St. Andreas Kim Taegon, Imam, dan Paulus Chong Hasang dkk, Martir Korea

Bacaan: 1 Tim 6:2-12

Saudara terkasih, ajarkanlah dan nasihatkanlah semuanya ini. 6:3 Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat — yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus — dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, 6:4 ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, 6:5 percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan. 6:6 Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. 6:7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. 6:8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. 6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. 6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

6:11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. 6:12 Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi.

 

Renungan

Merenungkan apa yang menjadi pesan St. Paulus hari ini, satu rangkuman kecil yang bisa menjadi pegangan kita adalah bukan tempatnya mencari panggung dengan menjual Yesus. Disadari atau tidak, nasihat Paulus kepada Timotius ini sering kali kita alami. Seolah-olah menjadi perpanjangan lidah Yesus, tetapi yang terjadi kita mencari panggung dan bahkan menjual Yesus untuk keuntungan ekonomis pribadi. Fenomena ini tidak jarang susah dibedakan, tidak terlalu tampak dan cenderung tersembunyi. Tetapi sebenarnya bisa nampak begitu jelas dengan berlangsungnya waktu.

Namun demikian, kita yang melayani dengan tulus iklas jangan sampai kendor karena isu dan kemungkinan seperti itu. Bahwa ‘efek’ dari apa yang kita lakukan akhirnya kita mendapat panggung, itu lain soal; demikian juga dengan ‘upah’ yang kita dapat. Menjadi berbahaya ketika disadari atau tidak yang pertama kita kejar dan cari adalah panggung dan keuntungan ekonomis.

Kiranya persis seperti yang direnungkan Paulus “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Bahwa hampir segalanya perlu uang adalah realitas. Menjadi kaya dan bahagia adalah panggilan kita semua. Namun kita perlu bergerak lebih jauh dengan iman dan pengharapan. Uang dan kekayaan menjadi sarana bagi kita untuk mencapai yang jauh lebih berharga: sukacita dan kebahagiaan dalam Tuhan.

Langkah konkret yang bisa kita lakukan untuk sampai pada taraf itu adalah berani mengatakan CUKUP. Memang kita sering dituntut untuk mencapai batas maksimal. Dan itu adalah keutamaan juga, melakukan yang terbaik dengan total (maximum bonum). Tetapi pertanyaannya adalah apa yang menjadi ukuran batas maksimal itu.

Sederhana dan bisa dilakukan siapa saja: berani mengatakan CUKUP.

Doa: Ya Tuhan, semoga aku mampu mengukur kebahagiaanku bukan semata-mata dengan harta dunia, tetapi karena Engkau sendiri yang selalu mencukupkan diriku. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *