Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa dan Gereja, sehingga semua pihak diajak untuk terlibat dan berperan aktif dalam pendampingan tumbuh kembang anak dan imannya. Bagaimana dengan ABK (anak berkebutuhan khusus)? Apakah Gereja Katolik turut berperan aktif dalam pendampingan ABK? Apa yang bisa kita lakukan sebagai anggota Gereja?

Artikel ini akan mengulas tentang disleksia yang dialami oleh banyak anak. Seringkali orang tua tidak tau apa itu disleksia dan bagaimana menyikapinya. Sebenarnya jika tau gejalanya dan ada tanggapan yang tepat, orang tua tidak perlu kuatir akan perkembangan anaknya. Gereja juga perlu memberi peneguhan bagi orang tua yang anaknya mengalami kekhususan ini. Ada banyak hal yang bisa dibuat oleh Gereja untuk ambil bagian dalam pastoral anak berkebutuhan khusus ini.

Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille (tulisan timbul) dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat (bahasa tubuh) (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Anak_berkebutuhan_khusus)

Selama ini, masih banyak masyarakat umum yang memiliki pemahaman bahwa anak berbakat, anak dengan kesulitan belajar tidak termasuk dalam ABK, sehingga banyak keluarga (khususnya orang tua) dan lingkungan terutama guru di sekolah yang terlambat menyadari bahwa anak didiknya memerlukan perhatian khusus. Masalah akan menjadi rumit ketika anak mengalami kemunduran dalam prestasi belajar, stres, dll. Semua hal itu akan mempengaruhi tumbuh kembang anak secara fisik dan mental, bahkan pertumbuhan imannya. Salah satu ABK yang akan dibahas dalam artikel ini adalah penyandang disleksia.

DISLEKSIA (Si Pintar yang Sulit Membaca)

Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan moment istimewa yang senantiasa menjadi bagian perhatian orang tua. Setiap ada kemampuan baru yang dicapainya merupakan prestasi tak ternilai bagi sang ayah bunda, dan sebaliknya, setiap hambatan dalam tumbuh kembangnya merupakan hal yang sangat merisaukan orang tua. Kemunduran dalam prestasi belajar termasuk salah satu diantara hal yang cukup mengkhawatirkan orang tua, apalagi jika pihak sekolah sudah mulai memberi “peringatan” atau “label-label” tertentu pada sang buah hati. Sayangnya, orang tua dan guru seringkali terlambat mengenali penyebab permasalahan yang dihadapi anak kita, sehingga anak baru dibawa berkonsultasi setelah mengalami gangguan belajar yang sangat mengkhawatirkan bahkan tidak jarang anak sudah terlanjur mengalami stress atau depresi akibat masalah yang dihadapinya tersebut.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN DISLEKSIA

Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata”lexis” yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa”. Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Kesulitan membaca pada anak disleksia ini tidak sebanding dengan tingkat intelegensi ataupun motivasi yang dimiliki untuk kemampuan membaca dengan lancar dan akurat, karena anak disleksia biasanya mempunyai level intelegensi yang normal bahkan sebagian diantaranya di atas normal. Disleksia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis, dan ditandai dengan kesulitan  dalam mengenali kata dengan tepat / akurat, dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode symbol.

Secara lebih khusus, anak disleksia biasanya mengalami masalah masalah berikut:

  1. Masalah fonologi
  2. Masalah mengingat perkataan
  3. Masalah penyusunan yang sistematis / sekuensial
  4. Masalah ingatan jangka pendek
  5. Masalah pemahaman sintaks

(dirangkum dari Sumber: https://indigrow.wordpress.com/2010/10/29/disleksia-si-pintar-yang-sulit-membaca/  ­ – ed. Margreet)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *