Katekese

Renungan Harian, Kamis Biasa XXVII

Bacaan: Lukas 11:15-13 11:5 Lalu kata-Nya kepada mereka: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, 11:6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; 11:7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. 11:8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. 11:9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 11:10 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 11:11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? 11:12 Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? 11:13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”   Renungan Bagi orang Yahudi, tamu yang datang ke rumah adalah orang yang harus dilindungi dan dipelihara. Orang yang masuk ke rumah seseorang berati keselamatannya menjadi tanggung jawab sang empunya rumah. Bahkan ketika nyawa menjadi taruhannya, sang tuan rumah punya panggilan untuk melindunginya. Tetapi jika di luar rumah sudah bukan lagi menjadi tanggung jawabnya. Abraham menjamu tiga orang peziarah yang sedang lewat di depan rumahnya menjadi gambaran yang pas bagaimana orang Yahudi menyambut tamu. Dalam pengertian seperti ini, kita bisa sedikit memahami bagaimana orang yang kedatangan sahabatnya pada tengah malam akan melakukan apa saja untuk menjamu tamunya itu. Karena menjadi kewajibannya untuk menjamu, ia tidak malu-malu untuk datang ke tetangga meminjam roti hidangan untuk santapan tamunya. Tetangga yang merasa terganggu pun akhirnya akan memberikan apa yang menjadi keluhan sang tuan rumah itu. Maka menjadi jelas Yesus hendak menekankan bahwa usaha yang gigih itu akan memberikan hasil seperti yang diperlukan. Konteks luas Injil hari ini adalah kelanjutan dari pengajaran tentang doa. Yesus mengajar para murid untuk berdoa seperti yang ada dalam perikopa sebelumnya. Dilanjutkan dalam perikopa ini, Yesus mengajak mereka untuk mengenal Bapa yang baik, Bapa yang mengetahui apa yang dibutuhkan oleh anak-anak-Nya. Bapa yang baik pasti akan memberi perhatikan kepada mereka yang berusaha dengan sungguh-sungguh dan memohon juga dengan sungguh-sungguh. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah pernah dengan sungguh-sungguh berusaha untuk memenuhi apa yang kita butuhkan? Apakah kita juga sudah pernah sungguh-sungguh meminta kepada Tuhan tentang apa yang menjadi kesulitan kita? Ada begitu banyak pengalaman iman tentang kesaksian ini. Orang yang berusaha sungguh dan berdoa dengan sungguh mendapatkan apa yang mereka perlukan. Semoga kita tidak pernah lelah untuk berusaha dan berdoa. Doa: Ya Tuhan, semoga iman dan harapanku tidak pernah pudar dalam segala usaha dan jerih lelahku. Amin.  

Renungan Harian, Kamis Biasa XXVII Read More »

Renungan Harian, Rabu Biasa XXVII

Bacaan: Lukas 11:1-4 Hal berdoa 11:1 Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” 11:2 Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. 11:3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya 11:4 dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.”   Renungan Ora et Labora Dalam tradisi hidup kontemplatif, para pertapa diajak untuk hidup dengan doa dan karya (ora et labora). Hidup doa menjadi dasar dari seluruh perjalanan hidup mereka hari demi hari. Apa yang mereka doakan diwujudkan dalam karya tangan masing-masing dalam keheningan yang agung. Doa dan karya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Namun mereka tidak mencampurkan bahwa karya mereka ya doa mereka, tidak ada waktu khusus berdoa. Atau sebaliknya doa mereka itulah karya mereka, tidak ada kerja tangan biasa. Keduanya menjadi satu tetapi masing-masing juga punya saatnya sendiri-sendiri. Saat kerja ya bekerja, saat berdoa ya sungguh-sungguh berdoa. Hari ini Yesus mengajari para murid untuk berdoa. Doa yang Yesus ajarkan ini mengingatkan dimensi ora et labora yang dihidupi para rahib. Atau dengan kata lain, ora et labora sebenarnya juga menjadi panggilan kita semua. Kita tidak cukup hanya banyak berdoa tanpa bekerja tangan. Tubuh kita perlu makan dan minum serta segala gerak manusiawi. Maka bekerja juga menjadi bagian hakiki dari hidup manusia. Sebagai orang beriman, doa dan kerja menjadi nafas harian kita. Ada waktu untuk berdoa dengan sungguh-sungguh, ada pula waktu untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Kita membawa karya kita dalam doa-doa, dan juga mendasari karya dengan doa-doa yang kita daraskan. Semoga dengan demikian, hidup kita menjadi semakin tangguh dan berkualitas. Doa: Bapa kami yang ada di surga, Dimuliakanlah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Sebab Engkaulah raja yang mulia dan berkuasa untuk selama-lamanya. Amin.  

Renungan Harian, Rabu Biasa XXVII Read More »

Renungan Harian, Selasa Biasa XXVII

Bacaan: Lukas 10:38-42 Maria dan Marta 10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” 10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”   Renungan Belajar beriman dengan mendengarkan sabda Tuhan, kita hari ini bisa belajar dari tiga tokoh, yakni Yunus, Maria, dan Marta. Mereka adalah tokoh-tokoh yang dikisahkan mendengarkan dan melaksankan sabda Tuhan. Namun perjalanan untuk sampai pada tahap mendengarkan bukanlah kisah sekali jadi. Membutuhkan proses dan perlu mengalami berbagai macam peristiwa. Seperti kisah Yunus yang kita tahu bersama. Yunus diutus untuk mewartakan pertobatan di Niniwe, tetapi dia melarikan diri dari perintah itu. Dia bisa pergi kemana saja, tetapi Tuhan tidak pernah kehilangan Yunus. Dimana Yunus pergi, di sana Tuhan hadir dan memberi tanda padanya. Yunus harus mengalami berbagai macam peristiwa dulu sebelum akhirnya mengatakan ‘YA’ untuk sabda Tuhan. Bahkan ia harus mengalami kematian dulu di dalam perut ikan selama tiga hari. Setelah itu baru dia mengalami kebangkitan dan akhirnya pergi ke kota Niniwe. Hasilnya? Allah tidak jadi menunggangbalikkan kota itu karena mereka semua berbalik kepada-Nya. Maria dan Marta menjadi tokoh hari ini dalam Injil. Dua saudara ini berusaha untuk mendengar dan melayani Tuhan. Mereka mempunyai jalan yang tidak sama untuk mendengarkan Dia yang bersabda. Dengan segala usahanya, Marta sebenarnya juga berusaha untuk melayani dan mendengarkan Tuhan. Namun demikian, bisa jadi karena salah focus, Marta tidak mampu melihat karyanya sebagai bentuk untuk melayani sabda Tuhan. Sementara Maria, hanya dengan duduk ia mampu mendengarkan Tuhan dengan setia. Memang dia belum bertindak apa-apa, tetapi dari mendengarkan dengan baik dan benar, sudah bisa dipastikan apa yang akan dilakukannya seperti yang Tuhan sabdakan. Yunus, Maria, dan Marta menjadi pribadi-pribadi yang dipilih Tuhan untuk mewartakan sabda-Nya kepada siapapun yang mereka layani. Mereka mempunyai jalan yang berbeda-beda untuk sampai mengatakan ‘YA’ akan sabda Tuhan. Ada yang memerlukan jalan yang panjang dan berliku, tetapi ada juga yang tidak perlu dengan berbagai macam kejadian untuk sampai mendengarkna sabda Tuhan. Dengan cara hidup yang berbeda, mereka disatukan oleh sabda Tuhan sendiri. Bagi kita, sabda Tuhan kiranya menjadi gaya hidup sebagai orang beriman. Bisa jadi kita seperti Yunus yang harus dikejar-kejar dulu supaya mau pergi ke Niniwe. Atau bisa jadi kita seperti Marta yang selalu bekerja dan bekerja, tetapi belum sadar betul apa yang saya kerjakan sebagai jalan untuk mewujudkan sabda Tuhan. Atau kita seperti Maria yang mampu langsung mendengarkan sabda Tuhan tanpa bermacam perantara. Tugas berikutnya adalah melaksanakan sabda itu dalam pengalaman nyata hidup. Mari mohon rahmat Tuhan agar kita menjadi pelaku sabda-Nya dalam seluruh hidup kita. Doa: Ya Tuhan, bukalah selalu telinga hati dan batinku untuk mendengarkan dan melaksankan sabda-sabda-Mu dalam hidupku. Amin.  

Renungan Harian, Selasa Biasa XXVII Read More »

Renungan Harian, Senin Biasa XXVII

PW SP Maria, Ratu Rosari Bacaan: Lukas 10:25-37 Orang Samaria yang murah hati 10:25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 10:26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” 10:27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 10:28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” 10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” 10:30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 10:32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 10:33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 10:34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 10:35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 10:36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” 10:37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”   Renungan Wujud iman: rasa kemanusiaan Kisah orang samaria yang baik sudah berkali-kali kita dengar dan renungkan. Bahkan menjadi contoh bagi banyak orang di berbagai belahan dunia untuk melakukan kebaikan yang sama. Orang Samaria menjadi contoh nyata bagaiman melakukan tindakan kebaikan untuk siapapun, bahkan untuk orang yang tidak dikenal sekalipun. Kebaikan bukan hanya untuk mereka yang kita kenal dan dekat, tetapi untuk dan dari siapapun. Kebaikan itu mempunyai nilai universal dan kodrati. Kisah orang samaria ini muncul atas pertanyaan ahli Taurat tentang syarat tindakan yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup kekal. Tentu kita tidak boleh lupa bahwa keutamaan-keutamaan hidup harus tetap dijalankan dengan baik. Tetapi lebih dari itu adalah kita bergerak dari tataran tindakan untuk pribadi sendiri, kepada tindakan untuk orang lain. Singkatnya mewujudkan kasih kepada orang yang ada di sekitar kita. Pertanyaannya adalah, mengapa Yesus memakai tokoh orang samaria? Kisahnya sangat jelas dicatat dalam Injil. Dia adalah orang Samaria yang lewat di tempat itu. Dia dengan sengaja mendatangi orang yang sekarat itu ketika melihatnya. Berbeda dengan dua tokoh lain. Orang samaria tidak mengenal hukum kasih taurat. Orang samaria tidak sesaleh orang-orang Yahudi atau bahkan imam dan lewi dalam kisah itu. Mereka orang kafir, tidak punya peradaban yang baik, jauh dari ring satu keselamatan. Mereka bukan orang yang beragama baik. Hidup moral mereka tidak sebaik yang dilekatkan pada orang Yahudi lainnya. Tetapi apa faktanya? Justru orang Samaria itu lah berbuat maksimal untuk orang yang sekarat itu. Meski dia tidak berdoa di Bait Allah atau tidak belajar Taurat, ia tahu tentang arti kasih kepada orang lain. Tidak peduli siapa yang sekarat, dia melakukan yang terbaik yang bisa dilakukannya. Apakah dia berharap balasan? Justru dia akan kembali untuk menambah apa yang kurang untuk kebaikan orang yang sekarat itu. Bagi kita, sangat penting untuk melakukan kesalehan hidup keagamaan. Tetapi lebih dari itu, kita masih perlu untuk bertindak seperti orang Samaria itu. Bukan soal siapakah yang menjadi sesamaku lagi, tetapi yang jauh lebih dalam adalah ‘siap kah aku menjadi sesama bagi orang asing’?   Doa: Ya Tuhan, semoga aku siap dan berani untuk selalu menjadi sesama bagi orang lain, terlebih bagi mereka yang asing dan lemah. Amin.  

Renungan Harian, Senin Biasa XXVII Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top