Sabtu, 29 Mei 2021, SMP Yos Sudarso, Bandarjaya, Lampung Tengah diresmikan dan diberkati oleh Pastor Paroki St. Lidwina Bandarjaya, Rm. Antonius Suhendri Pr.

Pemberkatan berlangsung dalam Perayaan Ekaristi. Hadir Tim Ayo Sekolah Paroki, para donatur lokal, ketua stasi paroki dan ketua lingkungan.

Perjalanan panjang telah ditempuh Yayasan Yos Sudarso Bandarjaya ini. Naik turun. Pasang surut. Tertatih-tatih. Bahkan sampai ‘berdarah-darah’.

Menuju di batas akhir, seluruh elemen sadar diri. Bergotong-royong. Bergandengan tangan. Entah itu pastor paroki, suster, dan seluruh umat. Syukur pemerintah turut mengulurkan tangan. Demi eksisnya pertahanan diri satu-satunya karya pendidikan di Paroki Bandarjaya ini.

 Putar otak

Tahun 2013 SMA Yos Sudarso Bandarjaya ditutup. Tidak ada murid. Yayasan Yos Sudarso memutar otak. Gedung SMP dipindah. Menempati gedung SMA. Direnovasi. Diperbaiki sana-sini. Ada dua ruang kelas yang sudah tak layak pakai. Berkat bantuan pemerintah, dua ruang kelas itu disulap. Menjadi ruang perpustakaan dan laboratorium. Kini tampak indah dan bersih.

Tak hanya gedung. Yayasan Yos Sudarso mulai berbenah diri. Mereka melakukan aksi jemput bola. Door to door. Dari pintu ke pintu. Mencari murid. Memberi pencerahan dan kepercayaan kepada orangtua agar anaknya dididik di Yayasan Yos Sudarso ini.

Mereka juga meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM). Ada penambahan empat guru pengajar lulusan fakultas ternama. Sanata Dharma Yogyakarta, salah satunya. Sistim manajemen pun diperbaiki. Sekolah ini kini memiliki visi- misi yang jelas dan terarah.

 

Ditelan waktu

Tahun 80-90-an sekolah Yayasan Yos Sudarso ini pernah mengalami jaya. Alumni sekolah di masa itu pastilah merasa bangga. Lulusan sekolah favorit. Serasa ada label bermerk yang disandangnya. Saat itu jumlah murid mencapai 500 an siswa. Mereka datang dari berbagai daerah. Setiap hari ada empat bis besar antar jemput siswa yang rumahnya tinggal di sekitar Gunung Madu. Jarak tempuh satu jam menuju sekolah dari tempat tinggal siswa.

Sayang seribu sayang. Masa jaya beralih. Tak ada lagi sebutan, sekolah favorit. Sekolah semakin ditinggalkan masyarakat. Tak lagi dilirik. Apalagi dicari. Yayasan sekolah Yos Sudarso mengalami masa-masa buram. Seiring waktu jumlah murid semakin sedikit. Lama kelamaan habis di telan waktu. Seperti ada pepatah: hidup segan, mati pun tak mau. “Miris. Ingin menangis,” ungkap seorang alumni tahun 80-an yang dijumpai penulis.

 Bangkit dan bergerak

Lenyapnya masa jaya itu tak perlu ditangisi terus-menerus. Tanpa berbuat apa-apa. Semua elemen harus bangkit. Bangun dari tidur. Bergerak maju. Siap tempur. Seperti semangat pahlawan Yos Sudarso.

Mengembalikan masa jaya itu tak semudah membalikkan tangan. Butuh pengorbanan besar. Bersinergi satu sama lain. Kerja keras. Kesabaran. Ketua Yayasan Yos Sudarso, Lambok Nainggolan, dalam kata sambutannya, dengan rendah hati memohon agar sekolah ini terus dipromosikan.

Ia meminta bantuan semua pihak untuk saling mendukung. Mempercayakan anak-anaknya untuk dididik di sekolah ini. Banyaknya anak murid juga akan mempengaruhi kesejahteraan para guru dan karyawan di sekolah itu. Menurut data statistik jumlah siswa tahun 2021 TK: 36 siswa. SD: 92 siswa. SMP ada 37 siswa. Guru pengajar TK: 4 orang. Guru SD: 10 orang. Guru SMP: ada 8 orang.

Ke depan, di kompleks sekolah ini akan dibangun asrama siswa sekolah. Ini sebagai daya tarik tersendiri. Nilai plus. Apalagi asrama ini akan dikelola oleh para suster biarawati SND.

Gedung SMP Yos Sudarso ini sudah cling! Tahun ajaran 2021 gedung SMP yang sudah diberkati ini siap pakai. Siap mendidik siswa miliki iman dan karakter yang kuat. Berintelektual. Seperti pahlawan nasional Yos Sudarso.  ***

 M. Fransiska FSGM

(Di bawah ini teks lagu Mars Yayasan Yos Sudarso. Cipt. Suwida)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *