Pengantar

Dalam keempat Injil, salah satu gelar yang paling banyak dikaitkan dengan Yesus adalah gelar guru atau dalam bahasa Yunani, didaskalos. Selain istilah ini, Injil Lukas, masih menggunakan istilah lain, yaitu epistetes, yang artinya sebenarnya mirip saja. Istilah ini kira-kira sepadan dengan istilah Ibrani, rabi, yang juga memiliki arti guru. Penggunaan gelar ini rasanya mau menunjukkan bahwa bagaimanapun juga, Yesus dipandang sebagai seorang pengajar.

Di beberapa bagian dalam Injil kita memang menemukan Yesus yang tampil sebagai guru yang mengajar secara istimewa. Dalam Kotbah di Bukit, misalnya, ada bagian yang dalam Alkitab kita diberi judul “Yesus dan Hukum Taurat” (Mat 5,17-48). Di situ Yesus ditampilkan sebagai seorang yang sangat paham tentang Kitab Suci Yahudi dan memberikan paham tandingannya. Juga dalam kisah percobaan di padang gurun, Yesus digambarkan sebagai seorang yang menguasai Kitab Suci sehingga bisa berdebat dengan Iblis (Mat 4,1-11).

Fakta semacam itu mungkin menimbulkan suatu pertanyaan yang didasari oleh keingintahuan. Bagaimana pada zaman itu, pendidikan iman dilangsungkan sehingga Yesus, seorang Galilea, juga bisa mempunyai pengenalan yang baik akan Kitab Suci-Nya? Sesuatu paparan singkat akan hal ini mungkin bisa memberikan inspirasi bagi kita sekarang ini dalam mewartakan Kitab Suci.

Ini yang mau kita buat dalam tulisan ini. Tentu saja kita mesti mengakui bahwa topik pendidikan seperti ini sungguh sebenarnya merupakan satu topik raksasa. Tidak banyak yang bisa kita sampaikan di sini. Tetapi meskipun begitu, semoga yang sedikit ini masih bisa menunjukkan kegunaannya.

Alkitab Dalam Hidup Orang Yahudi

Untuk bisa memahami pendidikan dalam kehidupan orang Yahudi, kita mesti mengetahui tempat Hukum Taurat dalam kehidupan dan pemikiran orang Yahudi. Sementara untuk bisa memahami tempat Hukum Taurat dalam kehidupan orang Yahudi, kita mesti mundur beberapa abad sebelum kelahiran Kristus, ke masa Pembuangan Babilonia.

Pada tahun 587 Kerajaan Yehuda dihancurkan oleh Raja Nebukadnezar dari Babilonia, dan sebagian besar penduduk Yudea dibuang ke Babel. Mereka kehilangan segalanya. Tanah air yang merupakan Tanah Terjanji dan Bait Allah, yang merupakan tempat kehadiran Allah, semuanya terlepas dari tangan mereka. Peristiwa ini tentu menimbulkan krisis mendalam bagi bangsa Israel. Mereka merasa YHWH, Allah Israel sudah meninggalkan mereka. Hubungan perjanjian selesailah sudah. Tetapi karena pewartaan beberapa nabi, seperti misalnya Yeremia dan Deutero-Yesaya, bangsa Israel bisa diyakinkan bahwa hubungan dengan Allah mereka tidak berakhir.

Di satu pihak, pengalaman di pembuangan, tanpa Tanah Terjanji, tanpa Raja, tanpa Bait Allah, akhirnya justru membawa pencerahan bagi bangsa Israel. Hubungan dengan YHWH  tidak lagi terikat pada hal-hal yang bersifat material, entah Tanah Terjanji, atau Bait Allah, atau mekanisme kurban. Hubungan dengan Allah menjadi lebih personal dan lebih spiritual. Karena Bait Allah tidak ada, maka perhatian beralih ke Firman, Hukum Musa menjadi Hukum Tuhan sendiri. Di sini kita melihat sesuatu yang amat penting yaitu pergeseran dari Bait Allah ke Firman Allah. Bagi umat yang dalam Pembuangan, hubungan dengan Allah dibina melalui Firman Allah, atau Taurat itu sendiri. Ibadat sinagoga yang diwarnai dengan pembacaan Firman Allah kiranya dimulai pada periode ini.

Di lain pihak, bangsa Israel mengakui bahwa pembuangan tidak lain dan tidak bukan adalah penghukuman atau kutuk perjanjian karena mereka telah berulang kali meninggalkan Allah. Oleh karena itu, setelah mereka pulang dari pembuangan, Taurat menjadi pusat hidup mereka. Mereka tidak mau pengalaman pahit terulang kembali. Mereka menjadi bangsa yang mau setia 200% kepada Hukum Taurat.

Inilah yang menjadi latar belakang mengapa bagi bangsa Israel, Hukum Taurat menempati tempat yang istimewa. Dari perspektif inilah penghayatan orang Israel terhadap Taurat mesti ditempatkan.

Usaha Pendidikan Alkitab

“Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal Hukum Taurat, terkutuklah mereka” (Yoh 7: 49). Inilah yang kiranya menjadi keyakinan sebagian besar orang Israel setelah pembuangan. Dari keyakinan itu, kita bisa menduga ke arah mana implikasinya. Bagi bangsa Israel, pemahaman akan Hukum Taurat dipandang sebagai harta tak ternilai yang mesti dikejar di atas yang lain. Tidak mengherankan bahwa memahami Hukum Taurat merupakan hal pokok yang mesti diusahakan oleh setiap orang Israel dengan segala macam cara dan usaha.

Menurut Mishnah, traktat Abot 5,21 dilukiskan tahap-tahap dalam kehidupan seorang manusia. Daftarnya adalah sebagai berikut:

Pada umur lima tahun (seorang siap untuk belajar) Kitab Suci;

pada umur sepuluh, Mishnah;

pada umur tiga belas, Perintah-perintah;

pada umur lima belas, Talmud;

pada umur delapan belas, perkawinan;

pada umur dua puluh, siap mengejar panggilan hidup;

pada umur tiga puluh, berada pada kekuatan penuh;

pada umur empat puluh, pengertian;

pada umur lima puluh, nasehat; (bdk. Bil 8,25)

pada umur enam puluh, usia tua; (bdk. 1Taw 29,28)

pada umur tujuh puluh, rambut putih;

pada umur delapan puluh, kekuatan ekstra; (bdk. Mzm 90,10)

pada umur sembilan puluh, jompo;

pada umur seratus, seolah-olah sudah meninggal.

Tahap-tahap ini bisa dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok: a. sampai dengan umur 18 tahun adalah masa persiapan; b. mulai umur 20 adalah masa hidup yang beraktivitas penuh; dan c. mulai umur 60 tahun adalah hidup yang mulai menurun.

Kita melihat masa persiapan seorang remaja Yahudi sungguh diwarnai oleh studi tentang keagamaan, khususnya studi teks-teks suci. Ada dua institusi yang kiranya menyediakan pembelajaran ini. Yang pertama adalah keluarga yang merupakan tempat pendidikan pertama bagi setiap anak Yahudi. Kemungkinan besar, pendidikan awal di dalam keluarga masih merupakan pendidikan baca-tulis yang bersifat elementer dan bersifat praktis berkaitan dengan pekerjaan orang tuanya. Yang kedua adalah sistem sekolah.

Beberapa ahli mengatakan bahwa sudah sejak abad pertama mayoritas remaja Yahudi mengenyam pendidikan dasar di sekolah yang didedikasikan pada membaca Kitab Suci Ibrani, yang biasa disebut bet ha-sefer (sekolah kitab, school of the book). Menurut catatan Mishnah di atas, seorang anak laki-laki Yahudi mulai belajar di bet ha-sefer pada usia sekitar 5 tahun. Mempelajari Kitab Suci pada usia semuda itu berarti belajar dari tahap yang paling awal, yaitu belajar membaca dan menulis. Mungkin proses ini diawali dengan mempelajari 22 alfabet Ibrani dengan pertama-tama membaca dan menuliskannya di batu tulis, kemudian dilanjutkan dengan latihan melengkapi kalimat, menuliskan nama, dsb. Setelah seorang anak mempunyai keakraban dengan soal baca-tulis, mulailah dia melatih diri dengan membaca potongan-potongan teks-teks suci (mungkin masih dalam bentuk gulungan atau scroll), dan akhirnya membaca gulungan Taurat yang utuh. Tidak bisa dikesampingkan juga metode pengajaran yang terdiri dari membaca keras-keras dan kemudian mengulangi bacaan tersebut.

Pada usia 12 atau 13 tahun, seorang remaja Yahudi selesai menjalani pendidikan dasar di sekolah. Kemudian, seandainya ia adalah seorang yang sungguh cemerlang, ia mungkin akan melanjutkan studi lanjutnya di tempat yang disebut bet ha-midrash (rumah belajar, house of study). Di sini, ia secara khusus, di bawah bimbingan seorang Ahli Taurat, belajar Hukum Taurat, makna dan penerapannya dalam hidup sehari-hari. Namun, biasanya tidak banyak remaja yang mempunyai kesempatan ini.

Dalam Injil Lukas, ada catatan bahwa ketika Yesus berusia 12 tahun, Dia pernah ditemukan berdiskusi dengan “para guru agama sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan jawaban-jawaban yang diberikan-Nya” (Luk 2,46-47). Pada usia itu, Yesus tampaknya sudah menyelesaikan pendidikan dasarnya tentang Kitab Suci di bet ha-sefer. Yesus tampaknya mempunyai kecerdasan istimewa, sehingga mempesona para alim ulama (=didaskalon, lebih tepat, para pengajar) yang berdiskusi dengan Dia. “Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar!” (Yoh 7,15).

Akhir Kata

Saya tidak mempunyai waktu cukup untuk menguraikan soal yang pelik ini. Tetapi mungkin gagasan sederhana di atas memberikan gambaran bagaimana bangsa Israel mengusahakan pendidikan religiositas, khususnya belajar Kitab Suci bagi generasi penerusnya. Kita bisa melihat bahwa akhirnya, yang menjadi motivasi dasar bagi pendidikan ini adalah tempat dan peranan Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari orang Israel. Bagi bangsa Israel, Kitab Suci, khususnya Hukum Taurat adalah hadiah istimewa dari YHWH yang berisi petunjuk bagaimana mereka harus hidup sebagaimana dikehendaki oleh YHWH sendiri. Tanpa Taurat, mereka akan bingung dan tidak tahu bagaimana mereka harus hidup. Oleh karena itu, studi Kitab Suci merupakan sesuatu yang utama dalam kehidupan pribadi dan bangsa secara keseluruhan.

Semoga tulisan singkat ini memberi inspirasi kepada kita yang juga mewarisi Kitab Suci Ibrani sebagai bagian dari Kitab Suci Kristiani. Tuhan memberkati.

Bacaan (jika diperlukan)

Indra Sanjaya, Pr

Imam Diosesan Keuskupan Agung Semarang (KAS), Dosen Kitab Suci di Fakultas Wedabakti Universitas Sanata Dharma dan Staf pendidik Seminari Tinggi St. Paulus, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *