Surat Gembala Uskup

SURAT GEMBALA USKUP TANJUNGKARANG TAHUN ARDAS IX 2026 : TAHUN CINTA KEHIDUPAN DAN LINGKUNGAN HIDUP

SURAT GEMBALA USKUP TANJUNGKARANG No : 007/SGU/DIO.TJKG/III/2025 Cinta Kehidupan: Mencintai Manusia dan Lingkungan Hidupnya   Saudara saudari yang terkasih : Bapak Ibu, kaum muda, kaum remaja, anak-anak, Para Imam, dan Biarawan-biarawati di keuskupan Tanjungkarang. Tanpa terasa kita sudah hampir memasuki tahun kesembilan perjalanan arah dasar keuskupan kita. Kita hendak menutup ardas Tahun Keadilan Sosial Kemanusiaan dan memulai ardas Tahun Cinta Kehidupan dan Lingkungan Hidup. Terimakasih tak terhingga kepada seluruh paroki yang dengan caranya masing-masing telah mewujudkan tugas panggilan untuk keadilan sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat masing-masing. Kita sadari tentu saja yang kita  lakukan belum maksimal dalam hasil, namun proses untuk terbuka pada panggilan penting ini sudah kita mulai dan akan kita teruskan. Untuk itu di tahun ardas Cinta Kehidupan dan Lingkungan Hidup ini kita akan berusaha menjangkau secara lebih luas lagi karya-karya sosial kemanusiaan dan kepedulian kita pada lingkungan hidup sebagai tugas untuk memulihkan, merawat dan melestarikan alam sekitar kita. Pesan penting dari ensiklik Laudato Si dan Laudate Deum menjadi warna dominan gerak kita untuk menjalani tahun ardas kesembilan ini. Dengan latar belakang bumi yang sedang menghadapi ancaman serius kerusakannya akibat perubahan iklim, pemanasan global, polusi yang secara masif mencemari udara, air, dan tanah kita serta hilangnya mahkluk hayati secara besar-besaran dan yang lebih parah lagi munculnya tata dunia dan tata hidup baru yang memfasilitasi keserakahan egoisme dan individualisme manusia; panggilan kita untuk kembali kepada kesadaran akan nilai-nilai keadilan sosial kemanusiaan dan cinta akan lingkungan alam ciptaan menjadi sangat mendesak dan semakin relevan. Gereja yang dianugerahi pengetahuan akan kebenaran kehendak Allah dipanggil untuk menjadi yang pertama dan utama bertanggungjawab akan tugas yang sangat besar ini. Itulah sebabnya para Paus kita terus menerus mendesakkan tanggungjawab ini. Sembari Gereja kritis terhadap pelbagai kerusakan alam oleh banyak kerakusan individu maupun lembaga negara, Gereja harus menjadi perintis dalam gerakan pemulihan bumi dan segala isinya ini. Orientasi dasar gerakan ini tentu saja adalah penggilan untuk menyelamatkan manusianya yang sejatinya adalah korban pertama dari kerusakan alam. Fakta kontradiktorisnya adalah manusia sendiri sebagai pelakunya, dan manusia sendiri juga korbannya terutama mereka yang miskin dan tersisih oleh dominasi orang-orang yang sedang berkuasa. Untuk itu, Keuskupan Tanjungkarang sebagai bagian dari Gereja Universal terpanggil untuk mewujudkan tanggungjawab mulia ini dengan panduan arah dasar tahun kesembilan dengan gerakan serentak di paroki-paroki sesuai dengan prioritas kebutuhan masyarakat masing-masing, sembari meneruskan gerakan-gerakan yang sudah dibuat di tahun ardas kedelapan. Penetapan Roadmap Tahun Cinta Kehidupan dan Lingkungan Hidup Saya menganjurkan seluruh rumpun di pusat pastoral bekerjasama untuk menyiapkan materi katekese ASG dan sosialisasinya serta perwujudan nyatanya dengan penanggungjawab utamanya pada Bidang Laudato si Center dari Komisi KKPPMP dibantu oleh komisi PSE dan komisi Kerawam, dengan roadmap sebagai berikut: Caturwulan I : Desember 2025 – Maret 2026: Mendalami Ajaran Sosial Gereja melalui studi dan katekese ensiklik Laudato si dan Frateli Tutti serta Laudate Deum (katekese Adven 2025, Bulan Perdamaian dan Masa Prapaska 2026) sembari mengadakan mapping persoalan-persoalan sosial dan lingkungan hidup di wilayah masing-masing: terkait problem stunting, keluarga pra sejahtera, daerah rawan bencana, perdagangan manusia, polusi sampah, dll. Caturwulan II : April – Juli 2026: Menyusun program praktis dan strategis sebagai gerakan masyarakat sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas bagi kehidupan sosial dan lingkungan hidup serta untuk internal dengan gerakan paroki tangguh, paroki ramah anak, ramah lingkungan, paroki swasembada dst (katekese bulan Liturgi, bulan devosi dan bulan Lingkungan Hidup). Caturwulan III : Agustus – November 2026: Berjalan bersama dalam persaudaraan sejati; mengupayakan bonum commune yang terkait prioritas untuk cinta kehidupan dan pemulihan lingkungan di bumi Lampung (katekese bulan Kebangsaan, bulan KS, bulan Rosario dan bulan Arwah). NB: Team Laudato Si Center bisa menyusun dan menawarkan kegiatan sepanjang tahun untuk memanfaatkan momen-momen perayaan nasional maupun international terkait hari sampah, hari lingkungan hidup, hari hutan, air, ozon dan seterusnya. Semoga fungsi garam kita semakin berdaya dan terang kita semakin bersinar dan panggilan kita untuk menjadi sakramen keselamatan bagi semua orang semakin terbukti dengan titik berat membangun mentalitas baru yang lebih menghargai kehidupan dan kelestarian segenap ciptaan. Kita tidak berjalan sendiri, tetapi bersama Roh Kudus yang senantiasa mendampingi Gereja untuk selalu peka dalam membaca tanda-tanda jaman. Sekian dan selamat menjalani tahun ardas kesembilan keuskupan kita. Doa dan berkat. Bandar Lampung, 7 Oktober 2025 Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo Uskup Tanjungkarang Berikut link untuk mendownload dokumen, Logo, Banner, dan Doa Ardas Tahun IX : https://drive.google.com/drive/folders/1ncbo4oH50OU3Nn09OjVjwrhR9uFg8kPb?usp=sharing

SURAT GEMBALA USKUP TANJUNGKARANG TAHUN ARDAS IX 2026 : TAHUN CINTA KEHIDUPAN DAN LINGKUNGAN HIDUP Read More »

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2025 KETENTUAN PUASA DAN PANTANG KEUSKUPAN TANJUNGKARANG

No : 008/SGU/DIO.TJKG/II/II/2025   Saudara-saudari yang terkasih, anak-anak, putra-putri remaja, kaum muda, para ibu-bapak, para religius dan para imam yang dikasihi Tuhan. Tanggal 05 Maret 2025 ini adalah perayaan Rabu Abu. Kita kembali memasuki masa Prapaskah. Kembali kita akan menerima abu di dahi sebagai pengingat mujarab akan saat pertobatan kiita dan sarana bantu yang sangat ampuh untuk menyadari keterbatasan kita sebagai manusia lemah yang tidak bisa tidak membutuhkan Tuhan. Abu menjadi simbol hancurnya hati dan diri kita setelah kita menyadari betapa dosa telah merusak diri kita sedemikian rupa. Saatnya kita berkabung atas kematian kita karena dosa kita; sekaligus menjadikannya waktu terbaik kita untuk bertobat sebagai persiapan kita bangkit dan menjalani hidup baru bersama Kristus. Pada masa prapaskah ini, kita juga diingatkan kembali akan kewajiban menjalankan Aksi Puasa Pembangunan (APP). Inspirasi dasar dari APP adalah pertobatan hati; sebab nanti yang keluar dari hati itulah yang dinilai oleh Allah. Dari hati yang selama ini bisa melahirkan aneka dosa dan kejahatan karena egoisme diri, setelah bertobat harus mengalirkan sesuatu yang baru; segala kebaikan dan kemurahan hati bagi sesama. Puasa Katolik justru bersifat gerakan keluar dari diri sendiri dan tidak sibuk atau berhenti hanya untuk mengurus kepentingan diri. Mungkin terasa absurd (tidak masuk akal), seolah-olah kita tidak butuh lagi untuk diri-sendiri, namun hakikat kasih dari Allah, tidak pernah bersifat egois. Hal itu tetap berlaku bagi dua tujuan keberadaan Gereja yakni untuk kesejahteraan persekutuan umat berima (ad intra) dan untuk kesejahteraan umum (ad extra). Tema Arah Dasar (ArDas) Tahun VIII keuskupan kita “Tahun Keadilan Sosial Kemanusiaan” hendaknya semakin melatih dan mengasah kebiasaan kita dalam mengabdi kepentingan bersama. Kita sudah ditantang untuk dapat memberi perhatian pada saudara-saudari kita yang kurang beruntung hidupnya melalui doa ArDas dan pendalaman Ajaran Sosial Gereja (ASG). Tema ini akan diperdalam lagi melalui bahan katekese Masa Prapaska; sebagai sarana bagi kita untuk menghayati Retret Agung ini. Bahan APP tahun ini yang mengambil judul besar “ Kamu harus memberi mereka makan” (Mrk 6:37) menjadi fokus atau sentral dari perutusan kita saat ini. Entah bagaimana cara dan bentuknya, makna memberi mereka makan ini bisa diartikan secara sempit maupun secara luas. Bahan APP kita sudah membantu menjabarkannya dengan sangat baik. Saya mengharapkan bahwa bahan APP ini tidak hanya menjadi inspirasi, tetapi juga diwujudkan baik dalam praktik nyata berbelas kasih maupun dalam modul-modul pembinaan berjenjang kita mulai dari Bina Iman Anak (BIA)-Bina Iman Remaja (BIR) sampai kalangan dewasa. Dengan ini kita bisa menjalankan semua yang terkait panggilan kita mengisi tahun ArDas dan Tahun Yubileum secara integral (utuh). Saudara-saudari yang terkasih, selanjutnya saya sampaikan ketentuan pantang dan puasa kita. Ketentuan puasa dalam Gereja Katolik tercantum dalam Kitab Hukum Kanonik (Hukum Gereja) Kan. 1244-1253 (juga Statuta Regio Sumatera pasal 65 dan 66), sebagai berikut : Puasa dalam arti yuridis adalah : boleh makan kenyang hanya sekali dalam sehari; sedangkan pantang berarti tidak mengonsumsi makanan atau minuman atau melakukan hobi/ kesenangan tertentu, atau hal-hal lain, yang hendaknya dipilih sendiri oleh pelaku puasa dan pantang. Setiap Jumat sepanjang tahun adalah hari pantang (bdk. Pasal 69 ayat 2), kecuali jika hari itu kebetulan jatuh hari yang terhitung sebagai hari raya. Dalam Masa Prapaska, hari puasa dan pantang adalah Rabu Abu dan Jumat Agung; sedang hari pantang adalah Rabu dan Jumat sepanjang masa Prapaska itu. Yang wajib berpuasa adalah semua orang Katolik yang sehat dan berumur antara 18-60 tahun; sedangkan yang wajib pantang adalah semua orang Katolik yang sehat dan berumur antara 14-60 tahun. Peraturan puasa dan pantang tersebut berada di bawah judul besar Waktu Suci atau Waktu Rahmat yang pengertiannya adalah sebagai berikut: Yang dimaksud Waktu Suci adalah pengudusan hari Minggu dan Hari Raya wajib serta hari-hari yang dikhususkan untuk pelaksanaan tobat, mati raga, dan ulah kesalehan demi peningkatan hidup rohani. Sesuai dengan Tradisi Gereja, Waktu Tobat meliputi hari Jumat sepanjang tahun dan Masa Prapaska. Tidak ada larangan untuk melangsungkan perkawinan, pembaharuan kaul, atau tahbisan pada Masa Prapaska, namun hendaknya dihindari pesta meriah yang tidak sesuai dengan semangat mati raga dan pertobatan. Saudara dan Saudari yang terkasih, Marilah kita mengisi masa pertobatan kita dengan berani mengendalikan hawa nafsu, menjauhkan diri dari tindakan yang merusak dan menghancurkan nama baik atau milik sesama; bersikap ugahari dan sederhana, dan tekun dalam beramal kasih kepada sesama yang membutuhkan, terutama melalui derma APP kita. Kita sebagai manusia sudah mendapatkan banyak dari Allah, maka beramal menjadi ungkapan terimakasih kepada Allah yang ingin memberi perhatian kepada Saudara dan saudari kita yang miskin dan menderita. Putra dan putri kita sejak kecil sudah seharusnya dilatih beramal kasih. Sekolah-sekolah kita dan keluarga-keluarga kita harus membantu anak-anak untuk belajar mempunyai hati yang pemurah bagi sesama. Semua diwajibkan beramal, juga kita yang masih miskin. Kita yang miskin pun dapat memberi dari kekurangan kita seperti janda miskin yang dipuji oleh Yesus (lih. Mrk 12:41-44; Luk 21:1-4). Selain itu, selaras dengan ajakan untuk membangun persaudaraan sejati, marilah kita bentuk pondasi yang kuat dalam diri anak-anak kita melalui teladan orangtua, juga dalam sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan entah itu suku, agama maupun ras dan apapun latar belakang orang lain sebab semua orang adalah saudara kita segambar dan secitra dengan Allah. Selamat berziarah di Tahun Yubileum, selamat menjalani Tahun ArDas VIII dan selamat menghayati Masa Puasa dan Pantang kita.   Salam dan Berkat Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo Uskup Tanjungkarang   Berikut link untuk mendownload dokumen surat gembala Prapaskah 2025 : https://drive.google.com/file/d/1XnXSLarMFp5AYT6BenjHT6dIFz1YgB9L/view?usp=sharing

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2025 KETENTUAN PUASA DAN PANTANG KEUSKUPAN TANJUNGKARANG Read More »

SURAT GEMBALA USKUP TANJUNGKARANG TAHUN ARDAS VIII : TAHUN KEADILAN SOSIAL KEMANUSIAAN

SURAT GEMBALA USKUP TANJUNGKARANG TAHUN ARDAS VIII : TAHUN KEADILAN SOSIAL KEMANUSIAAN NO : 006/SGU/DIO.TJKG/II/2024 Menjadi Sesama dalam Karya Belas Kasih: Tugas Perutusan di Tengah Dunia.   Saudara saudari yang terkasih : Bapak, Ibu, kaum muda, kaum remaja, anak-anak, Para Imam, dan Biarawan-biarawati di Keuskupan Tanjungkarang. Kita sedang berada di penghujung tahun ketujuh arah dasar kita, yakni Tahun Pendidikan Cinta Budaya dan Kaderisasi Politik Cinta Tanah Air. Kita sudah berupaya sekuat tenaga untuk berpartisipasi aktif menjadi bagian dari masyarakat-bangsa Indonesia, yang dipanggil untuk mengabdi cita-cita luhur Negara. Kita sudah belajar banyak dari fenomena nyata seputar pemilu presiden dan legislatif yang cukup menguras pikiran kita akan hal-hal yang tidak kita bayangkan sebelumnya; termasuk belajar untuk berdemokrasi dengan jujur dan benar. Kita sudah berdoa sepanjang tahun agar kita berbakti di tengah masyarakat dan bersama dengan pemerintahan Negara serta orang yang berkehendak baik dapat membangun bangsa yang beradab dan berbudaya, dalam semangat solidaritas dan gotong royong serta rasa persatuan dan persaudaraan yang sejati. Semangat ardas ketujuh, karena sistem spiral yang kita pakai kiranya tidak berhenti di sini. Kita berharap bisa semakin paham melakukan tugas pengabdian luhur ini di waktu-waktu selanjutnya. Apalagi tema di tahun kedelapan ini masih sangat erat berkaitan, yakni: Tahun Keadilan Sosial Kemanusiaan. Memaknai Tahun Kedelapan dari Ardas Dalam penjelasan dari buku Arah Dasar Pastoral keuskupan kita, tujuan kita melaksanakan tema Keadilan Sosial Kemanusiaan adalah untuk merenungkan Ajaran Sosial Gereja (ASG) atau ajaran Magisterium di dekade terakhir, supaya kita tetap sehati sejiwa dengan Gereja Universal dalam menyikapi dan menghadapi dunia, baik kebaikan atau kebahagiaannya maupun penderitaannya (GS 1). Ajaran Sosial Gereja atau ASG berisikan ajaran Gereja tentang sikap dan cara pandang Gereja berkaitan dengan permasalahan sosial di dalam masyarakat. Artinya ASG adalah perhatian Gereja dalam dimensi ad extra-nya, yang peduli pada kesejahteraan hidup seluruh manusia. ASG berusaha membawakan terang lnjil ke dalam persoalan keadilan sosial di tengah jaringan relasi masyarakat yang begitu kompleks. Dengan kata lain, ASG berusaha mengaplikasikari ajaran-ajaran lnjil yang secara ontologis bernilai kebaikan universal. ke dalam realitas sosia·lhidup bermasyarakat di dunia. Tujuan ASG adalah menghadirkan kepada manusia rencana dan kehendak Allah bagi realitas sekular dan menerangi serta membimbing manusia dalam membangun tata baru dunia, yang lebih bermartabat. Keberadaan ASG dalam Gereja tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa Gereja diutus oleh Tuhan ke dalam dunia (bdk. Yoh 17:18). Fungsi garam dan terang tentulah dimaksud saat kita masih hidup di dunia. Tuhan bahkan tidak berpikir untuk mengambil Gereja dari dunia (bdk. Yoh 17:15); sebaliknya mengutusnya ke dunia untuk menjadi sakramen kehadiran-Nya dan menandai hadirnya tanda dan sarana keselamatan Tuhan di dunia. Hal ini sangat selaras dengan visi keuskupan kita dan memang karena itu sejatinya tugas Gereja di manapun. Karena itu, tugas Gereja adalah hadir di dunia, bukan lari dari dunia. Dengan hadir di dunia, Gereja menjadi benih dan awal dari Kerajaan Allah, yang harus diwarnai ciri damai, adil dan sejahtera sebagai dambaan semua manusia (bdk. Compendium art. 49). Warta keselamatan Kristus melalui kehadiran Gereja menuntut terjadinya perubahan nyata tatanan dunia sesuai dengan yang dikehendaki Kristus. Dalam arti sempit ASG dimengerti sebagai kumpulan aneka dokumen (umumnya disebut ensiklik) yang dikeluarkan oleh Magisterium Gereja (Paus) dan berbicara tentang persoalan­ persoalan sosial. Keseluruhan dokumen tersebut haruslah dibaca dan dimengerti sesuai dengan konteks jaman yang melingkupi pembuatan dokumen tersebut. Kehidupan bermasyarakat dan realitas hidup sehari-harinya menjadi lapangan konkret bagi pengembangan ajaran sosial Gereja. Karena itu tidak mungkin kita bisa melaksanakan fungsi sosial tugas Gereja dengan jelas kalau kita tidak pernah mempelajari dan mensosialisasikan dokumen-dokumen ini. Untuk itu kita akan pertama-tama mempelajari dan memahami dokumen-dokumen ini dalam pertemuan-pertemuan lingkungan maupun studi bersama; dan selanjutnya merealisasikannya dalam aksi nyata. Diharapkan dengan memiliki pengetahuan yang lebih baik, Umat Katolik Keuskupan Tanjungkarang dapat mengambil sikap yang lebih bijaksana dalam menghadapi berbagai masalah kemanusiaan yang ada, dan dengan demikian juga dapat berpartisipasi aktif dan berbuat lebih tepat dalam mengembangkan karya sosial kemanusiaan ini, dengan menjadi bagian tak terpisahkan bagi saudara-saudari kita yang dilanda kesusahan dan yang kurang beruntung dalan hidupnya. Dengan kata lain kita menjadi sesama melalui karya belas kasih dalam tugas perutusan kita di tengah masyarakat di bumi Lampung ini; agar kesejahteraan bersama bisa dicapai; yakni seluruh apa yang baik yang menjadi kebutuhan masyarakat baik jasmani maupun rohani bisa terpenuhi dengan cukup.  Lalu dimana posisi kita? Kita sudah melewati masa krisis akibat Covid-19, yang menyadarkan kita akan kesalingtergantungan kita. Pesan tegasnya adalah agar kita mulai membangun budaya berjalan bersama memperbaharui dunia untuk menjadi tempat yang nyaman bagi semua. Namun pasca covid-19 secara cepat orang menjadi lupa diri, dan budaya sating menyingkirkan dan menghancurkan kembali lagi dengan daya rusak yang semakin hebat di bidang sosial kemanusiaan. Karena itu kita tidak boleh tidak peduli lagi. Panggilan ini semakin mendesak. Kita tidak memaksudkan bahwa Keuskupan Tanjungkarang harus mulai dari nol lagi. Kita sudah mempunyai Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) yang bersama dengan Yayasan Pembinaan Sosial Katolik (YPSK) dan Caritas Keuskupan Tanjungkarang serta Yayasan Pelita Kasih adaiah para ujung tombak karya sosial kemanusiaan keuskupan Tanjungkarang, yang menjangkau bukan hanya orang katolik, tetapi juga siapapun yang membutuhkan sentuhan kemanusiaan. Karya PSE sudah meliputi aneka pemberdayaan di bidang sosial ekonomi umat dan masyarakat. Karya YPSK sudah melayani dan memfasilitasi pemberdayaan untuk kelompok petani, peternak dll. Karya Caritas untuk penanggulangan aneka bencana dan antisipasinya. Karya Yayasan Pelitakasih untuk kaum difabel dan disable. Maka di tahun ardas kedelapan ini kita ingin semaksimal mungkin mengembangkan apa yang sudah kita mulai dan menambah bentuk-bentuk karya kemanusiaan dengan berinisiatif menjadi perintis atau pionir entah itu pengembangan CU atau Koperasi, rumah singgah untuk para gelandangan, panti-panti asuhan atau jompo; warung murah, perhatian untuk aneka UMKM dan seterusnya. Tentu saja kita tidak akan bekerja sendirian, namun selalu bekerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik. terutama dengan penanggungjawab utama kesejahteraan umum, yakni pemerintah. Penetapan Roadmap Tahun Keadilan Sosial Kemanusiaan Akhirnya kita akan mencoba memaknai dan mengisi tahun ardas kedelapan ini dalam kacamata tata keselamatan dunia terutama melalui gerakan keadilan sosial dan kemanusiaan yang komprehensif dan bertanggungjawab. Maka saya menganjurkan seluruh rumpun di pusat pastoral bekerjasama untuk menyiapkan materi katekese ASG dan sosialisasinya serta perwujudan nyatanya dengan penanggungjawab utamanya pada komisi PSE

SURAT GEMBALA USKUP TANJUNGKARANG TAHUN ARDAS VIII : TAHUN KEADILAN SOSIAL KEMANUSIAAN Read More »

Surat Gembala Paskah 2024

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus Yesus. Paska adalah inti iman kita seturut iman pokok para Rasul Kudus. Namun untuk memahami pokok iman ini kita tidak pernah boleh meninggalkan kerangka menyeluruh karya keselamatan seturut kehendak Allah, yang melibatkan misteri penciptaan, misteri inkarnasi dan misteri kebangkitan. Dengan kata yang lebih sederhana, karena semua misteri itu terkait sosok Pribadi Kristus, maka kita harus memahami, mengimani dan mengikuti Yesus yang benar dan dengan benar. Kristus yang benar adalah Kristus yang diwartakan oleh Gereja Apostolik; selanjutnya diwartakan oleh pengganti para Rasul. Mengikuti Kristus dengan benar adalah dengan mengikuti ajaran dan tindakan para Rasul. Dan kita diberi pedoman dasar beriman dengan benar oleh Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Tanpa ketiganya kita dapat tersesat. Kita dapat keliru mengikuti Yesus, misalnya kalau kita tidak menempatkan Ekaristi sebagai puncak dan sumber hidup kita, padahal Ekaristi adalah identik dengan perayaan Paskah. Padahal Hari Raya Kebangkitan Kristus, sekali lagi, adalah inti iman kita. Bapa Suci mendesak kita agar melalui permenungan panjang masa Prapaskah, kita menemukan kriteria baru mengenai keadilan dan komunitas yang dengannya kita dapat terus maju menuju masa depan. Lebih jauh Bapa Suci mengingatkan bahwa dimana-mana di dunia saat ini ada godaan besar manusia ingin menjadi yang mahakuasa, menjadi tuhan-tuhan bagi diri sendiri dan orang lain untuk dihormati oleh semua orang, untuk mendominasi orang lain, nahkan untuk menyingkirkan dan meniadakan sesama manusianya sendiri. Hal itu semakin mudah dilakukan dengan berbekal kemajuan teknologi: kita sadar betapa godaan itu semakin menggiurkan. Terhampar jelas di hadapan kita. Kita bisa terikat pada uang, pada proyek, ide atau tujuan tertentu, pada jabatan dan pekerjaan, pada gaya hidup, bahkan pada kultus individu tertentu. Dan celakanya lagi jika keinginan sudah menjadi kebutuhan dan kebutuhan sudah menjadi nafsu; nafsumengubah dunia menjadi dunia yang produktif untuk kesenangan dan kenikmatan sementara dengan menyingkirkan semua hal yang dianggap tidak produktif. Apalagi jika menggantikan kemanusiaan dengan mesin dan alat. Nilai kemanusiaan diganti dengan nilai numerik/digital. Sudah barang tentu dunia akan semakin kehilangan cinta dan rahmat Allah. Jika kita sendiri terjebak di arus dunia baru ini kita pasti sulit untuk bergerak maju dalam karya keselamatan, semua itu malah bisa melumpuhkan kita. Alih-alih ingin menyatukan manusia dalam kemanusiaan yang sama, sebaliknya malah akan tercipta banyak konflik, konflik apapun; karena manusia terjebak untuk saling bersaing demi ambisi dan nafsu masing-masing. Tiga jenis cobaan Iblis kepada Yesus, sepertinya selalu aktual dari jaman ke jaman dengan bentuknya yang selalu baru. Untuk itulah pada masa Prapaska perikop itu selalu ditampilkan kembali untuk menjadi pengingat kita secara terus menerus. Sinode Gereja Universal menjadi keputusan agung kita untuk berani melawan arus dunia. Bapa Suci meminta kita agar melalui sinode kita semakin mampu menjalankan misi membawa cinta dan rahmat bagi semesta, membangun komunio yang semakin terbuka dan semakin mampu memberi kontribusi yang baik melalui partisipasi dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Paus mengatakan: “Biarkan orang lain melihat wajah gembira, mencium aroma kebebasan dan merasakan cinta yang membuat segala sesuatu menjadi baru, dimulai dari yang terkecil dan terdekat dengan kita”. Hal ini dapat dan harus terjadi di setiap komunitas Kristiani kita. Pada persiapan Paska tahun 2024 ini, mengacu pada Arah Dasar Tahun VII Keuskupan kita: Tahun Pendidikan Cinta Budaya dan Kaderisasi Politik Cinta Tanah Air, kita sudah merenungkan secara khusus bahan APP. Semoga bahan-bahan itu menjadi sarana bantu yang efektif untuk mengisi masa tenang kita merefleksi kembali hakikat kekatolikan dan keindonesiaan kita. Dan pada Perayaan Paska menjadi saat dimana kita bersaksi tenatang pengalaman Paska baru kita. Pengalaman untuk masuk semakin dalam mewujudkan panggilan dan tugas pokok kita sebagai pembawa kabar baik. Pembawa kabar baik tentulah dengan bukti membawa kebaikan dimana-mana; dalam karya internal dan eksternal Gereja kita. Pengalaman Paska juga mengajak kita menggunakan energi baru, agar kita kuat mewujudkan semua itu; itulah energi kebangkitan, tenaga untuk terus hidup dan maju. Di hadirat Tuhan, seluruh manusia mustinya semakin menjadi saudara dan saudari, itulah persaudaraan sejati yang hendak kita capai. Di keuskupan kita, dimulai dengan mencintai budaya dan tanah air. Kita manusia sama-sama pengembara di dunia ini yang saling membutuhkan dalam peziarahan yang sama menuju tujuan akhir hidup kita. Ke mana manusia harus kembali, kalau bukan kepada asalnya yang sejati. Dan Paska membawa kita kembali kepada hadirat Tuhan itu. Selamat Hari Raya Paska 2024. Alleluia.   Bandarlampung, 18 Maret 2024 Uskup Tanjungkarang Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo

Surat Gembala Paskah 2024 Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

You cannot copy content of this page

Scroll to Top