Berita

Iman Berbeda, Tetapi Miliki Kasih dan Harapan Yang Sama

Perjumpaan. Kata yang mengandung makna mendalam. Apalagi perjumpaan itu diwarnai dengan iman, kasih, dan harapan. Meski iman berbeda, namun memiliki kasih. Harapan. Sejalan. Membangun kehidupan yang damai. Rukun. Harmonis. Berkunjung Senin, 22 November 2022, di Aula St. Andreas Rasul Margo Agung, telah terjadi perjumpaan itu. Sebanyak 25 Mahasiswa Muslim dari Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Di dampingi dosen favorit di kampus mereka, Dosen prodi Studi Agama-Agama dan Kepala Pusat Penelitian UIN Raden Intan Lampung, Dr. H. Sudarman, MA. Berkunjung. Bersilaturahmi dengan Komunitas Katolik: Orang Muda Katolik (OMK) Margo Agung dan Ormas Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dikoordinir oleh Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) dan Kerawam Keuskupan Tanjungkarang, Rm. Philipus Suroyo Pr. Ngobrol santai Acara ini dikemas dalam suasana santai. Setelah acara perkenalan, para mahasiswa mengunjungi gedung gereja stasi St. Maria, Margo Lestari. Sekitar 15 menit dari Gereja Margo Agung. Di dalam gedung gereja itu, Rm. Roy menjelaskan tentang ornamen dan simbul-simbul agama Katolik yang ada dalam gedung gereja itu. Termasuk 14 perhentian jalan salib. Sejarah gereja dijelaskan oleh salah seorang umat, penduduk asli Margo Lestari. Usai berkunjung di gereja itu, mereka kembali ke aula Stasi Margo Agung. Banyak pertanyaan diajukan seputar hidup membiara dan kehidupan seorang imam. Harapan Sama Dosen favorit, H. Sudarman setiap tahun memiliki program. Ia mengajak mahasiswa-mahasiswanya bersilaturahmi semacam ini. Ia berharap, dalam diri generasi-generasi muda, tumbuh cinta perdamaian. Kerukunan. Menghargai sesama manusia. Maka, perjumpaan akan terus-menerus diusahakan. Berjumpa dan terus berjumpa… Berkolaborasi dalam gerakan kemanusiaan dan alam semesta. Begitu pula mimpi yang dimiliki Rm. Philipus Suroyo Pr. Kepada generasi muda, ia banyak berharap untuk menjadi corong persaudaraan. Menyuarakan persaudaraan. Perdamaian. Ini pekerjaan rumah besar yang harus dikerjakan dengan kerja keras. Di akhir kegiatan ini Rm. Roy Pr menyerahkan buku Dokumen Tentang Persaudaraan Manusia kepada H. Sudarman dan dua orang mahasiswa UIN. Acara Ngopi Pay dan Bincang-bincang santai ini di sponsori oleh Roti Jhon’s, Kopi Kapal Api, ABC, dan Ayam Geprek. *** M. Fransiska FSGM        

Iman Berbeda, Tetapi Miliki Kasih dan Harapan Yang Sama Read More »

Perberkatan Biara SND, Bandarjaya

Hari ini, 8 Desember 2021 merupakan hari yang penuh berkat. Pesta Bunda Maria Tak Bernoda. Pagi itu, di Biara Kongregasi Suster Soeurs de Notre Dame (SND) Maria Asumpta, Bandarjaya, Lampung Tengah merayakan dua peristiwa iman. Peristiwa syukur atas berkat dan kasih Tuhan. Pertama, pemberkatan Biara SND Maria Asumpa. Kedua, Perayaan Syukur atas 40 Tahun Hidup Membiara Sr. Maria Etha SND. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Delegatus ad Omnia, Rm. Yohanes Samiran SCJ. Didampingi 10 imam. Pesta Bunda Maria Tak bernoda yang jatuh pada tanggal 8 Desember ini banyak digunakan oleh kongregasi-kongregasi untuk perayaan kaul. Imamat. Peristiwa-peristiwa iman lainnya. Banyak yang ingin belajar dari iman yang dihidupi Bunda Maria, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah menurut kehendak-Mu.”  Belajar bagaimana Bunda Maria menanggapi tawaran kasih Allah, dengan penuh penyerahan diri. Kesaksian Hidup Empat tahun yang lalu kongregasi SND hadir di Keuskupan Tanjungkarang. Kongregasi termuda di keuskupan ini. Oleh Uskup Yohanes Harun Yuwono, yang kini menjadi Uskup Agung Palembang sekaligus sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Sufragan Tanjungkarang, mereka diundang untuk melengkapi karya pelayanan di Keuskupan Tanjungkarang. Selain itu, memberi warna karisma dan spiritualitas kongregasi di keuskupan ini. Kehadiran Kongregasi SND ini, yang utama bukanlah terletak pada karyanya. Tetapi pada kesaksian hidup. Menampilkan wajah Gereja yang penuh kerahiman dan belaskasih. Selain itu, menumbuhkan benih-benih panggilan. Beberapa tahun yang lalu, SND pernah juga hadir dan berkarya di Yayasan Pelita Kasih, Bandarlampung. Melayani anak-anak berkebutuhan khusus. Tetapi ‘kurang pas’ karena karya mereka memang tidak menangani di bidang itu. Maka, sekarang mereka berkarya khusus di bidang pendidikan. Apa pun yang telah terjadi, tetaplah rasa syukur dan terimakasih atas kehadiran SND. Semoga berkat Tuhan selalu menyertai komunitas dan rumah biara ini Lemah, namun dipakai Allah Dalam homilinya, Rm. Yohanes Samiran SCJ menyatakan, syukur atas perjuangan Sr. Etha selama 40 tahun. Ketika jatuh, berani untuk bangkit kembali. Bertobat. Tidak Menyerah. “Itu yang penting,” ujar Rm. Samiran. Kurun waktu 40 tahun meniti panggilan Allah, tidaklah mulus. Sering jatuh dalam dosa. Godaan. Mengikuti kenikmatan duniawi. Ini bisa menghambat dan mematikan rahmat.   Ini tidak hanya bagi kaum religius atau para imam. Sama dengan orang yang berkeluarga. Awalnya, memiliki komitmen. Setia dalam untung dan malang. Hidup sederhana. Namun, setelah lima atau sepuluh tahun berkeluarga, janji-janji itu bisa pudar. Allah menerima kelemahan dan kerapuhan yang ada pada diri Sr. Etha SND, untuk dijadikan alat-Nya. Biarlah Dia yang memulai niat-niat baik, Dia pula yang akan menyelesaikannya lewat rahmat dan berkat-Nya. *** M. Fransiska FSGM      

Perberkatan Biara SND, Bandarjaya Read More »

Webinar: Kekerasan Terhadap Anak Dalam Keluarga

“POLA PENGASUHAN POSITIF SEBAGAI STRATEGI PENURUNAN ANGKA KEKERASAN TERHADAP ANAK DALAM KELUARGA” Webinar dengan tema Pola Pengasuhan Positif sebagai Strategi Penurunan Angka Kekerasan terhadap Anak dalam Keluarga yang diadakan oleh Forum Komunikasi Partisipasi Masyarakat untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Forkom PUSPA) Provinsi Lampung secara daring (30/11) menjadi kegiatan awal sekaligus membuka rangkaian hari ibu di provinsi Lampung. Hal itu diungkapkan oleh Riana Sari Arinal, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Lampung sekaligus salah satu pelindung (Forkom PUSPA) Provinsi Lampung dalam keynote speech di awal acara. “Memperingati Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember, kita harus mengingat 22 Desember 1928, di mana sejarah hari ibu dimulai yaitu saat kongres perempuan pertama diadakan di Jogjakarta. Tema yang diangkat dalam kongres itu adalah memperjuangkan hak perempuan dalam perkawinan, melawan perkawinan dini, poligami dan pendidikan perempuan.” Papar Riana sembari mengajak semua pihak memaknai peran ibu dalam keluarga maupun masyarakat. Kegiatan ini selain menjadi kegiatan awal untuk seluruh rangkaian Peringatan Hari Ibu di Provinsi Lampung, juga masih dalam rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Secara khusus ditekankan bahwa kekerasan terhadap anak merupakan kejahatan kemanusiaan yang menimbulkan dampak luar biasa bagi korbannya.  Kekerasan terhadap anak adalah perbuatan disengaja yang menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya tidak hanya secara fisik, emosional, seksual, dan sosial bahkan dapat berujung pada kematian. Sayangnya, meski telah ada berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur hukuman pidana maksimal terhadap para pelaku kekerasan terhadap anak, kasus-kasus kekerasan terhadap anak dari tahun ke tahun semakin meningkat. Peningkatan kasus kekerasan terhadap anak ini tidak hanya meningkat secara jumlah saja, tapi dampak yang semakin buruk, brutal dan tidak berperikemanusiaan. Mengacu pada data Simfoni-PPA, Kompas.com mencatat adanya 5.463 anak di Indonesia yang menjadi korban kekerasan hanya dalam hitungan Januari hingga Juli 2021. Data Simfoni juga menyatakan bahwa kasus kekerasan pada anak sebagian besar terjadi di lingkup rumah dan di alami oleh anak tanpa memandang berapa usia dan jenis kelaminnya. Dari 5.463 anak korban kekerasan yang tercatat, anak dari usia 0 tahun pun sudah ada yang menjadi korban kekerasan dan walaupun mayoritas korbannya adalah anak perempuan dengan 5.198 kasus, tapi anak laki-laki pun berpotensi menjadi korban kekerasan. Pelakunya tidak hanya ayah namun juga ibu dan kerabat yang tinggal di rumah yang sama. Di dalam konteks lokal Lampung, Simfoni PPA juga menyediakan data  bahwa Lampung ada dalam peringkat ke 10 dari 10 Provinsi dengan wilayah dengan angka kasus kekerasan anak tertinggi di Indonesia. Terdapat beberapa hal yang menjadi pendorong terjadinya kekerasan terhadap anak yang terjadi di dalam lingkup rumah tangga diantaranya adalah ketidaktahuan orang tua bahwa apa yang di lakukannya merupakan salah satu atau beberapa bentuk kekerasan terhadap anak. Ketika kekerasan terjadi, banyak orang tua yang menyatakan bahwa kekerasan pada anak yang terjadi di lakukan oleh orangtua  tanpa disengaja, tidak dari hati mereka, karena mereka dalam posisi kelelahan, pengalaman masa lalu, sedang ada masalah, anak-anak yang susah di atur dan sebagainya bahkan dalam beberapa kasus kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh ayah, ibunya mengetahui namun tidak melaporkan karena mereka sangat bergantung pada ayah. Beberapa tahun belakangan positive parenting atau pola pengasuhan positif mulai di perkenalkan sebagai salah satu strategi untuk menurunkan angka kekerasan terhadap anak dalam keluarga. Mengasuh dan mendidik anak bukan hanya tugas ibu namun tugas bersama ayah dan ibu di dalam keluarga. Ketika memutuskan untuk berumah tangga, semua pasangan perlu menggali dan mempelajari mengenai ilmu parenting. Orangtua juga harus mengenali dirinya sendiri, kelebihan dan kekurangan pribadi yang dapat menjadi pendukung dan penghambat dalam pengasuhan anak serta mempersiapkan diri secara fisik dan mental untuk memiliki anak dan membersamai tumbuh kembang mereka. Ketika hal ini terjadi di harapkan anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Kegiatan ini juga dilengkapi dengan fasilitas terjemahan Bahasa isyarat oleh Juru Bahasa Isyarat (JBI) bagi teman-teman yang tidak menggunakan suara sebagai bahasa komunikasi, diikuti oleh 170an peserta dari jaringan Forkom PUSPA, jaringan PKK, organisasi masyarakat sipil, komunitas, lembaga kemahasiswaan, Dinas PPPA di Provinsi Lampung, dan sebagainya. Kegiatan yang sudah dilaksanakan pada Selasa, 30 November 2021 Pukul 09.00-12.30 WIB dimoderatori Burhibani (Direktur Eksekutif PKBI Lampung, Anggota Forkom Puspa Lampung) dengan tiga narasumber. Narasumber pertama adalah Fitriana Wuri Herarti, M.Psi (Child Development Specialist – ChildFund International in Indonesia) berbicara tentang “Konsep dan teori dan bagaimana pola pengasuhan positif dapat menjadi strategi dalam menurunkan angka kekerasan dalam rumah tangga.” Narasumber kedua Agustinus Subagio (Koordinator Program YPSK LDA) bicara tentang “Pengalaman pelaksanaan program pola pengasuhan positif di Lampung, Praktik baik, Peluang dan tantangan yang ada pada program.” Dan narasumber ketiga Fitrianita Damhuri (Kepala Dinas PPPA Provinsi Lampung) menandaskan “Kebijakan dan program Pemerintah provinsi Lampung terkait penurunan angka kekerasan terhadap anak melalui penguatan fungsi keluarga.” *** CP. Yuli Nugrahani Ketua Forum Komunikasi Partisipasi Masyarakat untuk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Forkom PUSPA) Provinsi Lampung

Webinar: Kekerasan Terhadap Anak Dalam Keluarga Read More »

Panggilan Imam: Taat, Setia, Jujur

Dua orang frater ditahbiskan menjadi imam. Satu orang frater ditahbiskan menjadi diakon. Mereka ditahbiskan oleh Uskup Agung Palembang sekaligus Administrator Apostolik Keuskupan Sufragan Tanjungkarang Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Gereja Ratu Damai, Telukbetung, Selasa, 16 November 2021. Mereka yang ditahbiskan menjadi imam adalah:  Diakon Yohanes Agus Susanto dan Diakon  Yohanes Sulatin. Yang ditahbiskan menjadi diakon: Fr. Nicolaus Heru Andrianto. Perayaan Ekaristi ini berlangsung khidmat. Khusuk. Menjalankan protokol kesehatan. Umat yang hadir sangat dibatasi. Dekorasi sederhana menghiasi depan altar. Diiringi kor berjumlah enam anggota dan satu organis. Alunan lagu-lagu membahana di gedung gereja itu. Memuji Tuhan. Mensyukuri kemurahan hati-Nya. Kepedulian-Nya. Khususnya, terhadap umat di Keuskupan Tanjungkarang ini. Jujur Dalam homilinya Mgr. Yohanes Harun Yuwono meminta kepada orang yang terpanggil secara khusus untuk hidup jujur. Orang jujur, tahu siapa dirinya. Maka, ia akan mengenal Tuhannya. Mencintai-Nya. Karena ada cinta, ia akan tahan. Setia. Orang jujur akan mujur. Keselamatan menjadi miliknya. Namun, kejujuran tidak bisa serta merta muncul dalam diri seseorang tanpa adanya taat. Ketaatan dalam hukum kanonik, merupakan salah satu poin penting. Tanpa taat, semua berantakan. Taat dan setia adalah bagian inti sikap hidup orang-orang terpanggil. Sayangnya, sering kali diabaikan. Banyak orang merasa malu, kurang terhormat bila harus taat. Padahal orang akan bisa setia, kalau dia taat. Uskup meminta kepada orang-orang terpanggil untuk hidup sederhana, rendah hati, saleh, tahu menempatkan diri, dan taat. Perutusan Setiap orang yang dipanggil harus siap untuk diutus. Di mana mereka diutus? Yohanes Sulatin Pr : Pastor Rekan Paroki St. Yusup, Pringsewu Yohanes Agus Susanto Pr di Divisi Pertanahan Keuskupan Tanjungkarang dan Pastor Rekan Unit Pastoral Jati Baru Nicolaus Heru Andrianto Pr di Paroki St. Yohanes Paulus II Murni Jaya M. Fransiska FSGM  

Panggilan Imam: Taat, Setia, Jujur Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top