Kita ini suka kurang ajar terhadap Tuhan. Diberi panas, kepanasan. Diberi hujan, kehujanan. Mengeluh. Litani. Baju tidak kering-kering. Serba repot.

Belum lagi kejahatan yang kita buat. Kejahatan-kejahatan itu dimulai dari yang sederhana. Membuang sampah sembarangan, misalnya. Padahal, tempat sampah sudah disediakan. Alam menjerit. Mengapa membuang sampah sembarangan? Itu menyakiti bumi. Soal bumi adalah bicara soal ruang hidup. Bagian dari ciptaan Tuhan. Bumi itu dipercayakan kepada manusia. Bumi, dalam bahasa Yunani: ‘oikos.’ Bahasa Jawa: omah, artinya rumah. Maka di kala kita bicara soal bumi adalah soal rumah. Impiannya, pastilah rumah yang bersih. Sehat. Indah. Asri. Sejuk.

Gambaran rumah yang baik, bukan soal dibangun dari apa? Tetapi siapa yang ada di dalamnya. Bumi menjadi sangat baik, di mana kala yang menempati adalah orang-orang yang baik. Paus Fransiskus dalam rangka peringatan Ensiklik Laudato Si, mengajak untuk mengembalikan fungsi sebuah bumi, sebuah rumah. Untuk kehidupan kita bersama. Paus mengajak kita membangun kesadaran. Bertobat. Bertindak. Memperlakukannya dengan kasih sayang agar kita dapat mewariskan bumi yang aman dan nyaman kepada generasi penerus di masa yang akan datang.

Masuk dalam Pekan Laudato Si, kita diundang sebentar untuk menarik napas, Tuhan menyapa kita untuk melakukan apa?

“Kita bisa menanam tanaman di rumah kita. Di teras rumah. Tidak ada lagi alasan, tidak memiliki tanah. Kalau kita mau kreatif, pastilah bisa,” ujar Romo Ignatius Supriyatno MSF saat memimpin Misa Alam, rangkaian pekan Laudato Si, Senin, 24 Mei 2021.

Misa alam ini dipersembahkan oleh: Rm. Ignatius Supriyatno MSF, Rm. Philipus Suroyo Pr, dan Rm. Stefanus Ruswan Budi Sunaryo MSF. Di Bukit Tentrem, Batu Putu, Bandarlampung.

Pekan Laudato Si 2021 di Bumi Ruwai Jurai Lampung ini, bertema Keluarga Ladato Si Hidup Ekologis dengan Eco Enzyme, diselenggarakan selama dua hari.

Sehari sebelumnya, Minggu, 23 Mei 2021 telah dilakukan penanaman pohon dan susur sungai dengan menebar Eco Ensyme.

Ada sebelas tanaman yang ditanam. Jenisnya: jambu jamaika, jambu air, mangga dan alpokat.  Kegiatan ini merupakan gerak bersama:Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) DPD Lampung, Komisi Keluarga Keuskupan Tanjungkarang, Small Steps Community, Penggiat Eco Enzyme Sai Bumi Lampung, dan Komsos Keuskupan Tanjungkarang. ***

M. Fransiska FSGM

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *