Author name: Komsos Tanjungkarang

Gereja & Disleksia (part 1)

Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa dan Gereja, sehingga semua pihak diajak untuk terlibat dan berperan aktif dalam pendampingan tumbuh kembang anak dan imannya. Bagaimana dengan ABK (anak berkebutuhan khusus)? Apakah Gereja Katolik turut berperan aktif dalam pendampingan ABK? Apa yang bisa kita lakukan sebagai anggota Gereja? Artikel ini akan mengulas tentang disleksia yang dialami oleh banyak anak. Seringkali orang tua tidak tau apa itu disleksia dan bagaimana menyikapinya. Sebenarnya jika tau gejalanya dan ada tanggapan yang tepat, orang tua tidak perlu kuatir akan perkembangan anaknya. Gereja juga perlu memberi peneguhan bagi orang tua yang anaknya mengalami kekhususan ini. Ada banyak hal yang bisa dibuat oleh Gereja untuk ambil bagian dalam pastoral anak berkebutuhan khusus ini. Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille (tulisan timbul) dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat (bahasa tubuh) (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus) Selama ini, masih banyak masyarakat umum yang memiliki pemahaman bahwa anak berbakat, anak dengan kesulitan belajar tidak termasuk dalam ABK, sehingga banyak keluarga (khususnya orang tua) dan lingkungan terutama guru di sekolah yang terlambat menyadari bahwa anak didiknya memerlukan perhatian khusus. Masalah akan menjadi rumit ketika anak mengalami kemunduran dalam prestasi belajar, stres, dll. Semua hal itu akan mempengaruhi tumbuh kembang anak secara fisik dan mental, bahkan pertumbuhan imannya. Salah satu ABK yang akan dibahas dalam artikel ini adalah penyandang disleksia. DISLEKSIA (Si Pintar yang Sulit Membaca) Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan moment istimewa yang senantiasa menjadi bagian perhatian orang tua. Setiap ada kemampuan baru yang dicapainya merupakan prestasi tak ternilai bagi sang ayah bunda, dan sebaliknya, setiap hambatan dalam tumbuh kembangnya merupakan hal yang sangat merisaukan orang tua. Kemunduran dalam prestasi belajar termasuk salah satu diantara hal yang cukup mengkhawatirkan orang tua, apalagi jika pihak sekolah sudah mulai memberi “peringatan” atau “label-label” tertentu pada sang buah hati. Sayangnya, orang tua dan guru seringkali terlambat mengenali penyebab permasalahan yang dihadapi anak kita, sehingga anak baru dibawa berkonsultasi setelah mengalami gangguan belajar yang sangat mengkhawatirkan bahkan tidak jarang anak sudah terlanjur mengalami stress atau depresi akibat masalah yang dihadapinya tersebut. APA YANG DIMAKSUD DENGAN DISLEKSIA Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata”lexis” yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa”. Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Kesulitan membaca pada anak disleksia ini tidak sebanding dengan tingkat intelegensi ataupun motivasi yang dimiliki untuk kemampuan membaca dengan lancar dan akurat, karena anak disleksia biasanya mempunyai level intelegensi yang normal bahkan sebagian diantaranya di atas normal. Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis, dan ditandai dengan kesulitan  dalam mengenali kata dengan tepat / akurat, dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode symbol. Secara lebih khusus, anak disleksia biasanya mengalami masalah masalah berikut: Masalah fonologi Masalah mengingat perkataan Masalah penyusunan yang sistematis / sekuensial Masalah ingatan jangka pendek Masalah pemahaman sintaks (dirangkum dari Sumber: https://indigrow.wordpress.com/2010/10/29/disleksia-si-pintar-yang-sulit-membaca/  ­ – ed. Margreet)  

Gereja & Disleksia (part 1) Read More »

Renungan Harian, Senin Biasa XVII

PW. St. Marta Bacaan: Matius 13:31-35 Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi 13:31 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. 13:32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” 13:33 Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” 13:34 Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, 13:35 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: “Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” Renunga Jadilah orang yang berpengaruh Salah satu hal yang membuat orang bisa sukses adalah karena dirinya mampu mempengaruhi orang lain. Rasa belum pernah ada orang yang tidak berbuat apa-apa kemudian menjadi sukses dan terkenal. Paling banter dia akan mati mengenaskan. Atau kalau hidup pun juga tidak banyak mengenal dan dikenal orang. Tokoh-tokoh dunia terkenal karena karya-karya mereka yang mampu mempengaruhi orang lain. Dalam cara yang paling ampuh untuk mengubah sesuatu adalah dengan memberikan pengaruh yang besar. Injil hari ini berbicara tentang biji sesawi dan ragi. Keduanya dipakai Yesus untuk memberikan penjelasan tentang Kerajaan Sorga. Seumpama biji sesawi karena biji itu selalu bertumbuh. Dia yang paling kecil tetapi justru menjadi yang terbesar. Dari tidak kelihatan menjadi kelihatan, bahkan bisa menjadi pelindung bagi yang lain. Seumpama ragi karena ragi itu mampu meresap kesegala penjuru. Mengubah tepung menjadi adonan yang siap menjadi roti. Ragi itu mampu masuk meresak dan bahkan mengubah bentuk dari dalam. Hidup kita juga dalam perjalanan menuju ke kerajaan Sorga. Kerajaan sorga itu bukan hanya saat nanti, atau nun jauh disana, tetapi sudah datang dan sedang dalam perjalanan kepenuhan. Kita masuk di dalamnya. Maka seperti biji sesawi dan ragi, hidup kita adalah menggambarkan kerajaan sorga yang mampu member daya dorong bertumbuh dan meresap dalam segala sendi kehidupan. Dalam kehidupan bersama, biasanya yang terjadi adalah siapa yang kuat itulah yang paling dominan. Seperti biji sesawi dan ragi, kita sebenarnya dipanggil untuk menjadi orang yang berpengaruh. Hanya dengan kekuatan itulah kita akan mampu membawa perubahan. Jika tidak, kita hanya akan ikut arus. Dengan menjadi orang yang berpengaruh, kita bisa ikut menentukan arah kebaikan bagi banyak orang. Sebaliknya, jika yang merasuk itu bukan kebaikan, maka hidup kitapun juga akan jauh dari kebaikan. Doa: Tuhan, semoga kebaikanku member pengaruh bagi orang lain juga untuk melakukan kebaikan lainnya. Amin.  

Renungan Harian, Senin Biasa XVII Read More »

Renungan Harian, Minggu Biasa XVII

Bacaan: Lukas 11:1-13 Hal berdoa 11:1 Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” 11:2 Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. 11:3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya 11:4 dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” 11:5 Lalu kata-Nya kepada mereka: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, 11:6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; 11:7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. 11:8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. 11:9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 11:10 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 11:11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? 11:12 Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? 11:13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Renungan Tekunlah Ber-DOKAR Injil hari ini membawa kita pada permenungan akan diri kita sendiri. Pertanyaannya adalah manakah yang selama ini lebih dominan dalam diriku: kebanyakan waktu untuk berdoa? Atau kebanyakan waktu untuk bekerja? Kita masing-masing yang mampu menjawabnya. Bisa jadi pada umumnya mengatakan ‘selama ini aku lebih banyak bekerja dari pada berdoa’. Jawaban itu yang sangat logis terdengar. Berdoa dalam arti duduk diam terhening dalam kesendirian atau dalam keramaian biasa dilakukan oleh para pertapa, memang mereka mengkhususkan untuk itu. Namun demikian, mereka biasanya juga tetap bekerja. Kita sebagai manusia biasa sudah hampir pasti memilih untuk bekerja supaya menghasilkan sesuatu untuk bertahan hidup. Maka hampir seluruh waktu habis untuk bekerja dan bekerja. Tidak ada salah sama sekali ketika kita merasa untuk bertahan hidup harus bekerja. Justru memang untuk hidup orang harus bekerja. Yang tidak mau bekerja lebih baik juga tidak mau hidup harusnya. Bekerja menjadi ciri khas manusia. Kita diingatkan oleh Injil hari ini bahwa memang kita harus bekerja dengan tekun. Tetapi ternyata ada sisi lain yang juga harus menjadi perhatian: tekun berdoa. Kita diingatkan karena sering kali lupa bahwa doa kita perlukan untuk menyatukan jiwa raga kita dengan Sang Empunya kerja. Doa kita mengalir dalam pekerjaan, dan pekerjaan kita dijalani dengan semangat doa. Berdoa mempunyai daya yang dahsyat: “setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan”. Orang yang tekun berdoa menunjukkan kualitas hidupnya yang tekun juga dalam hal lainnya. Daya doa itu menjadikan kita mungkin untuk mendapatkan yang kita cari, menerima apa yang kita perlukan, dan membuat kita masuk dalam kebahagiaan Tuhan. Semoga doa sederhana ‘Bapa Kami’ menjadi pujian kita setiap hari, dimanapun dan kapanpun. Doa: Tuhan, ajarilah aku tekun mendoakan dan menghidupi doa Bapa Kami. Amin.  

Renungan Harian, Minggu Biasa XVII Read More »

Renungan Harian, Sabtu Biasa XVI

Bacaan: Matius 13:24-30 Perumpamaan tentang lalang di antara gandum 13:24 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. 13:25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. 13:26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. 13:27 Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? 13:28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? 13:29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. 13:30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” Renungan Fokus menjadi gandum Merenungkan bacaan Injil hari ini, sering kali kita berfokus pada masalah bagaimana caranya mencabut ilalang yang hanya tumbuh diantara gandum. Artinya ilalang itu tidak lebih banyak, atau malahan jauh lebih sedikit dari gandum. Fokus kita pada ilalang akan menjadikannya semakin banyak, karena perhatian kita kepadanya. Sementara itu gandum yang menjadi tanaman utama menjadi seolah tersingkirkan, karena focus kita salah. Gandum yang harusnya bisa berbuah maksimal, justru ikut terbawa arus berubah menjadi ilalang. Demikian dengan hidup kita. Bisa jadi mengapa begitu banyak orang yang tidak bisa mengalami sukacita dan kegembiraan yang mendalam karena kita salah dalam cara memandang. Hidup kita pada dasarnya adalah sangat baik, dan tertuju kepada Sang Kebaikan Agung. Hanya saja sering kali hidup yang seluruhnya baik itu digeser perhatiannya dengan ilalang-ilalang. Dan lebih tragisnya lagi, kita menjadi terbawa terus menerus oleh ilalang-ilalang itu. Dengan sangat keras mencari cara bagaimana mencabut dan menghancurkannya. Akibatnya apa? Energi kita habis untuk memikirkan bagaimana mencabut yang hanya sedikit itu. Padahal Tuhan sudah mengatakan, biarlah tumbuh bersama dan nanti ada penuaianya sendiri. Kita tidak usah pusing untuk memikirkan ilalang, Gandumlah yang harus menjadi focus kita. Gandum identik dengan nilai kebaikan. Maka sudah jelas focus kita kesana, selalu memikirkan dan melahirkan kebaikan. Dengan sendirinya, yang tidak baik itu akan tenggelam. Paling jelas adalah melihat orang lain. Yang hampir pasti kita lihat adalah ilalang dalam diri mereka. Maka memang orang lain menjadi ilalang bagi hidup kita. Dan hidup kita tidak menjadi berkembang baik, karena ilalang melulu yang ada di pikiran, perkataan dan perbuatan kita. Kita lupa padahal ada daya yang jauh lebih besar yang ditanam oleh Sang Pencipta, yakni gandum. Yakinlah bahwa ketika berfokus pada gandum, ilalang-ilalang dengan sendirinya akan hilang. Gandum tumbuh subur, ilalang pelan-pelan namun pasti akan habis. Just change your mind: Fokuslah untuk berpikir yang baik, merasa yang baik, bertindak dan berkata yang baik. Dan selalulah berdoa mohon kebaikan. Doa: Tuhan, semoga aku mampu mengembangkan dan berfokus pada gandum dalam hidupku. Amin.  

Renungan Harian, Sabtu Biasa XVI Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top