Author name: Komsos Tanjungkarang

Ziarah Virtual 5 Gua Maria Bersama Mgr. Yohanes Harun Yuwono

Komsos, Tanjungkarang (28/4/2021). Masa pandemi memang membuat kegiatan fisik serba terbatas, termasuk dalam konteks kegiatan rohani-religius yang dilakukan bersama-sama. Maka, di banyak tempat kegiatan-kegiatan bersama di dalam peribadatan banyak di”desain” sedemikian rupa sehingga tetap mengindahkan protokol kesehatan (prokes), sehingga kemungkinan semakin menyebarnya virus korona semakin diminimalisir. Tak terkecuali kegiatan-kegiatan mengereja di Keuskupan Tanjungkarang, khususnya untuk menyambut dan merayakan Bulan Maria di bulan Mei 2021 ini. Setiap Sabtu di bulan Mei,  Bapa Uskup Mgr. Yohanes Harun Yuwono akan mengadakan Ziarah Virtual di 5 Gua Maria di Keuskupan Tanjungkarang. Dalam rangka memperhatikan prokes, umat diharapkan ikut berpartisipasi dengan dua cara, yaitu mengikuti secara live streaming di Kanal Youtube Komsos Tanjunkarang dan dapat mengirimkan intensi yang akan dibacakan ketika berdoa rosario bersama. Sabtu, 1 Mei 2021 pukul 16.00 WIB Bapa Uskup akan membuka bulan Maria dengan berziarah ke Gua Maria Bunda Kerahiman, Sekincau. Pada perayaan ekaristi pembuka ini, direncanakan akan juga diberkati Patung Bunda Maria yang baru. Setelah perayaan ekaristi dilanjutkan dengan pembacaan intensi dan doa rosario bersama. Berikut ini kami sampaikan juga bagaimana cara umat berpartisipasi, khususnya melalui format intensi yang akan dikirimkan dan alamat email pengiriman. Dicantumkan pula narahubung jika membutuhkan informasi lebih lanjut. Selamat menyambut Bulan Maria. Berkah Dalem

Ziarah Virtual 5 Gua Maria Bersama Mgr. Yohanes Harun Yuwono Read More »

Memilih Aktif Tanpa Kekerasan*

Dua hari, Kamis dan Jumat, 22 dan 23 April 2021, sebuah kesempatan menarik saya dapatkan melalui undangan memberi sharing pada Mata Kuliah Resolusi Konflik, untuk mahasiswa semester 6 FISIP Universitas Lampung. Berikut ini adalah beberapa poin pemantik diskusi yang kami bicarakan dalam dua kelas kecil tersebut. Menemui Perbedaan Bangsa Indonesia merupakan masyarakat yang terdiri dari beranekaragam suku bangsa yang memiliki adat istiadat, sosial, budaya, ekonomi, agama, ideologi politik, dan seterusnya yang berbeda-beda. Satu contoh, di Indonesia ini terdapat 656 suku bangsa dengan bahasa lokal 300 macam. Perbedaan itu tak terelakkan. Kita tak pernah bisa meminta terlahir seperti apa dan di mana: lahir di Lampung, Papua, Amerika atau tempat manapun; menjadi laki-laki atau perempuan, rambut keriting, lurus, kulit hitam atau putih; terlahir dari keluarga Islam, Katolik, moderat, kolot, dan seterusnya. Sebagian dari apa yang melekat pada diri kita itu tak mungkin diubah. Sebagian yang lain bisa berubah karena pengalaman, situasi, pengaruh lingkungan, dan sebagainya. Bahkan dari kelompok yang sama, tetap saja ada perbedaan. Sama-sama dari Jawa, tapi ada perbedaan suku, baik itu Madura, Sunda, dan ada suku-suku lain. Sama-sama Madura tapi ada yang suka bakso atau yang suka mie ayam. Sama-sama suka bakso ada yang suka sambelnya dicampur atau yang dipisah. Sama-sama suka sambelnya dicampur ada yang mengambilnya sedikit atau banyak. Sama-sama suka ambil sambel banyak yang satu sehat-sehat saja yang lain diare. Sama-sama diare yang satu cepet sembuh yang lain masih pingsan. Seperti itulah perbedaan itu melekat pada kita. Perbedaan dapat menjadi salah satu sumber konflik. Jika perbedaan tidak diolah, konflik akan terjadi lebih sering dan lebih kuat. Puncaknya akan terjadi kekerasan, baik itu kekerasan fisik, psikis, seksual, maupun ekonomi . Dampak kekerasan bisa muncul dalam beberapa bentuk, pertama, ada korban. Korban biasanya merasakan sakit, terluka, bahkan sampai korban jiwa. Kedua, kerusakan, baik itu kerusakan fisik (gedung,barang) atau bisa juga kerusakan relasi dan kerusakan psikis. Jika kekerasa tidak distop, kekerasan satu akan mengakibatkan kekerasan yang lain, dan ini akan berkelanjutan. Aktif Tanpa Kekerasan  Aktif  Tanpa Kekerasan (ATK) adalah alternatif sikap hidup sekaligus gerakan yang didasari semangat penghormatan martabat manusia untuk melawan ketidakadilan dan kekerasan, dengan tanpa kekerasan. Sikap hidup dan gerakan ini muncul karena ada kesadaran bahwa ketidakadilan dan kekerasan tidak mungkin dihapus tanpa memutus rantai ketidakadilan dan kekerasan. Caranya adalah menghentikan tindakan tidak adil dan kekerasan mulai dari diri sendiri. Melawan kekerasan tanpa kekerasan, tidak berarti diam. Sikap itu perlu dilanjutkan dengan upaya mengungkapkan fakta dan kebenaran, dengan penilaian dan  analisis yang kritis terhadap situasi yang perlu ditentang, dilawan, dan ditolak. Setelah itu, bersama dengan masyarakat melakukan aksi-aksi konkret tanpa kekerasan. Penulis bersama para mahasiswa-mahasiswi dalam zoom meeting. Sikap aktif tanpa kekerasan merupakan kesadaran personal dan komunal untuk perubahan sosial, berdasarkan kasih dan kebenaran yang mewujud dalam keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan dengan cara mengalahkan kejahatan. Dengan kata lain kita “merombak tanpa merusak”. Ada dua prinsip yang harus dipegang terkait prinsip dasar “aktif tanpa kekerasan: Pertama, manusia itu setara, bermartabat sama, apa pun kondisi yang melekat padanya. Oleh karena mempunyai hak asasi yang sama yang harus dihormati tak terelakkan. Kedua, perdamaian merupakan cita-cita bersama. Tak ada satu pun manusia yang ingin tidak damai. Ada lima strategi dasar gerakan “aktif tanpa kekerasan” saat terjadi konflik, yaitu: Pertama, adalah dialog. Dialog merupakan salah satu upaya menjangkau kesadaran semua pihak. Meski sudah terjadi konflik kekerasan kita harus tetap percaya bahwa masih ada potensi-potensi kebaikan yang bisa dikembangkan dalam diri pihak-pihak yang berkonflik, baik dalam diri pelaku maupun korban kekerasan. Maka, perlu ditempuh dialog di antara pihak-pihak tersebut, demi membuka kemungkinan bertemunya kepentingan masing-masing pihak. Dalam dialog, setiap pihak didorong untuk menghentikan situasi kekerasan lalu “duduk bersama” saling mengungkapkan kepentingan, memahami akibat dan kerugian dari tindakan kekerasan, mencari kebenaran serta menemukan pemecahan masalah yang adil secara bersama-sama. Dialog berarti mempertemukan pemikiran semua yang sedang berkonflik untuk memahami kepentingan dan kondisi masing-masing. Kita harus bersikap sebagai pihak yang peduli pada kebaikan umum, bukan hanya kepentingan sendiri. Di sinilah pentingnya kita mempunyai kemampuan berpikir dari dua sisi. Unsur penting dalam dialog adalah data tentang fakta yang terjadi, meskipun data tidak selalu mengandung kebenaran mutlak. Prinsip kedua adalah persuasi dan protes tanpa kekerasan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan persuasi sebagai ajakan dengan cara memberikan alasan dan prospek yang baik yang meyakinkan. Dengan persuasi ini, para pelaku kekerasan dipengaruhi untuk mengakhiri praktek kekerasan dan ketidakadilan. Strategi ini dapat dilakukan dengan pengiriman delegasi untuk dialog disertai dengan pengajuan solusi alternatif, bisa pula dengan surat terbuka. Jika dialog tidak berhasil maka pengungkapan fakta ketidakadilan dan kekerasan dilakukan dengan cara mempengaruhi pendapat publik. Misalnya dengan lagu, drama, puisi, selebaran, poster, rapat umum, demonstrasi, dan sebagainya. Lagu-lagu Iwan Fals adalah contoh protes tanpa kekerasan sekaligus sebagai bentuk komunikasi kepada publik. “Aksi Kamisan”, berdiri di depan Istana Negara dengan mengenakan pakaian hitam dan membawa payung hitam oleh sekelompok ibu yang anak-anaknya menjadi korban peristiwa Reformasi 1998, adalah bentuk lain “protes tanpa kekerasan”. Aksi “Sembilan Srikandi” ibu-ibu dari Kendeng, Jawa Tengah, yang ngecor kaki mereka dengan semen merupakan aksi protes dan kampanye yang membuat nyeri di hati. Menanami lobang-lobang jalan raya dengan pohon-pohon pisang bisa digolongkan dalam aksi protes yang kreatif. Ketiga, menolak prinsip ketidakadilan. Satu hal penting yang perlu kita ingat adalah sistem dalam masyarakat, termasuk sistem yang paling tidak adil dan paling diktator sekali pun, sangat tergantung pada ketaatan, kerjasama, serta kesediaan masyarakat untuk tunduk. Maka, sistem yang tidak adil dan mengandalkan kekerasan akan tumbang jika anggota-anggota masyarakat menarik sikap-sikap itu. Dengan strategi ini, kita menolak untuk tunduk, bekerja sama, dan terlibat dalam kekerasan serta ketidakadilan. Kita juga menolak untuk duduk dalam struktur yang melakukan kekerasan dan ketidakadilan dalam masyarakat. Intinya, kita menarik segala bentuk dukungan terhadap sistem yang seperti itu.                                         Mahasiswa-mahasiswi sedang berdiskusi di zoom meeting. Keempat, sistem tandingan alternatif. Kekerasan struktural berlangsung dalam sistem yang tidak adil. Melawan sistem kekerasan yang tidak adil tersebut bisa dilakukan dengan cara merancang dan memberlakukan sistem tandingan alternatif yang lebih adil. Misalnya, warung atau toko kejujuran adalah salah satu bentuk membangun sistem

Memilih Aktif Tanpa Kekerasan* Read More »

SARASEHAN LITURGI “Memetik Keindahan dari Kesederhanaan Perayaan Ekaristi di Masa Pandemi”

Komsos, Tanjungkarang (24/4/2021). Komisi Liturgi dan Tim Tribunal Keuskupan Tajungkarang mengadakan pertemuan pendalaman Tahun Ardas ke-4, Tahun Ekaristi, di Paroki Keluarga Kudus Sidomulyo, Lampung Selatan. Pertemuan ini mengambil tema “Memetik Keindahan dari Kesederhanaan Perayaan Ekaristi di Masa Pandemi”. Pertemuan dengan konsep “Sarasehan Liturgi” ini diikuti 72 umat yang merupakan utusan dari Paroki Keluarga Kudus Sidomulyo, Unit Pastoral Bakauheni, dan Unit Pastoral Jatibaru. Hadir tiga narasumber dalam sarasehan liturgi ini, yaitu Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Keuskupan Tanjungkarang, RD. Higianus Indro Pandego sebagai Vikaris Judisial Keuskupan Tanjungkarang, dan RD. Petrus Tripomo sebagai Komisi Liturgi Keuskupan Tanjungkarang. Di sesi pertama, RD. Indro Pandego mengajak  umat yang hadir untuk mendalami spiritualitas dan pastoral Sakramen Ekaristi dari sudut pandang Kitab Hukum Kanonik (KHK). Pada sesi dua, RD. Petrus Tripomo berbicara tentang liturgi dan tata perayaan ekaristi. Di sesi ketiga, Bapa Uskup dan para narasumber menjawab berbagai pertanyaan umat. Acara ditutup dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono. (Komsos Tanjungkarang)    

SARASEHAN LITURGI “Memetik Keindahan dari Kesederhanaan Perayaan Ekaristi di Masa Pandemi” Read More »

PASKAH 2021 DALAM KESEDERHANAAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN (LP)

Setelah setahun lebih, kesempatan perayaan Paskah bisa dicecap oleh para narapidana Kristen Protestan dan Katolik di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Narkotika Kelas IIA Bandarlampung dan Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Bandarlampung. Kegiatan ini difasilitasi oleh Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang, melalui kelompok Pemerhati LP yang dikoordinasi oleh Laurentius Wardoyo. Di LP Narkotika, perayaan paskah diikuti oleh 12 narapidana bersama dengan 7 pendamping dari Pemerhati LP mengikuti ekaristi kudus yang dipimpin oleh RP. Ignatius Supriyatno MSF pada Kamis 15 April 2021. Jadwal ini mengikuti jadwal yang biasa dipakai oleh Kelompok Pemerhati LP dalam pelayanan di lapas. Paskah di LP narkoba Way Hui dipimpin RP. Ignatius Supriyatno MSF, Kamis 15 April 2021.   Rm. Supriyatno menandaskan tiga kata kunci dalam kotbahnya yaitu: kepekaan, kejujuran dan kesetiaan. Ketiga kata kunci ini sesuai dengan bacaan Injil hari itu yang didengarkan bersama tentang penampakan Yesus kepada para muridNya. Usai misa, dialog dilakukan sembari makan siang bersama dan pemberian bingkisan. Berbagai macam sharing dari para narapidana muncul dalam sharing ini menampakkan keceriaan walaupun perayaan paskah dilakukan dalam bentuk sederhana. “Kami gembira karena setelah satu tahun lebih bisa menerima kunjungan ekaristi bersama dalam sukacita paskah.” Ujar salah seorang narapidana di akhir kegiatan. Di Rutan, kegiatan serupa dilakukan pada Senin 19 April 2021 diiikuti oleh 14 orang narapidana dengan 5 pendamping dari Pemerhati LP. Ekaristi kudus dipimpin oleh RD. Philipus Suroyo yang mengangkat bacaan hari Minggu sebelumnya tentang dua orang yang berjalan ke Emaus. Paskah di rutan Way Hui dipimpin RD. Philipus Suroyo, Senin 19 april 2021.   “Damai tidak harus menunggu saat keluar dari tempat ini. Karena damai bisa didapatkan kapan pun dan di manapun dalam seluruh proses hidup kita, asalkan kita mau menyadari dan mengolahnya,’ ajak Rm. Suroyo kepada hadirin. Dalam kegiatan di Rutan, tidak ada sharing tapi usai ekaristi dilanjutkan dengan kegiatan ceremonial yang dihadiri juga oleh perwakilan dari Rutan, yang mengungkapkan rasa terimakasih karena kerjasama Gereja-gereja dalam memberikan perhatian dan pembinaan kepada para narapidana. Mereka berharap kerjasama itu semakin kuat di masa dengan dengan saling support dan melengkapi dalam program kegiatan. Kedua kegiatan ekaristi ini diawali dengan pengakuan dosa bagi para narapidana yang beragama Katolik. Seluruh kegiatan dilakukan dengan protokol kesehatan Covid19 yang tinggi dengan pembatas dan pengawasan LP maupun Rutan setempat. Dalam situasi normal sebelum pandemi, kegiatan rutin dilakukan di 4 LP/Rutan di Bandarlampung, LP Kalianda, LP Metro dan kunjungan tak rutin ke LP-LP lain di Provinsi Lampung. Selama pandemi, kegiatan rutin tersebut diberhentikan termasuk perayaan Natal dan Paskah. Yang masih dilakukan selama pandemi adalah pengiriman masker kain untuk semua narapidana di seluruh LP, bukan hanya untuk yang Kristen, juga pemberian vitamin untuk beberapa LP di Bandarlampung. *** (Urip/Yuli)

PASKAH 2021 DALAM KESEDERHANAAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN (LP) Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top