Author name: Komsos Tanjungkarang

Youth Gathering 150th FSGM

La Verna – Dalam rangka 150 th Kongregasi didirikan, Suster-Suster FSGM Propinsi St. Yusuf Pringsewu mengadakan Youth Gathering. Acara ini dilaksanakan di RR La Verna, mulai Jumat (19/7) hingga Minggu (21/7), dengan mengusung tema ‘Tuhan mengasihimu dan gereja membutuhkanmu’. Hadir dalam acara ini lebih dari 300 orang muda dari berbagai paroki di keuskupan Tanjungkarang, maupun juga OMK dari luar keuskupan Tanjungkarang. Youth gathering ini dibuka dengan serangkaian acara: gerak lagu theme song ‘Tuhan Mengasihi Kita, Greja Membutuhkan Kita’, sambutan-sambutan, tampilan tarian nusantara yang ditampilkan oleh anak-anak asrama putri st Elisabeth 3, Pringsewu. Dalam kesempatan sambutan, Propinsial FSGM Indonesia, Sr. M. Aquina FSGM, mengatakan bahwa merupakan sebuah kebahagiaan bagi kongregasi bahwa ada begitu banyak orang muda yang mau hadir pada kesempatan youth gathering ini. OMK berkumpul dari berbagai tepat menandakan kerinduan untuk saling berbagi dan belajar. Sr Aquina mengajak orang muda untuk ingat bahwa Gereja membutuhkan mereka. Orang muda tidak hanya hura-hura, namun bisa menjadi ujung tombak Gereja yang maju dan bergerak. Lebih jauh sr Aqunia menyampaikan bahwa acara ini diadakan dalam rangka 150 tahun FSGM berdiri. Pada kesempatan ini, ada berbagai acar ayang akan dilaksanakan. Inti dari semuanya adalah mengajak orang muda untuk mempunyai kesadaran bahwa ‘saya sungguh dikasihi Tuhan’. Ini menjadi dasar untuk mengembangkan diri dalam segala bidang kehidupan. Apapun tugas dan perutusan kita, kesadaran Tuhan yang menyertai menjadikan diri mampu menyadari bahwa setiap pribadi patut dibanggakan. Sr Aquina berharap bahwa segala sesuatu yang didapat pada proses ini pada akhirnya mampu dibagikan kepada siapa saja yang menjadi medan pelayanan dan kerja kita. Beliau menutup sambutannya dengan mengajak OMK meyakini bahwa ‘saya bisa dibanggakan’. Bapa Paus Fransiskus sungguh member tempat bagi orang muda. Maka para suster FSGM hendak berbagi sukacita dan kegembiraan yang mereka rasakan. Berkat yang para suster terima hendak dibagikan kepada seluruh peserta, supaya juga mengalami berkat yang sama. (YDW)  

Youth Gathering 150th FSGM Read More »

Mgr. Silvester: Imam Rendah Hati, Kuat dan Tekun, serta Setia

Adminstrator Apostolik Keuskupan Ruteng, Mgr Silvester San Pr, pada Rabu, 17 Juli 2019 memberikan sakramen imamat untuk enam diakon dari Ordo Fransiskan atau OFM. Perayaan tahbisan imam ini dilaksanakan di Gereja Paroki St. Fransiskus Assisi Karot, Ruteng. Dalam kesempatan ini, Mgr Silvester didampingi oleh Provinsial OFM Indonesia, Pastor Mikhael Peruhe OFM, Vikjen Keuskupan Ruteng Romo Alfons Segar Pr. Hadir pula puluhan imam lainnya dalam konselebrasi. Keenam imam yang menerima sakramen imamat adalah Pastor Charles Lelu Umbu Sogar Ame Talu OFM, Pastor Ancetius Evaritus Jebada OFM, Pastor Rupertus Herpin Hormat OFM, Pastor Yulius Fery Kurniawan OFM, Pastor Marselinus Kabut OFM dan Pastor Gregorius Febryanto Wendardins Ranus OFM. Dalam homilinya, Uskup Silvester mengajak para imam baru untuk mengenal jati diri mereka sebagai seorang imam dan rendah hati dalam melayani Kristus dan Gereja-Nya. “Kiranya para imam rendah hati, kuat dan tekun serta setia untuk melaksanakan tugas perutusan Yesus, yaitu menyelamatkan manusia, membawa pembebasan dan pemberdayaan bagi umat yang dilayani”, tegasnya. Uskup juga mengajak para imam agar selalu bersyukur atas anugerah yang telah diterima dari Tuhan dan melayani umat dengan penuh sukacita. Kepada umat, Uskup Silvester mengajak agar senantiasa menjadi orang yang berkenan di hati Allah, dengan hidup penuh kerendahan hati, menjauhkan sikap sombong dan angkuh serta dengan sukacita melaksakan tugas perutusan sesuai dengan panggilan hidup masing-masing. Selain keluarga para imam baru, dalam Misa ini hadir juga Bupati Manggarai Kamelus Deno, Wakil Bupati Manggarai Victor Madur, biarawan biarawati dan umat di Paroki Karot. (sumber: Katoliknews – ed. YDW)  

Mgr. Silvester: Imam Rendah Hati, Kuat dan Tekun, serta Setia Read More »

Surat Apostolik Maximum illud

Pada tahun 1919 (30 November) Paus Benediktus XV menerbitkan Surat Apostolik Maximum Illud.  Dalam rangka peringatan 100 tahun surat apostolik itu, Bapa Paus Fransiskus melalui suratnya kepada Prefek Kongregasi untuk Pewartaan Injil bagi Para Bangsa, mencanangkan bulan Oktober 2019 ini sebagai Bulan Misi Ekstraordinaria. Melalui dokumen ini Paus mengajak seluruh Gereja untuk menyadari tugas amat agung dan luhur yang diberikan oleh Yesus sendiri, yakni untuk mewartakan Injil. Untuk menjalankan perintah Tuhan ini bagi Gereja bukanlah suatu opsi, namun “tugas tak terelakkan”-nya, sebagaimana diingatkan oleh Konsili Vatikan II, di mana Gereja “pada hakikatnya bersifat misioner”. “Mewartakan Injil sesungguhnya merupakan rahmat dan panggilan yang khas bagi Gereja, merupakan identitasnya yang terdalam. Gereja ada untuk mewartakan Injil”. Dokumen ini bisa dibagi menjadi tiga bagian besar. Pertama, Paus menyampaikan tanggung jawab dari mereka yang menyelenggarakan misi. Para penyelenggara misi hendaknya bertindak bagaikan bapa “yang siap sedia, rajin, dengan penuh perhatian dan kasih; yang merangkul semua dan segalanya dengan penuh kasih sayang, dengan berbagi sukacita dan dukacita, mendampingi dan mendorong setiap prakarsa baik dan, pendek kata, menganggap seperti miliknya sendiri semua yang dipercayakan kepadanya. Kedua adalah memaparkan semacam panduan atau norma-norma yang penting bagi para misionaris. “Tentu saja sungguh menyedihkan, jika ada misionaris yang melalaikan martabatnya sendiri, sehingga lebih memikirkan tanah air duniawinya daripada surgawinya.” Bagian ketiga menyampaikan peran penting seluruh umat beriman untuk membantu penyelenggaraan misi. Bantuan itu bisa dalam bentuk doa, menumbuhkan jumlah para misionaris, dan materi yang diperlukan untuk mendukung misi. (Sumber: http://www.dokpenkwi.org/2019/07/18/telah-terbit-seri-dokumen-gerejawi-no-108-maximum-illud/) –YDW-  

Surat Apostolik Maximum illud Read More »

Renungan Harian, Jumat Biasa XV

Bacaan: Matius 12:1-8 Murid-murid memetik gandum pada hari Sabat 12:1 Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. 12:2 Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” 12:3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, 12:4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? 12:5 Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? 12:6 Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. 12:7 Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. 12:8 Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Renungan Lapar akan sabda Tuhan Diskusi Yesus dan orang Farisi hari ini berkaitan dengan hukum hari sabat dimana orang Yahudi tidak boleh melakukan aktivitas berat, termasuk memetik gandum. Diakhir diskusi Yesus menekankan bahwa ‘Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat’. Bisa jadi orang Farisi mengerti akan semua itu, tetapi sangat besar kemungkinan mereka tidak menerima dan merasa tersinggung, seperti dalam kisah lainnya. Kita bisa merenungkan tentang mengapa para murid memetik gandum pada hari itu. Diterangkan dalam Injil bahwa mereka lapar, maka kemudian memetik gandum untuk dimakan. Entah sabat atau tidak sabat, jika lapar memang setiap orang perlu makan untuk bertahan hidup. Hidup menjadi jauh lebih penting dari ‘sekedar’ hukum boleh tidak boleh bekerja pada sabat. Jika tidak ada hidup, maka juga tidak ada sabat. Makan bulir gandum adalah untuk mempertahankan hidup jasmani, memelihara tubuh supaya tetap bisa hidup normal dan baik. Itu yang dilakukan para murid, mempertahankan hidup jasmani. Dan Yesus mengamini itu, setiap manusia perlu memelihara hidup jasmani mereka. Karena hanya dengan jasmani yang sehat maka kehidupan lainnya juga akan lebih baik, termasuk mentaati hukum. Jika bulir gandum sangat penting untuk jasmani, apakah tubuh rohani kita juga tidak perlu ‘bulir gandum’? Apakah kita tidak lapar akan ‘bulir gandum rohani’? Jika kita tidak punya rasa lapar seperti para murid, bisa jadi ternyata hidup kita kering. Memang tidak mati, tetapi juga tidak berkembang apalagi menghasilkan buah. Lapar akan ‘gandum rohani’ menjadi tanda dahsyat bahwa manusia rohani kita berkembang. Doa: Tuhan, semoga aku mampu memelihara hidup jasmani dan rohaniku dengan tepat. Amin.  

Renungan Harian, Jumat Biasa XV Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top