Berita

Paus Fransiskus Mengajak untuk Satu Hari Berdoa Pada 4 September 2020

Paus Fransiskus pada hari Rabu menyerukan hari doa dan puasa pada hari Jumat untuk Lebanon. Selain ledakan mematikan pada 4 Agustus di Beirut, negara ini telah mengalami krisis ekonomi dan politik terburuk dalam sejarahnya. “Satu bulan setelah tragedi yang melanda kota Beirut, pikiran saya sekali lagi beralih ke Lebanon dan rakyatnya, dengan susah payah berusaha,” kata Paus dalam Audiensi Umum mingguannya. Dia memanggil seorang pastor pelajar Lebanon dengan bendera negaranya untuk berdiri di sampingnya. Kebebasan dan pluralisme Mengulangi seruan Santo Paus Yohanes Paulus II tahun 1989, dia berkata, “Lebanon tidak dapat ditinggalkan dalam kesendiriannya.” Sambil memegang sudut bendera Lebanon sebagai tanda kedekatannya dengan bangsa Timur Tengah, ia menggambarkan Lebanon sebagai negara pengharapan dan mengungkapkan kekagumannya atas kepercayaan rakyat kepada Tuhan dan kemampuan mereka untuk menjadikan negara mereka sebagai “tempat toleransi, rasa hormat. dan hidup berdampingan yang unik di wilayah itu ”. Lebanon, kata Bapa Suci, adalah “pesan kebebasan dan contoh pluralisme, baik untuk Timur maupun untuk Barat”. “Demi kebaikan negara dan dunia, kita tidak bisa membiarkan warisan ini hilang,” katanya, menyinggung krisis berkepanjangan di negara itu. Bahkan sebelum Covid-19, Lebanon mengalami krisis ekonomi terburuk dalam sejarahnya, yang memicu protes anti-pemerintah berskala besar tahun lalu. Saat ini, hampir setengah dari 6 juta penduduk negara itu hidup di bawah garis kemiskinan. Para analis memperingatkan bahwa skala bencana itu mungkin lebih buruk daripada perang saudara selama 15 tahun, yang berkecamuk dari tahun 1975 hingga 1990. Ajak para pemimpin politik dan agama Paus Fransiskus mendorong “semua orang Lebanon untuk bertekun dalam harapan dan untuk mengumpulkan kekuatan dan energi yang dibutuhkan untuk memulai yang baru.” Dia secara khusus mendesak “para pemimpin politik dan agama untuk berkomitmen dengan ketulusan dan keterbukaan pada pekerjaan pembangunan kembali, mengesampingkan semua kepentingan partisan dan mencari kebaikan bersama dan masa depan bangsa”. Bapa Suci meminta “komunitas internasional untuk mendukung Lebanon dan membantunya keluar dari krisis yang parah ini, tanpa terjebak dalam ketegangan regional”. Dia mengimbau masyarakat Beirut untuk berani dan menemukan kekuatan dalam iman dan doa. “Jangan tinggalkan rumah dan warisanmu. Jangan tinggalkan impian mereka yang percaya pada fajar negeri yang indah dan makmur.” Berbicara kepada para pastor, uskup, imam, orang yang ditahbiskan dan awam di negara itu, dia mendorong mereka untuk menemani mereka yang menderita dengan semangat kerasulan, kemiskinan, penghematan dan kerendahan hati. “Jadilah miskin bersama dengan orang miskin dan menderita,” katanya, bersikeras, “Jadilah yang pertama memberi contoh kemiskinan dan kerendahan hati.”“Bantu umatmu dan umatmu untuk bangkit dan menjadi protagonis dari kelahiran kembali yang baru.” Bapa Suci mendesak para pemimpin Gereja bangsa untuk bekerja demi keharmonisan, kebaikan bersama, dan budaya sejati perjumpaan dan hidup bersama dalam damai dan persaudaraan, yang menurutnya sangat disayangi oleh Santo Fransiskus. “Ini,” dia menunjukkan, “akan membuktikan dasar yang pasti untuk kelangsungan kehadiran Kristen dan kontribusi tak ternilai Anda sendiri kepada negara, dunia Arab dan seluruh wilayah, dalam semangat persaudaraan di antara semua tradisi agama yang ada di Libanon.” Kedekatan dan solidaritas dengan doa dan puasa Akhirnya, Paus Fransiskus mengundang “semua orang untuk bergabung dalam hari doa dan puasa universal untuk Lebanon pada Jumat mendatang, 4 September”. Pada hari itu, katanya, dia bermaksud mengirim Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, ke Lebanon sebagai ungkapan “kedekatan spiritual dan solidaritas” dengan rakyat Lebanon. Dia mendorong semua untuk menunjukkan kedekatan mereka melalui karya amal yang konkret. Paus juga mengundang Gereja Kristen dan tradisi keagamaan lainnya untuk bergabung dengan inisiatif ini dengan cara yang mereka anggap paling tepat. Di akhir seruan, Bapa Suci mengundang semua untuk berdiri dan berdoa dalam hati untuk Lebanon. Translated from : https://www.vaticannews.va  

Paus Fransiskus Mengajak untuk Satu Hari Berdoa Pada 4 September 2020 Read More »

New Normal Keuskupan Tanjungkarang

Pemerintah Pusat telah melonggarkan peraturan pembatasan aktivitas sosial (lih SE Menag No. SE 15 Th 2020) dan Arahan Presiden tanggal 15 Mei 2020 tentang Prosedur Standar Tatanan Baru (New Normal). Apa itu “New Normal”? Secara sederhana “New Normal” adalah pelaksanaan aktivitas hidup ‘normal’ tetapi dengan budaya ‘baru’ yaitu kebiasaan sehat dan aman di dalam situasi pandemi. Jadi aktivitas normal dijalankan, dengan tetap waspada kepada bahaya Covid-19, karena pandemi sebenarnya belum selesai. Untuk itulah dirasakan perlunya pedoman umum untuk pelayanan kehidupan Umat Katolik di Keuskupan Tanjungkarang, menyangkut “cura animarum”, terutama pelayanan-pelayanan Sakramental dan Adminis­tratif. Pedoman berikut dirumuskan sebagai acuan bersama, dengan harapan para pastor di paroki atau unit pastoral bersama dewan pastoral mempelajari, lalu mempertimbangkan, dan kemudian mengambil keputus­an yang tepat dan perlu untuk wilayah yang digembalakannya, tanpa mengabaikan pedoman pemerintah daerah dan kewaspadaan akan pandemi yang masih belum tuntas ini. Berikut Surat Keputusan Nomor 022/SK/VI/2020 Untuk SK dalam bentuk PDF dapat di unduh disini Petunjuk praktis untuk pelayanan kehidupan Umat Katolik di Keuskupan Tanjungkarang dapat diunduh disini  Petunjuk praktis untuk pelayanan kehidupan Umat Katolik di Keuskupan Tanjungkarang dalam bentuk buku (siap cetak) dapat diunduh disini   Demikin informasi terbaru mengenai pelayanan kehidupan Umat Katolik di Keuskupan Tanjungkarang pada masa pandemi Covid-19. Silahan bagikan kepada umat yang lain. Terimakasih!

New Normal Keuskupan Tanjungkarang Read More »

PKSN 2020 Online: Membangun Cerita Indah dan Manis di Tengah Pandemi

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) Konferensi Waligereja Indonesia tahun ini diselenggarakan bukan di satu Keuskupan melainkan di ranah virtual atau online. “Awalnya, Komsos KWI sudah menunjuk Keuskupan Atambua untuk menyelenggarakan PKSN pada 1-7 Juni. Namun, Pandemi Covid-19 memaksa kita tinggal di rumah dan menjalankan social distancing. Mau tidak mau kita juga harus membatalkan (aktivitas offline PKSN ini) dan menundanya,”ujar Sekretaris Eksekutif Komsos KWI, RD Steven Lalu Pr. Penundaan ini menurut Romo Steven, tidak meniadakan PKSN untuk menyebarkan pesan Paus di Hari Komunikasi Sedunia ke-54 yang mengajak setiap orang membagikan cerita-cerita positif  khususnya di saat Pandemi Covid-19 yang memaksa orang tinggal di rumah dengan segala dinamikanya. Masih melanjutkan tema-tema sebelumnya yang banyak bicara tentang hoaks, cerita palsu dan membangun komunitas, kali ini Paus Fransiskus fokus pada tema “cerita”.  Dengan tema “Hidup Menjadi Cerita : Menjahit Kembali yang Terputus dan Terbelah,” PKSN yang sudah diselenggarakan ketujuh kalinya ini, menurut Romo Steven mengajak kita semua agar merajut cerita yang mampu memandang dunia dan peristiwa dengan penuh kelembutan. “Di tengah hiruk pikuk suara dan pesan  yang membingungkan, kita butuh cerita manusiawi yang bicara tentang diri sendiri dan segala keindahan di sekitar,”ujar Paus seperti dikutip dari pesan resminya. Dengan dasar Kitab Keluaran (10:2) yang berbunyi “Supaya engkau dapat menceritakan kepada anak cucumu” Paus menyerukan agar kita menenun kisah-kisah manis dan indah tentang bagaimana kita menjalin benang dan membangun hubungan satu sama lain dalam hidup ini antara sesama, lingkungan dan Tuhan. Kata Paus, Keluaran 10:2 menekankan kesetiaan Allah yang selalu hadir untuk manusia dan membebaskan manusia dari penindasan. Kesetiaan Allah diceritakan turun temurun dalam Perjanjian Lama dan diteruskan dalam Perjanjian Baru yang menceritakan pewahyuan Allah dalam diri Yesus. Ini membuat Allah terajut dalam kemanusiaan kita memberi cerita baru, menjadi cerita Ilahi. Banyak cerita manusia kemudian menjadi kisah dan karya agung yang menginspirasi dan melengkapi Injil. Di dalamnya  Roh Kudus berperan menuliskan dalam hati manusia meski ditulis pada garis bengkok sekalipun. “Cerita kita menjadi bagian dari setiap cerita agung itu ketika kita menaruh cinta dalam cerita-cerita itu setiap hari. Jangan sekadar menyesal dan sedih tetapi ceritakanlah hati yang terpenjara itu kepada Allah Yang Maha Kasih supaya kita dapat menyimpul kembali jalinan hidup. Bahkan bila cerita kita buruk, kita bisa belajar memberi ruang untuk penebusan,”kata Paus. Yang utama, kata Bapa Suci, cerita itu adalah sarana mengingat siapa diri kita di hadapan Allah, memberi kesaksian apa yang ditulis Roh Kudus.   Lomba-lomba dan Pelatihan Online Masih seperti sebelumnya, kegiatan PKSN ( 24 – 30 Mei ) yang bertujuan menggemakan pesan Paus ini juga diisi dengan berbagai macam lomba selain ekaristi online dan sosialisasi pesan paus lewat media sosial (Facebook, Twiiter, Instagram, Website Mirifica). “Hanya saja kali ini semua kegiatan dilakukan secara online. Dan kita sudah memulainya (lomba-lomba) sejak awal Mei,”ujar Romo Steven. Lomba-lomba yang sudah direncanakan akan diselengarakan antara lain : Lomba Konten Kreatif Digital (Lomba Caption, Rosary Challenge, Cerita Berantai), Lomba Podcast Pewartaan, Lomba Menulis Opini, Lomba Menulis Feature- 4 Tahapan, dan Lomba Bercerita yang divideokan. Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligeraja Indonesia (Komsos KWI) sebagai penyelenggara dibantu komsos seluruh keuskupan di Indonesia juga menyelenggarakan pendampingan serta online course untuk memantapkan para peserta dalam mengikuti lomba. Kegiatan pendampingan dan kursus online ini, menurut Romo Steven bahkan bakal berlanjut hingga setahun ke depan. Jadi memungkinkan para pegiat komsos, para biarawan dan biarawati serta Orang Muda Katolik (OMK) yang punya minat di bidang pewartaan bisa mengikuti berbagai kegiatan secara online dan belajar banyak hal. Mulai dari menulis kreatif, memproduksi podcast/ radio, mencipta lagu, jurnalistik, dan masih banyak lagi. Diharapkan, seluruh umat Katolik dan masyarakat Indonesia, juga keluarga-keluarga yang sedang tinggal di rumah karena Pandemi Covid-19, orang-orang muda yang sangat aktif di media sosial dan para pegiat karya komsos Keuskupan dan Paroki ikut serta meramaikan kegiatan ini. “Kami ingin menggerakkan umat dan masyarakat untuk berbagi cerita positif, inspiratif dan menyatukan sesuai pesan Paus di Hari Komunikasi Sedunia ke-54 (24 Mei) tahun ini,”ujar Romo Steven. (Abdikwi)

PKSN 2020 Online: Membangun Cerita Indah dan Manis di Tengah Pandemi Read More »

SEJUTA MASKER UNTUK SANG BUMI RUWAI JURAI

#solidaritaskeuskupantanjungkarangbersamalawancovid19 Sejuta masker untuk Lampung, Gerakan ini merupakan gerakan spontan yang awalnya diprakarsai oleh rekan-rekan muda dan ibu-ibu yang peduli pada situasi terkini karena menyebarnya virus Covid 19. Akibat dari situasi ini, masker menjadi barang yang sangat langka, kalau pun ada harga melambung tinggi. Gerakan spontan ini hadir sebagai bentuk sikap peduli, berbagi dan solider. Kami para relawan menyebutnya #solidaritaskeuskupantanjungkarangbersamalawancovid19.  Mereka yang terlibat di dalamnya adalah Caritas Keuskupan Tanjungkarang, KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang, Wanita Katolik RI Lampung, Paguyuban Devosan, Kerahiman Ilahi (PDKI) Lampung, Serikat Sosial Vincentian (SSV) Lampung, Kelompok Pemerhati LP Keuskupan Tanjungkarang, Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan (GATK) Lampung, Bidang Diakonia Paroki Katedral Tanjungkarang, Komisi Kepemudaan Keuskupan Tanjungkarang, OMK, Komsos Keuskupan Tanjungkarang, suster CB, HK, FSGM, dan siapa pun yang tergerak hati untuk peduli. Solidaritas bukan hanya sekedar slogan tetapi spirit dari gerakan ini. Di daerah Bandarlampung dan Margo Agung, dibuat satu koordinasi untuk mensinergikan internal sesama relawan jahit misal butuh bahan kain, karet, benang dan sebagainya. Selain itu juga sinergi dengan jaringan lain yang ada di Bandarlampung dalam gerakan sejenis. Sedangkan untuk daerah di luar Bandarlampung seperti UP Bakauheni, UP Jati Baru, Paroki Pringsewu, Paroki Kota Gajah, Paroki Bandarjaya mereka melakukannya di tempat masing-masing untuk kebutuhan masing-masing. Begitu banyak orang yang sangat peduli dan solider. Semangat solidaritas tersbut sangat nampak dalam proses pembuatan sejuta masker. Masker-masker ini di peroleh dari pengumpulan kain-kain, benang dan karet dari para donatur yang peduli pada situasi pandemik ini. Setelah semua bahan terkumpul lalu di distribusikan ke relawan-relawan jahit terkhusus para ibu-ibu dan suster yang sangat telaten menjahit masker. Mbak Yuli sebagai salah satu penggiat gerakan solidaritas ini,  selalu siap memberikan tutorial untuk pembuatan masker secara langsung maupun online, sehingga masker yang dibuat bisa berguna walaupun tidak 100% seperti standar yang diharapkan. Kebanyakan masker-masker dibuat dari dua lapis kain katun dengan lubang untuk memasukkan filter tambahan jika dibutuhkan. Filter tambahan bisa menggunakan tisu basah yang dikeringkan. Masker-masker ini dijahit manual atau menggunakan mesin oleh banyak orang kemudian dikumpulkan di tiga tempat, yaitu susteran CB Tanjungseneng, FSGM Pasirgintung dan HK Wisma Albertus Pahoman untuk dicuci dan seterika sebelum diedarkan.  Sebisa mungkin bahan menggunakan kain perca atau kain bekas sehingga mengurangi samp moah. Penerima masker adalah orang-orang yang tidak bisa di rumah saja karena harus terus bekerja, khususnya yang tak mampu membeli masker karena langka dan mahal.  Misal pedagang keliling, pekerja pasar, pekerja transportasi, pemulung dan sebagainya. Masker hasil solidaritas ini dibagikan di sejumlah Pasar di Bandar Lampung dan Marga Agung total sekitar 20 pasar, pinggir jalan dan lampu merah. Selain di bagikan kepada mereka yang tidak mampu, beberapa masker juga di bagikan di puskesmas dan rumah sakit-rumah sakit seperti di RS Bob Bazar Kalianda dan puskesmas di Bakauheni. Masker-masker ini juga akan di dibagikan di Lapas-Lapas yang ada di Bandar Lampung. Hingga hari ini, Rabu 11 April 2020, masker yang terkumpul sekitar 3000 buah, sebagian di antaranya sudah dibagikan kepada yang membutuhkan. Dalam proses pembagian masker para relawan juga memberikan Edukasi bagi penerima masker tentang bagaimana cara pencucian dan anjuran penggunaan masker yang tepat. Selain Penerima makser para relawan yang membagikan juga harus mengikuti Protap yang sudah ada untuk tetap menggunakan masker, hand hygiene dan physical distaning. Produksi jahit terus berlanjut di tempat masing-masing sembari proses selanjutnya dijalankan. Selain masker, gerakan bersama ini juga mengumpulkan hand sanitizer untuk dibagikan ke orang-orang yang rentan akan covid-19. Sementara, baru ada 200 botol kecil yang terkumpul dan siap diedarkan. Kepedulian lain yang dibangun adalah perhatian untuk para pekerja rumah sakit. Mereka sangat minim fasilitas padahal sangat beresiko karena menghadapi pasien segala jenis yang belum ketahuan sakit apa. Misal seperti baju untuk tenaga medis di rumah sakit. Kita juga bisa menunjukan kepedulian dan solidaritas kita dengan cara tetap di rumah saja, dengan kepedulian tersebut, kita bersama melawan Covid-19, rantai penyebaran virus Korona dapat diputus dan tidak lebih meluas. #solidaritaskeuskupantanjungkarangbersamalawancovid19 (Gisela Novena Vivi)  

SEJUTA MASKER UNTUK SANG BUMI RUWAI JURAI Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top