Author name: Komsos Tanjungkarang

Pemuda Katolik Tulangbawang Jaga Keamanan Saat Hari Raya Nyepi

Sejumlah orang muda pagi itu sekitar pukul 05.00 WIB telah  membaur bersama orang muda berseragam memakai penutup kepala, baju seragam warna kemerahan dan bawah pakai sarung. Mereka berkumpul di perbatasan jalan masuk perkampungan warga masyarakat Bali yang beragam Hindu. Mereka adalah Pemuda Katolik Tulangbawang sedang membantu Pemuda Hindu (Pecalang) menjaga keamanan pada titik-titik perbatasan masuk perumahan yang mayoritas beragama Hindu saat merayakan Hari Raya Nyepi, Rabu, 2 Maret 2022.   Yustinus Sinyo salah satu koordinator pemuda Katolik Tulangbawang mengatakan, kegiatan membantu pengamanan saudara-saudara kita yang merayakan Nyepi ini telah rutin dilaksanakan sejak 8 tahun yang lalu. “Di Tulangbawang terjalin sangat erat dan kompak, saling suport antar pemuda dalam rangka mensukseskan acara keagamaan masih-masing agama.” Lebih lanjut Sinyo mengatakan, saat umat Katolik merayakan hari raya Natal, Paskah atau ada acara kegiatan lainnya yang menghadirkan banyak umat, maka pemuda-pemuda dari berbagai lintas agama berpartisipasi penuh dalam menjaga keamanan sehingga acara kegiatan kami berjalan lancar tanpa ada halangan. “Dan kebersamaan saling membantu sesama umat beragama akan kami terus tingkatkan dan galakkan dikalangan generasi muda lintas agama sehingga kerukunan umat beragama akan terus tumbuh dan berkembang khususnya wilayah Tulangbawang,” pungkasnya.*** Yustinus Sinyo

Pemuda Katolik Tulangbawang Jaga Keamanan Saat Hari Raya Nyepi Read More »

Pemberkatan Pastoran Stasi St. Petrus, Panjang

Rumah Erika Dibongkar Puluhan tahun lamanya umat Stasi St. Petrus, Panjang, Paroki Ratu Damai, Teluk Betung mendapat kebaikkan hati dari Sekolah Xaverius Panjang. Ketika mengadakan even-even besar, mereka meminjam ruangan yang ada di kompleks sekolahan itu. Sedangkan kegiatan seperti: Pembekalan Katekumen atau Komuni Pertama diadakan di dalam gedung gereja. Sedangkan untuk rapat stasi, tempat pastor makan usai misa, diadakan di “Rumah Erika”. Rumah Erika ini terdiri dari empat kamar. Dahulu Rumah Erika ini adalah tempat tinggal guru Xaverius yang belum berkeluarga. Karena kosong, tidak ada yang menempati maka rumah ini dipakai oleh Gereja untuk pertemuan. Dari keprihatinan inilah umat stasi Panjang memiliki mimpi. Mereka ingin memiliki gedung untuk tempat tinggal gembalanya sekaligus ruang yang layak untuk berbagai kegiatan pastoral. Pastor paroki Teluk Betung, RD Apolonius Basuki mendukung mimpi umatnya itu. Membuat rencana, Rumah Erika dibongkar. Di atas tanah itu dibangun pastoran yang baru. Selang berapa waktu kemudian dibentuk panitia pembangunan. Terpilih Ketua Panitia Pembangunan Pastoran, Paulus Sukamto. Sedangkan, Martinus Jonny Sutomin sebagai wakilnya. Kedua orang ini saling bersinergi dan melengkapi satu sama lain. Martinus Jonny setiap hari mengawasi seluruh proses pembangunan itu. Tangan-tangan kasih Umat Stasi St. Petrus yang terdiri dari tujuh lingkungan ini mempersembahkan segala yang mereka miliki baik berupa pikiran, tenaga, waktu, mau pun finansial. Doa senantiasa dipanjatkan agar Tuhan selalu memberkati seluruh perjuangan umat stasi ini. Seiring waktu proses pembangunan sempat tersendat karena pandemi covid-19. Namun, Tuhan tetap menyertai dan menyelenggarakan pekerjaan baik umat stasi Panjang ini. Tangan-tangan kasih Tuhan lewat para donatur terus mengalir tepat pada waktunya. Martinus Jonny Sutomin mengaku, modal awal yang mereka miliki sekitar 600 juta rupiah. Tuhan sendiri yang menggandakannya lewat kebaikkan hati para donatur. Ada yang menyumbang bata, semen, pasir, besi, empat bed tidur untuk pastor, meja kerja, kran air panas dan air dingin, AC, kipas angin besar dan kecil. Dalam tempo delapan bulan lamanya berdiri sebuah bangunan yang megah dan bersih. Ini adalah karya Allah semata. Gedung pastoran ini adalah milik kita bersama. Semoga dengan adanya gedung pastoran ini kegiatan gereja semakin aktif. Umat semakin rajin, harap Jonny. Diberkati Uskup Pastoran Stasi St. Petrus Panjang, Paroki Ratu Damai, Teluk Betung ini diberkati oleh Uskup Agung Palembang sekaligus Administrator Apostolik Keuskupan Tanjungkarang Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Selasa, 22 Februari 2022. Perayaan Ekaristi berlangsung dengan prokes yang ketat. Umat yang hadir dibatasi. Namun, itu tidak mengurangi kebahagiaan dan rasa haru yang mendalam atas karya Allah untuk seluruh proses pembangunan pastoran ini. Mgr. Harun Yuwono memberkati salib-salib dan ruangan pastoran yang baru. Di akhir Perayaan Ekaristi Mgr. Harun Yuwono menandatangani prasasti. Didampingin oleh: Rm. Apolonius Basuki Pr, Rm. Bambang Condro Saptono Pr, Rm. Andreas Sutrisno Pr, Paulus Sukamto, dan Martinus Jonny Sutomin. Mgr. Yohanes Harun Yuwono mengatakan, bangunan pastoran yang baru dan megah ini harus dirawat. Agar dapat digunakan untuk puluhan tahun ke depan. Pastoran itu tempat tinggal pastor. Tetapi yang datang adalah umatnya. Saya berharap, pastor lebih dekat dengan umat. Umat juga lebih dekat dengan gembalanya. Sehingga kebutuhan umat terlayani lebih baik. Akan tetapi pastoran baru ini tidak akan segera dihuni oleh pastor. Tunggu uskup yang baru, ujar Uskup. Tidak ada stasi di Keuskupan Tanjungkarang ini memiliki pastoran yang semegah dan sebersih Stasi Panjang ini, tambahnya lagi sambil tersenyum. ***  M. Fransiska FSGM

Pemberkatan Pastoran Stasi St. Petrus, Panjang Read More »

KEKUATAN KEPEDULIAN SEBAGAI UPAYA UNTUK STOP PERDAGANGAN ORANG

Human Trafficking (perdagangan orang/manusia) adalah salah satu luka terdalam kemanusiaan saat ini. Martabat manusia direndahkan dan manusia dianggap sebagai barang dagangan. Dari seluruh situasi itu, korban yang paling rentan adalah perempuan dan anak-anak. Menurut statistik PBB tentang perdagangan manusia (Laporan Global UNODC 2020 tentang Perdagangan Orang) sebesar 72 % korban perdagangan orang adalah perempuan dan anak perempuan, dan persentase ini meningkat secara signifikan dalam konteks perdagangan untuk eksploitasi seksual. Menghadapi kegagalan model ekonomi berbasis eksploitasi seperti itu, perempuan terpanggil untuk mengambil peran sebagai agen perubahan untuk menciptakan sistem ekonomi yang berbasis pada kepedulian terhadap sesama dan masyarakat rumah, melibatkan semua orang. Hal itulah yang diangkat dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Talitha Kum bekerjasama dengan Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Tanjungkarang, Selasa, 8 Februari 2022 bertempat di Matow Way Hurik, Tanjungseneng. Dengan tema: “Kekuatan Kepedulian: Perempuan, Ekonomi, Perdagangan Manusia”. Kegiatan dihadiri oleh komponen masyarakat lintas iman khususnya yang peduli terhadap korban perdagangan manusia, dengan pemantik diskusi Suzana Indriyati Caturiani, akademisi, dosen FISIP Universitas Lampung dan Tymu Irawan dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Lampung dengan moderator diskusi Yuli Nugrahani, Ketua KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang. Dalam kegiatan ini seluruh peserta menjadi narasumber yang menambahkan data, masalah-masalah dan juga peluang-peluang aksi yang sudah dan bisa dikerjakan untuk menghentikan perdagangan orang. Peserta yang hadir antara lain dari LSM Damar, LAdA, Fatayat NU, Gusdurian Lampung, Wanita Katolik RI, orang muda Katolik, para biarawati dan sebagainya sejumlah 25 orang dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Selain itu, kegiatan ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal youtube Komsos Keuskupan Tanjungkarang untuk menjangkau semua mitra jaringan di mana pun berada. Kegiatan dibuka oleh Sr. M. Tarsisia FSGM, Ketua Talitha Kum Tanjungkarang yang mengajak semua yang hadir untuk terlibat aktif dalam kegiatan ini. Puncak kegiatan, semua yang hadir berdoa menurut agama masing-masing, diwakili oleh peserta dari berbagai agama yang hadir dalam kegiatan ini. Pendeta Budiman dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) mewakili Kristen Protestan, Luke Silalahi dari Paguyupan Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) mewakili Budha, Tymu Irawan dari SBMI mewakili Islam, Desak Ketut Suastika dari Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) mewakili Hindu, dan Sr. M. Tarsisia FSGM mewakili Katolik. Doa dilambungkan dengan ujub untuk para korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO), semoga tidak pernah lagi ada korban dan semua semakin banyak orang untuk peduli menghentikan TPPO. Pada bagian akhir, kesadaran tentang korban ingin didengungkan lewat berbagai aksi dan sosialisasi. Dengan adanya pandemi, masyarakat dan institusi telah menemukan kembali nilai kepedulian terhadap sesama sebagai pilar keamanan dan kohesi sosial, serta komitmen untuk menjaga ruang bersama dalam rangka mengurangi dampak buruk dari perubahan iklim dan degradasi lingkungan, yang terutama mengurangi kemiskinan. Kekuatan kepedulian adalah satu-satunya cara untuk mengatasi perdagangan manusia dan segala bentuk eksploitasi.***   Yuli Nugraheni  (Narahubung/Ketua KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang/HP. 0812 7925 222)  

KEKUATAN KEPEDULIAN SEBAGAI UPAYA UNTUK STOP PERDAGANGAN ORANG Read More »

Pelantikan Pastor Paroki St. Yusuf Pekerja Tulangbawang

Serah terima jabatan Pastor Paroki St. Yusup Pekerja Tulangbawang berlangsung masih suasana menyambut Tahun Baru, Selasa, 4 Januari 2022. Tongkat estafet kegembalaan ini dari tangan Romo Thomas Eddy Susanto SCJ kepada penggantinya Romo Fransiskus Suradi SCJ. Ada dua momen dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Delegatus ad Omnia Rm. Yohanes Samiran SCJ ini. Pertama, Pelantikan Pastor Paroki yang baru, Romo Fransiskus Suradi SCJ. Kedua, Pelantikan dan Pemberkatan Dewan Pastoral Paroki St. Yusuf Pekerja Tulangbawang. Usai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan potong tumpeng dan ramah tamah. Perwakilan stasi-stasi memberikan tanda kasih kepada Romo Eddy Susanto SCJ selama tiga tahun penggembalaannya di Paroki ini. Rm. Eddy mendapat tugas perutusan baru dari Kongregasi SCJ, di Dokpen KWI, menggantikan Rm. Andreas Suparman SCJ yang terpilih menjadi provinsial SCJ. Perayaan ini dihadiri oleh ketua dan perwakilan seluruh stasi Paroki Tulangbawang. Bawalah yang ada padamu Bacaan Injil hari itu, tentang Yesus memberi makan kepada 5000 orang. Salah satu ayatnya, “Berapa banyak roti yang ada padamu?” (Markus 6:38). Ayat ini yang dijadikan prinsip oleh Rm. Eddy Susanto SCJ dalam menggembalakan umatnya di Paroki Tulangbawang selama tiga tahun. Apa yang kamu miliki? Kalau Anda punya cinta, walau pun cuma sedikit, bawalah ke sini. Maka, akan dilipat gandakan. Anda punya semen, walau hanya satu sendok, bawalah ke sini. Maka, akan dilipat gandakan. Dikumpulkan. Nanti bisa menjadi pagar. Begitu pula kalau Anda tidak punya apa-apa, tetaplah datanglah kesini. Tapi tidak mungkin kalau Anda itu tidak memiliki apa-apa. Anda punya pemikiran. Ide. Gagasan. Bawalah ke sini. Mari kita olah bersama, untuk membangun Gereja. Begitulah taktik ia membangun Gereja Paroki di Tulangbawang ini. Rm. Eddy, panggilan akrabnya, mengaku belum banyak yang ia kerjakan. Banyak hal yang blm selesai. Tapi ia percaya, apalagi kehadiran saudara saudari pada hari ini. Sungguh sangat luar biasa. Mereka tidak hanya sekedar hadir. Tetapi, di sana ada cinta. Harapan. Doa. Dan juga ada gembala yang baru dilantik, Rm. Fransiskus Suradi SCJ. Lewat hidup dan panggilan Romo Suradi SCJ, yang akan melipatgandakan semua itu. Diperkaya dengan pengalaman-pengalaman menjadi imam selama sekitar 20 tahun. Dan itu sudah dianggap dewasa. Sudah mendapat KTP. Sudah pantas menjadi pastor kepala, untuk pertama kalinya. Itu dikatakan Rm. Eddy Susanto SCJ dihadapan umat, di akhir Perayaan Ekaristi.   Tidak diobral di pasar Rm. Eddy memiliki kesan indah terhadap umat di Paroki Tulangbawang ini. Ada yang sudah kelihatan baiknya. Ada yang masih bersembunyi. Sehingga saya harus berjuang sampai berdarah-darah agar kebaikannya itu muncul. Tetapi semuanya baik. Karena Tuhan menciptakan semua baik adanya. Inilah seninya hidup. Dan sangat menyenangkan saya, ujar Rm. Eddy. Kesedihan yang pernah terjadi, jangan dipersoalkan. Bawalah itu semua kepada Tuhan: iman. Harap. Cinta. Lebih sehat dibawa kepada Tuhan, daripada diobral di pasaran. Persoalan dalam keluarga. Persoalan iman. Bawalah semua itu kepada Tuhan. Selamat berjuang. Siapkan diri untuk bersinode bersama. Jalani bersama-sama arah dasar keuskupan Tanjungkarang tahun ini, Tahun Komunitas Basis Gerejawi. Inilah yg menjadi landasan gerak keuskupan kita. Kita percaya, bahwa kita semua menjadi perpanjangan tangan Tuhan. Jangan berkata, saya tidak punya apa-apa. Atau saya masih muda, tambahnya lagi. Ziarek Ajakan Rm. Eddy untuk memberikan apa yang kita miliki, disambut gembira oleh Rm. Fransiskus Suradi SCJ. Ia membawa diri apa adanya. Segala yang ia miliki. Kemampuan. Bakat. Pengalaman. Pengetahuan. Dan tentu, bantuan yang diberikan oleh Rm. Eddy. Berupa file pertanggungjawaban. Dan file itu juga telah dibuat rapi di komputer ruang kerja pastoran. Itu juga sebagai modal menjadi gembala sekaligus teman dalam seperjalanan bersama umat di Paroki Tulangbawang ini. “Saya pasti akan membacanya. Mempelajarinya.” Rm. Suradi melambangkan hidup sebagai imam itu seperti ziarek. Ziarah dan rekreasi. Ziarah itu mencari Tuhan. Rekreasi itu harus gembira. Jadi, bersama-sama mencari dan menemukan Tuhan dalam kegembiraan. Khususnya bersama umat di paroki Tulangbawang ini. Mari kita bersama-sama mewujudkan persaudaraan. Komunikasi. Kerjasama untuk membangun Gereja Paroki Tulangbawang ini, pinta Rm. Suradi SCJ.*** M. Fransiska FSGM  

Pelantikan Pastor Paroki St. Yusuf Pekerja Tulangbawang Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top