Pertemuan Prapaskah I

Bumi adalah Titipan Tuhan

(Imamat 25:23 – 28. 35 – 38)

Tujuan:

  1. Keluarga Katolik semakin terbuka dan mengerti akan nilai-nilai Kitab Suci
  2. Setiap pribadi beriman semakin menyadari bahwa bumi adalah titipan Tuhan
  3. Keluarga Katolik semakin bersyukur bahwa Allah menganugerahkan kehidupan

Lagu Pembuka: “Ya Tuhan, Engkau Sumber Air Hayat” (PS 486)

Tanda Salib dan salam

P : Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus

U : Amin

P : Semoga rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus

selalu beserta kita

U : Sekarang dan selama-lamanya

Pengantar:

Bapak, ibu, saudara, saudari yang terkasih. Tidak terasa kita sudah memasuki Masa Prapaskah lagi. Dimana kita diberi kesempatan untuk memulihkan hubungan dengan Tuhan.

Sebagai bahan permenungan di Masa Prapaskah tahun 2020 ini Keuskupan Tanjungkarang mengambil tema besar yaitu Bumi Sumber Kehidupan.

Tema besar ini akan kita renungkan dalam 5 pertemuan, yaitu :

Pertemuan Pertama     : Bumi adalah Titipan Tuhan

Pertemuan Kedua       : Bumi Sumber Ekonomi

Pertemuan Ketiga       : Ekonomi yang Bermartabat

Pertemuan Keempat   : Bumi Rumah Kehidupan

Pertemuan Kelima      : Gerakan Pertobatan dan Aksi Solidaritas.

Pada Pertemuan Prapaskah I ini, kita hendak membagikan pengalaman hidup kita akan titipan Tuhan yaitu bumi dimana kita tinggal dengan tema “Bumi adalah Titipan Tuhan”.

Dalam Kitab Imamat ditegaskan, “Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagiKu” (Im 25:23). Kita semua adalah orang-orang yang menerima anugerah dari Tuhan dalam rupa, tanah atau bumi tempat dimana kita tinggal sekarang ini.

Melalui Sabda Tuhan dari Kitab Imamat, kita akan memaknai Bumi sebagai Titipan Tuhan. Oleh karena itu marilah saat ini kita mempersiapkan diri untuk pertemuan hari ini. Kita hening sejenak mempersiapkan diri dan hati kita, mengakui segala kelemahan dan dosa kita.

(Hening)

P          : Saya mengaku….

P+U   : Kepada Allah yang Mahakuasa…..

P         : Semoga Allah Bapa yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U         : Amin.

Doa Pembuka

Ya Allah Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur atas segala kemurahan hati-Mu yang telah kami terima sampai saat ini. Kami bersyukur kami boleh mengalami masa ini dimana kami diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami dengan Engkau melalui tobat, puasa, pantang dan doa. Kami mau mengisi masa Prapaskah ini dengan lebih mendekatkan diri kepada-Mu dengan Ibadat bersama. Pada pertemuan ini kami akan merenungkan sabda-Mu dan berbagi pengalaman hidup agar kami lebih merasakan kasih-Mu dalam diri kami masing-masing. Kami mau bersama-sama bertumbuh akan iman, kasih dan pengharapan kepada-Mu.

Kami mau merenungkan Sengsara, Wafat dan Kebangkitan-Mu agar kami lebih mencintai kehidupan ini melalui apa yang telah Kau berikan pada kami yaitu bumi ini.

Ya Roh Kudus, kobarkan Api Cinta-Mu, agar dengan semangat yang teguh kami dapat menjadi pelaku Firman-Mu bukan hanya pembaca atau pendengar saja.

Kami berdoa pula bagi saudara-saudari kami yang saat ini belum bisa hadir di tempat ini. Berilah mereka kekuatan dan kehendak agar suatu saat bisa berkumpul bersama kami dalam ibadat-ibadat selanjutnya.Semua doa ini kami sampaikan ke hadapanMu dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin

Bacaan :KitabImamat 25:23 – 28. 35 – 38

Pertanyaan Pembantu Pendalaman:

  1. Siapakah pemilik bumi dan apakah status manusia?
  2. Berdasarkan bacaan di atas, apa tugas manusia terhadap bumi?
  3. Apa yang dilakukan masyarakat Yahudi dalam tahun Yobel?
  4. Bagaimana sikap anda melihat lahan tidur atau lahan yang tidak dioptimalkan penggunaannya? Dan bagaimana sikap anda melihat lingkungan yang kumuh? Bagaimana solusinya?
  5. Menurut anda bagaimana cara mengungkapkan rasa syukur atas bumi tempat kita hidup?

Peneguhan:

  1. Orang Yunani menyebutnya rumah (oikos). Bumi adalah rumah bersama dan rumah utama bagi semua mahluk hidup. Bumi dalam pelbagai budaya disebut “ibu”: Ibu Pertiwi. Dengan menyebutnya IBU maka diakui bahwa bumilah yang melahirkan dan menumbuhkan kehidupan. Menyebut bumi sebagai rumah, mengacu kepada perlindungan dan pemeliharaan.
  2. Dalam Kitab Suci, sumber hak hidup ekonomi utama masyarakat adalah tanah. Tema-tema moral sosial dalam Perjanjian Lama selalu dihubungkan dengan ekonomi berbasis tanah (sumber ekonomi), seperti peduli pada orang miskin ( Kel 23:6; Ul 15:7-11), perhatian pada orang asing (Bdk. Kel 21:21-24), kepada janda dan yatim piatu (Bdk. Ul 24:19-22) serta lingkungan hidup (Bdk. Im 25:8-55). Demikian juga dalam pewartaan para Nabi, tema keadilan ekonomi terkait dengan komoditi hasil bumi objek transaksi di pasar, yang berujung pada ketidakadilan, pemerasan dan penindasan. Inilah dasar dari pengaturan tahun Yubileum di mana korban kejahatan sosial dan ekologis mesti dihapuskan. Utang dihapus dan tanah diistirahatkan agar terpulihkan dari eksploitasi manusia. Bela rasa sebagai penyelesaian masalah sosial.
  3. Tanah adalah milik Allah. Dari tanah yang satu dan sama itu warga Israel harus dapat hidup. Tidak diperkenankan ada orang miskin di tanah yang diberikan Tuhan itu ( Im 25:25.35). Masyarakat Israel memiliki tradisi berbagi hasil ladang waktu panen dengan sesama, terutama mereka yang miskin dan kelaparan. Maksudnya adalah supaya semua manusia yang hidup di atas tanah terjanji dapat hidup (Bdk. Rut 2-3). Kemiskinan adalah aib di atas tanah yang diberikan Tuhan, yang berlimpahkan susu dan madunya. Dalam pengertian luas manusia hanya sebagai pengelola tanah dan bertujuan untuk kesejahteraan bersama serta menjunjung tinggi nilai keadilan dan semangat bela rasa supaya orang lainpun mengalami kesejahteraan.
  4. Hak untuk hidup adalah hak yang paling dasar dan hal-hal yang lain bertumpu padanya. Kehidupan manusia adalah sesuatu yang diterima, sebagai anugerah. Allah Pemberi kehidupan menopang kehidupan manusia dengan pelbagai ciptaan lain, yang mengitari kehidupan manusia. Allah menganugerahkan hidup kepada manusia, sekaligus melengkapi hidup manusia dengan ciptaan lain yang menopang, menunjang dan mempertahankan hidupnya. Atas dasar itu, maka prioritas utama dalam ekonomi adalah kehidupan manusia. Bukan hanya segelintir atau sebagian besar, tetapi semua manusia, siapapun dia. Dia berhak atas akses terhadap sumber-sumber hidup atau sumber-sumber ekonomi dan hak itu harus dijamin dan dipertahankan di atas prinsip keadilan.

Doa Umat :

P   Ya Bapa, pada kesempatan ini kami juga hendak mengantar doa-doa kami, berkenanlah Engaku mendengarkannya

L  Bagi Para Pemimpin Masyarakat

Ya Bapa, bimbinglah para pemimpin masyarakat kami dalam mengambil keputusan yang bijaksana dan untuk kepentingan masyarakat terutama mengenai kelangsungan ekosistem di bumi ini.Marilah kita mohon…..

L  Bagi Para Gembala Umat

Ya Bapa yang Mahabaik, sertailah dan bimbinglah para gembala umatMu dalam karya penggembalaan mereka. Semoga mereka senantiasa dengan rendah hati dan penuh sukacita dalam melayani. Marilah kita mohon…..

L  Bagi Warganegara yang dilanda masalah karena kehilangan hak atas miliknya

Ya Bapa Pemilik bumi ini, dampingilah umat-Mu yang dilanda masalah karena kehilangan hak atas miliknya. Engkaulah Hakim Agung kami, tegakkanlah keadilan atas perkara yang sedang melanda mereka. Mereka yang sedang berjuang untuk kembali memiliki kesempatan mengelola, merawat, dan mendayagunakan tanah ini. Dan karena kehendak-Mu jugalah semua ini terjadi. Marilah kita mohon…..

L  Bagi Para Pekerja dalam bidang lingkungan hidup

Ya Bapa, berilah rahmat bagi mereka yang bekerja untuk kelangsungan hidup alam ini. Agar mereka dapat mengusahakan dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan sesuai prinsip iman Kristiani. Agar semua mahluk hidup bisa menikmati alam ciptaan-Mu dan lingkungan yang baik bagi semua manusia di bumi ini.Marilah kita mohon….

L  Bagi Diri Kita sendiri

Ya Bapa Pemilik kehidupan, buatlah kami semakin mencintai dan menghargai karya ciptaan-Mu yaitu bumi tempat kami tinggal ini. Agar kami dapat menjaga titipan-Mu ini dan jadikanlah kami teladan dalam mengelola bumi ini agar berdaya guna bagi kelangsungan hidup kami dan seluruh mahluk hidup lainnya. Jadikanlah kami sebagai saluran berkat-Mu.Marilah kita mohon…..

(doa spontan, sesuai kebutuhan)

P   Demikianlah ya Bapa doa dan permohonan kami. Kami percaya bahwa Engkau Maha mengetahui segala doa dan permohonan kami, demi Kristus pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin

Bapa Kami

P   Marilah kita satukan doa dan permohonan kita kepada Tuhan dengan doa yang diajarkan Yesus kepada kita: Bapa Kami…..

Doa Ardas 2020:”Tahun Cinta Kitab Suci”

Doa Penutup

Ya Bapa, tiada hentinya mulut dan hati ini bersyukur kepada-Mu, terutama untuk perjumpaan kami dalam ibadat Prapaskah yang pertama ini. Dalam renungan Engkau mengajak kami untuk semakin mencintai-Mu dan membangkitkan semangat kami untuk berperan serta memelihara kelangsungan kehidupan di bumi ini. Bumi ini telah Engkau titipkan pada kami untuk kami jaga, rawat dan olah untuk menghasilkan sesuatu yang berguna untuk kehidupan kami dan mahluk hidup lainnya dan untuk kesejahteraan bersama umat manusia. Dan sepulangnya dari tempat ini kami juga bisa mewartakan Kabar Gembira ini pada keluarga dan orang-orang yang kami jumpai. Lindungilah kami dalam perjalanan pulang ke tempat kami masing-masing agar kami bisa berjumpa dengan keluarga dan orang-orang terkasih kami. Curahkanlah damai dan sukacita pada kami semua. Doa dan harapan ini kami hantarkan kehadapan Bapa dengan pengantaraan Yesus Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Berkat Penutup

P   Marilah kita mengakhiri ibadat ini dengan mohon berkat Tuhan.

Tuhan beserta kita

U  Sekarang dan selama-lamanya

P   Semoga kita sekalian senantiasa dilindungi, dibimbing dan dilimpahi berkat Allah yang mahakuasa. Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus.

U  Amin.

Lagu Penutup: “O,Yesusku” (PS.485)

 

 

Pertemuan Prapaskah II

Bumi Sumber Ekonomi

(1 Raja-Raja 21:1 – 16)

Tujuan:

  1. Semakin bertangungjawabnya setiap keluarga untuk mengolah bumi
  2. Semakin belajar menjadi pelaku firman dalam keluarga
  3. Semakin terbangun sikap kerja dan mencintai alam semesta

Lagu Pembuka:PS. No. 479

Tanda Salib dan Salam

P   : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus

U  : Amin

P   : Semoga rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus selalu beserta kita.

U  : Sekarang dan selama-lamanya.

Pengantar:

Entah beriman atau tidak, kita sekarang sepakat bahwa bumi pada dasarnya adalah warisan bersama; buahnya harus menjadi berkat untuk semua. Bagi orang-orang beriman ini merupakan soal kesetiaan kepada Sang Pencipta, karena Allah menciptakan dunia untuk semua. Bumi yang adalah Titipan Tuhan untuk kita, harus diolah dengan baik dan benar. Itu adalah tanggung jawab dari kita semua. Bersama keluarga kita hendak melaksanakan Firman Tuhan sebagai co-creator, rekan kerja – ikut ambil bagian dalam mencintai Alam Semesta.

Pada pertemuan Prapaskah II ini, kita hendak membagikan pengalaman hidup kita akan tanggung jawab kita sebagai pewaris bumi titipan Tuhan: mengolah dan mencintai Bumi. Oleh karenanya, kita akan mengerti bahwa bumi menjadi sumber ekonomi setiap keluarga.

Melalui Sabda Tuhan dari Kitab Pertama Raja-Raja, kita akan memaknai Bumi Sumber Ekonomi. Oleh karena itu, supaya kita layak dan pantas meneruskan ibadat kita, kita siapkan hati, budi dan pikiran kita sejenak.

… (Saat Hening) …

Sadar akan kekurangan dan kelalaian kita dalam hidup keseharian kita, marilah kita mengakui segala kedosaan kita serta mohon belaskasih Tuhan.

Doa Tobat:

P   :Saya mengaku…

U  : Kepada Allah yang mahakuasa dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan; dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah Tuhan kita.

P   :Semoga Allah yang maha kuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kita kepada hidup yang kekal.

U  :Amin.

Kyirie 

P   :Tuhan kasihanilah kami.

U  :Tuhan kasihanilah kami.

P   :Kristus kasihanilah kami.

U  : Kristus kasihanilah kami.

P   :Tuhan kasihanilah kami.

U  :Tuhan kasihanilah kami.

Doa Pembuka:

Allah Bapa yang maha pemurah dan maha kasih. Dalam kesempatan ini, kami ingin merenungkan sikap hidup kami berkaitan dengan bumi sebagai bagian dari hidup kami. Dengan bekerja mengolah hasil bumi kami menemukan cara kami mencintai Engkau. Tidak jarang kami lupa bahwa kami bekerja bukan hanya untuk memuaskan diri kami sendiri. Bimbinglah kami ya Bapa agar kami semakin menyadari tanggung jawab kami sebagai orang beriman dalam mengelola bumi dan lingkungan kami. Bukalah mata hati kami agar kami mampu melihat memahami tugas dan tanggung jawab kami sebagai orang beriman. Demi Kristus Tuhan dan penyelamat kami sepanjang segala masa. Amin.

Bacaan:I Raja-Raja 21:1 – 16

Pertanyaan pembantu Refleksi:

  1. Apakah yang membuat Raja Ahab berduka?
  2. Bagaimana tanggapan dari Istri Raja Ahab?
  3. Masih adakah model perseteruan Nabot – Raja Ahab pada masa sekarang?
  4. Apa reaksi anda jika anda menjadi Nabot?
  5. Apa yang dapat anda lakukan jika anda dimintai tolong oleh orang yang mengalami peristiwa Nabot?

Jawaban yang mungkin muncul:

  1. Raja Ahab berduka karena keinginannya memiliki kebun anggur disebelah istananya (milik Nabot) ditolak oleh Nabot.
  2. Izebel, Istri Raja menjadi marah karena permintaan raja diabaikan oleh rakyatnya, maka dengan menggunakan kekuasaan raja ia menyingkirkan Nabot. Supaya kehendak raja terpenuhi.

(Pertanyaan 3 s/d 5 adalah pertanyaan reflektif yang bisa dijawab apa saja)

Refleksi kita 

  1. Jika dicermati, semua aktivitas manusia akhirnya tertuju pada satu tujuan yakni memelihara, merawat dan mempertahankan hidup. Kata yang merangkum seluruh kegiatan itu adalah ekonomi. Kata ekonomi berasal dari kata oikos (rumah) dan nomos (aturan, tatanan, hukum), dari bahasa Yunani. Ekonomi berarti menata, mengatur, menyelenggarakan kehidupan dalam rumah, dalam keluarga umat manusia. Intensi dasarnya agar semua dapat hidup secara manusiawi. Ekonomi mengatur dan menata agar sumber-sumber hidup tercukupkan untuk semua. Ketercukupan secara ekonomis menjamin manusia dapat hidup secara manusiawi.
  2. Tanah itu diberikan Tuhan kepada umat terpilih. Sebagai milik Allah tanah itu sakral, tidak hanya dalam arti spiritual, tetapi dalam arti bahwa tanah harus dijaga dan diolah, tidak boleh dirusak dan dijadikan komoditi komersial. Tanah adalah milik warisan keluarga, justru karena tanah adalah sumber ekonomi. Tidak diperjual-belikan. Tanah adalah simbol kedaulatan mewariskan hidup kepada anak cucu ( 1 Raj 21:1-16).
  3. Hingga kini tanah tetaplah sumber ekonomi fundamental. Memiliki tanah berarti memiliki otonomi dan kemandirian dalam ekonomi. Memiliki tanah berarti memiliki sumber ekonomi sendiri. Sesungguhnya kepemilikan tanah secara otonom sebagai sumber ekonomi didasarkan pada hal yang lebih fundamental lagi. Manusia itu sendiri berasal dari tanah.
  4. Tanah itu diberikan Tuhan kepada umat terpilih. Sebagai milik Allah tanah itu sakral, tidak hanya dalam dari tanah merupakan argument dasar mengapa manusia hanya dapat hidup dari apa yang diberikan (tumbuh dari) tanah. Berasal dari tanah ( Kej 2:7), dihidupi tanah dan kembali menjadi tanah.
  5. Dalam arti yang lebih luas tanah adalah tempat kita berpijak dan hidup.Tanah bisa berarti negara, lingkungan hidup, tempat kerja, wadah kita mengungkapkan nilai-nilai kehidupan dan lain-lain. Dalam situasi atau tempat tertentu itu kita tidak bisa hanya menjadi orang yang nebeng Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk ikut ambil bagian dan terlibat dalam menjaga dan merawat tempat atau suasana itu untuk bisa dinikmati oleh orang banyak.

Membangun Niat:

(Umat diajak untuk merumuskan sebuah niat sebagai bentuk pertobatan, baik yang sifatnya pribadi maupun dalam kebersamaan)

Doa Umat:

P: Allah Bapa kami, kami bersyukur padaMu. Kami telah Engkau anugerahi bumi dan segala isinya, Engkau beri kami kesempatan untuk mengolah sehingga menghasilkan buah bagi kehidupan kami. Perkenankanlah kami hadir di hadapanMu dengan membawa doa dan permohonan kami.

L: Bapa yang mahapengasih, tanpa kami sadari kami sering kali kurang peduli pada orang lain. Ampunilah keserakahan kami dan kebutaan kami pada tanggung jawab kami akan kebutuhan sesama terlebih mereka yang menderita. Marilah kita mohon…

L: Allah Bapa kami, peristiwa Nabot dan Raja Ahab, masih banyak terjadi dalam kehidupan kami. Semoga kami tidak hanya menjadi penonton saja, melainkan beranikanlah kami peduli dan berpihak pada yang lemah. Marilah kita mohon…

L: Bapa yang penuh cinta, kami Engkau ciptakan dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Sadarkanlah kami bahwa kami mempunyai keterbatasan dalam segala hal. Jangan biarkan kami jatuh dalam kesombongan dan keserakahan dalam mengupayakan kebutuhan bagi hidup kami. Marilah kita mohon…

L: Sebagai warga masyarakat Indonesia dan warga gereja universal, kami Engkau panggil untuk menjadi garam dan terang dunia dengan mewartakan nilai-nilai Injili dalam kehidupan kami. Kuatkanlah kami untuk menjadi pelaku-pelaku firman secara nyata dan bukan hanya berhenti pada wacana. Marilah kita mohon…

doa spontan

P: Demikianlah doa-doa kami ya Bapa. Masih banyak permohonan kami yang tidak mampu kami ucapkan, tetapi kami yakin Engkau mendengar apa yang tak terucap dan melihat apa yang tersembunyi. Seluruh pengharapan dan permohonan kami ini kami sampaikan kepada-Mu ya Bapa dengan pengantaraan Yesus Tuhan kami. Amin

Doa Bapa Kami

Marilah kita satukan seluruh doa permohonan kita, dengan doa yang diajarkan Yesus sendiri:Bapa kami…

Doa Penutup:

Allah Bapa kami yang ada di surga, kami bersyukur pada-Mu atas Sabda yang Engkau berikan kepada kami lewat peristiwa Nabot denganRaja Ahab. Semoga pencerahan ini semakin memberanikan diri kami untuk mendengarkan Kehendak-Mu. Semoga kami semakin Engkau beranikan berpihak kepada mereka yang tersingkir dan menderita. Demi Kristus Juru Selamat kami.Amin.

Berkat Penutup:

P: Marilah kita mengakhiri ibadat APP ini dengan mohon berkat Tuhan.

Semoga Tuhan beserta kita.

U: Sekarang dan selama-lamanya.

P: Semoga kita sekalian dilimpahi berkat Allah yang maha kuasa dalam nama, Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

U: Amin.

Lagu Penutup: (PS. 489)

 

Pertemuan Prapaskah III

Ekonomi Yang Bermartabat

(Yehezkiel 34: 23 – 31)

Tujuan:

  1. Setiap Keluarga Katolik semakin menyadari akan tanggungjawab terhadap kehidupan
  2. Keluarga Katolik semakin kreatif mengajak anggota keluarga mencintai Kitab Suci
  3. Terciptanya ekonomi yang bermartabat dalam Keluarga Katolik

Lagu pembuka: (PS. 483)

Tanda Salib dan Salam

P: (+ ) Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus

U: Amin

P: Semoga rahmat Tuhan Kita Yesus Kristus, Cinta Kasih Allah,dan dalam persekutuan dengan RohKudus, senantiasa beserta kita.

U: Sekarang dan selama-lamanya.

Pengantar:

Bapak, Ibu dan Saudara, saudari yang terkasih dalam Kristus.Selamat berjumpa kembali dalam pertemuan Aksi Puasa Pembangunan (APP) dalam menjalani masa Prapaskah tahun 2020. Kali ini kita sampai pada pertemuan yang ketiga. Pada pertemuan yang pertama kita telah bersama-sama membahas, merenungkan, mendengarkan sharing serta mendapat peneguhan ajaran Gereja yang diterangi sabda dalam bacaan Kitab Suci. Sub tema pada pertemuan Prapaskah pertama: Bumi adalah Titipan Tuhan,dimana kitadiajak semakin memahami bumi sebagai sumber hak hidup ekonomi yang utama bagi masyarakat. Bumi adalah milik Allah dan Allah menopang kehidupan manusia dengan menyediakan bumi serta segala isinya. Sedangkan pada pertemuan kedua kita diajak menggeluti subtema: Bumi sebagai sumber Ekonomi. Kita diajak menyadari bahwa makna ekonomi adalah mengatur dan menata agar sumber-sumber hidup tercukupkan bagi semua.Bumi harus diolah dan dijaga kelestariannya. Pada pertemuan ketiga ini, tema yang hendak kita renungkan adalah: Ekonomi Yang Bermartabat. (Dibacakan tujuan yang akan dicapai bersama).

Para Uskup Paraguay dalam suatu pembicaraan mengenai Petani Paraguay dan Tanah, menegaskan, “Setiap petani memiliki hak sewajarnya untuk memiliki bagian tanah yang semestinya di mana ia dapat membangun rumahnya, bekerja untuk menghidupi keluarganya dan dapat hidup dengan aman. Hak ini harus dijamin, agar tidak tinggal ilusi tetapi dapat dijalankan secara nyata. Ini berarti bahwa selain harta milik, petani harus punya akses ke pendidikan teknik, kredit, asuransi, dan pasar”. Kita semua diundang oleh Allah untuk menjadikan tanah atau bumi dimana kita berada, diolah sebagai sumber ekonomi yang bermartabat. Melalui Sabda Tuhan dari Kitab Yehezkiel, kita akan melihat bagaimana sikap hidup kita terhadap Bumi itu sungguh sebagai orang beriman, orang bermartabat atau sebaliknya. Oleh karena itu, supaya kita layak dan pantas meneruskan ibadat kita, kita siapkan hati, budi dan pikiran kita sejenak.Marilah kita menyadari kelemahan dan kedosaan kita dihadapan Tuhan dan sesama serta mohon belas kasihan Tuhan.

… (Saat Hening) …

Seruan Tobat:

P: Tuhan Yesus Kristus, kami seringkali kurang bersyukur atas rezeki dan penyelenggaraan hidup yang Tuhan berikan melalui bumi. Tuhan, kasihanilah kami,

U: Tuhan, kasihanilah kami.

P: Tuhan Yesus Kristus, Engkau sungguh taat kepada Bapa, namun kami sering tidak banyak mentaati dalam memelihara bumi dan lingkungan hidup kami. Kristus, kasihanilah kami,

U: Kristus, kasihanilah kami.

P: Tuhan Allah kami, Engkau telah menjadi teladan dalam kerelaan berkorban demi orang lain, namun kami kurang memupuk dan melatih sikap berkorban demi kepentingan bersama dan kesulitan sesama kami. Tuhan, kasihanilah kami,

U: Tuhan, kasihanilah kami.

P: Semoga Allah yang Maha Kuasa dan Maha Rahim mengasihi kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U: Amin.

Doa Pembuka:

Ya Allah yang Maha Rahim yang selalu berbelas kasih, Engkau selalu memberi sarana dan kesempatan agar iman kami bertumbuh dan berkembang melalui pengajaran GerejaMu, melalui SabdaMu serta melalui pengalaman iman dari saudara-saudari kami. Demikian juga pada kesempatan ini, kami ingin belajar membangun sikap yang lebih baik lagi dalam bersikap memuliakan martabat manusia dalam pembangunan dan kegiatan ekonomi. Bukalah hati dan pikiran kami agar mampu menangkap pencerahan dan peneguhan yang berguna dalam hidup kami. Kuatkanlah kami semua dalam mengungkapkan rasa peduli dan rasa syukur kami, dengan sikap yang semakin menghargai martabat manusia dalam diri sesama kami. Demi kemuliaan Kristus, PutraMu yang telah mengajarkan sikap menjunjung tinggi harkat martabat manusia dengan menebus dosa semua manusia, juga dosa kami semua. Dimuliakanlah Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.

Bacaan Kitab Suci:Kitab Yehezkiel34:23 – 31

Nyanyian Pengantar pendalaman Sabda:“Tuhan Ambil Hidupku “ (PS. 376)

Penjelasan bantuan tentang Yehezkiel:

  • Yehezkiel seorang nabi yang di panggil Tuhan pada saat umat Tuhan di pembuangan Babel. Dimana bangsa Tuhan yang menghadapi pergumulan yang berat, maka tidak jarang mereka putus asa dalam menjalani kehidupannya di negeri orang. Maka dari itu Allah memanggil Yehezkiel hadir di tengah-tengah umat itu untuk menyatakan rencana Allah bagi mereka. Yehezkiel yang berarti “Allah menguatkan”, suatu nama yang dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan Israel di pembuangan. Allah tidaklah salah memilih lewat keterpilihan Yehezkiel ini, Allah berharap agar Israel tetap berharap serta bersabar menantikan kasih dan pembebasan Allah. Allah peduli, Allah tetap setia menemani umatnya untuk dibebaskan dari pembuangan itu.
  • Yehezkiel menekankan bahwa keselamatan itu datang oleh karena kasih setia Allah yang mau mengampuni, serta lewat kasih Allah itu akan mendorong, menyemangati agar berbalik dari jalan yang jahat kejalan yang benar. Tuhan merancang kematian bagi orang yang jahat dan kehidupan bagi orang yang datang pada Tuhan.Yehezkiei ikut dibuang bersama-sama dengan umat Israel. Maka dari itu Allah lewat nabinya menyatakan bahwa umat itu adalah domba-domba yang perlu diperhatikan dan akan mencarinya untuk dikumpulkan ke suatu tempat yang teduh dan aman.

Pertanyaan pemandu pendalaman:

  1. Siapakah jati diri Yehezkiel dalam bacaan Kitab Suci tersebut?
  2. Sebutkan beberapa isi Perjanjian Damai Allah kepada umatNya!
  3. Dari bacaan tersebut, menurut penangkapan anda apa saja dan bagaimana tindakan Allah dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi manusia?
  4. Menurut pemahaman dan pengalaman anda apa saja kendala untuk mewujudkan ekonomi yang bermartabat?

Poin-poin Refleksi dan Peneguhan:

  1. Ketidakadilan kepemilikan sumber-sumber ekonomi saat ini kembali menguat dalam bentuk baru feodalisme, yakni kepemilikan lahan-lahan luas oleh korporasi yang mengeksplotasi tanah baik untuk usaha-usaha produktif monokultur maupun usaha-usaha ekstratif seperti tambang. Fakta-fakta ini menegaskan bahwa memang tidak ada keadilan dalam hal akses terhadap sumber-sumber ekonomi. Baik pada zaman feodalisme maupun pada zaman korporatisme (liberalism – kapitalis) ketidakadilan dalam kepemilikan dan penguasaan sumber-sumber ekonomi tetap berlangsung bahkan semakin parah.
  2. Gereja juga mengingatkan bahwa pengembangan ekonomi tidak dapat direduksi hanya pada peningkatan produksi, profit, penguasaan (monopoli). Manusia sebagai pusat dan tujuan kemajuan ekonomi tidak bisa dan tidak boleh diganti oleh profit, penguasaan, peningkatan modal, apalagi dikorbankan demi profit, akumulasi atau penguasaan sumber ekonomi. “Manusialah yang menjadi pencipta, pusat dan tujuan seluruh kehidupan sosial ekonomi” (GS. 63). Manusia, siapa pun dia harus diprioritaskan. Sesungguhnya ekonomi bukan segala-galanya dalam pembangunan, melainkan manusia dalam keutuhannya ( CA. 29; SRS. 27-28; PP. 43-44). Ini berarti bahwa setiap upaya atau usaha ekonomi harus bermuara pada kesejahteraan semua manusia. Hal ini sesuai dengan pemahaman Gereja tentang kesejahteraan umum (Bdk. GS. 64; GS. 26).
  3. Pencapaian kesejahteraan umum, sebagai tujuan pokok usaha ekonomi menjadikan usaha membangun ekonomi itu bermartabat, dalam dua arti. Pertama, usaha tersebut tertuju kepada kepentingan hidup manusia. Upaya ekonomi menjadi bermartabat (selaras etika-moral) ketika diabdikan demi kepentingan manusiawi. Usaha ekonomi ada demi manusia agar manusia dapat hidup secara manusiawi. Kedua, usaha itu bermartabat jika manusia itu sendiri menjadi pelakunya. Hal itu merupakan manifestasi kebebasan dan otonomi manusia. Manusia seyogyanya secara mandiri dan bebas mengupayakan kesejahteraan hidupnya sendiri atau hidup bersama. Dalam rangka itu pemangku kekuasaan dalam masyarakat (baca:Pemerintah) berperan sebagai fasilitator atau administrator demi memastikan bahwa hak atas akses usaha ekonomi terjamin secara adil bagi setiap orang dan semua orang.
  4. Fenomena lain yang mengancam otonomi bahkan hak-hak ekonomi masyarakat adalah intervensi korporasi dalam upaya-upaya ekonomi suatu masyarakat. Sebagai badan usaha, orientasi usaha korporasi adalah profit. Korporasi bukan lembaga sosial atau bukan perpanjangan tangan kekuasaan yang wajib menjamin kesejahteraan masyarakat. Intervensi korporasi dalam usaha ekonomi tentu juga tidak bisa diingkari. Korporasi dalam banyak hal justru dapat menjadi partner pengembangan ekonomi. Namun kenyataan tak seindah regulasi atau patokan normative. Dalam banyak kasus di negara kita, masyarakat justru kehilangan haknya atas sumber-sumber ekonomi karena intervensi atau monopoli sumber-sumber ekonomi oleh korporasi. Tak heran jika dalam kenyataannya, sumber ekonomi berupa tanah dan lingkungan alam terkuasai oleh korporasi sehingga masyarakat kehilangan hak-haknya atas sumber ekonomi. Mereka bahkan tersingkirkan dan tak dapat membela diri, apalagi pemangku kekuasaan tidak menjalankan peran mediator yang adil (GS. 70).
  5. Dalam arti itu maka mengupayakan ekonomi bermartabat, mustahil terwujud tanpa penegakan hukum untuk menjamin hak-hak ekonomi masyarakat dan pencegahan pencaplokan, penguasaan atau monopoli sumber-sumber ekonomi oleh para pemodal. Negara seharusnya hadir secara efektif menjamin keadilan dan menegakkan hukum yang berpihak pada keadilan dan kebenaran. Hak-hak masyarakat tidak dirampas, sebaliknya diperkuat dan difasilitasi agar masyarakat lebih mudah dan adil mengupayakan kesejahteraannya sendiri.

Aksi Bersama atau Aksi Perorangan:

Setelah kita mendengarkan bacaan Kitab Suci dari Nabi Yehezkiel, melakukan pendalaman sabda dan mendengarkan sharing serta refleksi, maka marilah kita membangun sebuah pertobatan dengan melakukan aksi: Mewujudkan Ekonomi yang Bermartabat.

(Silahkan merumuskan dan menyepakati suatu aksi bersama:… dan aksi secara perorangan dibangun sendiri-sendiri)

Doa Umat:

P:    Bapak,ibu dan saudara terkasih, setelah kita mendengarkan sabda Tuhan, mendengarkan sharing dan refleksi/peneguhan, marilah kita panjatkan doa-doa kita kepada Tuhan:

L1 : Allah Bapa Yang Maha Pemurah, kami selalu Engkau beri kemurahan atas berbagai kebutuhan dalam hidup kami, kendati kami sering kali lupa untuk mengungkapkan syukur kepadaMu. Oleh karena itu mampukanlah kami untuk bersikap rendah hati dengan pandai bersyukur dan berbagi atas pemenuhan kebutuhan ekonomi oleh kemurahan Tuhan selama ini. Marilah kita mohon…

L2 : Allah Bapa yang Maha Pengasih, Engkau telah memberikan teladan yang sempurna dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, dengan menjadi Gembala yang baik dan setia. Mampukanlah kami untuk mewujudkan ekonomi yang bermartabat dalam keluarga kami serta menjauhkan diri dari tindakan pemenuhan ekonomi yang bertentangan dengan ajaranMu, supaya hidup kami lebih bermakna. Marilah kita mohon…

L3: Ya Yesus Tuhan sang Penebus hidup kami, berikanlah kepada hati kami kehendak yang kuat dalam membangun sikap rela berkorban dan tidak hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri demi terwujudnya kesejahteraan bersama. Marilah kita mohon…

L4 : Allah Bapa Yang Maha Pemurah, mampukanlah kami untuk bersikap tidak terlalu lekat dengan barang-barang dan fasilitas duniawi, tetapi semakin menyadari bahwa semua barang-barang dan fasilitas duniawi tersebut merupakan sarana untuk semakin mendekatkan diri kepadaMu dan semakin dapat meluhurkan namaMu dan semakin mengasihi sesama kami. Marilah kita mohon…

L5 : …(mungkin ada permohonan khusus)…

P:   Demikianlah ya Bapa doa dan permohonan yang kami panjatkan dengan segenap iman kami. Kami percaya bahwa Engkau selalu berkenan mendengar seruan kami. Demi Kristus pengantara kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Doa Bapa Kami

Marilah kita satukan doa-doa kita dengan doa yang diajarkan oleh Yesus kepada kita:Bapa Kami

Doa Penutup:

Bapa, kami bersyukur atas pertemuan APP ini. Engkau telah memberi kesempatan kepada kami untuk merenungkan makna membangun ekonomi yang bermartabat. Semoga kami tidak hanya berhenti sampai pada pemahaman tetapi Engkau gerakkan untuk mewujud nyatakan dalam hidup keseharian kami. Semoga sebagai orang beriman kami semakin dapat bersyukur atas segala kebaikan-Mu yang telah kami nikmati, dengan mewujudkan pemenuhan ekonomi kami secara bermartabat. Mampukanlah kami menjauhkan diri dari tindakan-tindakan pemenuhan ekonomi yang merugikan orang lain. Semoga di masa Prapaskah ini kami juga mampu membenahi diri dengan kepedulian yang lebih lagi kepada sesama kami sebagai bagian tak terpisahkan dari persembahan kepada-Mu. Sebab Engkaulah penyelamat kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Berkat Penutup:

P: Marilah kita mengakhiri pertemuan ini dengan mohon berkat Tuhan.

Semoga Tuhan beserta kita.

U: Sekarang dan selama-lamanya.

P: Semoga kita sekalian, segala upaya kita membangun sikap memberi persembahan dengan ikhlas, senantiasa dilindungi dan dilimpahi berkat Allah yang Maha Kuasa: Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.

U: Amin.

Lagu Penutup: “Hidup Kita dalam Dunia” (PS. 663)

 

 

Pertemuan Prapaskah IV

Bumi Rumah Kehidupan

(Kejadian2: 1 – 17)

Tujuan

  1. Mengajak Umat untuk Menyadari bahwa Bumi ini Milik Tuhan, yang dititipkan kepada Manusia agarDitempati, Dirawat dan Diusahakan.
  2. Mengajak Umat untuk Menghormati dan Mencintai Bumi sebagai Tempat Kediaman Bersama
  3. Mengajak Umat untuk Mengusahakan Bumi sesuai dengan rencana dan Kehendak Tuhan.

Lagu Pembuka:PS. 707

Tanda Salibdan Salam

P: Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus

U: Amin

P:Semoga Rahmat Tuhan Kita Yesus Kristus Cinta Kasih Allah dan       Persekutuan Roh Kudus Selalu Beserta kita

U: Sekarang dan Selama-lamanya

Pengantar

Menyaksikan aneka kejadian seperti kebakaran hutan, pembabatan hutan,gunung erupsi dan mengeluarkan lahar panas, banjir, tanah longsor, dan lain-lain, sungguh membuat hati miris. Agaknya semuanya itu terjadi lantaran manusia menjadi tamak, rakus dan ingin mengeksploitasi seluruh kekayaan alam demi kepentingan sesaat, kepentingan pribadi dan golongannya.

Situasi itu menggugah keprihatinan banyak pihak,maka muncullah “Earth Charter”(Piagam Bumi) di Den Haag pada tanggal 29 Juni 2000. Piagam itu mengajak kita semua untuk meninggalkan masa penghancuran diri dan memulai suatu masa yang baru dengan hormat dan mencintai bumi sebagai Rumah Kehidupan Bersama.

Maka Santo Yohanes Paulus II, mengingatkan kita semua dengan tegas akan ajaran ini dengan menyatakan bahwa”Allah menganugerahkan bumi kepada seluruh umat manusia supaya menjadi sumber kehidupan bagi semua anggotanya, tanpa mengecualikan atau mengutamakan siapapun juga.”

Ibu, bapak, saudara dan saudari terkasih, dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya kita telah merenungkan bersama tentang Bumi adalah Titipan Tuhan, Bumi Sumber Ekonomi, Ekonomi yang bermartabat dan pada pertemuan yang ke-4 ini kita akan mendalami dan merenungkan bahwa Bumi adalah Rumah Kehidupan.

Akan tetapi acap kali kita berpikir bahwa kita adalah tuan dan penguasa bumi yang berhak untuk menjarahnya.Kita lupa bahwa bumi itu milik Allah yang diserahkan kepada manusia untuk ditempati, dirawat dan diusahakannya seturut rencana dan kehendak Tuhan. Ketamakan hati yang terluka akibat dosa membuat kita lupa bahwa kita sendiri berasal dari debu tanah. Tubuh kita sendiri tersusun dari unsur-unsur yang sama dari bumi dan udaranya memberi kita nafas serta airnya menghidupkan dan menyegarkan kita.

Pernyataan Tobat

Sebelum mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan dan mendalaminya, marilah kita mengakui segala kelemahan dan dosa kita di hadapan Tuhan dan sesama.

P+U     : Saya mengaku…

P          :Semoga Allah Bapa yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U         : Amin

Doa Pembuka

Allah Engkau adalah pemilik bumi satu-satunya. Akan tetapi karena kemurahan dan kebaikanMu, Engkau menganugerahkan bumi ini kepada umat manusia untuk di tempati, dirawat dan diusahakan supaya menjadi sumber kehidupan bagi semua anggotanya.Ajarilah kami untuk mengasihi dan menghormati bumi, agar kami Engkau mampukan untuk mengucapkan syukur atas karunia ini dengan cara menjadikan bumi sebagai kediaman bersama,merawat dan mengusahakannya sesuai dengan rencana dan kehendakMu, agar terwujudlah rasa aman, damai, sejahtera dan lestari selama-lamanya. Doa ini kami sampaikan kepadaMu dengan perantaraan Yesus Kristus Raja Alam semesta yang berdaulat bersama Engkau dan Roh Kudus Allah yang Tunggal, kini dan sepanjang masa.Amin.

Bacaan dari Kitab Kejadian 2: 1 – 17

Pendalamandan Sharing Pengalaman Iman

  1. Dari Kitab Kejadian itu kita mendapatkan informasi bahwa Pencipta Langit dan Bumi adalah: … Sebagai pencipta maka tentu Ia juga yang berkuasa sekaligus sebagai pemilik tunggal akan bumi ini.
  2. Dari Kitab Kejadian itu pula kita memperoleh informasi bahwa manusia diciptakan Allah dengan bahan baku dari alam semesta yang disebut:…
  3. Debu tanah yang dibentuk menjadi manusia itu menjadi hidup karena:…
  4. Menurut Rencana dan kehendak serta karena kemurahan Allah bumi itu dianugerahkan kepada manusia supaya:…
  5. Karena kasih karunia Allah dan berkat diusahakan manusia, maka bumi menghasilkan:…

Peneguhan

  1. Allah adalah pemilik bumi satu-satunya. Namun karena kasih dan kemurahan hatiNya, maka bumi ini dianugerahkan kepada manusia untuk didiami,dirawat dan diusahakan agar bumi menjadi tempat kediaman yang aman,nyaman, damai dan sejahtera serta menyediakan segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk menjalankan kehidupannya.
  2. Santo Fransiskus Assisi melalui madah:”Laudato Si, mi Signore”. “Terpujilah Engkau, Tuhanku”, mau mengingatkan kita bahwa rumah kita bersama adalah seperti seorang saudari yang berbagi hidup dengan kita, dan seperti seorang ibu rupawan yang menyambut kita dengan tangan terbuka.”Terpujilah Engkau”, Tuhanku, karena saudari kami, Ibu Pertiwi, yang memelihara dan mengasuh kami, dan menumbuhkan aneka ragam buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rumput-rumputan”.
  3. Kemajuan ekonomi yang tercapai sekarang ini merupakan hasil dari pengembangan dan kemajuan yang dicapai manusia terkait kedaulatannya,kemajuan pengetahuan dan teknologi. Di satu sisi merupakan karunia yang harus disyukuri, tetapi di sisi lain manakala tidak terkendali, ia merupakan ancaman yang serius terhadap perusakan alam semesta. Maka Gereja mengingatkan bahwa dalam semua upaya kemajuan dan peningkatan ekonomi sentralitas manusia tidak dapat ditawar, ”Manusialah yang harus menjadi pencipta, pusat dan tujuan seluruh kehidupan sosial ekonomi” (GS. 63).
  4. Fenomena lain yang mengancam otonomi bahkan hak-hak ekonomi masyarakat adalah intervensi korporasi dalam upaya-upaya ekonomi suatu masyarakat. Korporasi diperlukan,mengingat kebutuhan penciptaan lapangan kerja. Akan tetapi mengingat korporasi adalah berorientasi profit dengan prinsip”modal sekecil-kecilnya untung sebesar-besarnya” tentu ini akan mudah menabrak tatanan moral, bahkan mengorbankan manusia.
  5. Manusia adalah makhluk pekerja. Sejak diciptakan ia dipanggil untuk bekerja. Tujuannya bukanlah agar kemajuan teknologi semakin menggantikan tenaga kerja manusia,dengan demikian manusia akan merugikan dirinya sendiri. Kerja adalah suatu keharusan, bagian dari makna hidup di bumi.Maka perlunya membangun ekonomi bermartabat yaitu usaha tersebut tertuju kepada kepentingan hidup manusia.Usaha itu bermartabat jika manusia itu sendiri menjadi pelakunya.
  6. Maka diperlukan peran pemerintah yang subsidier, sebagai fasilitator atau administrator kesejahteraan umum, maka pemerintah mesti menjalankan peran sebagai pendukung dan pemberdaya tanpa memonopoli atau bahkan ambil alih usaha masyarakat. Peran pemerintah mesti diberi batas etis, yaitu memberi peluang pada kebebasan dan otonomi pribadi atau bersama masyarakat mengupayakan kesejahterannya.
  7. Lingkungan alam adalah harta kita bersama, warisan seluruh umat manusia, tanggungjawab semua orang. Ajaran Gereja mengatakan,”manusia menjadi pencipta,pusat dan tujuan dari seluruh kehidupan sosial ekonomi” (GS. 63).Akan tetapi ketika hormat dan cinta terhadap bumi merosot,terciptalah situasi menyalah-artikan makna kerja.Kita perlu ingat bahwa manusia memiliki kemampuan memperbaiki nasib mereka, menunjang pertumbuhan moril dan mengembangkan bakat kemampuan rohani mereka.”Pekerjaan harus menjadi tempat pengembangan pribadinya dalam beberapa dimensi kehidupan yang penting:kreatifitas,perencanaan masa depan,pengembangan bakat,penghayatan nilai-nilai, komunikasi dengan orang lain dan sikap menyembah Allah.
  8. Perlunya meneladani dan mohon bantuan Bunda Maria yang sekarang merawat dunia yang terluka dengan kasih sayang seorang ibu. Bunda Maria Berdukacita atas penderitaan orang-orang miskin yang disalibkan dan makhluk-makhluk dari dunia ini yang dihancurkan oleh kekuasan manusia.Terangkatnya ke surga menjadikan dia ibu dan Ratu seluruh ciptaan,sehingga kita dapat meminta dia untuk membantu kita memandang dunia ini dengan mata yang lebih bijaksana. Kecuali itu, tentu kita tidak lupa sosok Yusup suami Maria Sang pekerja yang murah hati,ia menghidupi dan melindungi Maria dan Yesus, menyelamatkan mereka tindak kekerasan orang yang tidak benar. Ia pun sosok yang siap mengasihi dan melayani dengan rendah hati. Tentu kita bisa belajar sekaligus meneladani kedua tokoh tersebut agar kita termotivasi untuk bekerja dengan murah hati dan lembut untuk melindungi dunia yang telah dipercayakan Allah kepada kita.

Membangun Niat

Ibu,bapak dan saudari-saudara yang terkasih, setelah kita membaca dan merenungkan Kitab Suci dan Ajaran Gereja terkait Bumi adalah Rumah Kehidupan.Marilah kita hening sejenak untuk menyadari kekurangan dan kelemahan kita khususnya dalam mengusahakan bumi untuk mendapatkan hasilnya demi kehidupan yang lebih manusiawi. Kita sering lupa bahwa bumi ini milik Allah yang dianugerahkan kepada manusia untuk ditempati, dirawat dan diusahakan. Maka perlunya membangun niat untuk mensyukuri karunia Tuhan yang berupa Bumi sebagai tempat tinggal, yang harus dirawat/dilestarikan dan dikelola dengan penuh cinta dan hormat terhadap bumi melalui tindakan nyata: tidak membuang sampah sembarangan, membakar sampah, tidak menebang pohon tetapi menanam pohon untuk penghijauan dan bekerja seturut profesi sesuai rencana dan kehendak Tuhan dan tidak tamak menjarah kekayaan alam yang disediakan juga bagi anak cucu.

Doa Umat

  1. Untuk Para Pengusaha
  2. Untuk Pemerintah
  3. Untuk Semua yang kurang beruntung
  4. Untuk semua yang hadir

Doa Bersama: Doauntuk Tanah Air(PS. 194)

Doa Bapa Kami

Doa Penutup

Ya Allah, kami telah merenungkan SabdaMu yang berpesan kepada kami agar kami yang mendiami bumi ini mampu mengucap syukur atas karunia Allah yang luhur yaitu bumi pertiwi yang boleh kami tempati, namun Engkau menugaskan kami untuk memelihara bumi ini dengan penuh cinta dan hormat, agar bumi kami ini tetap lestari dan kami boleh usahakan untuk kesejahteraan bersama. Semoga kami Engkau karuniai kemampuan untuk memelihara dan mengusahakan bumi kami seturut kehendakMu sehingga terwujudlah keamanan,kenyamanan,kedamaian dan kelestarian hidup dan kami dijauhkan dari segala macam marabahaya dan bencana yang mencelakakan dan mematikan. Doa ini kami sampaikan kepadaMu dengan perantaraan Kristus Tuhan kami.Amin

Berkatdan Perutusan

P   : Semoga Tuhan beserta kita.

U  : Sekarang dan selama-lamanya.

P   : Semoga kita sekalian yang hadir di sini, dan saudari-saudara kita yang tidak dapat hadir bersama kita saat ini, sertakeluarga-keluarga di sekitar tempat tinggal kita masing-masing diberkati oleh Allah yang Mahakuasa:Bapa, dan Putra dan Roh Kudus.

U  : Amin

Lagu Penutup: PS. 333

 

Pertemuan Prapaskah V

Gerakan Pertobatan dan Aksi Solidaritas

(Markus 12:13 – 17)

 Tujuan:

  • Setiap pribadi beriman Katolik semakin memiliki harta kekayaan spiritualitas ekologis
  • Terjadinya kebersamaan menyembah Tuhan dalam pertobatan ekologis
  • Bersama Keluarga Kudus merawat dan melindungi dunia yang dipercayakan Allah kepada kita

Tanda salib dan salam

P   Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus

U  Amin

P   Semoga Tuhan senantiasa beserta kita

U  Sekarangdan selama-lamanya

Pengantar:

Ketika mengingat teladan Santo Fransiskus dari Assisi, kita menjadi sadar bahwa hubungan yang sehat dengan dunia ciptaan merupakan salah satu dimensi pertobatan manusia yang utuh. Ini berarti pula mengakui kesalahan kita, segala dosa, kejahatan atau kelalaian kita, dan bertobat dengan sepenuh hati, berubah dari dalam lubuk hati. Para Uskup Australia berbicara tentang pentingnya pertobatan itu untuk mencapai rekonsiliasi dengan dunia ciptaan: “Untuk mencapai rekonsiliasi ini, kita harus memeriksa hidup kita dan mengakui bagaimana kita telah membawa kerugian kepada ciptaan Allah melalui tindakan-tindakan kita dan kegagalan kita untuk bertindak. Kita perlu mengalami suatu pertobatan, perubahan hati”.Kita diundang untuk menyatukan hidup dalam kebersamaan dengan semua orang yang berkehendak baik untuk mengadakan pertobatan ekologis.

Kita sampai pada pertemuan Prapaskah V, kita hendak mempersembahkan buah pertobatan dalam aksi nyata bagi Bumi Sumber Kehidupan.

Melalui Sabda Tuhan dari Injil Markus, kita hendak meletakkan persembahan pertobatan dan aksi solidaritas sebagai Aksi Puasa Pembangunan selama Masa Prapaskah ini. Mana yang menjadi Hak Allah, dan mana yang menjadi hak orang-orang lemah, miskin, tersingkir, dan difabel/cacat.

Oleh karena itu, supaya kita layak dan pantas meneruskan ibadat kita, kita siapkan hati, budi dan pikiran kita sejenak.

… (Saat Hening) …

Pertobatan

P   Sebelum kita melanjutkan permenungan kita, marilah terlebih dahulu kita membersihkan hati kita dengan membangun sikap tobat agar kita semakin mampu mendengarkan Sabda Allah dan mengambil sikap yang benar sesuai dengan kehendak-Nya.Saya mengaku …

P   Semoga Allah yang penuh belaskasih mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal.

U  Amin

Marilah berdoa

Allah yang Mahabaik, Engkau telah menganugerahkan kepada kami bumi yang indah ini menjadi rumah kami. Namun kami sadar bahwa selama ini kami kurang menjaga rumah kami dengan baik. Karena itu ajarilah kami untuk semakin menyadari pentingnya suatu sikap pertobatan dan ditampakkan dalam perbuatan yang nyata agar bumi semakin menjadi baik kembali sesuai dengan kehendak-Mu. Semua ini kami haturkan kepada-Mu dengan pengantaraan Yesus Kristus Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama dengan Engkau dan dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjag segala masa.Amin.

Bacaan Injil:(Markus 12: 13 – 17)

Pendalaman Sabda

  • Apakah persoalan yang disampaikan orang-orang Yahudi kepada Yesus?
  • Apakah jawaban Yesus terhadap orang-orang Farisi dan Herodian?
  • Apa makna jawaban tersebut bagi kita saat ini?
  • Perubahan hidup apa yang bisa kita kaitkan dengan Sabda Allah yang baru saja kita dengarkan?

Permenungan

  1. Jawaban Yesus, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” mengandung makna yang sangat dalam. Dua aspek kehidupan yakni hal duniawi dan hal rohani – setiap menyembah kepada Allah – harus berjalan seimbang dalam hidup kita.
  2. Selama masa Prapaskah ini kita semua diajak untuk merefleksikan bahwa ‘Bumi ini merupakan Rumah Kehidupan’. Bumi yang kita diami merupakan anugerah Allah dengan segala kekayaan yang seharusnya mampu menyejahterakan seluruh umat manusia, sehingga hidupnya yang sejahtera menuntun pada perjumpaan dengan Allah, sumber kesejahteraan abadi.
  3. Namun sayang bahwa dosa yang tampak dalam sikap serakah dan hanya mementingkan kepentingan diri sendiri, membuat bumi ini sekarang sakit dan bahkan menjadi ancaman bagi hidup manusia: pemanasan global, kehancuran alam, sampah dimana-mana, ketidakadilan ekonomi dan lain sebagainya.
  4. Persoalan yang muncul bukan hanya sekedar kehancuran bumi ini, namun juga ketidakadilan ekonomi karena keserakahan manusia. Kita sebagai orang beriman dipanggil untuk sungguh menyuarakan dan berlaku adil terhadap kehidupan ini, sehingga tercipta jaminan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.
  5. Yesus Kristus, Allah yang telah menjelma menjadi manusia, telah menuntun kita melalui Sabda-Nya untuk terbuka hati kita terhadap situasi di sekitar kita. Kata kuncinya adalah ‘solidaritas’. Kita harus terlibat secara aktif untuk ‘menyelamatkan’ bumi ini agar bisa kembali menjadi ‘rumah kita yang membahagiakan’.
  6. Santo Fransiskus dari Asisi mengajarkan kepada kita, agar kita bersahabat dengan alam. Mereka adalah saudari kita yang memberi kehidupan, bukan obyek yang harus dieksploitasi untuk kepentingan semata. Bumi sedang menangis dan sakit, apakah hati kita terbuka dan memiliki hati seperti Yesus, ‘selalu tergerak hatinya oleh belas kasihan’; sehati dan sepikiran dengan bumi yang sakit, sehingga berani mengulurkan tangan dan bekerja sama dengan rahmat Allah menyelamatkan rumah kita ini.
  7. Haruskah melalui pekerjaan yang besar? Tidak. Mulailah dengan hal-hal yang kecil di sekitar kita dengan cinta yang besar. Walaupun kecil kalau itu dilakukan dengan kasih akan Allah yang besar, akan mendatangkan rahmat bagi kita.
  8. Yesus mengajak para murid-Nya sungguh peduli dengan apa yang ada di sekitarnya mulai dengan membayar pajak kepada Kaisar, tergerak hatinya untuk memberi makan kepada orang yang lapar – ekonomi berkeadilan; menebar benih di lahan yang subur dan lain sebagainya.
  9. Allah sungguh telah melakukan perbuatan yang baik dalam diri kita, maka kini giliran kita melakukan perbuatan yang baik bagi sesama dan terutama bagi bumi yang sedang sakit. Mari kita mencintai bumi kita dan merawatnya agar kembali menjadi sehat:
  10. Mulailah menanam pohon di sekitar kita, juga menyebar biji pohon di lahan tidur.
  11. Menaruh sampah pada tempatnya dengan berhenti menggunakan plastik yang saat ini menjadi ancaman bagi dunia.
  12. Mau berbagi dari penghasilan kita bagi orang-orang yang sangat membutuhkan.
  13. Pertobatan harus sungguh mulai dari kesadaran diri dan tampak dalam Gerakan yang sungguh bisa dirasakan bagi orang lain. Tuhan memberkati.

Doa Umat

P   Setelah kita mendengarkan Sabda Allah dan merenungkannya, marilah kita panjatkan doa-doa kita kepada Bapa yang penuh belaskasih.

  • Bagi para Pemimpin Gereja

Allah yang penuh belas kasih, berkatilah Bapa Paus, para Uskup dan para imam agar dalam penggembalaan mereka, mereka senantiasa terberkati dan membimbing umat-Mu untuk semakin mencintai dan menjaga bumi sebagai sumber harapan kesejahteraan umat manusia.Marilah kita mohon

  • Bagi para Pemimpin Bangsa

Allah yang penuh belas kasih, bimbinglah para Pemimpin Bangsa kami agar mereka memiliki semangat melayani sehingga pelayanan mereka sungguh demi kesejahteraan seluruh masyarakat dan bukan untuk kepentingan diri sendiri ataupun kelompok.Marilah kitamohon

  • Bagi Lingkungan Kita

Allah yang penuh belaskasih, bimbinglah lingkungan kami agar pada masa Prapaskah ini sungguh tergerak hatinya untuk membangun semangat solidaritas, bekerjasama merawat dan memelihara bumi ini dengan baik melalui perbuatan-perbuatan yang nyata.Marilah kita mohon

  • Bagi Diri Kita masing-masing

Allah yang yang penuh belaskasih, bimbinglah kami masing-masing agar pada masa Prapaskah ini sungguh bisa menyiapkan hati yang bersih sehingga boleh merayakan Paskah Kebangkitan Putra-Mu dengan penuh sukacita.Marilah kita mohon

P   Demikianlah ya Bapa doa yang kami panjatkan kepada-Mu. Engkau adalah Bapa yang Maha murah yang telah mengutus Yesus Kristus Putra-Mu untuk menyelamatkan kami.Engkau kami puji dan kami sembah, kini dan sepanjang segala masa.Amin.

Bapa Kami

Marilah kita satukan seluruh permenungan dan doa-doa kita dengan doa yang diajarkan Tuhan kita Yesus Kristus: Bapa kami...

Doa Penutup

Bapa yang penuh belaskasih, Engkau telah menuntun kami dalam permenungan-permenungan selama masa Prapaskah ini.Utuslah Roh Kudus-Mu agar membuka hati kami untuk memahami sabda-Mu dan menggerakkan hati kami untuk mulai berbuat yang baik sesuai dengan kehendak-Mu, sehingga kami layak merayakan Paskah Kebangkitan Putra-Mu.Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Berkat

P   Semoga Tuhan beserta kita

U  Sekarang dan selama-lamanya

P   Semoga kita semua senantiasa dilindungi oleh berkat Tuhan: Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.

U  Amin.

 

 

 

 

[1] KWI, Kerangka Dasar APP Nasional 2020 – 2022, 2019, halaman 2 – 3.

[2]Fransiskus, Ensiklik Laudato Si: Perawatan Rumah Kita Bersama, 2015, nomer 1.

[3]Ibid., nomer 2

[4]Ibid., nomer 5

[5] Bdk. Gaudium et Spes no. 64

[6] Bdk. CA 29; SRS 27-28; PP 43-44

[7] Bdk. GS 64; GS 26

[8] GS 74

[9] Bdk. GS 70

[10] Yohanes Paulus II, Ensiklik Laborem Exercens: Dengan Bekerja, 14 September 1981, 19.

[11] Yohanes Paulus II, Ensiklik Centesimus Annus: Tahun ke Seratus, 1 Mei 1991, 31.

[12] Yohanes Paulus II, Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis: Keprihatinan Sosial, 30 Desember 1987, 33.

[13]Pidato untuk Masyarakat Adat dan Petani, Cuilapán, Meksiko, 29 Januari 1979, 6.

[14] Bdk. Message for the 1990 World Day of Peace: Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia, 1990, 8.

[15]Fransiskus, Ensiklik Laudato Si: Perawatan Rumah Kita Bersama, 2015, nomer 93.

[16] Konferensi Waligereja Paraguay, Surat Pastoral El campesino Paraguayo y la tierra: Petani Paraguay dan Tanah; 12 Juni 1983,2,4,d; Ensiklik Laudato Si, nomer 94.

[17] Konferensi Waligereja Selandia Baru, Statement on Environmental Issues: Pernyataan tentang Isu-isu Lingkungan; 1 September 2006; Ensiklik Laudato Si, nomer 95.

[18] Fransiskus, Laudato Si, nomer 96.

[19] Paulus VI, Ensiklik Populorum Progressio, 26 Maret 1967, 34.

[20] Benediktus XVI, Ensiklik Caritas in Veritate, 29 Juni 2009, 32.

[21] Fransiskus, Ensiklik Laudato Si, 24 Mei 2015, 127.

[22] Benediktus XVI, Ibid.

[23] Ibid.

[24] Fransiskus, Ibid., 128

[25] Yohanes Paulus II, Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 1990, no. 1

[26] Fransiskus, Ibid., 204

[27]Ibid., 206

[28]Earth Charter (Piagam Bumi), Den Haag (29 Juni 2000).

[29] Fransiskus, Ibid., 207

[30] Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii Gaudium (Sukacita Injil), 24 November 2013, no. 261

[31] Fransiskus, Laudato Si, no. 216

[32] Benediktus XVI, Homily for the Solemn Inauguration of the Petrine Ministry (Homili pada Inaugurasi Meriah ke Pelayanan Petrus); 24 April 2005

[33] Fransiskus, Ibid., no. 217

[34] Konferensi Waligereja Australia, A New Earth – The Environmental Challenge (Suatu Bumi Baru – Tantangan Lingkungan), 2002

[35] Fransiskus, Ibid., no. 218

[36] Romano Guardini, Das Ende der Neuzeit, 72 (The End of Modern World, 65-66)

[37] Fransiskus, Ibid., no. 219

[38] Fransiskus, Ibid., no. 241

[39] Ibid., no. 242

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *