Author name: Komsos Tanjungkarang

Diakon Vincentius Namapadji Kopong Daten

Ketika mengenang perjalanan saya menuju imamat, saya menyadari bahwa perjalanan tersebut dipenuhi oleh berbagai cobaan dan anugerah. Namun, dengan penuh syukur, saya bisa mengatakan bahwa sebagian besarnya adalah anugerah. Saya mengingat usaha keras orang tua saya dalam mendidik iman saya dan saudara-saudara saya. Saya bersyukur atas teladan hidup beriman yang luar biasa yang saya terima dari keluarga,  lingkungan tempat saya tumbuh, dan orang-orang yang telah membentuk serta mempersiapkan saya untuk menanggapi panggilan dalam pelayanan imamat. Selain itu, saya merasa beruntung berasal dari Paroki Sta. Maria Mater Dolorosa SoE, salah satu wilayah paroki di Keuskupan Agung Kupang, yang subur akan panggilan. Banyaknya imam dan biarawan/biarawati yang berasal dari paroki ini memotivasi banyak anak untuk merasakan panggilan yang sama. Saat diminta untuk menuliskan refleksi panggilan saya ini, alasan saya masuk seminari, dan ketertarikan saya untuk menjadi seorang imam. Pertama-tama saya harus mengakui bahwa hal itu sulit dijelaskan secara menyeluruh. Panggilan ini tetap merupakan misteri, bahkan bagi saya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa menjelaskan jalan Tuhan? Tidak ada yang benar-benar tahu. Motivasi awal saya masuk ke Seminari bukanlah karena keinginan untuk menjadi seorang imam. Saat menjelang lulus SMP, saya bersama beberapa teman seangkatan mendaftarkan diri ke pastor paroki saya waktu itu untuk masuk Seminari. Mungkin bagi teman-teman saya yang lain, alasan mereka ingin masuk Seminari adalah memang untuk menjadi imam. Namun, bagi saya, saat itu saya ikut mendaftar karena saya sendiri bingung ingin melanjutkan pendidikan di mana setelah lulus. Selain itu, saya melihat banyak teman dan kakak kelas dari SMP kami yang memilih melanjutkan pendidikan ke Seminari setelah lulus. Ketika Pastor Paroki bertanya, “apakah kamu mau masuk Seminari?” Saya menjawab, “ia romo, saya mau!” tanpa motivasi seutuhnya untuk menjadi imam. Saya tertarik untuk mendaftar karena ada banyak teman yang juga mau, ditambah lagi kakak kandung saya sudah lebih dahulu bersekolah di Seminari. Kehidupan Seminari yang Menumbuhkan Panggilan Ketertarikan saya untuk menjadi imam justru tumbuh dan berproses ketika saya sudah beberapa tahun menjalani pendidikan dan pembinaan di Seminari Menengah. Hubungan persaudaraan dengan teman-teman seangkatan saya adalah momen yang sangat saya hargai sebagai seorang seminaris. Seminari adalah tempat di mana seseorang dapat menemukan Gereja masa depan. Saya sangat bahagia diberi kesempatan menjadi bagian dari Gereja masa depan itu. Bersama dengan para seminaris lainnya, seluruh lingkungan Seminari bagi kami adalah tempat untuk mempelajari kebijaksanaan dan kebenaran surgawi. Di sini, saya mulai jatuh cinta dengan kehidupan di Seminari. Tahun-tahun saya di Seminari membentuk saya menjadi seseorang yang lebih baik dan mengajari saya cara menjadi murid yang lebih baik. Saya teringat akan perjumpaan saya dengan sebuah kertas usang yang entah kenapa ada di lorong menuju kapel Seminari. Entah kenapa juga harus saya yang mengambilnya. Kertas usang itu berisikan kata-kata St. Leonardus dari Porto Mauritio, bunyinya demikian “Bahasa manusia atau malaikat manakah yang dapat menggambarkan kuasa yang tak terukur seperti yang dilakukan seorang imam dalam perayaan ekaristi? Siapakah yang dapat membayangkan bahwa suara manusia, yang secara kodrat tidak memiliki kuasa bahkan untuk mengangkat jerami dari tanah, memperoleh melalui Rahmat, sebuah kekuatan yang luar biasa sehingga dapat membawa Putera Allah dari surga ke bumi?” Jika tadi saya hanya sebatas jatuh cinta pada kehidupan di seminari, perjumpaan dengan kertas usang itu membuat saya mulai jatuh cinta pada panggilan menuju imamat. Saya tahu bahwa pada suatu titik dalam hidup saya, saya menyadari bahwa menjadi seorang imam adalah sesuatu yang istimewa. Betapa istimewanya itu, sehingga hanya mereka yang memiliki martabat imamat lah yang dapat mengucapkan doa konsekrasi yang sama dengan yang diucapkan Yesus beribu-ribu tahun yang lalu. Ya, panggilan imamat adalah karunia yang berharga. Jadi saya terus-menerus bersyukur kepada Tuhan atas karunia panggilan saya yang berharga ini.  Sejak saat itu, doa dan harapan saya setiap membuat tanda salib saat masuk dan keluar gereja adalah “Tuhan, saya mau jadi imam. Bantu saya!” Dari Kupang ke Tanjungkarang Beberapa tahun terakhir ini, Keuskupan Agung Kupang (KAK) telah mengirim misionaris dalam negeri ke beberapa keuskupan: Padang, Palembang, Sorong, Manokwari, dan Tanjung Selor. Untuk Tanjungkarang, ini yang pertama. Perutusan ini merupakan salah satu aspek dari refleksi sinodal yang diminta oleh Paus Fransiskus. Ini merupakan perwujudan misi KAK setelah mengalami proses sinodal berjalan bersama dalam persekutuan, partisipasi, dan misi sejak 2021-2023. Dengan demikian, Gereja KAK melaksanakan misi melalui perutusan para misionaris KAK dalam bingkai kesatuan Gereja universal. Keuskupan yang surplus imam untuk membantu keuskupan lain yang membutuhkan. Dari perspektif ini, Gereja KAK telah mewujudkan semangat sinodal berjalan bersama dalam aspek misi. Beberapa bulan menjelang tahbisan diakonat di Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui-Kupang, kami dipanggil satu per satu dan ditanyai kesiapan dan pandangan kami perihal misi ini. Sebagai seorang yang akan mengucapkan janji untuk taat pada uskup, saya menjawab, “Ya, saya bersedia untuk mendukung semua program dari keuskupan. Saya bersedia diutus jika ada keuskupan yang membutuhkan dan meminta. Namun dengan satu syarat, saya mau ditahbiskan menjadi imam di sini, di Keuskupan Agung Kupang”. Beberapa minggu sebelum tahbisan, saya dipanggil lagi dan diberitahu bahwa saya akan ditugaskan ke Keuskupan Tanjungkarang dan akan ditahbiskan menjadi imam di sana. Perasaan berkecamuk seketika muncul dalam diri saya. Saya menyesali waktu di mana saya memberikan jawaban “bersedia untuk diutus”. Harusnya jawaban saya waktu itu adalah “tidak bersedia”. Saya mulai mengkhawatirkan dan mencemaskan kesiapan saya untuk itu. Saya takut harus meninggalkan kenyamanan saya di KAK. Saya cemas harus meninggalkan begitu banyak orang yang mengasihi saya. Saya menyesal kenapa harus ditahbiskan menjadi imam di keuskupan orang. Begitu banyak orang yang mengenal saya, mendukung dan menemani saya dalam perjalanan imamat, tidak akan bisa menyaksikan tahbisan saya secara langsung. Saya menyesal, kenapa perasaan ini baru muncul ketika keputusan sudah ditetapkan. Sejujurnya, saya takut. Mengetahui bahwa saya mengalami tekanan yang luar biasa, salah seorang romo formator kami, seorang imam senior di KAK yang kini berusia 82 tahun, memanggil saya. Usianya menunjukkan bahwa ia telah melewati pahit manisnya perjalanan hidup maupun imamat. Seringkali dia meminta bantuan saya untuk mengemudikan mobilnya, baik untuk pergi pelayanan maupun sekedar membeli obat. Di atas mobil dia menanyakan kesiapan saya untuk bermisi di keuskupan Tanjungkarang. “Apakah kamu siap?” “Kapan kalian berangkat?” dan masih banyak lagi. Semua pertanyaan itu tidak ada satupun yang saya jawab. Sampai

Diakon Vincentius Namapadji Kopong Daten Read More »

SURAT GEMBALA USKUP TANJUNGKARANG TAHUN ARDAS VIII : TAHUN KEADILAN SOSIAL KEMANUSIAAN

SURAT GEMBALA USKUP TANJUNGKARANG TAHUN ARDAS VIII : TAHUN KEADILAN SOSIAL KEMANUSIAAN NO : 006/SGU/DIO.TJKG/II/2024 Menjadi Sesama dalam Karya Belas Kasih: Tugas Perutusan di Tengah Dunia.   Saudara saudari yang terkasih : Bapak, Ibu, kaum muda, kaum remaja, anak-anak, Para Imam, dan Biarawan-biarawati di Keuskupan Tanjungkarang. Kita sedang berada di penghujung tahun ketujuh arah dasar kita, yakni Tahun Pendidikan Cinta Budaya dan Kaderisasi Politik Cinta Tanah Air. Kita sudah berupaya sekuat tenaga untuk berpartisipasi aktif menjadi bagian dari masyarakat-bangsa Indonesia, yang dipanggil untuk mengabdi cita-cita luhur Negara. Kita sudah belajar banyak dari fenomena nyata seputar pemilu presiden dan legislatif yang cukup menguras pikiran kita akan hal-hal yang tidak kita bayangkan sebelumnya; termasuk belajar untuk berdemokrasi dengan jujur dan benar. Kita sudah berdoa sepanjang tahun agar kita berbakti di tengah masyarakat dan bersama dengan pemerintahan Negara serta orang yang berkehendak baik dapat membangun bangsa yang beradab dan berbudaya, dalam semangat solidaritas dan gotong royong serta rasa persatuan dan persaudaraan yang sejati. Semangat ardas ketujuh, karena sistem spiral yang kita pakai kiranya tidak berhenti di sini. Kita berharap bisa semakin paham melakukan tugas pengabdian luhur ini di waktu-waktu selanjutnya. Apalagi tema di tahun kedelapan ini masih sangat erat berkaitan, yakni: Tahun Keadilan Sosial Kemanusiaan. Memaknai Tahun Kedelapan dari Ardas Dalam penjelasan dari buku Arah Dasar Pastoral keuskupan kita, tujuan kita melaksanakan tema Keadilan Sosial Kemanusiaan adalah untuk merenungkan Ajaran Sosial Gereja (ASG) atau ajaran Magisterium di dekade terakhir, supaya kita tetap sehati sejiwa dengan Gereja Universal dalam menyikapi dan menghadapi dunia, baik kebaikan atau kebahagiaannya maupun penderitaannya (GS 1). Ajaran Sosial Gereja atau ASG berisikan ajaran Gereja tentang sikap dan cara pandang Gereja berkaitan dengan permasalahan sosial di dalam masyarakat. Artinya ASG adalah perhatian Gereja dalam dimensi ad extra-nya, yang peduli pada kesejahteraan hidup seluruh manusia. ASG berusaha membawakan terang lnjil ke dalam persoalan keadilan sosial di tengah jaringan relasi masyarakat yang begitu kompleks. Dengan kata lain, ASG berusaha mengaplikasikari ajaran-ajaran lnjil yang secara ontologis bernilai kebaikan universal. ke dalam realitas sosia·lhidup bermasyarakat di dunia. Tujuan ASG adalah menghadirkan kepada manusia rencana dan kehendak Allah bagi realitas sekular dan menerangi serta membimbing manusia dalam membangun tata baru dunia, yang lebih bermartabat. Keberadaan ASG dalam Gereja tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa Gereja diutus oleh Tuhan ke dalam dunia (bdk. Yoh 17:18). Fungsi garam dan terang tentulah dimaksud saat kita masih hidup di dunia. Tuhan bahkan tidak berpikir untuk mengambil Gereja dari dunia (bdk. Yoh 17:15); sebaliknya mengutusnya ke dunia untuk menjadi sakramen kehadiran-Nya dan menandai hadirnya tanda dan sarana keselamatan Tuhan di dunia. Hal ini sangat selaras dengan visi keuskupan kita dan memang karena itu sejatinya tugas Gereja di manapun. Karena itu, tugas Gereja adalah hadir di dunia, bukan lari dari dunia. Dengan hadir di dunia, Gereja menjadi benih dan awal dari Kerajaan Allah, yang harus diwarnai ciri damai, adil dan sejahtera sebagai dambaan semua manusia (bdk. Compendium art. 49). Warta keselamatan Kristus melalui kehadiran Gereja menuntut terjadinya perubahan nyata tatanan dunia sesuai dengan yang dikehendaki Kristus. Dalam arti sempit ASG dimengerti sebagai kumpulan aneka dokumen (umumnya disebut ensiklik) yang dikeluarkan oleh Magisterium Gereja (Paus) dan berbicara tentang persoalan­ persoalan sosial. Keseluruhan dokumen tersebut haruslah dibaca dan dimengerti sesuai dengan konteks jaman yang melingkupi pembuatan dokumen tersebut. Kehidupan bermasyarakat dan realitas hidup sehari-harinya menjadi lapangan konkret bagi pengembangan ajaran sosial Gereja. Karena itu tidak mungkin kita bisa melaksanakan fungsi sosial tugas Gereja dengan jelas kalau kita tidak pernah mempelajari dan mensosialisasikan dokumen-dokumen ini. Untuk itu kita akan pertama-tama mempelajari dan memahami dokumen-dokumen ini dalam pertemuan-pertemuan lingkungan maupun studi bersama; dan selanjutnya merealisasikannya dalam aksi nyata. Diharapkan dengan memiliki pengetahuan yang lebih baik, Umat Katolik Keuskupan Tanjungkarang dapat mengambil sikap yang lebih bijaksana dalam menghadapi berbagai masalah kemanusiaan yang ada, dan dengan demikian juga dapat berpartisipasi aktif dan berbuat lebih tepat dalam mengembangkan karya sosial kemanusiaan ini, dengan menjadi bagian tak terpisahkan bagi saudara-saudari kita yang dilanda kesusahan dan yang kurang beruntung dalan hidupnya. Dengan kata lain kita menjadi sesama melalui karya belas kasih dalam tugas perutusan kita di tengah masyarakat di bumi Lampung ini; agar kesejahteraan bersama bisa dicapai; yakni seluruh apa yang baik yang menjadi kebutuhan masyarakat baik jasmani maupun rohani bisa terpenuhi dengan cukup.  Lalu dimana posisi kita? Kita sudah melewati masa krisis akibat Covid-19, yang menyadarkan kita akan kesalingtergantungan kita. Pesan tegasnya adalah agar kita mulai membangun budaya berjalan bersama memperbaharui dunia untuk menjadi tempat yang nyaman bagi semua. Namun pasca covid-19 secara cepat orang menjadi lupa diri, dan budaya sating menyingkirkan dan menghancurkan kembali lagi dengan daya rusak yang semakin hebat di bidang sosial kemanusiaan. Karena itu kita tidak boleh tidak peduli lagi. Panggilan ini semakin mendesak. Kita tidak memaksudkan bahwa Keuskupan Tanjungkarang harus mulai dari nol lagi. Kita sudah mempunyai Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) yang bersama dengan Yayasan Pembinaan Sosial Katolik (YPSK) dan Caritas Keuskupan Tanjungkarang serta Yayasan Pelita Kasih adaiah para ujung tombak karya sosial kemanusiaan keuskupan Tanjungkarang, yang menjangkau bukan hanya orang katolik, tetapi juga siapapun yang membutuhkan sentuhan kemanusiaan. Karya PSE sudah meliputi aneka pemberdayaan di bidang sosial ekonomi umat dan masyarakat. Karya YPSK sudah melayani dan memfasilitasi pemberdayaan untuk kelompok petani, peternak dll. Karya Caritas untuk penanggulangan aneka bencana dan antisipasinya. Karya Yayasan Pelitakasih untuk kaum difabel dan disable. Maka di tahun ardas kedelapan ini kita ingin semaksimal mungkin mengembangkan apa yang sudah kita mulai dan menambah bentuk-bentuk karya kemanusiaan dengan berinisiatif menjadi perintis atau pionir entah itu pengembangan CU atau Koperasi, rumah singgah untuk para gelandangan, panti-panti asuhan atau jompo; warung murah, perhatian untuk aneka UMKM dan seterusnya. Tentu saja kita tidak akan bekerja sendirian, namun selalu bekerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik. terutama dengan penanggungjawab utama kesejahteraan umum, yakni pemerintah. Penetapan Roadmap Tahun Keadilan Sosial Kemanusiaan Akhirnya kita akan mencoba memaknai dan mengisi tahun ardas kedelapan ini dalam kacamata tata keselamatan dunia terutama melalui gerakan keadilan sosial dan kemanusiaan yang komprehensif dan bertanggungjawab. Maka saya menganjurkan seluruh rumpun di pusat pastoral bekerjasama untuk menyiapkan materi katekese ASG dan sosialisasinya serta perwujudan nyatanya dengan penanggungjawab utamanya pada komisi PSE

SURAT GEMBALA USKUP TANJUNGKARANG TAHUN ARDAS VIII : TAHUN KEADILAN SOSIAL KEMANUSIAAN Read More »

Temu Akbar Komunitas Kerasulan Kerahiman Ilahi Keuskupan Tanjungkarang: “Jangan Berhenti Di Sini”

Temu Akbar Komunitas Kerasulan Kerahiman Ilahi (KKKI) Keuskupan Tanjungkarang digelar di Gereja Paroki St.Kristoforus Bakauheni, Sabtu, 5 Oktober 2024.  Satu jam sebelum Perayaan Ekaristi dilantunkan lagu-lagu pujian dan doa koronka. Ada yang mengikuti di dalam gereja tetapi ada pula yang di luar gereja. Syukurlah hujan yang smpat mengguyur deras itu berhenti tepat waktu. Perarakan dimulai. Dua belas vandel kelompok devosional dan barisan para romo menuju altar diiringi lagu St. Faustina. Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Tanjungkarang Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo ini bertema: “Bersatu Hati Untuk Menghadirkan Kerahiman Allah Dan Melangkah Bersama Dalam Pelayanan Kasih Tanpa Batas.” Temu Akbar ini diikuti sebanyak 1.450 orang. Mereka datang datang dari berbagai paroki di Keuskupan Tanjungkarang. Tidak Berhenti Di sini Pamong KKKI Keuskupan Tanjungkarang Cecilia Tresnaningsih dalam kata sambutannya mengatakan, pengumpulan dana diadakan dengan jimpitan. Sedikit demi sedikit. Hasilnya, luar biasa. Karena semua dicukupkan oleh Allah. Ia berharap, semakin hari para devosan semakin meneladani St. Faustina. Hiduplah penuh syukur dan terimakasih. Mari kita mengandalkan Allah dan tidak berhenti di sini. Setelah kita pulang ke rumah, kita lanjutkan karya pelayanan. Biarlah Allah yang menggenapinya. Ke depan, semoga kita semakin guyub dan bersatu hati. Selain itu, kebersamaan kita ini menjadi sukacita bersama dan berlanjut terus dalam kehidupan sehari-hari, tambahnya. Moderator KKKI Pastor Vincentius Anggoro Ratri SCJ, mengatakan semoga tema yang diusung dalam even ini merupakan langkah awal untuk berjalan ke depan sebagai sebuah keluarga dan komunitas. “Semoga para devosan Kerahiman Ilahi semakin menghadirkan kasih Allah melalui jalan pelayanan,” ujarnya. Miniatur Indonesia Kegiatan akbar ini bekerja sama dengan pemerintahan desa. Sehingga mendapat izin untuk mengadakan pertemuan yang dihadiri ribuan orang. Semalam sebelum acara berlangsung, Kepala Desa Sukirno, menggerakkan warganya untuk terlibat. Ibu-ibu membantu memasak. Dan bapak-bapak memasang umbul-umbul di sepanjang jalan menuju gereja.  Suasana guyub dan rukun mengawali momen akbar ini. Maka, dalam acara ramah tamah hadir Kepala Desa Sukirno, Ketua RT dan RW. Lanjut Uskup Avien, Bakauheni ini merupakan desa kerukunan. Desa Pancasila. Desa Percontohan. Desa Wisata. Maka, dapat disebut sebagai:  miniaturnya Indonesia. Bakauheni juga memiliki banyak potensi. Maka, silakan dimanfaatkan. Banyak tempat wisata seperti: menara siger dan Krakatau Park. Lokasinya berada di ujung  Lampung. “Kalau pergi ke Jawa, pastilah berhenti di tempat ini untuk istirahat sambil menikmati alam dan suasana masyarakat yang ramah,” kata Uskup. Acara ini dimeriahkan dengan berbagai tampilan menarik para devosan dari setiap stasi.  Potong tumpeng sebagai ucapan syukur. ***   Tulisan ini juga dimuat di Malajah Nuntius Sr. M. Fransiska FSGM                   

Temu Akbar Komunitas Kerasulan Kerahiman Ilahi Keuskupan Tanjungkarang: “Jangan Berhenti Di Sini” Read More »

Pembukaan Bulan Rosario di Pajar Mataram, Lampung Tengah

Ya namamu Maria, bunda yang kucinta Merdu menawan hati, segala anakmu Patutlah nama itu hidup di batinku Dan nanti kuucapkan di saat ajalku Ya nama yang keramat perisai hidupku Dengan nama Maria aku pasti menang Patutlah nama itu hidup di batinku Dan nanti kuucapkan di saat ajalku… Siapa yang belum pernah mendengar lagu itu? Lagu itu berkumandang di aula paroki Pajar Mataram, Lampung Tengah. Patung Bunda Maria ditandu. Rosario besar-besar dibentuk indah. Iring-iringan perarakan menuju ke kompleks Gua Maria Pajar Mataram ini diawali dengan lagu: ‘Ya Namamu, Maria.’ Usai menyanyikan lagu itu, dilanjutkan dengan doa rosario. Satu demi satu butir-butir rosario pun bergulir di tangan seiring langkah kaki menuju gua maria seraya berucap, “Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu…” Selasa pagi, 1 Oktober 2024 mentari panas menyengat namun tak menurunkan semangat untuk terus melangkah. Rute menuju kompleks gua maria menyusuri jalan-jalan desa dan lahan sawah masyarakat. Suasana alam ini membawa hati menuju Yang Tertinggi lewat perantara kasih dan doa Bunda Maria. Seperti anak kecil Misa pembukaan bulan rosario ini, Gereja juga memperingati St. Theresia Lisieux dari Kanak-kanak Yesus, Perawan-Pujangga Gereja dan Pelindung Karya Misi. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Vikjen Keuskupan Tanjungkarang Pastor Satu Manggo Pr, didampingi Pastor Paroki Santa Maria Pajar Mataram Pastor Stepanus Widiyanto Pr dan Pastor Piet Yoenanta Pr. Misa ini dimeriahkan oleh seni tradisional gamelan jawa. Ada dua kelompok berkolaborasi: Kelompok Karawitan Surya Pradangga dari Paroki Pajar Mataram dengan Kelompok Karawitan Santa Maria Immaculata dari Stasi Way Kanis Paroki St. Yohanes Rasul Kedaton. Dan juga kor gabungan dari STIE Gentiaras dengan Pajar Mataram. Dalam homilinya Pastor Manggo Pr mengatakan, pembukaan bulan rosario ini bertepatan dengan peringatan St. Theresia. Maka, bacaan Injilnya juga berbicara tentang sikap seorang anak kecil: pasrah, percaya, dan beriman kepada Tuhan tanpa ragu-ragu. “Kalau kita menaruh kepercayaan besar kepada Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus tanpa ragu-ragu, kita dapat setia dan berhati tulus seperti St. Theresia . Ia banyak mengalami penderitaan tetapi ia tidak memperlihatkannya. Tetap senyum dan ceria. Penderitaan yang dipikulnya adalah merangkul penderitaan banyak orang. Begitu juga yang dialami oleh Bunda Maria dan Yesus yang taat dan rela mati disalib. Itulah jalan keselamatan,” ujar Pastor Manggo Pr. Dengan tegas Pastor Manggo juga mengatakan bahwa Tuhan mampu mengatasi segala penderitaan yang kita alami. Tuhan mampu mengubah duka kita menjadi jalan keselamatan. Ia memohon agar kita berdoa bukan hanya untuk diri kita sendir, tetapi juga untuk orang lain yang sedang terpuruk, sakit, menderita, dan putus asa. Bersyukur “Senantiasalah bersyukur karena banyak sekali rahmat dan berkat Tuhan yang kita terima. Rasa syukur membuat kita bahagia, sukacita, dan bangkit dari keterpurukan. Sekecil apa pun rasa syukur kita, pasti akan memberi manfaat bagi kita. Semoga kita juga memiliki keterpesonaan kepada Allah seperti Bunda Maria dan St. Theresia,” tambahnya. Usai Perayaan Ekaristi diadakan pemberkatan patung Bunda Maria dan rosario-rosario besar. Hari itu memang bukan hari Minggu. Tetapi hari kerja. Umat yang datang sekitar 2.000 orang ini mengikuti Perayaan Ekaristi dalam suasana khidmat dan penuh sukacita. Mereka datang ada yang dari Bandarlampung, Metro, Sribowono, Bandar Jaya, dll.  *** “Doa Rosario adalah sekolah doa. Doa Rosario adalah sekolah iman” (Paus Fransiskus). Sr. M. Fransiska FSGM

Pembukaan Bulan Rosario di Pajar Mataram, Lampung Tengah Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top