Author name: Komsos Tanjungkarang

HUT Radio Suara Wajar ke-49

Tak terasa Radio Suara Wajar (RSW) 96,8 FM menginjak usia ke-49. Mengudara. Menemani hari-hari para pendengar di Bumi Ruwai Jurai. Masa pandemi masih berlangsung. Meski begitu, sebagai ungkapan syukur, dibentuk tim kecil di bawah koordinator KOMSOS Keuskupan Tanjungkarang. Diadakan acara ‘kecil-kecilan’ di ruang studio. Disiarkan secara live di Kanal Youtube Komsos Keuskupan Tanjungkarang. Acaranya sederhana. Tersaji dengan menarik. Berupa Talkshow dan Live Musik dari Band Bla Bla Musik. Dua menu acara ini merangkai pesta Hari Ulang Tahun Radio Suara Wajar, Minggu, 25 Oktober 2021. Hadir sebagai narasumber talkshow adalah para penyiar handal Radio Suara Wajar. Yakni: Direktur RSW, Rm. Kornelius Anjarsi Pr. Penyiar Program Katekese Udara RSW, Frans de Sales Widodo. Penyiar Proram Campursari dan Keroncong / Langgam Jawa, Mas Loys (Mbah Gaul). A. Sherly Gofar, Penyiar Serasi dan Dunia Kerja Dunia Karir. Cucu Lukman, Host Program Pastoral Keluarga, Penyiar Program Harmoni Anak-anak, serta Program info dan lagu-lagu Mandarin. Rasa Memiliki Hari-hari karya pelayanan Radio Suara Wajar ini diwarnai suka dan duka. Para kru RSW berusaha memberikan yang terbaik bagi para pendengar. Berupa informasi, edukasi, dan hiburan berupa lagu-lagu lawas, keroncong, dan pop. Ada juga program penambah dan penguat iman Katolik. Seperti: Nuansa Iman, Katekese, Pastoral Keluarga, Dokumen Gereja, Pastoral Gereja dll. Yang tentunya didampingi seorang hirarki. Pastor. Suatu kegembiraan tersendiri. Banyak orang ikut terlibat di Radio Katolik yang satu ini. Semua karena rasa ‘memiliki’. Berbagai bentuk cinta  dipersembahkan. Entah itu waktu. Tenaga. Finansial. Yang tak pernah dihitung-hitung. Meski kelihatannya hanya sekedar main di RSW. Tetapi di balik itu, karena ada ikatan batin. Ada rasa sayang dan kasih pada Radio Suara Wajar ini. Tantangan Zaman yang semakin canggih menuntut media radio ini untuk terus bebenah diri. Menyesuaikan zaman di era digital. Membutuhkan orang-orang yang sungguh memahami dunia komunikasi khususnya di bidang broadcasting. Selain itu, finansial yang tentunya untuk pengembangan di sana-sini dan biaya operasional. Akankah karya pelayanan media Radio Suara Wajar akan tetap eksis? Menjadi sebuah pertanyaan refleksi. Butuh aksi. Syukurlah sampai saat ini RSW memiliki para penyiar yang handal. Setia. Yang masing-masing memiliki suara dan gaya yang khas saat menyapa para pendengarnya. Itu yang membuat rindu para pendengar. Selain itu, sajian program-program unggulan RSW, menjadi rajutan relasi yang baik dengan masyarakat. Seperti: Program pendidikan, Budaya Lampung, Serasi, Campur Sari dan Langgam Jawa. Sejuta harapan Di usia yang ke-49 ini RSW memiliki sejuta doa dan harapan ke depan. Meraih mimpi untuk tetap eksis mengudara. Ingin selalu ada di hati para pendengar. Memberi informasi yang cepat. Akurat. Terpercaya. Dan, menjadikan bangsa yang cerdas bagi Gereja dan masyarakat. Selamat Ulang Tahun Radio Suara Wajar. Selamat berkarya mewartakan kasih Allah bagi dunia. Tetaplah mengudara. Pecintamu akan selalu merindu. Satu Suara, Berjuta Telinga!. ***  Fransiska FSGM

HUT Radio Suara Wajar ke-49 Read More »

DOA MOHON USKUP BARU

DOA MOHON USKUP BARU Allah, Bapa kami yang mahabaik, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkaulah Gembala kekal kami yang tidak pernah meninggalkan kami kawanan-Mu, tetapi selalu menjaga dan melindungi kami melalui Yesus Kristus, Putera-Mu, Tuhan kami. Putera-Mu telah memilih Para Rasul untuk menguduskan dan memimpin Umat-Mu dan untuk memberitakan sukacita Injil kepada semua mahluk. Pandanglah Umat-Mu di Keuskupan Tanjungkarang, yang kini menantikan gembala baru Gereja-Mu yang akan melanjutkan tugas kegembalaan para rasul. Berikanlah kepada kami, Umat-Mu, seorang gembala yang akan memimpin dan menemani perziarahan rohani kami dan melaksanakan Visi dan Misi Keuskupan. Buatlah kami terbuka dan menyambut dengan gembira hati siapapun yang akan dipilih oleh Roh Kudus sebagai Uskup Keuskupan Sufragan Tanjungkarang. Semoga Maria – Bunda Putera-Mu dan Bunda kami, juga berkenan berdoa bersama kami agar kami segera Kau anugerahi Uskup yang baru. Doa ini kami mohonkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus Tuhan kami. Amin. Bapa Kami …. Salam Maria … Kemuliaan … Terpujilah …. Doa Mohon Uskup Baru

DOA MOHON USKUP BARU Read More »

Surat Gembala Tahun Ardas V : KOMUNITAS BASIS GEREJAWI, CARA BARU HIDUP MENGGEREJA

KOMUNITAS BASIS GEREJAWI: CARA BARU HIDUP MENGGEREJA “Kamu lah Terang Dunia … kamu lah Garam Dunia … hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (bdk. Mat 5: 13 – 16)   Pendahuluan Sabda Kristus di atas menjadi Visi Gereja Keuskupan Tanjungkarang menurut amanat Perpasgelar III th. 2017: Gereja Katolik Keuskupan Tanjungkarang, dengan menjadi Terang dan Garam Dunia bersama Kristus Sang Jalan, Kebenaran dan Kehidupan, adalah Sakramen Keselamatan bagi semua orang. Dalam Visi tersebut tercantum predikat kita: Terang dan Garam Dunia. Terang dan Garam Dunia sesungguhnya adalah predikat Kristus sendiri. Namun predikat itu, oleh Kristus sendiri disematkan juga kepada kita. Terang menjadikan orang tahu arah dan tujuan hidup, tidak akan tersesat tetapi sampai pada tujuan. Garam adalah bumbu yang menyehatkan dan membuat makanan tidak hambar melainkan berasa. Ketika orang Kristen absen dari masyarakat, yakinlah kehidupan akan menjadi gelap, hambar, menakutkan, penuh tindak kejahatan dan dosa. Ketika orang Kristen hadir di masyarakat, kehidupan menjadi menyenangkan, penuh harapan akan masa depan yang lebih baik dan penuh sukacita. Dengan demikian orang Kristen tidak boleh absen dari masyarakatnya, karena dia, sendiri maupun bersama adalah sakramen keselamatan bagi dunia (bdk. LG 1, 9, 59). Ideal Predikat Kemuridan Kita Semua orang beriman berkat rahmat pembaptisan dianugerahi martabat yang luhur sebagai putera atau puteri Allah. Martabat luhur tersebut mengandung tugas panggilan untuk ambil bagian dalam tugas Yesus sebagai imam, nabi dan raja. Dengan kata lain semua orang beriman, segera setelah dia dipermandikan, dirinya adalah seorang rasul Tuhan. Konsekwensinya, semua orang beriman, melalui cara hidup dan keterlibatannya dalam kegiatan-kegiatan Gereja dan kegiatan-kegiatan bermasyarakat sehari-hari: seharusnya memancarkan kasih Allah guna ‘memanggil’ semua orang untuk menjalani hidup dan karyanya dengan baik sesuai  dengan kehendak Allah (bdk. 1 Kor 12 , KHK 204, LG 12). Panggilan keterlibatan itu melekat dan bersifat mutlak, bukan kalau senang atau kalau ada waktu,  sebab Kristus tidak menebus kita dengan setengah hati atau setengah-setengah (bdk. LG 3). Setiap orang Kristen harus mewartakan Kristus dengan penuh semangat kepada semua orang (AG 1). “Hakekat Gereja peziarah bersifat missioner, sebab berasal dari perutusan Putera dan perutusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa” (LG 1).“Seluruh Gereja bersifat missioner, dan karya mewartakan Injil merupakan tugas Umat Allah yang mendasar” (LG 35). Sifat missioner dengan tugas yang mendasar ini ternyata mengalir dari rencana Allah Bapa, yang kemudian diwujudkan melalui jalan inkarnasi Yesus Kristus, Putera Allah, yang menjelma menjadi manusia agar dapat berbicara dengan kita dan menyucikan kita dari dosa (bdk. Ibr 1: 1-4). Rencana Bapa yang terwujud dalam inkarnasi itu kemudian ditanggapi oleh manusia dengan menerima Yesus dan percaya kepada-Nya. Oleh kepercayaan itu, manusia mendapatkan kesempatan untuk diangkat menjadi anak-anak Allah (bdk. Yoh 1: 12-13). Pengangkatan itu kemudian diteguhkan secara sakramental melalui pembaptisan (bdk. AG 7). Idealnya setiap orang kristiani adalah seorang militan dalam beriman: Yesus dan Kitab Suci seharusnya menjadi dasar dan orientasi hidupnya, baik ketika dia berada di lingkungan Gereja maupun ketika berada di lingkungan masyarakatnya, pun kalau mayoritas masyarakatnya bukanlah orang Kristen. Orang Kristen harus berani dan bangga mengakui diri sebagai orang Kristen serta bangga berperilaku sebagai orang Kristen (bdk. 2 Ptr 2: 9-10). Idealnya, setiap kegiatan katekese dapat menghasilkan buah secara nyata. Keuskupan setiap tahun memberikan katekese khusus kepada umat (minimal pada masa pra-Paskah, BKSN, dan Advent). Namun, berbagai katekese tersebut sering hanya membuat Umat sibuk dengan kelompoknya sendiri atau supaya ada kegiatan untuk mengisi bulan-bulan khusus tersebut. Katekese itupun sering tidak diikuti oleh semua umat. Dan sebanyak apapun umat yang ikut, biasanya tidak lebih dari setengah dari jumlah yang ada. Bahkan di sejumlah tempat sering tampak keikutsertaan kaum perempuan dan anak-anak jauh lebih besar dalam kegiatan-kegiatan umat. Tanpa menghilangkan besarnya peran mereka yang bekerja ‘di belakang layar’, Komunitas Basis tidak cukup diwakili oleh wajah perempuan dan anak-anak. Kita semua memiliki tanggung jawab yang sama baik ke dalam Gereja maupun ke luar dunia. Pentingnya Membentuk Komunitas Basis Komunitas Basis Gerejawi (KBG) atau Komunitas Umat Basis (KUB) adalah paguyuban kaum beriman dalam skala kecil. Th 1918 Rm. F. Strater, SJ., sudah memperkenalkan istilah “kring” di Yogyakarta. Di Keuskupan kita, Rm. Joe Gordon, MEP., pernah memperkenalkan istilah “mawar” yang merupakan singkatan dari “lima warga” (maksudnya lima rumah tangga warga Gereja) di Paroki Kalirejo dan kemudian juga di Paroki Kota Gajah dan Metro. Paguyuban dengan skala kecil itu akan sangat bermanfaat bagi Umat. Pada tataran sosial dan ekonomi, KBG membuat Umat satu sama lain saling mengenal, hidup rukun, kompak, tidak ada orang yang menjadi asing bagi yang lain, tidak ada yang bersembunyi, dan lupa akan tanggung jawabnya; bisa merasa sehati seperasaan, peduli, senasib sepenanggungan dan saling tolong-menolong. Sedangkan pada tataran rohani – moral – spiritual, KBG dapat mendorong Umat mengadakan doa bersama secara rutin, melakukan sharing Injil dan sharing iman, saling menjaga dan meneguhkan, dan bersama saling mengingatkan untuk hidup benar, adil dan jujur sebagai saksi-saksi Kristus. Dua dimensi tersebut tidak bisa dipisahkan atau hanya salah satu saja yang mendapatkan penekanan. Kedua dimensi tersebut harus seiring sejalan sedemikian sehingga Umat Allah sungguh-sungguh bisa menjadi Garam dan Terang Dunia. Komunitas Basis Gerejawi sering disebut cara baru menggereja (new way of being Church). Cara baru ini dimaksudkan sebagai lawan dari Gereja pasif, Gereja pastor sentris, Gereja yang belum mandiri. Cara baru menggereja adalah cara mengungkapkan iman yang dinamis dimana Umat Allah, sebagai komunitas umat beriman terlibat dalam suka-duka perjalanan hidup Gereja dan sesamanya. Dengan cara baru menggereja demikian, Gereja akan tetap hidup walau gembalanya berganti atau tokoh panutannya meninggal dunia. Selalu ada regenerasi karena setiap anggotanya berkualitas sama sebagai rasul-rasul Tuhan. Dasar biblis KBG adalah Kisah Para Rasul 4: 32-37, “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama … sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka …”. Situasi sangat ideal itu bagi banyak orang malah sering menakutkan. Bagaimana mungkin segala sesuatu menjadi kepunyaan bersama? Apakah KBG itu akan membentuk biara besar yang mencakup semua orang beriman? Dalam kenyataan sebenarnya tidaklah seharafiah seperti itu. Kita tahu bahwa para rasul

Surat Gembala Tahun Ardas V : KOMUNITAS BASIS GEREJAWI, CARA BARU HIDUP MENGGEREJA Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top