Author name: Komsos Tanjungkarang

Sejarah Gereja Katedral Tanjungkarang

Berbicara tentang sejarah Paroki Katedral Kristus Raja, Keuskupan Tanjungkarang mau tak mau kita harus membuka lembaran-lembaran yang lebih tua lagi. Tidak mudah untuk melacak dokumen yang sahih kapan di Pulau Sumatera ini berdiri Gereja Katolik dan dilayani oleh para misionaris. Beberapa sumber mengatakan bahwa pada masa pendudukan Portugis pastor-pastor almusenir (pastor tentara) juga menyebarkan Kabar Gembira kepada masyarakat. Tetapi dengan berakhirnya pendudukan Portugis dan masuknya VOC berakhir pula karya misi di Sumatera.   Untuk lebih lanjut mengenai sejarah Gereja Katedral Kristus Raja Tanjungkarang, Anda dapat mengunduh file PDF nya sejarah-keuskupan-tanjungkarang   Terimakasih atas perhatianya dan Berkah Dalem

Sejarah Gereja Katedral Tanjungkarang Read More »

New Normal Keuskupan Tanjungkarang

Pemerintah Pusat telah melonggarkan peraturan pembatasan aktivitas sosial (lih SE Menag No. SE 15 Th 2020) dan Arahan Presiden tanggal 15 Mei 2020 tentang Prosedur Standar Tatanan Baru (New Normal). Apa itu “New Normal”? Secara sederhana “New Normal” adalah pelaksanaan aktivitas hidup ‘normal’ tetapi dengan budaya ‘baru’ yaitu kebiasaan sehat dan aman di dalam situasi pandemi. Jadi aktivitas normal dijalankan, dengan tetap waspada kepada bahaya Covid-19, karena pandemi sebenarnya belum selesai. Untuk itulah dirasakan perlunya pedoman umum untuk pelayanan kehidupan Umat Katolik di Keuskupan Tanjungkarang, menyangkut “cura animarum”, terutama pelayanan-pelayanan Sakramental dan Adminis­tratif. Pedoman berikut dirumuskan sebagai acuan bersama, dengan harapan para pastor di paroki atau unit pastoral bersama dewan pastoral mempelajari, lalu mempertimbangkan, dan kemudian mengambil keputus­an yang tepat dan perlu untuk wilayah yang digembalakannya, tanpa mengabaikan pedoman pemerintah daerah dan kewaspadaan akan pandemi yang masih belum tuntas ini. Berikut Surat Keputusan Nomor 022/SK/VI/2020 Untuk SK dalam bentuk PDF dapat di unduh disini Petunjuk praktis untuk pelayanan kehidupan Umat Katolik di Keuskupan Tanjungkarang dapat diunduh disini  Petunjuk praktis untuk pelayanan kehidupan Umat Katolik di Keuskupan Tanjungkarang dalam bentuk buku (siap cetak) dapat diunduh disini   Demikin informasi terbaru mengenai pelayanan kehidupan Umat Katolik di Keuskupan Tanjungkarang pada masa pandemi Covid-19. Silahan bagikan kepada umat yang lain. Terimakasih!

New Normal Keuskupan Tanjungkarang Read More »

BELAJAR KITAB SUCI DI ZAMAN YESUS

Pengantar Dalam keempat Injil, salah satu gelar yang paling banyak dikaitkan dengan Yesus adalah gelar guru atau dalam bahasa Yunani, didaskalos. Selain istilah ini, Injil Lukas, masih menggunakan istilah lain, yaitu epistetes, yang artinya sebenarnya mirip saja. Istilah ini kira-kira sepadan dengan istilah Ibrani, rabi, yang juga memiliki arti guru. Penggunaan gelar ini rasanya mau menunjukkan bahwa bagaimanapun juga, Yesus dipandang sebagai seorang pengajar. Di beberapa bagian dalam Injil kita memang menemukan Yesus yang tampil sebagai guru yang mengajar secara istimewa. Dalam Kotbah di Bukit, misalnya, ada bagian yang dalam Alkitab kita diberi judul “Yesus dan Hukum Taurat” (Mat 5,17-48). Di situ Yesus ditampilkan sebagai seorang yang sangat paham tentang Kitab Suci Yahudi dan memberikan paham tandingannya. Juga dalam kisah percobaan di padang gurun, Yesus digambarkan sebagai seorang yang menguasai Kitab Suci sehingga bisa berdebat dengan Iblis (Mat 4,1-11). Fakta semacam itu mungkin menimbulkan suatu pertanyaan yang didasari oleh keingintahuan. Bagaimana pada zaman itu, pendidikan iman dilangsungkan sehingga Yesus, seorang Galilea, juga bisa mempunyai pengenalan yang baik akan Kitab Suci-Nya? Sesuatu paparan singkat akan hal ini mungkin bisa memberikan inspirasi bagi kita sekarang ini dalam mewartakan Kitab Suci. Ini yang mau kita buat dalam tulisan ini. Tentu saja kita mesti mengakui bahwa topik pendidikan seperti ini sungguh sebenarnya merupakan satu topik raksasa. Tidak banyak yang bisa kita sampaikan di sini. Tetapi meskipun begitu, semoga yang sedikit ini masih bisa menunjukkan kegunaannya. Alkitab Dalam Hidup Orang Yahudi Untuk bisa memahami pendidikan dalam kehidupan orang Yahudi, kita mesti mengetahui tempat Hukum Taurat dalam kehidupan dan pemikiran orang Yahudi. Sementara untuk bisa memahami tempat Hukum Taurat dalam kehidupan orang Yahudi, kita mesti mundur beberapa abad sebelum kelahiran Kristus, ke masa Pembuangan Babilonia. Pada tahun 587 Kerajaan Yehuda dihancurkan oleh Raja Nebukadnezar dari Babilonia, dan sebagian besar penduduk Yudea dibuang ke Babel. Mereka kehilangan segalanya. Tanah air yang merupakan Tanah Terjanji dan Bait Allah, yang merupakan tempat kehadiran Allah, semuanya terlepas dari tangan mereka. Peristiwa ini tentu menimbulkan krisis mendalam bagi bangsa Israel. Mereka merasa YHWH, Allah Israel sudah meninggalkan mereka. Hubungan perjanjian selesailah sudah. Tetapi karena pewartaan beberapa nabi, seperti misalnya Yeremia dan Deutero-Yesaya, bangsa Israel bisa diyakinkan bahwa hubungan dengan Allah mereka tidak berakhir. Di satu pihak, pengalaman di pembuangan, tanpa Tanah Terjanji, tanpa Raja, tanpa Bait Allah, akhirnya justru membawa pencerahan bagi bangsa Israel. Hubungan dengan YHWH  tidak lagi terikat pada hal-hal yang bersifat material, entah Tanah Terjanji, atau Bait Allah, atau mekanisme kurban. Hubungan dengan Allah menjadi lebih personal dan lebih spiritual. Karena Bait Allah tidak ada, maka perhatian beralih ke Firman, Hukum Musa menjadi Hukum Tuhan sendiri. Di sini kita melihat sesuatu yang amat penting yaitu pergeseran dari Bait Allah ke Firman Allah. Bagi umat yang dalam Pembuangan, hubungan dengan Allah dibina melalui Firman Allah, atau Taurat itu sendiri. Ibadat sinagoga yang diwarnai dengan pembacaan Firman Allah kiranya dimulai pada periode ini. Di lain pihak, bangsa Israel mengakui bahwa pembuangan tidak lain dan tidak bukan adalah penghukuman atau kutuk perjanjian karena mereka telah berulang kali meninggalkan Allah. Oleh karena itu, setelah mereka pulang dari pembuangan, Taurat menjadi pusat hidup mereka. Mereka tidak mau pengalaman pahit terulang kembali. Mereka menjadi bangsa yang mau setia 200% kepada Hukum Taurat. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa bagi bangsa Israel, Hukum Taurat menempati tempat yang istimewa. Dari perspektif inilah penghayatan orang Israel terhadap Taurat mesti ditempatkan. Usaha Pendidikan Alkitab “Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal Hukum Taurat, terkutuklah mereka” (Yoh 7: 49). Inilah yang kiranya menjadi keyakinan sebagian besar orang Israel setelah pembuangan. Dari keyakinan itu, kita bisa menduga ke arah mana implikasinya. Bagi bangsa Israel, pemahaman akan Hukum Taurat dipandang sebagai harta tak ternilai yang mesti dikejar di atas yang lain. Tidak mengherankan bahwa memahami Hukum Taurat merupakan hal pokok yang mesti diusahakan oleh setiap orang Israel dengan segala macam cara dan usaha. Menurut Mishnah, traktat Abot 5,21 dilukiskan tahap-tahap dalam kehidupan seorang manusia. Daftarnya adalah sebagai berikut: Pada umur lima tahun (seorang siap untuk belajar) Kitab Suci; pada umur sepuluh, Mishnah; pada umur tiga belas, Perintah-perintah; pada umur lima belas, Talmud; pada umur delapan belas, perkawinan; pada umur dua puluh, siap mengejar panggilan hidup; pada umur tiga puluh, berada pada kekuatan penuh; pada umur empat puluh, pengertian; pada umur lima puluh, nasehat; (bdk. Bil 8,25) pada umur enam puluh, usia tua; (bdk. 1Taw 29,28) pada umur tujuh puluh, rambut putih; pada umur delapan puluh, kekuatan ekstra; (bdk. Mzm 90,10) pada umur sembilan puluh, jompo; pada umur seratus, seolah-olah sudah meninggal. Tahap-tahap ini bisa dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok: a. sampai dengan umur 18 tahun adalah masa persiapan; b. mulai umur 20 adalah masa hidup yang beraktivitas penuh; dan c. mulai umur 60 tahun adalah hidup yang mulai menurun. Kita melihat masa persiapan seorang remaja Yahudi sungguh diwarnai oleh studi tentang keagamaan, khususnya studi teks-teks suci. Ada dua institusi yang kiranya menyediakan pembelajaran ini. Yang pertama adalah keluarga yang merupakan tempat pendidikan pertama bagi setiap anak Yahudi. Kemungkinan besar, pendidikan awal di dalam keluarga masih merupakan pendidikan baca-tulis yang bersifat elementer dan bersifat praktis berkaitan dengan pekerjaan orang tuanya. Yang kedua adalah sistem sekolah. Beberapa ahli mengatakan bahwa sudah sejak abad pertama mayoritas remaja Yahudi mengenyam pendidikan dasar di sekolah yang didedikasikan pada membaca Kitab Suci Ibrani, yang biasa disebut bet ha-sefer (sekolah kitab, school of the book). Menurut catatan Mishnah di atas, seorang anak laki-laki Yahudi mulai belajar di bet ha-sefer pada usia sekitar 5 tahun. Mempelajari Kitab Suci pada usia semuda itu berarti belajar dari tahap yang paling awal, yaitu belajar membaca dan menulis. Mungkin proses ini diawali dengan mempelajari 22 alfabet Ibrani dengan pertama-tama membaca dan menuliskannya di batu tulis, kemudian dilanjutkan dengan latihan melengkapi kalimat, menuliskan nama, dsb. Setelah seorang anak mempunyai keakraban dengan soal baca-tulis, mulailah dia melatih diri dengan membaca potongan-potongan teks-teks suci (mungkin masih dalam bentuk gulungan atau scroll), dan akhirnya membaca gulungan Taurat yang utuh. Tidak bisa dikesampingkan juga metode pengajaran yang terdiri dari membaca keras-keras dan kemudian mengulangi bacaan tersebut. Pada usia 12 atau 13 tahun, seorang remaja Yahudi selesai menjalani

BELAJAR KITAB SUCI DI ZAMAN YESUS Read More »

PKSN 2020 Online: Membangun Cerita Indah dan Manis di Tengah Pandemi

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) Konferensi Waligereja Indonesia tahun ini diselenggarakan bukan di satu Keuskupan melainkan di ranah virtual atau online. “Awalnya, Komsos KWI sudah menunjuk Keuskupan Atambua untuk menyelenggarakan PKSN pada 1-7 Juni. Namun, Pandemi Covid-19 memaksa kita tinggal di rumah dan menjalankan social distancing. Mau tidak mau kita juga harus membatalkan (aktivitas offline PKSN ini) dan menundanya,”ujar Sekretaris Eksekutif Komsos KWI, RD Steven Lalu Pr. Penundaan ini menurut Romo Steven, tidak meniadakan PKSN untuk menyebarkan pesan Paus di Hari Komunikasi Sedunia ke-54 yang mengajak setiap orang membagikan cerita-cerita positif  khususnya di saat Pandemi Covid-19 yang memaksa orang tinggal di rumah dengan segala dinamikanya. Masih melanjutkan tema-tema sebelumnya yang banyak bicara tentang hoaks, cerita palsu dan membangun komunitas, kali ini Paus Fransiskus fokus pada tema “cerita”.  Dengan tema “Hidup Menjadi Cerita : Menjahit Kembali yang Terputus dan Terbelah,” PKSN yang sudah diselenggarakan ketujuh kalinya ini, menurut Romo Steven mengajak kita semua agar merajut cerita yang mampu memandang dunia dan peristiwa dengan penuh kelembutan. “Di tengah hiruk pikuk suara dan pesan  yang membingungkan, kita butuh cerita manusiawi yang bicara tentang diri sendiri dan segala keindahan di sekitar,”ujar Paus seperti dikutip dari pesan resminya. Dengan dasar Kitab Keluaran (10:2) yang berbunyi “Supaya engkau dapat menceritakan kepada anak cucumu” Paus menyerukan agar kita menenun kisah-kisah manis dan indah tentang bagaimana kita menjalin benang dan membangun hubungan satu sama lain dalam hidup ini antara sesama, lingkungan dan Tuhan. Kata Paus, Keluaran 10:2 menekankan kesetiaan Allah yang selalu hadir untuk manusia dan membebaskan manusia dari penindasan. Kesetiaan Allah diceritakan turun temurun dalam Perjanjian Lama dan diteruskan dalam Perjanjian Baru yang menceritakan pewahyuan Allah dalam diri Yesus. Ini membuat Allah terajut dalam kemanusiaan kita memberi cerita baru, menjadi cerita Ilahi. Banyak cerita manusia kemudian menjadi kisah dan karya agung yang menginspirasi dan melengkapi Injil. Di dalamnya  Roh Kudus berperan menuliskan dalam hati manusia meski ditulis pada garis bengkok sekalipun. “Cerita kita menjadi bagian dari setiap cerita agung itu ketika kita menaruh cinta dalam cerita-cerita itu setiap hari. Jangan sekadar menyesal dan sedih tetapi ceritakanlah hati yang terpenjara itu kepada Allah Yang Maha Kasih supaya kita dapat menyimpul kembali jalinan hidup. Bahkan bila cerita kita buruk, kita bisa belajar memberi ruang untuk penebusan,”kata Paus. Yang utama, kata Bapa Suci, cerita itu adalah sarana mengingat siapa diri kita di hadapan Allah, memberi kesaksian apa yang ditulis Roh Kudus.   Lomba-lomba dan Pelatihan Online Masih seperti sebelumnya, kegiatan PKSN ( 24 – 30 Mei ) yang bertujuan menggemakan pesan Paus ini juga diisi dengan berbagai macam lomba selain ekaristi online dan sosialisasi pesan paus lewat media sosial (Facebook, Twiiter, Instagram, Website Mirifica). “Hanya saja kali ini semua kegiatan dilakukan secara online. Dan kita sudah memulainya (lomba-lomba) sejak awal Mei,”ujar Romo Steven. Lomba-lomba yang sudah direncanakan akan diselengarakan antara lain : Lomba Konten Kreatif Digital (Lomba Caption, Rosary Challenge, Cerita Berantai), Lomba Podcast Pewartaan, Lomba Menulis Opini, Lomba Menulis Feature- 4 Tahapan, dan Lomba Bercerita yang divideokan. Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligeraja Indonesia (Komsos KWI) sebagai penyelenggara dibantu komsos seluruh keuskupan di Indonesia juga menyelenggarakan pendampingan serta online course untuk memantapkan para peserta dalam mengikuti lomba. Kegiatan pendampingan dan kursus online ini, menurut Romo Steven bahkan bakal berlanjut hingga setahun ke depan. Jadi memungkinkan para pegiat komsos, para biarawan dan biarawati serta Orang Muda Katolik (OMK) yang punya minat di bidang pewartaan bisa mengikuti berbagai kegiatan secara online dan belajar banyak hal. Mulai dari menulis kreatif, memproduksi podcast/ radio, mencipta lagu, jurnalistik, dan masih banyak lagi. Diharapkan, seluruh umat Katolik dan masyarakat Indonesia, juga keluarga-keluarga yang sedang tinggal di rumah karena Pandemi Covid-19, orang-orang muda yang sangat aktif di media sosial dan para pegiat karya komsos Keuskupan dan Paroki ikut serta meramaikan kegiatan ini. “Kami ingin menggerakkan umat dan masyarakat untuk berbagi cerita positif, inspiratif dan menyatukan sesuai pesan Paus di Hari Komunikasi Sedunia ke-54 (24 Mei) tahun ini,”ujar Romo Steven. (Abdikwi)

PKSN 2020 Online: Membangun Cerita Indah dan Manis di Tengah Pandemi Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top