Author name: Komsos Tanjungkarang

Kesetiaan dalam Pelayanan

Hanura – Pengurus Komisi-komisi Keuskupan Tanjungkaran dan seluruh pegawai Kantor Sekretariat Albertus, Keuskupan Tanjungkarang, mengadakan penyegaran rohani dengan acara rekoleksi bersama. Rekoleksi ini diadakan di kompleks gereja St. Martinus, Hanura, pada Selasa (23/7). Tema yang diangkat pada penyegaran ini adalah ‘Kesetiaan dalam Pelayanan’. Vijken Keuskupan Tanjungkarang, rm Y. Samiran SCJ, selaku kepala kantor secretariat, menjadi pemberi materi selama rekoleksi ini. Hampir seluruh anggota komisi-komisi, baik yang di sekretariat maupun ditempat lain, berjumlah 23 orang mengikuti kegiatan ini. Bapak uskup juga hadir untuk meneguhkan dan menyertai seluruh proses perjalanan acara ini. Acara ini terselenggara berkat bantuan Bimas Katolik Propinsi Lampung yang mendukung seluruh prosesnya. Dalam materinya, rm Samiran mengajak seluruh peserta untuk melihat tentang perumpamaan tentang talenta dalam Kitab Suci. Refleksi semangat melayani mengambil inspirasinya dari sana. Semua penerima talenta mampu mengembangkan milik masing-masing, kecuali dia yang menerima satu talenta. Dia justru menyembunyikannya, bukan mengembangkan. Dia punya pandangan yang buruk atas tuannya, dan juga atas dirinya sendiri tentu saja. Dia yang mendapat satu talenta dikatakan oleh tuannya ‘hai hamba yang jahat dan malas’. Bukan karena dia tidak mampu, namun karena dia jahat dan malas maka talentanya tidak berkembang. Lebih jauh rm Sam mengajak seluruh peserta melihat bahwa semangat melayani bisa dilihat dari perumpamaan itu. Setiap orang mempunyai tugasnya sendiri. Tugas itulah yang dikerjakan dan dikembangkan dengan penuh syukur. Mengenai berkembang menjadi berapa talenta adalah urusan nanti. Tetapi sekarang yang perlu adalah tidak menjadi hamba yang jahat dan malas. Pada bagian akhir, rm vikjen mengajak peserta untuk berefleksi pada empat point: manakah yang diakui sebagai pekerjaan; bagaimana bidang itu dihidupi; apakah sudah merasa mengembangkannya dengan sepenuh hati; apakah merasa puas dan sudah berhasil optimal. Setelah penyegaran rohani dengan rekoleksi, acara dilanjutkan dengan rekreasi bersama di pulau Tegal Mas. Dari Hanura rombongan melanjutkan perjalanan menuju ke pantai Sari Ringgung. Dari sana lah kemudian semua peserta dengan menggunakan dua perahu ‘Abdulgani’ menyeberang menuju ke pulau Tegal Mas. Acara rekreasi dibuka dengan makan siang bersama yang dibawa dari wisma Albertus. Kemudian dilanjutkan dengan mancing, snorkling, poto-poto, keliling pulau dan acara menurut seleras masing-masing. Semua peserta kembali menuju ke Bandar Lampung pada pukul 15.30 WIB. (ydw) Video bisa dilihat disini https://www.youtube.com/watch?v=5008_hPBpiQ&t=282s    

Kesetiaan dalam Pelayanan Read More »

Renungan Harian, Jumat Biasa XVI

Peringatan Wajib (PW) St. Yoakin dan St. Ana, Orang Tua SP Maria Bacaan: : Matius 13:16-17 Sekali peristiwa, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, 13:16 “Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. 13:17 Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” Renungan “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” kiranya menjadi gambaran yang pas dalam keluarga St. Yoakim. Maria dipilih untuk mengandung Sang Sabda karena keutamaan hati dan sikapnya menjadi gambaran yang baik pula dari orang tuanya. Maria menjadi baik dan bersahaja tidak datang dengan tiba-tiba. Maria pasti banyak mewarisi dan belajar dari orang tuanya. Maka bisa dipastikan juga bahwa orang tua Maria mempunyai banyak keutamaan yang bisa diwariskan. Nilai-nilai kebaikan hidup Maria berasal juga dari orang tuanya. Belajar dari St. Yoakim dan Sr. Ana, setiap dari kita yang berkeluarga akan menjadi orang tua. Bagaimana anak-anak akan berkembang, bisa dilihat dari bagaimana orang tua mendidik mereka. Tidak mudah juga jika orang tua memberi nilai baik tetapi tidak mewariskannya kepada anak-anak mereka. Sering terjadi orang tua baik namun anak-anak justru sebaliknya. Orang tua mempunyai nilai baik, namun tidak tega untuk ‘memaksakan’ kehendak baik kepada anak-anak. Menjadi orang tua yang baik dan bijak adalah panggilan setiap orang. Karena hanya dengan begitu setiap orang tua bisa mewarisi kebaikan dan kebijakan. Mampu mewarisi kebaikan dan kebijakan menjadi sumber sukacita bagi setiap orang tua. Melihat anak-anak bertumbuh menjadi baik adalah kebahagiaan yang mendalam. Setiap orang tua mempunyai panggilan untuk membawa keluarga kepada hidup kekudusan. Semoga setiap orang tua menyadari panggilannya, mendekatkan anak-anak pada Tuhan. Orang-orang kudus berasal dan lahir dari orang tua. Suami istri saling menguduskan adalah panggilan perkawinan kristiani. Doa: Ya Tuhan, semoga para orang tua semakin mampu meneladan St. Yoakim dan St. Ana. Amin.  

Renungan Harian, Jumat Biasa XVI Read More »

Renungan Harian, Kamis Biasa XVI

Pesta St. Yakobus Rasul Bacaan: Matius 20:20-28 Permintaan ibu Yakobus dan Yohanes 20:20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 20:21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” 20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” 20:23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” 20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Renungan Bukan memerintah melainkan melayani “Melayani dengan hati” akan selalu menjadi jargon yang tetap revelan kapanpun dan dimanapun. Banyak tokoh dunia yang terkenal baik karena mempunyai semangat melayani yang luar biasa. Apa yang mereka kerjakan bukan pertama-tama demi dirinya sendiri atau keluarganya. Mereka bukan melayani dengan ‘tangan besi’ tetapi melayani dengan kuasa yang mereka miliki. Kekuasaan itu bukan untuk kesenangan dan kepuasan sendiri, namun untuk memperbaiki yang rusak, meluruskan yang bengkok, menghidupkan yang mati, bahkan memberi peluang kepada mereka yang hampir tidak punya peluang. Sikap demikian justru mendatangkan banyak kebaikan yang langgeng, dan pasti akan dikenang sepanjang masa. Sikap rendah hati menjadi kunci juga dalam seluruh pelayanannya. Tetap menghargai dan menghormati mereka yang lebih senior, bahkan kepada para lawan yang tak kurang-kurang berusaha menghancurkan. Tetapi jurstru sikap rendah hati itu membuat lawan-lawannya hancur sendiri. Kekuatan melayani dengan hati sungguh berdaya ubah, entah secara parsial maupun secara universal. Demikianlah Yesus mengingatkan para murid untuk mempunyai semangat itu, melayani dengan hati, bukan memerintah dengan kuasa tangan besi. Tidak perlu kuatir dengan orang-orang yang anti atau bahkanberusaha membinasakan semangat itu, karena mereka sendiri akan terkikis habis. Syaratnya adalah kita tetap mampu berdiri kokoh dalam kekuatan Allah sendiri. Tantangan dan hambatannya tentu tidak mudah. Kita perlu mencapai ‘kekuasaan’ yang tinggi untuk melayani dengan hati. Kita selalu berharap mereka yang mempunyai peluang besar untuk mengatur lebih luas mampu mempunyai semangat melayani yang tinggi. Bukan demi diri mereka sendiri, tetapi demi kebaikan semakin banyak orang. Doa: Tuhan, anugerahilah kami dengan semangat melayani dengan hati, bersikap rendah hati dan tulus. Amin.    

Renungan Harian, Kamis Biasa XVI Read More »

PKSN VI : Dalam Kearifan Lokal Toraja, Saya Indonesia Saya Pancasila

Kevikepan Toraja menjadi tempat pelaksanaan PKSN setelah kota Makasar. Acara dipusatkan di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda, Makale, selama seminggu penuh 29/5 – 3/6/2019.  Utusan keuskupan berbaur dengan berbagai komponen umat menjalani berbagai acara untuk saling berbagi  ilmu, pengalaman dan kegembiraan. Rombongan PKSN meninggalkan Makasar pada Rabu, 29/5 pagi hari.  Tiba di rest area Gunung Sinona pukul satu siang dan  panitia dari Paroki Makale telah menunggu untuk makan  siang, Menjelang memasuki  kota Makale, mobil voorrijder   patwal polisi datang memandu.   Rombongan berhenti di gedung DPRD, disambut dengan drumband dan tarian, untuk selanjutnya diarak ke gereja, beberapa ratus meter jaraknya. Tema “Merajut Indonesia Melalui Media Sosial. Dalam Semangat Kearifan Lokal: Saya Indonesia, Saya Pancasila” tertulis di latar panggung bermotif ukiran Toraja warna merah. Sambutan secara meriah dilaksanakan dengan beberapa tarian dan ditutup dengan makan malam. Selanjutnya utusan keuskupan dibagi-bagi untuk tinggal di rumah penduduk atau guest haouse. Misa pembukaan dilaksanakan keesokan harinya, Kamis 30/5/2019 bertepatan dengan hari raya Kenaikan Tuhan. Seusai misa sampai hari Minggu 2/6/2019 akan dilaksanakan serangkaian kegiatan. Peserta, yang sebagian adalah kaum muda Kevikepan Toraja,  boleh memilih untuk mengikuti workshop Penulisan Kreatif atau Produksi Film Pendek. Waktunya bersamaan yaitu sepanjang Kamis dan Jumat. Pada hari Sabtu kedua kelompok peserta bergabung untuk mengikuti seminar Literasi Media. Workshop menulis diampu oleh Budi Sutedjo, RBE Agung Nugroho dan A. Margana. Menurut Budi Sutedjo, menulis dan membuat buku itu mudah. Yang diperlukan adalah keberanian, lalu menulis dengan topik sederhana dan konsisten. “Pasti tulisan-tulisan itu nanti bisa disatukan menjadi buku,” katanya. Dengan mendapatkan pelatihan dari para pakar diharapkan generasi muda itu semakin yakin untuk mampu menulis. Di akhir sessi diadakan evaluasi umum dari para pengampu. Workshop film diampu oleh Rm. F.X. Murti Hadi Wijayanto dan tim Puskat. Rm. Murti yang dikenal sebagai produser film Soegija itu mengajari peserta prinsip dasar sinematografi yang dikenal dengan 5 C: Camera Angle (sudut pandang kamera),  Continuity (jalan cerita, logika), Cutting (editing), Close-up (ekspresi) dan Composition (komposisi, frame). Para peserta dibimbing sehingga mereka mampu membuat sebuah film pendek yang akan diputar pada Jumat malam. Dengan keterampilan ini diharapkan generasi milenial mampu menjadi agen pewartaan kabar suka cita dengan memproduksi konten-konten positif.   Pagelaran Budaya dan Exsposure Toraja ibarat kepingan surga yang jatuh ke bumi, denikian seseorang pernah berkata. “Surga” Toraja bukan saja karena alamnya yang molek dan penduduknya yang ramah, tetapi juga oleh warisan budaya lokalnya yang masih terjaga. Budaya lokal berupa tari-tarian menjadi sajian menarik dalam Malam Pagelaran Budaya sekaligus malam tirakatan Pancasila, Sabtu 1/6/2019. Di tengah hujan yang menderas tamu-tamu tetap berdatangan dan atraksi tetap dilaksanakan. Salah satu tamu kehormatan adalah Bupati Tana Toraja Nicodemus Biringkanae. Dalam kesempatan itu, Pastor Paroki Makale, RD Albert Arina menyampaikan orasi kebangsaan berjudul “Merajut Indonesia Melalui Media Sosial. Dalam Semangat Kearifan Lokal :  Saya Indonesia, Saya Pancasila.” Ia antara lain mengutip Bung Karno. “Bukan saya yang menemukan Pancasila, melainkan saya gali dari adat-istiadat dan kearifan lokal Nusantara sebagai suatu kekayaan rohani bangsa Indonesia.” Dikaitkan dengan sejarah Toraja, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan, nenek moyang mereka telah mengenal semboyan yang bila diindonesiakan menjadi “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang memiliki religiositas tinggi dan kesadaran kolektif untuk hidup dalam persatuan, kedamaian, toleransi dan demokrasi. Demikian orasi Pastor Albert Arinas. Ia juga mengungkapkan kegembiraannya bahwa Paroki Makale ditunjuk sebagai satu tuan rumah. Dengan demikian orang muda bisa mendapat pencerahan dari pakar media Gereja sehingga mampu menjadikan media sosial sebagai sarana pewartaan  dan perdamaian. PKSN ditutup dengan misa konselebrasi pada Minggu, 2/6/2019. Sesudahnya utusan keuskupan diajak berkeliling untuk melihat situs-situs budaya dan wisata. Acara pertama adalah makan siang di rumah keluarga Mgr. John Liku Ada’ . Para peserta dan bapa uskup  duduk bersama di lantai lumbung, menghadap tongkonan atau rumah adat yang berukir indah. Dalam kesempatan itu bapa uskup memperkenalkan ibunya dan sedikit bercerita tentang riwayat panggilannya. Tak jauh dari rumah bapa uskup ada tempat ziarah Keluarga Kudus Nazaret yang dikenal dengan nama Sa’pa Bayobayo. Di situ ada patung Yesus, Bunda Maria dan St. Yosef mengenakan pakaian adat Toraja. Tempat ini dulu digunakan penganut agama lokal Toraja, Aluk Todolo, untuk melakukan ritual. Di dalam area tempat ziarah ini juga terdapat kuburan tua dengan tulang belulang yang sudah berusia ratusan tahun, tersebar di beberapa gua batuan karst. Patung Yesus setinggi 40 meter di kawasan Buntu Burake menjadi tujuan selanjutnya. Dari ketinggian bukit itu bisa disaksikan keindahan kota Makale. Tujuan terakhir hari  itu adalah  desa adat  Ke’te Kesu. Di sini ada museum benda-benda adat Toraja dan deretan tongkonan dan lumbung dengan ukiran-ukiran yang amat cantik.  Juga pemakaman adat dengan tengkorak dan tulang-tulang di ceruk-ceruk bukit batu. Meski secara resmi acara PKSN telah ditutup, tetapi Senin 3/6/2019 para utusan keuskupan tak dapat melewatkan acara menarik lain yaitu upacara Rambu Solo’ atau penghormatan kematian orang tua Pastor Natanael Runtung, Vikep Tana Toraja. “Ini upacara tingkat tinggi. Bahkan saya yang orang Toraja saja baru sekali ini menyaksikan, “ kata Rm. Semuel Sirampun, Ketua Komos KAMS. Ritual yang bisa memakan waktu seminggu lebih ini tentu saja menghabiskan biaya sangat besar. Tidak semua orang  bisa melaksanakan ritual adat yang utuh, sehingga Gereja Katolik perlu hadir dan memberi pendampingan atas budaya lokal di Toraja.*** (Veronika Gunartati)  

PKSN VI : Dalam Kearifan Lokal Toraja, Saya Indonesia Saya Pancasila Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top