Bacaan: Lukas 10:38-42

Maria dan Marta

10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” 10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

 

Renungan

Belajar beriman dengan mendengarkan sabda Tuhan, kita hari ini bisa belajar dari tiga tokoh, yakni Yunus, Maria, dan Marta. Mereka adalah tokoh-tokoh yang dikisahkan mendengarkan dan melaksankan sabda Tuhan. Namun perjalanan untuk sampai pada tahap mendengarkan bukanlah kisah sekali jadi. Membutuhkan proses dan perlu mengalami berbagai macam peristiwa. Seperti kisah Yunus yang kita tahu bersama.

Yunus diutus untuk mewartakan pertobatan di Niniwe, tetapi dia melarikan diri dari perintah itu. Dia bisa pergi kemana saja, tetapi Tuhan tidak pernah kehilangan Yunus. Dimana Yunus pergi, di sana Tuhan hadir dan memberi tanda padanya. Yunus harus mengalami berbagai macam peristiwa dulu sebelum akhirnya mengatakan ‘YA’ untuk sabda Tuhan. Bahkan ia harus mengalami kematian dulu di dalam perut ikan selama tiga hari. Setelah itu baru dia mengalami kebangkitan dan akhirnya pergi ke kota Niniwe. Hasilnya? Allah tidak jadi menunggangbalikkan kota itu karena mereka semua berbalik kepada-Nya.

Maria dan Marta menjadi tokoh hari ini dalam Injil. Dua saudara ini berusaha untuk mendengar dan melayani Tuhan. Mereka mempunyai jalan yang tidak sama untuk mendengarkan Dia yang bersabda. Dengan segala usahanya, Marta sebenarnya juga berusaha untuk melayani dan mendengarkan Tuhan. Namun demikian, bisa jadi karena salah focus, Marta tidak mampu melihat karyanya sebagai bentuk untuk melayani sabda Tuhan. Sementara Maria, hanya dengan duduk ia mampu mendengarkan Tuhan dengan setia. Memang dia belum bertindak apa-apa, tetapi dari mendengarkan dengan baik dan benar, sudah bisa dipastikan apa yang akan dilakukannya seperti yang Tuhan sabdakan.

Yunus, Maria, dan Marta menjadi pribadi-pribadi yang dipilih Tuhan untuk mewartakan sabda-Nya kepada siapapun yang mereka layani. Mereka mempunyai jalan yang berbeda-beda untuk sampai mengatakan ‘YA’ akan sabda Tuhan. Ada yang memerlukan jalan yang panjang dan berliku, tetapi ada juga yang tidak perlu dengan berbagai macam kejadian untuk sampai mendengarkna sabda Tuhan. Dengan cara hidup yang berbeda, mereka disatukan oleh sabda Tuhan sendiri.

Bagi kita, sabda Tuhan kiranya menjadi gaya hidup sebagai orang beriman. Bisa jadi kita seperti Yunus yang harus dikejar-kejar dulu supaya mau pergi ke Niniwe. Atau bisa jadi kita seperti Marta yang selalu bekerja dan bekerja, tetapi belum sadar betul apa yang saya kerjakan sebagai jalan untuk mewujudkan sabda Tuhan. Atau kita seperti Maria yang mampu langsung mendengarkan sabda Tuhan tanpa bermacam perantara. Tugas berikutnya adalah melaksanakan sabda itu dalam pengalaman nyata hidup.

Mari mohon rahmat Tuhan agar kita menjadi pelaku sabda-Nya dalam seluruh hidup kita.

Doa: Ya Tuhan, bukalah selalu telinga hati dan batinku untuk mendengarkan dan melaksankan sabda-sabda-Mu dalam hidupku. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *