Serah terima jabatan pastor paroki St. Yohanes Rasul, Kedaton, telah berlangsung hari Minggu, 27 Juni 2021. Pindah tangan dari Romo Adrianus Satu Manggo Pr kepada penggantinya Romo Antonius Untoro Pr.

Acara serah terima ini sekaligus pelantikan Romo A. Untoro Pr sebagai pastor paroki. Sebelumnya ia mengemban jadi Pastor Rekan selama tujuh tahun di Paroki Kedaton ini.

Acara ini diadakan dalam Perayaan Ekaristi. Dipimpin oleh Vikjend Keuskupan Tanjungkarang Rm. Yohanes Samiran SCJ. Dihadiri Dewan Pastoral Harian dan Ketua-ketua Stasi.

Romo Manggo, panggilan akrabnya, lima tahun menjabat sebagai pastor paroki Kedaton ini. Kini, ia mendapat tugas perutusan baru di Paroki St. Paulus, Kota Gajah, Lampung Tengah sebagai Pastor Rekan.

Di akhir Perayaan Ekaristi, Romo Manggo mengucapkan terimakasih kepada seluruh umat atas doa, perhatian, cinta, dan kerjasama selama ia menjabat sebagai pastor paroki Kedaton ini.

Sopir Angkot

Ucapan syukur kepada Tuhan diungkapkan oleh Romo Manggo. Tuhan telah memilih dan memanggilnya sebagai imam Keuskupan Tanjungkarang. Kalau tidak menjadi imam, mungkin saya menjadi sopir angkot di Bogor. Atau sudah meninggal karena stroke, ujar Romo Manggo.

Begitulah ciri khas yang dimiliki Romo Manggo. Romo kelahiran Flores, 1 April 1965 ini dikenal dengan romo yang humoris. Ada-ada saja percakapan yang dibuatnya. Membuat orang-orang yang berada di dekatnya, gembira. Suasana menjadi segar.

 Lamaran diterima

Romo Manggo menceritakan awal panggilannya sebelum menjadi gembala. Sewaktu di Seminari Menengah, ketika libur, ia selalu diajak main dan bermalam di rumah para romo yang berdomisili di Pringsewu, Panutan, dan Nyukanghardjo. Kedekatan dengan para romo itu tentu membuat Manggo muda semakin merasa klik untuk menjadi seorang imam di Keuskupan Tanjungkarang.

Suatu hari ia berjumpa dengan almarhum Mgr. Andreas Henrisoesanta. Uskup Henri bertanya padanya, “Kamu dari mana?” Manggo muda menjawab kalau ia berasal dari Flores. Orangtua dan keluarga berdomisili di Bogor.

“Bisa bahasa Jawa?” tanya Uskup. “Sedikit. Tetapi ngoko,” jawab Manggo muda. “Lho, mengapa pergi ke Lampung?” tanya Uskup lagi. “Saya sendiri tidak tahu. Tetapi saya merasa cocok di Lampung,” jawab Manggo muda.  Lalu Uskup Henri meminta Manggo muda untuk menulis surat lamaran.

Sepekan kemudian, ia menerima balasan surat dari Uskup. Ia diterima sebagai imam diosesan Keuskupan Tanjungkarang. Saat itu juga Manggo muda berlutut. Berdoa khusuk. Penuh syukur.

Melekat pada Tuhan

Romo Manggo mengatakan, ketika di seminari ia belajar ugahari. Sederhana. Miskin. Taat. Selibat. Bagian dari kesederhanaan itu, tidak melekat. Belajar mengolah kelekatan yang tidak teratur baik kepada orang, barang, tugas, tempat, dll. Melekat hanya pada Tuhan, yang memanggil. Ini butuh perjuangan terus-menerus. Seumur hidup.

Kalau disuruh memilih berdasarkan kecenderungan saya, ya saya memilih untuk tetap di paroki ini. Tetapi itu ‘kan tidak bisa, ujar Romo Manggo apa adaya.

Maka, para imam, biarawan-biarawati harus memiliki sikap siap sedia. Bersedia di tempatkan di mana saja atas nama Gereja.

Meski awal bisa jadi ada penolakan. Waduh, kok pindah. Mengapa saya dipindah ke sana? Tetapi kemudian perasaan itu diolah. Keputusan pemimpin diterima. Lalu dijalankan dengan taat dan sepenuh hati. ***

 M. Fransiska FSGM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *