadi pola hidup para anggota ordo pada masa itu dalam menghayati pola hidup Santo Fransiskus Assisi.

Ordo Saudara Dina Konventual (Latin: Ordo Fratrum Minorum Conventualium disingkat OFMConv) merupakan Ordo Fransiskan yang tertua dan Ordo pertama pria yang kemudian menjadi Ordo tersendiri pada tahun 1517. OFMConv adalah Ordo yang menghidupi karisma yang diwariskan oleh Fransiskus Assisi lewat dan dalam versi Konventual (perlu diingat bahwa versi ini sudah ada, bahkan ketika Fransiskus masih hidup). Para saudara Konventual berusaha menghidupi Injil dalam semangat persaudaraan dina yang hidup berkomunitas (dalam biara). Hidup mereka diharapkan dapat menjadi suatu kesaksian tentang kegembiraan Injili bagi Gereja dan dunia. Hidup dalam biara tidak berarti membuat para saudara Konventual tertutup terhadap Gereja dan masyarakat. Para saudara Konventual juga terbuka untuk hidup melayani Gereja dan masyarakat dengan berbagai bentuk karya pelayanan yang cakupannya luas.

Sesuai dengan nama yang disandang (OFMConv), Ordo ini memiliki tiga nilai hidup membiara yakni: Fratrum/fraternitas (persaudaraan), Minorum/minoritas (kedinaan) dan Conventualium/konventualitas (membiara). Jubah OFMConv berwarna abu-abu berbentuk salib yang dilengkapi dengan: kap serta kaperun, tali single bersimpul tiga (melambangkan ketiga kaul hidup membiara, yaitu: Kemiskinan, Kemurnian dan Ketaatan), dan korona Fransiskan. Di beberapa negara, para saudara Konventual disebut juga dengan panggilan istimewa antara lain: Greyfriars (Inggris), Claustrales (Spanyol), Cordeliers (Perancis), Minoriten (Jerman), Franciszkanie (Polandia), dan Conventuali (Italia). Para saudara Konventual terdiri dari Saudara Imam (Frater Klerikus/Pastor) dan Saudara Non-Imam (Frater Religius/Bruder). OFMConv berkarya di 70 negara. Pemimpin tertinggi OFMConv disebut Minister General. Rumah Generalat OFMConv bernama Biara Santi Apostoli. Biara tersebut berada di RomaItalia.

Jubah OFMConv

  1. OFMConv di Indonesia

Kehadiran OFMConv di Indonesia masih tergolong muda. Karya misi dimulai di Bogor-Jawa Barat pada tahun 1937 oleh saudara-saudara Konventual dari Belanda. Setelah vakum selama beberapa puluh tahun, misi tersebut dilanjutkan kembali oleh saudara-saudara Konventual dari Italia sejak tahun 1968 di Sumatera Utara.

  • Misi di Bogor-Jawa Barat

Dengan persetujuan dari Tahta Suci pada 14 April 1937, saudara-saudara OFMConv dari Belanda memulai karya misinya di Bogor-Jawa Barat. Waktu itu Bogor masih termasuk wilayah Vikariat Batavia (Jakarta). Para misionaris Konventual yang pertama tiba sejumlah 4 orang. Selanjutnya mereka dibantu dengan datangnya lagi tenaga misionaris Konventual Belanda lainnya. Pada 8 Oktober 1937, dibangun sebuah biara religius pertama di  Jl. Kapten Muslihat, Bogor. Setelah para misionaris Konventual pertama ini mendapat tempat yang menetap dan sudah dapat mulai berkarya, pada tahun 1938 Paroki Bogor diserahkan oleh Serikat Jesus (SJ) kepada OFMConv. Pada tahun 1961, setelah Keuskupan Bogor terbentuk, Gereja Paroki Bogor tersebut (Gereja Santa Maria), dijadikan sebagai Gereja Katedral Bogor. Selain menggembalakan umat Katolik Paroki Bogor, para misionaris itu berhasil pula memikat hati beberapa pemuda Indonesia menjadi Fransiskan Konventual. Karena keterbatasan tenaga dan fasilitas pendidikan di daerah misi, para calon dididik di Eropa. Tiga pemuda berhasil menjadi imam dan seorang pemuda menjadi frater religius.

Dalam perkembangan selanjutnya para misionaris menghadapi beberapa persoalan yang pada akhirnya membuat misi di Bogor ditutup pada tahun 1962. Beberapa pertimbangan atas keputusan tersebut adalah: keterbatasan tenaga akibat usia tua (para misionaris) dan luasnya medan karya; terdapatnya hukum yang menyatakan bahwa setiap orang asing yang mau menetap di Indonesia harus menjadi warga negara Indonesia (para misionaris memilih untuk tetap berkewarganegaraan Belanda maka mereka harus keluar dari Indonesia); saudara-saudara OFM sudah hadir di Bogor, dengan ini misi yang dirintis OFMConv dapat dilanjutkan oleh saudara-saudara OFM. Atas dasar tersebut maka Provinsi OFMConv Belanda memutus­kan untuk menarik kembali anggotanya dari Indonesia.

  • Misi di Delitua-Sumatra Utara sebagai lembaran baru

Dengan ditutupnya misi Konventual di Bogor, maka untuk sementara kemungkinan hadirnya Konventual di Indonesia juga tertutup. Namun misi di Bogor telah membuahkan 4 orang pribumi Konventual yang dididik di Eropa. Setelah menamatkan studinya di Roma-Italia, Ludwig Adeodatus Laibahas ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 17 Februari 1963 di Roma. Beliau adalah putra Indonesia pertama yang menjadi imam Konventual. Selesai tahbisan, Pastor Adeodatus Laibahas ditugaskan studi misiologi di Swiss. Pada tahun 1967, beliau menyelesaikan studinya dan memperoleh gelar Licensiat Misiologi. Minister General OFMConv mengutusnya untuk melanjutkan misi OFMConv di Indonesia. Dengan penuh semangat pada tanggal 4 Februari 1967 Pastor Adeodatus tiba di tanah air. Misi tidak dilanjutkan di Keuskupan Bogor-Jawa Barat, tetapi di Keuskupan Agung Medan-Sumatera Utara atas permintaan Uskup Agung Medan. Setelah bertemu dengan Bapa Uskup, beliau ditempatkan sementara di Paroki Pangururan untuk belajar bahasa daerah dan budaya Batak serta mengenal medan karya kerasulan. Direncanakan daerah yang akan menjadi medan misinya adalah daerah Binjai-Langkat. Namun pada 16 April 1967, beliau  meninggal dunia karena tenggelam di Danau Toba.

Tiga tahun setelah kejadian itu, pada tanggal 27 November 1970, Pastor Ignatius Nohmad Wignyoharsono OFMConv juga meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di Magelang-Jawa Tengah. Saat itu beliau sedang cuti ke kampung halamannya. Satu-satunya imam pribumi Konventual yang masih hidup adalah Pastor Paulus Lie Ka Kwi OFMConv, warga Bogor. Beliau memilih kewarganegaraan Jerman dan hingga sekarang tinggal dan berkarya di Jerman. Frater Willybrodus Marinka OFMConv meninggalkan Ordo dan berkeluarga (sekarang beliau menetap di Jakarta).

Dengan wafatnya Pastor Adeodatus Laibahas, maka untuk sementara waktu karya misi Konventual di Sumatera Utara ditangguhkan. Namun karena permintaan dari Uskup Agung Medan kepada Minister General OFMConv, setahun kemudian misi tersebut dilanjutkan oleh tiga imam Fransiskan Konventual dari Italia. Mereka tiba di Medan pada tanggal 6 April 1968. Setelah belajar bahasa Indonesia dan bahasa daerah di Parapat, Pematangsiantar dan juga Kabanjahe, ketiga misionaris itu ditempatkan oleh Bapa Uskup di daerah Delitua. Daerah Delitua merupakan lahan subur pewartaan iman. Semangat misioner yang menyala-nyala disertai pelayanan yang tulus, menggerakkan hati penduduk untuk menganut agama Katolik. Setelah daerah Delitua menjadi paroki pada tahun 1970, berturut-turut datang tenaga misionaris dari berbagai Provinsi OFMConv Italia. Pada tahun 1975 dari wilayah Paroki Delitua dimekarkan dua paroki baru, yaitu Paroki Bandar Baru dan Paroki Padang Bulan Medan.Berawal dari Paroki Delitua, saat ini Konventual telah melayani 4 Paroki lainya yang notabene merupakan pemekaran dari Paroki Delitua. Selain itu Konventual berkarya juga di beberapa Keuskupan lain seperti Atambua, Jakarta, dan Tanjung Karang.Semua ini tidak terlepas dari usaha yang dirintis para misionaris Konventual. Mereka telah banyak berjasa bagi Gereja Indonesia. Pikiran, tenaga, dana, dan perhatian telah mereka berikan bagi pewartaan iman di bumi pertiwi. Mereka juga telah menaburkan benih-benih panggilan serta membentuk persaudaraan OFMConv di Indonesia.

Terkesan dengan pelayanan para misonaris, beberapa pemuda berminat menjadi imam. Maka mereka distudikan di Seminari Menengah Pematangsiantar dan Seminari Menengah Mertoyudan. Setelah tamat, mereka dititipkan di Novisiat OFM-Yogyakarta. Pendidikan Filsafat mereka peroleh di STF Driyarkara-Jakarta dan pendidikan Teologi di FTW Kentungan-Yogyakarta. Baik di Jakarta maupun di Yogyakarta mereka dititipkan di biara-biara para saudara OFM. Namun karena semakin bertambahnya para calon dan para misionaris menyadari bahwa karya misi mereka nantinya dilanjutkan oleh para saudara Konventual pribumi, maka para misionaris tergerak untuk mendidik sendiri para calonnya. Pada tahun 1985 didirikan Seminari Menengah di Delitua, Postulat di Bandar Baru, Novisiat dan Seminari Tinggi/Skolastikat di Pematangsiantar. Benih-benih panggilan senantiasa ditaburkan di hati para pemuda Indonesia. Promosi panggilan mulai diusahakan oleh para misionaris.  Usaha-usaha yang dilaksanakan oleh para misionaris dari Italia itu, akhirnya berbuah dengan berkaul kekalnya sejumlah frater dan ditahbiskannya mereka menjadi imam. Seiring dengan perkembangan Konventual di Indonesia dan semakin bertambahnya saudara-saudara Konventual pribumi, sekarang para Konventual pribumi dapat mendidik sendiri para calonnya.Saat ini, Seminari Menengah terletak di Bandar Baru, Postulat terletak di Biara St. Kataria-Tiga Juhar, Novisiat di Biara St. Antonius Padua-Tiga Dolok, dan Seminari Tinggi di Biara St. Bonaventura-Pematangsiantar. Para calon imam menempuh pendidikan Filsafat dan Teologi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Santo Yohanes Pematangsiantar-Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara.

Melihat perkembangan yang ada, dalam Kapitel pada 10 Mei 1985, Minister General memutuskan bahwa misi OFMConv di Indonesia ditingatkan statusnya menjadi Kustodia Provinsi. Setelah itu secara resmi berdirilah Kustodia Provinsi Maria Tak Bernoda Indonesia. Kuria Kustodia terletak di Delitua, Medan-Sumatera Utara.Sampai saat ini secara keseluruhan terdapat 113 saudara yang hidup bersama sebagai saudara dalam persaudaraan ini (tidak termasuk siswa seminari menengah dan Postulan).  Jumlah saudara yang berkaul kekal sebanyak 67 orang (Imam: 51 orang, Frater Klerikus: 4 orang, dan Frater Religius: 12 orang). Jumlah saudara yang berkaul sementara sebanyak 33 orang (Frater Klerikus: 26 orang, Frater Religius: 7 orang). Jumlah Novis sebanyak 13 orang. Jumlah Postulan pertama sebanyak 11 orang, dan Postulan kedua sebanyak 10 orang. Jumlah siswa seminari menengah OFMConv sebanyak 20 orang (Kelas I: 7 orang, Kelas II: 8 orang, dan Kelas III: 5 orang).

 

Para Saudara OFMConv Kustodia Maria Tak Bernoda Indonesia bersama dengan utusan Generalat

  • Misi di Lampung

Kehadiran OFMConv. di lampung diawali dengan pengutusan sdr larensius Sihaloho OFMconv., pada agustus 2014. RP. Laurentius OFMConv., mengawali akan pengenalan bumi lampung dengan live in di beberapa paroki di keuskupan Tanjungkaran; Sribawono, Tulangbawang, Kedaton Dan Kalirejo. Setelah kurang lebih satu tahun RP. Laurentius Sihaloho OFMconv. berada di Lampung, Mgr. Yohanes Harun Yuwono memberikan tempat bagi OFMConv., untuk menetap di Paroki St. Petrus Kalirejo. Pada awal agustus 2015, RP. Hieronimus Edisukisno OFMConv., hadir di Lampung untuk membantu karya pelayanan di Paroki St. Petrus Kalirejo bersama RD. YB Widarman dan RP Laurentius Sihaloho OFMConv.

 

  1. Karya-karya OFM Konventual di Indonesia

Para Fransiskan Konventual Indonesia berkarya di empat keuskupan, yaitu Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Atambua, dan Keuskupan Tanjung Karang. Di Keuskupan Agung Medan, OFMConv berkarya di Paroki Delitua, Paroki Bandar Baru, Paroki Padang Bulan, Paroki Tiga Juhar, Paroki Namo Pecawir, dan Paroki Tiga Dolok. Di Keuskupan Agung Jakarta, OFMConv berkarya di Paroki Sunter-Jakarta Utara. Di Keuskupan Atambua, OFMConv berkarya di Paroki Sasi-Kefamenanu. Dalam kaitannya dengan pelayanan di setiap Paroki yang dipercayakan Keuskupan kepada Konventual, para saudara OFMConv juga berupaya membimbing retret dan rekoleksi, mem­beri­kan bimbingan rohani, memberikan kursus-kursus pembinaan kepada umat, serta mengem­bangkan semangat devosional kepada para kudus, antara lain: devosi kepada Bunda Maria melalui gerakan Militia Immaculatae (MI); gerakan Rosario Fransiskan (Korona Fransiskan); devosi kepada Santo Fransiskus Assisi; dan devosi kepada Santo Antonius Padua.

Selain karya pastoral melayani paroki-paroki, OFMConv juga berkarya dalam bidang karitas sosial, pendidikan dan pengembangan masyarakat. Di Keuskupan Atambua, OFMConv juga mendirikan sebuah yayasan bernama Yayasan Belehem Franconi yang berpusat di Kefamenanu. Yayasan tersebut mengelola TK, SD, SMP, SMA, asrama putra, dan asrama puteri. Di Keuskupan Agung Medan, OFMConv mendirikan sebuah yayasan bernama Yayasan Betlehem yang berpusat di Bandar Baru. Yayasan tersebut mengelola TK, SD, SMP, SMA, panti asuhan, dan asrama putra. Selain itu Konventual juga merintis serta mengelola suatu Sekolah Tinggi Pastoral milik Keuskupan Agung Medan yang diharapkan dapat membentuk tenaga katekis/guru agama Katolik dan petugas pastoral bagi Gereja. Karya Konventual juga mencakup pembangunan bagi masyarakat luas diantaranya seperti: Membangun panti rehabilitasi para mantan penderita kusta, merehabilitasi para penyandang cacat, membangun fasilitas air bersih di desa-desa, mendirikan Koperasi (CU/Credit Union), dan memberikan bantuan karitatif kepada masyarakat berekonomi lemah. Sejumlah karya sosial kemanusiaan tersebut diusahakan dalam kerjasama dengan institusi lain (pemerintah, lembaga swasta, dan masyarakat lintas agama/lintas etnis) sebagai karya bersama. Bila karya tersebut telah mandiri, maka para saudara Konventual memonitoring dan mendampingi agar karya bersama tersebut tetap lestari.

Panti Asuhan Betlehem-Bandar BaruFasilitas Air Bersih Untuk Desa

 

Dalam berkarya, para saudara Konventual senantiasa menjalin kerjasama dengan sesama fransiskan-fransiskanes dari berbagai tarekat, dengan tarekat-terekat lainnya, dengan pihak keuskupan, dengan umat awam, dan juga dengan pihak pemerintah setempat. Melalui seluruh karya-karya tersebut, para saudara OFMConv ingin membagikan rahmat Allah kepada siapa saja seturut teladan dan spiritualitas Bapak Serafik Santo Fransiskus Assisi.

  • Biara-Biara Komunitas

Hingga sekarang Konventual telah mendirikan 9 biara di Indonesia. Di Keuskupan Agung Medan terdapat 7 biara yakni: Biara Induk St. Yosef-Delitua, Biara Sta. Katarina Siena-Tiga Juhar, Biara St. Yohanes Paulus II-Namo Pecawir Tuntungan, Biara St. Fransiskus Assisi-Padang Bulan Medan, Biara Sang Penebus-Bandar Baru, Biara St. Antonius Padua-Tiga Dolok, dan Biara St. Bonaventura-Pematangsiantar. Di Keuskupan Agung Jakarta terdapat 1 biara yakni Biara St. Lukas-Sunter. Di Keuskupan Atambua terdapat 1 Biara yakni Biara St.Antonius Padua-Sasi Kefamenanu.

 

  1. Penutup

Pada tahun 2016 ini OFMConv telah berusia 79 tahun hadir Indonesia (terhitung misi OFMConv Belanda tahun 1937), 48 tahun usia karya misi OFMConv Italia di Sumatera Utara (terhitung sejak tahun 1968), dan 31 tahun usia Kustodia Provinsi Maria Tak Bernoda Indonesia (terhitung sejak tahun 1985). Tidak boleh dilupakan jasa-jasa para misionaris OFMConv dari Belanda dan dari Italia. Sekarang para saudara Konventual pribumi ditantang untuk membentuk Provinsi yang mandiri, dan lebih dari itu mampu mengutus para saudaranya untuk bermisi ke belahan dunia lainnya yang memerlukan karya kerasulan khas Konventual (seperti yang dahulu dilakukan para misionaris OFMConv dari Belanda dan Italia di Indonesia).

Perjalanan karya misi dan sejarah OFMConv di bumi Indonesia sedang dan masih terus ditaburkan oleh putra-putra Indonesia. Kini, di tangan generasi muda OFMConv Indonesia terbentang tugas untuk mengembangkan OFMConv di Indonesia. Masa depan OFMConv di Indonesia terletak di bahu para saudara Konventual Indonesia sebagai penerus karya misi OFMConv. Sudah menjadi tugas seorang Konventual untuk terus melanjutkan dan mengembangkan karya-karya Fransiskan Konventual, serta menyebarluaskan Spiritualitas Santo Frasiskus Assisi pada masa kini dan di masa-masa depan. Pax  et  Bonum.