Author name: Komsos Tanjungkarang

Renungan Harian, Selasa Biasa XXVII

Bacaan: Lukas 10:38-42 Maria dan Marta 10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” 10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”   Renungan Belajar beriman dengan mendengarkan sabda Tuhan, kita hari ini bisa belajar dari tiga tokoh, yakni Yunus, Maria, dan Marta. Mereka adalah tokoh-tokoh yang dikisahkan mendengarkan dan melaksankan sabda Tuhan. Namun perjalanan untuk sampai pada tahap mendengarkan bukanlah kisah sekali jadi. Membutuhkan proses dan perlu mengalami berbagai macam peristiwa. Seperti kisah Yunus yang kita tahu bersama. Yunus diutus untuk mewartakan pertobatan di Niniwe, tetapi dia melarikan diri dari perintah itu. Dia bisa pergi kemana saja, tetapi Tuhan tidak pernah kehilangan Yunus. Dimana Yunus pergi, di sana Tuhan hadir dan memberi tanda padanya. Yunus harus mengalami berbagai macam peristiwa dulu sebelum akhirnya mengatakan ‘YA’ untuk sabda Tuhan. Bahkan ia harus mengalami kematian dulu di dalam perut ikan selama tiga hari. Setelah itu baru dia mengalami kebangkitan dan akhirnya pergi ke kota Niniwe. Hasilnya? Allah tidak jadi menunggangbalikkan kota itu karena mereka semua berbalik kepada-Nya. Maria dan Marta menjadi tokoh hari ini dalam Injil. Dua saudara ini berusaha untuk mendengar dan melayani Tuhan. Mereka mempunyai jalan yang tidak sama untuk mendengarkan Dia yang bersabda. Dengan segala usahanya, Marta sebenarnya juga berusaha untuk melayani dan mendengarkan Tuhan. Namun demikian, bisa jadi karena salah focus, Marta tidak mampu melihat karyanya sebagai bentuk untuk melayani sabda Tuhan. Sementara Maria, hanya dengan duduk ia mampu mendengarkan Tuhan dengan setia. Memang dia belum bertindak apa-apa, tetapi dari mendengarkan dengan baik dan benar, sudah bisa dipastikan apa yang akan dilakukannya seperti yang Tuhan sabdakan. Yunus, Maria, dan Marta menjadi pribadi-pribadi yang dipilih Tuhan untuk mewartakan sabda-Nya kepada siapapun yang mereka layani. Mereka mempunyai jalan yang berbeda-beda untuk sampai mengatakan ‘YA’ akan sabda Tuhan. Ada yang memerlukan jalan yang panjang dan berliku, tetapi ada juga yang tidak perlu dengan berbagai macam kejadian untuk sampai mendengarkna sabda Tuhan. Dengan cara hidup yang berbeda, mereka disatukan oleh sabda Tuhan sendiri. Bagi kita, sabda Tuhan kiranya menjadi gaya hidup sebagai orang beriman. Bisa jadi kita seperti Yunus yang harus dikejar-kejar dulu supaya mau pergi ke Niniwe. Atau bisa jadi kita seperti Marta yang selalu bekerja dan bekerja, tetapi belum sadar betul apa yang saya kerjakan sebagai jalan untuk mewujudkan sabda Tuhan. Atau kita seperti Maria yang mampu langsung mendengarkan sabda Tuhan tanpa bermacam perantara. Tugas berikutnya adalah melaksanakan sabda itu dalam pengalaman nyata hidup. Mari mohon rahmat Tuhan agar kita menjadi pelaku sabda-Nya dalam seluruh hidup kita. Doa: Ya Tuhan, bukalah selalu telinga hati dan batinku untuk mendengarkan dan melaksankan sabda-sabda-Mu dalam hidupku. Amin.  

Renungan Harian, Selasa Biasa XXVII Read More »

Renungan Harian, Senin Biasa XXVII

PW SP Maria, Ratu Rosari Bacaan: Lukas 10:25-37 Orang Samaria yang murah hati 10:25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 10:26 Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” 10:27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 10:28 Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” 10:29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” 10:30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 10:31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 10:32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 10:33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 10:34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 10:35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 10:36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” 10:37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”   Renungan Wujud iman: rasa kemanusiaan Kisah orang samaria yang baik sudah berkali-kali kita dengar dan renungkan. Bahkan menjadi contoh bagi banyak orang di berbagai belahan dunia untuk melakukan kebaikan yang sama. Orang Samaria menjadi contoh nyata bagaiman melakukan tindakan kebaikan untuk siapapun, bahkan untuk orang yang tidak dikenal sekalipun. Kebaikan bukan hanya untuk mereka yang kita kenal dan dekat, tetapi untuk dan dari siapapun. Kebaikan itu mempunyai nilai universal dan kodrati. Kisah orang samaria ini muncul atas pertanyaan ahli Taurat tentang syarat tindakan yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup kekal. Tentu kita tidak boleh lupa bahwa keutamaan-keutamaan hidup harus tetap dijalankan dengan baik. Tetapi lebih dari itu adalah kita bergerak dari tataran tindakan untuk pribadi sendiri, kepada tindakan untuk orang lain. Singkatnya mewujudkan kasih kepada orang yang ada di sekitar kita. Pertanyaannya adalah, mengapa Yesus memakai tokoh orang samaria? Kisahnya sangat jelas dicatat dalam Injil. Dia adalah orang Samaria yang lewat di tempat itu. Dia dengan sengaja mendatangi orang yang sekarat itu ketika melihatnya. Berbeda dengan dua tokoh lain. Orang samaria tidak mengenal hukum kasih taurat. Orang samaria tidak sesaleh orang-orang Yahudi atau bahkan imam dan lewi dalam kisah itu. Mereka orang kafir, tidak punya peradaban yang baik, jauh dari ring satu keselamatan. Mereka bukan orang yang beragama baik. Hidup moral mereka tidak sebaik yang dilekatkan pada orang Yahudi lainnya. Tetapi apa faktanya? Justru orang Samaria itu lah berbuat maksimal untuk orang yang sekarat itu. Meski dia tidak berdoa di Bait Allah atau tidak belajar Taurat, ia tahu tentang arti kasih kepada orang lain. Tidak peduli siapa yang sekarat, dia melakukan yang terbaik yang bisa dilakukannya. Apakah dia berharap balasan? Justru dia akan kembali untuk menambah apa yang kurang untuk kebaikan orang yang sekarat itu. Bagi kita, sangat penting untuk melakukan kesalehan hidup keagamaan. Tetapi lebih dari itu, kita masih perlu untuk bertindak seperti orang Samaria itu. Bukan soal siapakah yang menjadi sesamaku lagi, tetapi yang jauh lebih dalam adalah ‘siap kah aku menjadi sesama bagi orang asing’?   Doa: Ya Tuhan, semoga aku siap dan berani untuk selalu menjadi sesama bagi orang lain, terlebih bagi mereka yang asing dan lemah. Amin.  

Renungan Harian, Senin Biasa XXVII Read More »

Renungan Harian, Minggu Biasa XXVII

Bacaan: Luk 17:5-10 17:5 Lalu kata rasul-rasul z  itu kepada Tuhan: a  “Tambahkanlah iman kami!” 17:6 Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman 1  sebesar biji sesawi b  saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu. c ” Tuan dan hamba 17:7 “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! 17:8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku d  sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. 17:9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? 17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. e ”   Renungan Berterima kasih yang wajar Mendapat pujian ketika sudah menyelesaikan tugas dan perkejaannya adalah sebuah kebahagiaan yang pantas di dapat bagi setiap pekerja. Itulah yang terjadi secara normal dalam hidup kita setiap hari. Dalam ilmu managemen, memberi apresiasi kepada mereka yang sudah bekerja adalah sebuah bentuk strategi untuk semakin meningkatkan kinerja dari setiap pekerja. Orang yang sudah bekerja dengan segenap tenaga bila hasilnya diapresiasi maka hasilnya akan jauh lebih positif dari pada hanya sekedar didiamkan. Dari injil hari ini kita bisa belajar demikian. Di tengah arus orang yang mencari pujian penghormatan, kita diingatkan untuk selalu mempunyai sikap rendah hati. Tugas dan tanggung jawab utama perlu kita kerjakan dengan sepenuh hati. Jika kita sudah mengerjakannya dengan sangat baik, cukup lah bagi kita untuk mendapat sukacita. Jika ada orang yang berterimakasih dan memuji, menjadi bonus bagi hidup kita. Jika tidak, bukan menjadi alasan bagi kita untuk mengutuk diri sendiri dan orang lain. Kemudian kita juga diingatkan untuk tidak lupa berterima kasih jika ada orang yang sudah bekerja dengan baik dan benar. Pujian dan dukungan menjadi modal penting bagi kita untuk berkembang. Berterima kasih kepada mereka yang sudah berjasa adalah hal yang sangat normal bisa kita lakukan dengan baik. Maka menjadi tidak baik ketika sudah ada orang yang baik tetapi kita tidak pernah berterima kasih. Berterima kasih yang wajar adalah kewajiban kita kepada siapapun. Pertanyaan sederhana bagi kita: apakah kita akan segera putus asa ketika tidak mendapat pujian dan penghormatan? Rasa putus asa akan mengusik hati dan pikiran kita. Putus asa akan membuat kita mudah marah. Terlalu mudah untuk merasa tidak dihormati selalu membuat kita naik darah. Kebutuhan dihargai jika tidak disadari akan membawa energy negative  bagi kita, entah dalam keluarga, ditempat kerja, atau entah dimanapun kita berada. Iman sebesar biji sesawi berarti iman yang selalu mau bertumbuh dan berkembang. Biji sesawi bisa menjadi energy positif yang mampu membangun hidup kita masing-masing. Doa: Ya Tuhan, anugerahilah aku dengan sikap rendah hati, kesabaran, dan keuletan di dalam seluruh tanggung jawab kami. Amin.  

Renungan Harian, Minggu Biasa XXVII Read More »

Renungan Harian, Sabtu Biasa XXVI

Bacaan: Lukas 10:17-24 Kembalinya ketujuh puluh murid 10:17 Kemudian ketujuh puluh murid itu g  kembali dengan gembira dan berkata: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu. h ” 10:18 Lalu kata Yesus kepada mereka: “Aku melihat Iblis i  jatuh seperti kilat dari langit. j  10:19 Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular k  dan kalajengking 1  dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. 10:20 Namun demikian janganlah bersukacita 2  karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga. l ” Ucapan syukur dan bahagia 10:21 Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil 3 . m  Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. 10:22 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku n  dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu. o ” 10:23 Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. 10:24 Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. p ”   Renungan Dari Injil hari ini, kita bisa belajar untuk mendapat sukacita yang penuh. Sukacita bukan karena hal-hal hebat yang sudah kita lakukan dengan sukses, tetapi lebih dari itu sukacita yang penuh itu dikarenakan nama kita sudah tercata di surga. Tercatat di surga karena kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Kebaikan yang kita lakukan berbuah sukacita, keselamatan, dan kebahagiaan. Itu lah yang lebih kita pentingkan dan kita perjuangan. Artinya, selama hidup kita selalu berjuang untuk mengusahakan kebaikan dan keutamaan dalam hidup. Jika Allah yang selalu hadir dalam hidup kita, maka kuasa jahat dan kejahatan akan menjauh dari kita. Kuasa-kuasa yang lain akan menjauh jika kuasa Allah meliputi dan menguasai hidup kita. Itu lah sukacita yang jauh lebih besar yang bisa kita rasakan. Kedua kita bisa belajar untuk selalu bersyukur. Seperti Yesus yang bersyukur, kita pun juga dipanggil untuk senantiasa bersyukur karena Allah yang senantiasa menyelenggarakan hidup kita. Setiap hari kita menjalaninya, tetapi sering kali kita tidak sadar dan tidak mensyukurinya. Seandainya kita bernafas harus berpikir dulu, bisa kita bayangkan betapa lelahnya kita. Padahal kita harus bernafas setiap saat dan setiap tempat. Bahkan ketika tidur, kita pun selalu bernafas. Maka hanya syukur yang harusnya kita lakukan. Syukur itu diwujudkan dalam tindakan kebaikan yang setiap hari kita lakukan. Hanya kebaikan kecilpun itu bisa mempunyai makna yang mendalam. Maka, jangan alergi untuk melakukan tindakan kebaikan sekecil apapun. Jangan pernah merasa rugi dengan melakukan tindakan yang baik. Tuhan sendiri yang memberi perhatian kepada kita. Ketiga kita bisa belajar untuk senanitasa melihat dengan kejernihan mata batin. Bersyukur bagi yang kedua indra penglihatannya masih normal dan sehat. Artinya kita bisa melihat apapun dengan baik dan jelas. Masih ada penglihatan yang perlu selalu kita jaga kejernihannya, yakni kejernihan mata batin. Untuk menjaga itu kita perlu selalu waspada dan melatih selalu melihat kebaikan dan harapan. Kita bersyukur boleh melihat rahmat keselamatan dalam iman yang kita terima. Maka mari kita jaga terus kejernihan mata batin kita dengan mendengarkan dan melihat Allah yang selalu hadir dalam hidup kita. Hal sederhana yang selalu bisa kita lakukan: mencintai keluarga dalam perkara-perkara sepele setiap hari. Doa: Ya Tuhan, semoga aku selalu mampu menggunakan seluruh indera dalam hidupku untuk kebaikan, dengan baik, dan dalam kebaikan. Amin.  

Renungan Harian, Sabtu Biasa XXVI Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top