Author name: Komsos Tanjungkarang

Webinar: Kekerasan Terhadap Anak Dalam Keluarga

“POLA PENGASUHAN POSITIF SEBAGAI STRATEGI PENURUNAN ANGKA KEKERASAN TERHADAP ANAK DALAM KELUARGA” Webinar dengan tema Pola Pengasuhan Positif sebagai Strategi Penurunan Angka Kekerasan terhadap Anak dalam Keluarga yang diadakan oleh Forum Komunikasi Partisipasi Masyarakat untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Forkom PUSPA) Provinsi Lampung secara daring (30/11) menjadi kegiatan awal sekaligus membuka rangkaian hari ibu di provinsi Lampung. Hal itu diungkapkan oleh Riana Sari Arinal, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Lampung sekaligus salah satu pelindung (Forkom PUSPA) Provinsi Lampung dalam keynote speech di awal acara. “Memperingati Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember, kita harus mengingat 22 Desember 1928, di mana sejarah hari ibu dimulai yaitu saat kongres perempuan pertama diadakan di Jogjakarta. Tema yang diangkat dalam kongres itu adalah memperjuangkan hak perempuan dalam perkawinan, melawan perkawinan dini, poligami dan pendidikan perempuan.” Papar Riana sembari mengajak semua pihak memaknai peran ibu dalam keluarga maupun masyarakat. Kegiatan ini selain menjadi kegiatan awal untuk seluruh rangkaian Peringatan Hari Ibu di Provinsi Lampung, juga masih dalam rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Secara khusus ditekankan bahwa kekerasan terhadap anak merupakan kejahatan kemanusiaan yang menimbulkan dampak luar biasa bagi korbannya.  Kekerasan terhadap anak adalah perbuatan disengaja yang menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya tidak hanya secara fisik, emosional, seksual, dan sosial bahkan dapat berujung pada kematian. Sayangnya, meski telah ada berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur hukuman pidana maksimal terhadap para pelaku kekerasan terhadap anak, kasus-kasus kekerasan terhadap anak dari tahun ke tahun semakin meningkat. Peningkatan kasus kekerasan terhadap anak ini tidak hanya meningkat secara jumlah saja, tapi dampak yang semakin buruk, brutal dan tidak berperikemanusiaan. Mengacu pada data Simfoni-PPA, Kompas.com mencatat adanya 5.463 anak di Indonesia yang menjadi korban kekerasan hanya dalam hitungan Januari hingga Juli 2021. Data Simfoni juga menyatakan bahwa kasus kekerasan pada anak sebagian besar terjadi di lingkup rumah dan di alami oleh anak tanpa memandang berapa usia dan jenis kelaminnya. Dari 5.463 anak korban kekerasan yang tercatat, anak dari usia 0 tahun pun sudah ada yang menjadi korban kekerasan dan walaupun mayoritas korbannya adalah anak perempuan dengan 5.198 kasus, tapi anak laki-laki pun berpotensi menjadi korban kekerasan. Pelakunya tidak hanya ayah namun juga ibu dan kerabat yang tinggal di rumah yang sama. Di dalam konteks lokal Lampung, Simfoni PPA juga menyediakan data  bahwa Lampung ada dalam peringkat ke 10 dari 10 Provinsi dengan wilayah dengan angka kasus kekerasan anak tertinggi di Indonesia. Terdapat beberapa hal yang menjadi pendorong terjadinya kekerasan terhadap anak yang terjadi di dalam lingkup rumah tangga diantaranya adalah ketidaktahuan orang tua bahwa apa yang di lakukannya merupakan salah satu atau beberapa bentuk kekerasan terhadap anak. Ketika kekerasan terjadi, banyak orang tua yang menyatakan bahwa kekerasan pada anak yang terjadi di lakukan oleh orangtua  tanpa disengaja, tidak dari hati mereka, karena mereka dalam posisi kelelahan, pengalaman masa lalu, sedang ada masalah, anak-anak yang susah di atur dan sebagainya bahkan dalam beberapa kasus kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh ayah, ibunya mengetahui namun tidak melaporkan karena mereka sangat bergantung pada ayah. Beberapa tahun belakangan positive parenting atau pola pengasuhan positif mulai di perkenalkan sebagai salah satu strategi untuk menurunkan angka kekerasan terhadap anak dalam keluarga. Mengasuh dan mendidik anak bukan hanya tugas ibu namun tugas bersama ayah dan ibu di dalam keluarga. Ketika memutuskan untuk berumah tangga, semua pasangan perlu menggali dan mempelajari mengenai ilmu parenting. Orangtua juga harus mengenali dirinya sendiri, kelebihan dan kekurangan pribadi yang dapat menjadi pendukung dan penghambat dalam pengasuhan anak serta mempersiapkan diri secara fisik dan mental untuk memiliki anak dan membersamai tumbuh kembang mereka. Ketika hal ini terjadi di harapkan anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan fasilitas terjemahan Bahasa isyarat oleh Juru Bahasa Isyarat (JBI) bagi teman-teman yang tidak menggunakan suara sebagai bahasa komunikasi, diikuti oleh 170an peserta dari jaringan Forkom PUSPA, jaringan PKK, organisasi masyarakat sipil, komunitas, lembaga kemahasiswaan, Dinas PPPA di Provinsi Lampung, dan sebagainya. Kegiatan yang sudah dilaksanakan pada Selasa, 30 November 2021 Pukul 09.00-12.30 WIB dimoderatori Burhibani (Direktur Eksekutif PKBI Lampung, Anggota Forkom Puspa Lampung) dengan tiga narasumber. Narasumber pertama adalah Fitriana Wuri Herarti, M.Psi (Child Development Specialist – ChildFund International in Indonesia) berbicara tentang “Konsep dan teori dan bagaimana pola pengasuhan positif dapat menjadi strategi dalam menurunkan angka kekerasan dalam rumah tangga.” Narasumber kedua Agustinus Subagio (Koordinator Program YPSK LDA) bicara tentang “Pengalaman pelaksanaan program pola pengasuhan positif di Lampung, Praktik baik, Peluang dan tantangan yang ada pada program.” Dan narasumber ketiga Fitrianita Damhuri (Kepala Dinas PPPA Provinsi Lampung) menandaskan “Kebijakan dan program Pemerintah provinsi Lampung terkait penurunan angka kekerasan terhadap anak melalui penguatan fungsi keluarga.” *** CP. Yuli Nugrahani Ketua Forum Komunikasi Partisipasi Masyarakat untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Forkom PUSPA) Provinsi Lampung

Webinar: Kekerasan Terhadap Anak Dalam Keluarga Read More »

Panggilan Imam: Taat, Setia, Jujur

Dua orang frater ditahbiskan menjadi imam. Satu orang frater ditahbiskan menjadi diakon. Mereka ditahbiskan oleh Uskup Agung Palembang sekaligus Administrator Apostolik Keuskupan Sufragan Tanjungkarang Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Gereja Ratu Damai, Telukbetung, Selasa, 16 November 2021. Mereka yang ditahbiskan menjadi imam adalah:  Diakon Yohanes Agus Susanto dan Diakon  Yohanes Sulatin. Yang ditahbiskan menjadi diakon: Fr. Nicolaus Heru Andrianto. Perayaan Ekaristi ini berlangsung khidmat. Khusuk. Menjalankan protokol kesehatan. Umat yang hadir sangat dibatasi. Dekorasi sederhana menghiasi depan altar. Diiringi kor berjumlah enam anggota dan satu organis. Alunan lagu-lagu membahana di gedung gereja itu. Memuji Tuhan. Mensyukuri kemurahan hati-Nya. Kepedulian-Nya. Khususnya, terhadap umat di Keuskupan Tanjungkarang ini. Jujur Dalam homilinya Mgr. Yohanes Harun Yuwono meminta kepada orang yang terpanggil secara khusus untuk hidup jujur. Orang jujur, tahu siapa dirinya. Maka, ia akan mengenal Tuhannya. Mencintai-Nya. Karena ada cinta, ia akan tahan. Setia. Orang jujur akan mujur. Keselamatan menjadi miliknya. Namun, kejujuran tidak bisa serta merta muncul dalam diri seseorang tanpa adanya taat. Ketaatan dalam hukum kanonik, merupakan salah satu poin penting. Tanpa taat, semua berantakan. Taat dan setia adalah bagian inti sikap hidup orang-orang terpanggil. Sayangnya, sering kali diabaikan. Banyak orang merasa malu, kurang terhormat bila harus taat. Padahal orang akan bisa setia, kalau dia taat. Uskup meminta kepada orang-orang terpanggil untuk hidup sederhana, rendah hati, saleh, tahu menempatkan diri, dan taat. Perutusan Setiap orang yang dipanggil harus siap untuk diutus. Di mana mereka diutus? Yohanes Sulatin Pr : Pastor Rekan Paroki St. Yusup, Pringsewu Yohanes Agus Susanto Pr di Divisi Pertanahan Keuskupan Tanjungkarang dan Pastor Rekan Unit Pastoral Jati Baru Nicolaus Heru Andrianto Pr di Paroki St. Yohanes Paulus II Murni Jaya M. Fransiska FSGM  

Panggilan Imam: Taat, Setia, Jujur Read More »

Fr. Nicolaus Heru Mengucapkan Janji Selibat

Fr. Nicolaus Heru Andrianto mengucapkan janji selibat di hadapan Admisnistrator Apostolik Mgr. Yohanes Harun Yuwono dalam Perayaan Ekaristi, di Kapel Rumah Uskup, Senin, 15 November 2021. Pengucapan janji selibat yang disaksikan para saudara-saudari ini ditayangkan secara live di kanal Youtube Komsos Tanjungkarang. Dalam homilinya, Bapa Uskup Yohanes Harun Yuwono mengatakan, menekuni panggilan imamat seperti orang yang membawa segelas air kopi dengan konsentrasi penuh. Tidak melihat sekeliling. Bahkan, ketika ada yang menarik dipandang mata. Kalau tidak konsentrasi penuh, air akan tumpah. Membahayakan orang lain. Begitu pula dengan menjalani panggilan. Konsentrasi penuh kepada Allah.  Tidak main-main. Agar sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Banyak yang takut menerima Sakramen Imamat. Karena ada janji selibat. Ada rasa kuatir, tidak dapat menghidupinya dengan baik. Kita ini manusia lemah. Yang dapat menarik dan tertarik pada pihak lain. Tetapi kekuatan kita ada pada Kristus yang memanggil. Maka, setiap hari kita harus pembaruan dan pemberian diri terus-menerus kepada Allah. *** M. Fransiska FSGM

Fr. Nicolaus Heru Mengucapkan Janji Selibat Read More »

HARI ORANG MISKIN SEDUNIA

Hari Orang Miskin Sedunia, 14 November 2021 “Berilah karena kamu telah menerima dengan berkelimpahan.” Kira kira begitulah kalimat yang saya pahami yang terdapat dalam salah satu naskah kitab suci. Apa yang kita terima sebagai yang berkelimpahan ? Pertama-tama bukanlah materi/finansial. Tetapi rahmat, berkat, melalui sakramen. Terutama Sakramen Ekaristi. Kekayaan Injil Tuhan kita Yesus Kristus, Roh Kudus yang dianugerahkan sebagai penolong hidup kita. Sakramen Ekaristi adalah sakramen belaskasih Allah yang merelakan dirinya mengalami sengsara, wafat, dimakamkan dan bangkit untuk kita. Sakramen Ekaristi lambang pemberian diri Kristus bagi kita umat-Nya. Melalui sakramen-sakramen yang kita terima, kita dimampukan untuk bertumbuh. Berbuah. Menjadi manusia dewasa secara rohani. Mampu. Berusaha melalui talenta yang dianugerahkan Allah untuk  berkarya dalam dunia dengan profesi masing-masing. Dengan berkarya dan berusaha membuahkan hasil untuk membantu setiap manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kisah tentang talenta, salah satu orang yang Tuan beri kepercayaan, justru menyimpan talenta yang dipercayakan kepadanya. Dan ketika Tuannya pulang, ia mengembalikan talentanya itu kepada Tuannya dan menuduh tuannya kejam. Inilah mewakili kaum miskin, yang bukan hanya tidak mampu mengembangkan talenta tapi malah menuduh tuannya kejam. Orang miskin bukan hanya orang tak berkemampuan pertama-tama secara materi, tapi juga secara moral dan sosial. Mereka tidak mampu menolong dirinya sendiri. Semua umat Kristiani yang telah diberi anugerah secara melimpah dipanggil untuk membantu, menolong saudara-saudari kita yang ada bersama dan diantara kita yakni orang-orang miskin. Mereka membutuhkan uluran tangan. Sapaan kasih. Kita tidak dapat berdiam diri apalagi sekadar memberikan tuduhan bahwa mereka tidak mau berusaha. Keberadaan mereka menjadi bagi kita sebuah kesempatan /peluang untuk selalu mengingatkan kita bahwa Allah hadir di dunia yang merepresentasikan diri-Nya sebagai kaum papa dan miskin. Kita diberi kesempatan untuk melayani-Nya dalam diri orang-orang miskin lemah dan tak berdaya. Seperti sabda Kristus, “Kamu harus memberi mereka makan.” Bersamaan dengan peringatan hari orang miskin sedunia yang kita peringati pada tanggal 14 November 2021 ini, kiranya tepat kalau kita mengaitkannya dengan situasi dunia di mana pandemi Covid belumlah sepenuhnya hengkang dari dunia. Kita sudah dingatkan bahwa pandemi covid bukan satu-satunya yang  melanda dunia dan umat manusia, tapi kita sudah akan dihadapkan pula pada satu persoalan besar bahwa  tahun 2050  dunia akan dilanda gawat darurat iklim (climat emergency). Suhu memanas. Udara tak lagi ramah dengan kehidupan manusia. Kekeringan akan terjadi di mana-mana. Akan ada banyak orang berdiam diri di ruang ber AC. Tentu hal ini hanya berlaku bagi sebagian orang yang sangat beruntung. Air menjadi sesuatu yang berharga. Mahal sekali!  Siapa yang dapat membeli? Hanya orang yang hidup berkelimpahan, yang ia peroleh dari hasil bisnis besar yang barangkali justru berkait erat dengan terjadinya pemanasan global seperti pengerukan sumber daya alam, penebangan pohon  tanpa mengindahkan akibat yang di timbulkan hanya berpikir untuk keberlangsungan bisnis mengeruk untung sebesar-besarnya. Petani tak lagi bisa menggarap sepetak lahan karena kering-kerontang. Akibat dari pemanasan global ini lagi-lagi jumlah orang-orang miskin akan meningkat tajam. Sampah! Ya sampah, kalau kita jujur siapa penghasil sampah rumah tangga terbesar adalah orang kota dengan puluhan ribu ton sampah setiap hari. Dikumpulkan. Diangkut. Yang mengerjakan adalah orang-orang yang kurang beruntung. Mereka berpacu dengan bau. Sampah dari rumah tangga yang dikumpulkan menjadi tumpukan yang menggunung dibuang kemana? Jauh dari pemukiman penduduk cluster terpandang tapi dekat dengan rumah kumuh warga miskin. Merekalah pertama yang dikepung oleh bau menyengat. Dari tumpukan sampah terjadi proses kimia yang menghasilakan gas metana  salah satu sumber pemanasan global yang akan menghantui kehidupan seluruh umat manusia. Dan yang menjadi korban pertama adalah orang-orang miskin yang tidak punya pilihan bahkan untuk menolong diri mereka sendiri.. Saya menyerukan kepada kita semua tanpa membedakan suku, ras, agama, bangsa untuk bersama melakukan tindakan nyata saat ini. Sekarang kita tidak punya pilihan waktu.  Bersama-sama sebagai kelompok masyarakat, institusi, lembaga apa pun namanya kita harus mempelajari isu ini secara serius dan membuat langkah konkrit paling sederhana mengurangi beban tempat pembuangan sampah dengan seminim mungkin menggunakan bahan bahan sekali pakai, mengolah sampah organik yang ada di dapur rumah kita menjadi lebih bermanfaat seperti pembuatan Eco Enzyme yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Di atas semua tentu yang paling penting adalah bagaimana kita dapat mendorong dan mengawal kebijakan pemerintah dalam hal scenario penanggulangan untuk mengatasi krisis iklim, melalui kebijakan penanganan kebakaran hutan, deforestasi, restorasi hutan  mangrove, pemanfaatan  lahan-ruang hijau sebagai lahan-lahan pembangunan rumah mewah  yang merusak lingkungan demi kepentingan segelintir orang kaya yang dapat membeli fasilitas dan berkolusi dengan pemerintah. Takut. Cemas. Gelisah. Tk memperbaiki keadaan apalagi bersikap acuh tak acuh adalah bentuk sikap tidak peduli yang sangat menyakiti semesta dan manusia yang terdampak langsung oleh krisis iklim ini yakni orang-orang miskin di sekitar anda dan bahkan dunia. Kita dipanggil untuk melakukan tindakan nyata sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan kita dengan segala kelimpahan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita masing-masing. Selamat memperingati Hari orang Miskin Sedunia. Sr. Vincen HK

HARI ORANG MISKIN SEDUNIA Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top