Author name: Komsos Tanjungkarang

Sertijab Paroki Ratu Damai, Telukbetung, Lampung

Paroki Ratu Damai Telukbetung Lampung resmi memiliki Pastor Paroki yang baru, Jumat, 13 Desember 2024. Ia adalah Romo Robertus Michael Nopen Saputro Pr. Romo Michael, sapaan akrabnya, menggantikan Romo Philipus Suroyo Pr yang empat bulan menjadi Pastor Administrator di paroki ini. Tugas ini diembannya untuk mengisi kekosongan. Ini disebabkan karena Pastor Paroki Ratu Damai Romo Laurensius Pratomo Pr mendapat tugas perutusan yang baru di Seminari Tinggi St. Petrus, Pematang Siantar. Kini kekosongan itu telah terisi. Maka Romo Roy, panggilan akrabnya, kembali melayani umat di Stasi Santa Maria Immaculata, Way Kandis seperti semula.  Perayaan Syukur Sertijab ini dipimpin oleh Uskup Tanjungkarang Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo.   Letak kebahagiaan    Dalam homilinya, Uskup Vinsensius menanyakan dua hal kepada umat. Pertama, “Apakah Saudara bahagia sebagai orang Katolik?” Kedua, “ Apakah Saudara bahagia menjadi orang Katolik?” Ke dua pertanyaan itu memiliki dua makna yang berbeda. Bahagia sebagai orang Katolik berarti letak kebahagiaan tergantung dari apa yang kita peroleh atau yang kita dapatkan. Sedangkan bahagia menjadi orang Katolik, letak kebahagiaan ada pada apa yang kita kerjakan. Tuhan memberikan kita minat, bakat, dan kemampuan yang berbeda-beda. Maka kalau kita mau bahagia, kita harus mengerjakan ha-hal yang menjadi kehendak Tuhan. “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,” Yesaya 48:18. Untuk itu Uskup mengajak umat untuk saling membantu dalam kasih satu sama lain. “Bila hidup kita berguna bagi orang lain, kita akan bahagia,” ujar Uskup. Selama dua tahun menjadi uskup, paroki Ratu Damai Telukbetung ini sudah beberapa kali berganti pastor parokinya. Perpindahan para romo itu menurut Uskup bertujuan untuk membahagiakan para romonya karena sesuai dengan minat dan kapasitasnya. “Maka siapa pun romonya, tetaplah bekerja melayani untuk Gereja dengan hati tulus dan sukacita,” pinta Uskup sambil tersenyum. Berjalan bersama Kepada Uskup, Romo Micahel dalam kata sambutannya mengucapkan terimakasih yang telah memberi kepercayaan tugas ini. “Saya percaya pada Roh Kudus. Ia akan senantiasa membimbing kita dalam berjalan bersama agar kita semua dapat menjadi garam dunia sesuai visi misi Keuskupan kita. Saya mohon doa agar dapat menjadi pelayan yang baik sesuai kehendak Tuhan,” pintanya. ***  Sr. M. Fransiska FSGM

Sertijab Paroki Ratu Damai, Telukbetung, Lampung Read More »

Tiga Imam Baru

Mgr. Vinsensius Setiawan Triamojo menahbiskan tiga Diakon Menjadi Imam Baru, di Gereja St. Maria, Pajar Mataram, Lampung Tengah, Kamis, 21 November 2024. Mereka yang ditahbiskan adalah: Diakon Fransiskus Xaverius Hendri Firmanto (Paroki Keluarga Kudus Baradatu, Keuskupan Tanjungkarang) Diakon Marys Vincentius Namapadji Kopong Daten (Paroki Sta. Maria Mater Dolorosa SoE, Keuskupan Agung Kupang) Diakon Chosmas Oswyn Koba (Paroki Emanuel Welamosa, Keuskupan Agung Ende). Dalam homilinya, Uskup Vinsensius bertanya, apa yang dilakukan Natanael di bawah pohon ara. (Bacaan Misa Yohanes 1:45-51). Uskup menjelaskan bahwa Natanel membaca buku taurat, kitab perjanjian. Saat itu Natanel menantikan keselamatan. Tiba-tiba muncul Yesus di hadapannya. Ia yakin, Yesus menyelamatkan semua orang.  Yesus melihat Natanael dengan mata hati-Nya, hidup Natanael hanya untuk Tuhan. Maka Oleh Yesus, ia dikatakan tidak ada kepalsuan padanya. Yesus adalah pusat hidup kita. Keselamatan datang daripada-Nya. Para imam melanjutkan tugas karya keselamatan ini. “Ini tugas yang berat,” ujar Uskup. Para imam harus menghadirkan sakramen, sebagai tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan. Di akhir Perayaan Syukur ini ada pembacaan Surat Keputusan (SK) tentang penugasan pelayanan bagi para imam di Keuskupan Tanjungkarang. SK dibacakan oleh Romo Nicolaus Heru Andrianto Pr, Sekretaris Keuskupan Tanjungkarang. Berikut beberapa penugasan baru: Romo Fransiskus Xaverius Hendri Firmanto ditugaskan sebagai Pastor Rekan di Paroki Kabar Gembira Kotabumi, sekaligus mengelola Asrama Putra Darusalam Kotabumi. Romo Marys Vincentius Namapadji Kopong Daten mendapat tugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Santo Thomas Rasul Bandar Sribawono. Romo Chosmas Oswyn Koba diangkat menjadi Pastor Rekan di Paroki Santa Maria Pajar Mataram. Romo Micael Nopen Saputro diberi tugas baru sebagai Pastor Kepala Paroki Ratu Damai Teluk Betung. Romo Yohanes Sulatin diangkat sebagai staf di Seminari Menengah Santo Paulus Palembang, menggantikan tugas sebelumnya sebagai pastor rekan di Paroki Santo Thomas Rasul Bandar Sribawono. Romo Philipus Suroyo ditugaskan sebagai Pastor Rekan di Paroki Santo Yohanes Rasul Kedaton, dengan tugas tambahan untuk tetap menjalankan tugas di Komisi HAK dan Kerawam, bertempat tinggal di Stasi Santa Maria Immaculata Way Kandis Romo F. Fritz Dwi Saptoadi diangkat sebagai Ketua dan Penanggungjawab Studio Pusat Pastoral Keuskupan Tanjungkarang di Wisma Albertus dan akan menjalankan tugas pelayanan sakramental di sana. Romo Antonius Suhendri akan bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Santo Yohanes Rasul Kedaton, bertempat tinggal di Stasi Santa Maria Immaculata Way Kandis serta melanjutkan tugas Pastoral Care di rumah sakit dan lembaga pemasarakatan di wilayah Bandar Lampung. Mateus Sumarno, MSF diberi tugas sebagai Pastor Rekan di Paroki Ratu Damai Teluk Betung, bertempat tinggal di Stasi Santo Petrus Panjang. Romo Ignatius Supriyanto, MSF juga akan menjadi Pastor Rekan di Paroki Ratu Damai Teluk Betung, bertempat tinggal di Stasi Santo Petrus Panjang dan melanjutkan tugas di Komisi Keluarga Keuskupan Tanjungkarang. Romo Nicolaus Agung Suprobo ditugaskan mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Gentiaras sebagai tenaga pengajar filsafat dan pendidikan agama Katolik, menggantikan tugas sebelumnya di Paroki Santo Petrus Kalirejo. Romo Gregorius Suripto akan menjadi Pastor Rekan di Paroki Santo Petrus Kalirejo dan turut membantu persiapan Unit Pastoral Tanjung Mas. Romo Yohanes Baptista Sujanto diberikan tugas tambahan sebagai Koordinator Tim On Going Information Keuskupan Tanjungkarang untuk pendampingan bagi frater dalam masa penpas dan diakonat. Romo Lukas Raditya akan turut ambil bagian dalam pendampingan frater yang menjalani masa orientasi pastoral di Keuskupan Tanjungkarang. Romo Damianus Triwidaryadi diangkat sebagai Pastor Rekan di Paroki Santo Yohanes Rasul Kedaton atas dasar surat penugasan dari Keuskupan Tanjung Selor. Romo Chrisantus Ian Bagas Brahmantio, Romo Pius W. Adityo Raharjo dan Romo Nicolaus Heru Andrianto akan bertugas memberikan pengajaran kepada para suster di Keuskupan Tanjungkarang terkait dengan katekese, liturgi, dan kitab suci. Usai Perayaan Syukur acara dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan penampilan jathilan di lapangan. *** Sr. M. Fransiska FSGM 

Tiga Imam Baru Read More »

DIAKON FX HENDRI FIRMANTO

JANGAN KUATIR; TUHAN BERSAMAMU “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1Ptr. 5:7) “Jangan kuatir; Tuhan bersamamu” menggambarkan disposisi batin saya ketika menuliskan refleksi panggilan ini. Rasa kuatir namun tetap percaya akan penyertaan Tuhan membawa saya pada permenungan tentang makna panggilan yang ditanamkan Tuhan dalam diri saya. Saya menemukan makna panggilan Tuhan tersebut ialah panggilan itu anugerah istimewa dari kasih Ilahi kepada diri saya yang penuh kelemahan. Allah Yang Kudus telah berkenan memanggil dan memilih hamba-Nya untuk mewartakan Injil. Dengan keyakinan akan penyertaan Tuhan, saya berusaha untuk menghadapi kekuatiran dalam iman yang teguh dan percaya bahwa Tuhan sendirilah yang selalu memelihara. Santo Paulus mengatakan “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Fil. 4:6). Perkataan Santo Paulus menjadi satu kekuatan bagi saya untuk tidak menghawatirkan proses yang telah saya lalui mau pun yang akan saya lalui ke depannya dalam menanggapi panggilan Tuhan sebagai imam. Saya berusaha menyerahkan segala yang terjadi kepada kehendak Tuhan yang memanggil. Hal ini secara nyata terbukti dalam seluruh proses yang telah saya alami mulai dari awal keinginan masuk seminari sampai sekarang. Saya ingin masuk seminari sejak kelas dua SMP. Karena itu, pada tahun 2011 rencananya setelah tamat SMP saya ingin melanjutkan pendidikan di seminari, tetapi gagal karena romo paroki tidak memberitahu waktu pendaftarannya, bahkan terkesan tidak mengizinkannya. Karena hal itu, kemudian saya masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Satu (SMK N1) Blambangan Umpu dan melupakan keinginan untuk ke seminari. Akan tetapi, ketika kelas tiga (XII), berawal dari ajakan teman saya untuk mendaftar ke sekolah (kuliah) ikatan dinas, yakni dinas pertanian dan perkebunan Kabupaten Way Kanan, secara spontan saya menolaknya dengan berkata: “Saya mau masuk seminari, jadi romo”. Dia kaget dan tidak menyangka dengan keinginan saya ini. Keinginan saya untuk kembali masuk seminari, saya utarakan juga kepada romo kepala paroki yang baru (dulu romo rekan dan diangkat menjadi pastor kepala paroki). Romo kepala paroki tidak serta merta memberikan izin dan rekomendasi. Beliau menyarankan supaya dipikirkan kembali dengan matang. Beberapa minggu kemudian, tepatnya 26 Desember 2013, saya kembali menghadap romo kepala paroki untuk tetap mendaftar ke seminari. Akhirnya, 27 Desember 2013, saya berangkat untuk mengikuti tes masuk di seminari Menengah St. Paulus Palembang. Setelah mengikuti tes, beberapa bulan kemudian hasil tes keluar dan dalam hasil itu, saya dinyatakkan lulus seleksi dan diterima masuk ke Seminari Menengah St. Paulus Palembang. Saat saya memulai pendidikan dan pembinaan di Seminari Menengah St. Paulus Palembang, saya berkeinginan menjadi bruder FIC. Hal ini terjadi karena saya dan keluarga memiliki hubungan yang cukup dekat dan baik dengan beberapa bruder FIC yang berkomunitas di Sukaraja, Blitang, BK. 0; serta kedua adik saya bersekolah di SMA dan SMP Pangudi Luhur, Sukaraja, Blitang yang dikelolah oleh para bruder FIC. Selama enam bulan saya merenungkan panggilan ini, hingga akhirnya ketika retret akhir Retorica, saya berubah haluan dari bruder FIC ke Imam Diosesan Keuskupan Tanjungkarang. Perubahan pillihan saya ini terjadi karena saya mengetahui bahwa di antara teman-teman seminaris yang lainnya, terutama yang berasal dari Lampung tidak ada satu pun yang memilih Keuskupan Tanjungkarang. Melihat situasi seperti itu, saya berpikir bahwa kalau bukan saya yang memilih menjadi imam di Keuskupan Tanjungkarang siapa lagi; kemudian, saya sendiri berasal dari Keuskupan Tanjungkarang serta Keuskupan ini pun membutuhkan kaum muda yang mau mengabdikan diri bagi perkembangan Gereja setempat. Dengan pemikiran-pemikiran sedehana itu, akhirnya saya memutuskan dan memantapkan diri untuk melamar ke Keuskupan Tanjungkarang sebagai calon imam Diosesan Keuskupan Tanjungkarang. Pada akhirnya, saya diterima sebagai calon Imam Dioesan Keuskupan Tanjungkarang serta diutus untuk menjalankan proses pendidikan dan pembinaan di Seminari TOR Santo Markus; kemudian, di Seminari Tinggi Santo Petrus Pematangsiantar sampai selesai masa formatio awal sebagai calon Imam Diosesan. Pengalaman yang telah saya lalui seperti di atas sebagai masa awal  panggilan membuat saya merasakan bahwa Tuhan selalu menyertai perjalanan hidup saya. Bahkan, ketika saya berusaha mengelak dari panggilan-Nya, Tuhan menegur saya dengan berbagai pengalaman yang meneguhkan iman saya. Salah satunya, saya semakin aktif dalam kegiatan menggereja seperti kegiatan Orang Muda Katolik yang diselenggarakan pertiga bulan sekali pada minggu kelima. Saya merasa bahwa ini adalah awal panggilan saya untuk secara khusus mengikuti-Nya. Maka pada waktu itu, tanpa keraguan saya memutuskan untuk meninggalkan segalanya dan mulai menjawab panggilan-Nya. Misteri panggilan Tuhan saya rasakan ketika memasuki masa persiapan tahbisan Diakonat. Secara tidak terduga saya mendapat tugas perutusan di Paroki Hati Yesus Yang Mahakudus, Metro bersama para Imam dari Keuskupan Agung Semarang serta membantu di SMP Xaverius Metro. Selama menjalankan masa persiapan Diakonat ini, saya berusaha untuk memurnikan gambaran imamat yang saya miliki sebagai bentuk kesungguhan dalam menjawab panggilan Tuhan. Karena itu, dalam refleksi sebelum tahbisan Diakonat saya menuliskan bahwa gambaran imamat saya ialah Imam adalah Gembala yang melayani, seperti Tuhan Yesus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani (Mat. 20:28) kawanan domba Allah melalui Gereja. Gambaran imamat di atas semakin saya pertegas selama masa Diakonat di Paroki Santa Maria Pajar Mataram. Bagi saya pribadi, gambaran imamat tentang imam sebagai Gembala dan imam sebagai Pelayan saya maknai sebagai berikut: Pertama, Imam sebagai Gembala bermakna bahwa seorang imam mempunyai tugas dan tanggung jawab menuntun dan mengarahkan kawanan domba Allah yang dipercayakan kepadanya ke Padang yang hijau, yang dapat memberikan kehidupan kepada setiap orang baik secara pribadi mau pun bersama, khususnya dalam hal hidup rohani atau iman kepada Kristus yang bangkit. Konsep ini adalah bentuk lain dari konsep tentang Gembala yang baik seperti yang ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes 10:1-20. Kedua, Imam sebagai pelayan bermakna bahwa seorang imam yang adalah Gembala harus mau melayani secara total, dengan memberikan diri kepada Allah untuk melayani umat Allah sesuai kebutuhannya masing-masing dalam situasi konkret hidupnya. Konsep imam sebagai pelayan yang saya miliki ini terinspirasi dari Sabda Yesus sendiri yakni “Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 20:26b). Selama masa Diakonat, saya berusaha membentuk diri sebagai gembala yang baik; gembala yang mau melayani, dan selalu belajar dari siapa saja yang berkehendak baik, terutama Pastor Paroki. Dalam proses belajar menjadi gembala yang melayani, saya menyadari bahwa banyak

DIAKON FX HENDRI FIRMANTO Read More »

Diakon Chosmas Oswyn Koba

Panggilan menjadi seorang imam bagi pribadi saya adalah jalan mulia yang begitu menyenangkan. Menyenangkan karena ketika dijalani dengan sukacita dan tanpa ketakutan semuanya akan baik-baik saja. Bagi saya, Tuhan Yesus selalu menyertai saya dalam jalan ini. Ia selalu berada di samping saya. Panggilan mengikuti-Nya, saya alami ketika berada di bangku Sekolah Dasar (SD); waktu itu saya ditanya oleh paman saya yang adalah guru matematika di sekolah. Katanya jika saya jadi imam maka bakat menyanyi saya akan semakin berkembang hal ini karena beliau mengetahui bahwa saya suka menyanyi. Lambatlaun akhirnya saya berniat masuk seminari. Niat saya semakin kuat karena kakek saya adalah seorang pastor Serikat Sabda Allah (SVD) yang selalu datang ke rumah dan memberi saya makanan enak. Dalam benak saya, ketika menjadi seorang imam saya pun akan selalu merasakan kenikmatan makanan yang serba enak. Ketika tamat Sekolah Dasar, saya mengikuti seleksi masuk seminari di istana Keuskupan Agung Ende dan saya diterima di Seminari Bunda Segala Bangsa-Maumere. Tahun 2008 adalah tahun yang sangat berharga bagi saya karena boleh menginjakan kaki di Seminari Bunda Segala Bangsa. Angkatan saya adalah angkatan terakhir yang boleh bersekolah di  SMPK Frateran Maumere namun berstatus seminaris. Saya bersukacita karena di seminari saya mendapat kawan-kawan baru, pembina yang selalu memberi kasih sayang, belajar hal-hal baru misalnya ketertipan dan tanggung jawab, saya dipilih menjadi ketua musik vokal, dan saya bersyukur bawasannya saya dijaga kakak sepupu yang merupakan senior saya. Di seminari senioritas sangat kuat. Satu kesempatan ketika kawan-kawan lain diperintah untuk mencuci pakaian kakak-kakak kelas tiga saya sendiri yang tidak mendapatkan perintah tersebut karena kakak melarang saya agar tidak mengikuti perintah tersebut. Ketika naik kelas tiga, saya dikeluarkan dari seminari karena alasan bolos. Waktu itu 10 orang dikeluarkan dari seminari, saya termasuk didalamnya. Sebelum dikeluarkan, pembina seminari yakni Romo Bone menganjurkan saya untuk melanjutkan ke Kelas Persiapan Bawah di Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko. Dalam benak saya beranggapan bahwa Romo Bone masih sangat mendukung saya dalam jalan panggilan menjadi serang imam. Ia terus terang mendukung saya. Bhkan pada malam harinya, ia memanggil saya dan mengatakan bahwa ada ketaatan dan kedisiplinan yang kuat melekat dalam diri saya dan itu merupakan salah satu yang harus dimiliki oleh seorang calon imam. Ajakan dari Romo Bone tidak diindakan oleh saya. Saya tidak melanjutkan pendidikan di seminari. Namun panggilan saya tidak putus ditengah jalan. Seusai tamat dari SMPK Frateran Maumere, saya melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) Frateran Ndao. Salah satu sekolah yang sangat bergengsi di Kabupaten Ende. Di SMAK Ndao, saya selalu dipuja oleh para freter karena nilai agama katolik yang selalu bagus. Ketika menamatkan Pendidikan di SMAK Ndao, saya diajak oleh salah seorang frater untuk menjadi frater Bunda Hati Kudus namun saya menolak tawarannya. Hal ini karena saya tidak mau menjadi frater kekal, saya inin menjadi seorang imam. Akhirnya saya melanjutkan panggilan saya di Kelas Persiapan Atas San Paulo-Mataloko. Awal masuk di KPA Mataloko, saya mengalami kekeringan panggilan karena keinginan untuk melanjutkan panggilan ini bukan atas kemauan saya melainkan atas kemauan sang bunda. Saya terpaksa saja menjalankan panggilan dengan sangat berat hati. Namun seiring berjalanya waktu, saya selalu dikuatkan oleh RP, Yanto Ndona, O.Carm. ia selalu mengatakan bahwasanya panggilan mengikuti Yesus selalu penuh dengan tantangan dan berat. Namun yesus sendiri yang akan membantu dan membimbing siapa saja yang mau mengikutiNya. Awal tahun 2015 pada bulan Februari tanggal 17, saya mendapat kabar dari bapak bahwa adik saya meninggal dunia. Ia meninggal dunia dengan cara yang begitu tragis yakni dengan menggantung diri. Kabar ini saya dapat dari RP, Yanto Ndona. Pater Yanto sekali lagi menguatkan saya. Ia memeluk saya dan mengatakan bahwa saya kuat dan bisa melewati cobaan ini. Sesampainya di rumah, saya disambut oleh senyuman manis dari sang bunda. Senyuman mama menguatkan saya dan kerabat dekat heran bahwasanya saya tidak menagisi kepergian adik tercinta. Saya memegang kuat nasihat dari Pater Yanto. Ibadat pemakaman dilakukan oleh saya. Bapak berpesan agar saya tetap menjalani panggilan dengan bersukacita dan jangan ragu akan panggilan Tuhan. Bagi bapak, saya telah dewasa karena dapat melewati cobaan ini dengan lapang dada. Tahun 2015 pun saya menamatkan Pendidikan di KPA Mataloko dan melanjutkan pendidikan di Tahun Orientasi Rohani St. Damian Nela. Di sana saya bertemu banyak kawan dari tamatan seminari. Bagi saya mereka adalah anak-anak pintar dan saya merasa gelisah karena mereka beda dari saya. Mereka pintar dan saya tidak. Namun saya tetap mempercayakan semuanya itu dalam tangan Tuhan. Saya yakin Ia selalu menyertai saya. Ia selalu dan masih berada di samping saya. Penerimaan Jubah dan Jalan Suci Tahun 2016 adalah tahun dimana saya menerima pakaian rohani atau jubah. Saya bersukacita akhirnya keingian tercapai. Jubah bagi saya adalah pemberian Tuhan yang istimewa dan harus dijaga. Ada seorang pastor yang selalu mengingatkan saya untuk menjaga jubah itu agar tak pernah noda. Noda dalam artian jangan meninggalkan atau melepasnya. Pada tahun 2020 saya menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki St. Yoseph Naikoten. Pengelaman yang berharga dalam masa ini yakni saya selalu dikuatkan oleh Romo Andre Alo’A. beliau selalu mengajarkan saya untuk hidup ugahari dan selalu berpasrah pada Bunda Maria. Romo Andre dengan jiwa kebapaanya, selalu mengajarkan saya untuk lebih mencintai orang miskin daripada yang lain. Ia selalu memberi masukan dan motivasi bagi saya. Pernah suatu hari saya tidak mengikuti misa pagi. Ia memanggil dan meninju perut saya serta memberi saya motivasi. Ia berpesan bahwa Ekaristi adalah puncak dari kehidupan manusia dan menggereja. Jangan sekali-kali meninggalkan Ekaristi. Dari Romo Andre, saya belajar untuk selalu setia dan mencintai Ekaristi. Ekaristi harus menjadi pegangan bagi saya yang adalah seorang calon imam. Tahun 2021, Ibunda saya meninggal dunia; Romo berpesan pada saya untuk tetap berserah diri pada Bunda Maria. Pengelaman pahit ini menjadi kekuatan tersendiri bagi saya. Saya memaknai pengelaman ini sebagai titik awal saya menemukan Tuhan dan lebih dekat dengan Tuhan. Motto tahbisan “Jangan takut, percaya saja. Merupakan refleksi akan pengalaman-pengalaman yang pernah saya alami. Bagi saya, Tuhan selalu menjaga saya. Ia selalu memeluk saya dan selalu mengandeng tangan saya. Saya percaya bahwa Ia tidak pernah meninggalkan saya. Tahun 2022 saya mengakhiri Masa Tahun Orientasi Pastoran (TOP) di Paroki St. Yoseph-Naikoten.

Diakon Chosmas Oswyn Koba Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top