komsos tanjungkarang

RIP: Sr. Imelda HK

Telukbetung – Kabar duka datang dari kongregasi Suster-suster Belas Kasih dari Hati Yesus yang Mahakudus Telukbetung. Telah meninggal dunia dengan damai Sr Imelda HK pada Sabtu, 31 Agustus 2019, pkl 08.45 WIB, di RSIA St. Anna, Telukbetung. Misa requiem akan dilaksanakan pada Minggu, 1 September 2019, pada pukul 11.00 WIB di kapel Biara Induk Suster-suster HK, Jln. Hasanudin no 29. Misa requiem akan dipimpin oleh uskup keuskupan Tanjungkarang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Pemakaman akan dilaksanakan setelah perayaan ekaristi di pemakaman DSM Negrisakti. Berikut riwayat suster Imelda HK Mengenal Sr. Imelda sebagai sosok religius HK; Pendoa dan Berdaya tahanjuang Sr. Imelda lahir di Klaten pada tanggal 9 Nopember 1939 dari keluarga Almarhum Bapak FX. Darmosusastro dan Ibu Fransiska Sukinah. Di beri nama kecil Sri Warastrini dan menerima sakramen permandian pada tanggal 28 Mei 1944, di Ambarawa dengan nama pelindung Santa Margaretha. Hidup membiara sebagai Religius rasuli HK, diawali dengan memasuki masa Postulat di Metro pada 5 Agustus 1959, selama 11 bulan. Selanjutnya pada tanggal tanggal 16 Juli 1960 menerima busana biara sebagai religius rasuli HK. Sejak saat itu ia menyandang nama Sr. Imelda HK. Masa pembinaan Novisiat diakhiri dengan mengucapkan kaul pertama di Metro pada tanggal 21 Juli 1962. Masa yuniorat dijalani selama enam setengah tahun untuk kemudian menegaskan diri menjadi mempelai Yesus seumur hidup dengan mengucapkan kaul kekal pada 12 Desember 1968. Perutusan sebagai anggota religius rasuli HK diawali di komunitas Telukbetung dengan tugas perutusan sebagai Guru dan penjahit mulai Juli 1962 sampai dengan Desember 1963, dilanjutkan untuk kali kedua dari Februari 1976 sampai Agustus 1981 dengan perutusan sama sebagai guru. Kali ketiga perutusan di Telukbetung sebagai guru di SMP Xaverius dari 1986 sampai 1989. Perutusan keempat dari Juli 1997 hingga Agustus 2003 dalam usianya yang ke 58 dengan perutusan kerasulan doa. Sebagai suster yang telah menyelesaikan purnabakti layanan formal pendidikan beliau masih berkenan melaksanakan perutusan sebagai guru di sekolah Pelita dan tata busana komunitas. Tempat perutusan dan komunitas kedua adalah Palembang dengan perutusan mengajar maupun penjahit antara November 1963 sampai dengan Maret 1976. Dalam kurun waktu tersebut Sr. Imelda berkesempatan menjalani pendidikan di SPG Xaverius Palembang lulus 1968. Selanjutnya dengan perutusan sebagai guru dan kerumahtanggaan kembali untuk kali kedua di Palembang pada Agustus 1981 sampai Agustus 1989, dan begitu untuk kali ketiga dengan perutusan sebagai Guru dari Juli 1992 sampai Juli 1997 dan terakhir kali keempat dengan perutusan kerasulan doa dari Juli 2010 sampai dengan 2015. Tempat perutusan dan komunitas ketiga adalah Metro dengan perutusan guru di SD Xaverius Metro dari Juni 1990 sampai Juli 1992. Selanjutnya tempat perutusan dan komunitas keempat menekuni kerasulan doa dan penjahit di Kalianda dari Agustus 2003 sampai dengan 2010. Menekuni perutusan kerasulan doa sebagai perutusan utama bagi Para suster lanjut usia Sr. Imelda kembali tinggal di Komunitas Biara Induk sejak 2015 sampai dengan hari ia dipanggil Tuhan karena sakit mengalami gagal ginjal dengan perawatan intensif di RS. Immanuel dari tanggal 24 Agustus dan dilanjutkan di RSIA St. Anna sampai ia dipanggil Sabtu pukul 08.45 WIB. Sosok Sr. Imelda sebagai religius rasuli HK dalam hidup dan perutusannya lebih banyak berkiprah di dunia pendidikan sebagai guru SD dan SMP maupun sebagai penjahit busana suster-suster dalam  kerumahtanggaan. Dari pengalaman menjalani perutusan secara aktif dalam komunitas kerasulan tampak kegigihan dan daya tahan juangnya dengan kedisiplinan dan ketekunan. Ia memiliki anugarah tulisan tangan yang sangat bagus cocok sebagai guru kelas 1 dan 2 untuk pengenalan tulisan dengan huruf yang baik. Sedangkan setelah memasuki masa purnabakti dengan perutusan kerasulan doa hal-hal kerohanian yang sudah ia hidupi sejak religius muda menjadi kekuatan untuk menekuni panggilan religius rasuli HK yang pendoa. Selain keterampilan keguruan dan kecintaannya sebagai seorang penjahit melekat dalam dirinya begitu pula terbatinkan dengan baik kesetiaan dan loyalitas dalam mencintai dan menekuni hidup panggilannya dengan perutusan apapun wujudnya; hormat dan memelihara serta merawat dengan baik dirinya maupun tanggung jawab tugas yang dipercayakan kepadanya; berbudaya taat dan hormat, bersih dan rapi, melakukan dan memperlihatkan hasil kerja sebagai pemberian terbaik. Untuk segala sesuatu ada waktu yang tepat, dimana Tuhan yang memberi dan Dia pula yang memanggil. Sr. Imelda sebagai religius rasuli HK telah purna dengan S3 nya, dimana ia setia setiap saat dalam hidup panggilannya dengan keteladan lewat pergulatanmu hidup sebagai rasuli HK sampai akhir. Sr. Im, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil dan Tuhan akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar (Bdk. Mat. 25:23). Terima kasih, selamat jalan dan maafkan kami semua adik-adikmu sepanggilan yang bersama menekuni kebersamaan hidup dalam kongregasi ini sepanjang 57 tahun keanggotaanmu yang diawali dengan kaul pertamamu. Selamat memasuki dan menerima tanggung jawab untuk perkara besar yang Tuhan berikan kepadamu di kehidupan abadi dimana engkau ditinggikan bersama Mere Marie Pendiri Kongregasi kita, karena engkaupun telah setia menjawab: “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus” (1 Kor.11:21) (doc.kongregasihk)

RIP: Sr. Imelda HK Read More »

Renungan Harian, Minggu Biasa XXII

Bacaan: Luk 14:1,7-14 14:1 Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Tempat yang paling utama dan yang paling rendah 14:7 Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 14:8 “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, 14:9 supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. 14:10 Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. 14:11 Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Siapa yang harus diundang 14:12 Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. 14:13 Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. 14:14 Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” Renungan Menjadi Arif dan Bijaksana Dua fenomena pengajaran Yesus hari ini tidak mudah begitu saja dilaksanakan dalam kehidupan bersama dengan masyarakat. Ada tidak sedikit orang yang selalu berusaha mencari tempat yang paling depan ketika ada pesta perkawinan. Atau ketika ada acara penting tertentu. Di satu sisi ini akan memudahkan panitia untuk mengatur, dan tidak perlu disuruh-suruh maju sudah dengan sendirinya memenuhi tempat depan lebih dahulu. Namun di sisi lain, seperti yang dikatakan Yesus, bisa jadi tempat-tempat terdepan sudah dipersiapkan untuk tamu undangan khusus. Maka diperlukan mata yang jeli dimana bisa menempatkan diri. Menempatkan diri yang pas dalam waktu yang pas akan menjadi tanda kebijaksanaan. Mampu menempatkan diri kiranya menjadi pesan yang bisa kita ambil dari apa yang dikatakan Yesus. Bukan pertama-tama memang harus selalu memilih duduk yang paling belakang, tetapi yang lebih penting adalah mampu menempatkan diri dan tetap rendah hati meski pun menjadi tamu VVIP. Juga tidak rendah diri ketika harus duduk ditempat yang paling belakang. Belum tentu yang didepan kita lebih penting bagi yang mengundang kita. Ketika ada begitu banyak orang yang ingin menjadi yang seolah-olah terpenting, yang ingin kelihatan, kita tetap dipanggil untuk mempunyai sikap rendah hati dan tulus. Ketika kita menjadi orang yang penting tidak kemudian menjadi tinggi hati dan jumawa. Namun demikian ketika kita harus dibelakang dan tidak terlihat, kita tidak menjadi putus asa dan merasa tidak berharga. Kerendahan hati dan ketulusan akan menjadi mantra yang ampuh untuk tetap menjadi diri sendiri dalam keadaan apapun dan di tempat manapun. Nilai kebijaksanaan yang bisa kita ambil hari ini adalah juga memberi dengan ikhlas. Keikhlasan juga bagian dari ketulusan. Memberi tanpa harap kembali sudah menjadi nilai kebijakan lama yang juga ditanamkan oleh orang tua. Kita diingatkan lagi untuk nilai itu karena ada semakin banyak orang yang berbuat baik dengan berbagai modus. Mengadakan pesta selalu disertai dengan kotak amplop. Bahkan amplop itu ditulisi nama pemberi, supaya suatu saat mereka juga akan diberi. Demikian pesta duniawi, menabung untuk hari yang akan datang ketika ia mengadakan hal yang sama. Harapannya akan mendapat lebih besar. Maka sering tidak masuk akal, orang berhutang kesana kemari untuk mengadakan pesta, misalnya perkawinan. Seperti gambling, harapannya untung, jika tidak maka jual rumah yang paling mudah. Ironis dan tragis. Pesat surgawi tidak demikian. Apa yang kita beri dengan tulus itulah yang akan diperhitungkan kepada kita. Kita berbuat baik dengan tulus akan kita bawa sampai mati. Ketika kita berbuat dengan modus, akan kita tinggal ketika mati. Mari menabung untuk pesta surgawi, bukan hanya pesta duniawi. Doa: Tuhan, buatlah diriku mampu selalu belajar rendah hati dan tulus. Semoga hidupku menjadi semakin bernilai. Amin.  

Renungan Harian, Minggu Biasa XXII Read More »

Renungan Harian, Sabtu Biasa XXI

Bacaan: Matius 25:14-30 Perumpamaan tentang talenta 25:14 “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. 25:15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. 25:16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. 25:17 Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. 25:18 Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. 25:19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. 25:20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. 25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. 25:22 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. 25:23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. 25:24 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. 25:25 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! 25:26 Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? 25:27 Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. 25:28 Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. 25:29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. 25:30 Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Renungan Hamba yang menerima lima talenta pergi dan menghasilkan bukan. Demikian juga hamba yang menerima dua talenta pergi dan menghasilkan buah. Kepada mereka berdua dikatakan “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Sementara hamba yang menerima hanya satu talenta pergi tetapi menggali lobang dan menimbunnya. Hasilnya: ia tidak berbuah. Kepadanya dikatakan “Hai kamu, hamba yang jahat dan malas… ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu… campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap.” Pertanyaan bagi kita: mau menjadi hamba yang menerima berapa talenta kah kita? Seringkali diri kita tidak berkembang karena ada berbagai penilaian negative yang ada pada diri kita. Melihat yang lain selalu jelek dan tidak ada yang benar, menjadi tanda yang paling jelas bahwa kita termasuk orang yang mempunyai pandangan diri negative. Kita boleh yakin bahwa orang yang hanya sering mengkritik orang lain sebenarnya dia sendiri tidak mampu menerima dirinya sendiri dengan baik. Maka yang lain juga menjadi negative semua. Merubaha cara kita berpikir dan memandang adalah langkah utama untuk melangkah pada talenta yang berbuah. Jika tidak, maka talenta kita akan menjadi semakin habis. Tidak hanya talenta, orang lain pun akan semakin menjauh dari kita. Dengan demikian, berkat Allah juga semakin kita tolak dan kita jauhi. Bersyukurlah senantiasa untuk hidup dan berkat yang sudah kita terima. Dengan bersyukur maka hidup kita akan menjadi hidup yang berkelimpahan. Doa: Tuhan, ajarilah aku untuk melihat diri dengan daya energy positif. Amin  

Renungan Harian, Sabtu Biasa XXI Read More »

Renungan Harian, Jumat Biasa XXI

Bacaan: Matius 25:1-13 Gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh 25:1 “Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. 25:2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. 25:3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, 25:4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. 25:5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. 25:6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! 25:7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. 25:8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. 25:9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. 25:10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. 25:11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! 25:12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. 25:13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” Renungan Right Man in the Right Place Setiap kali merenungkan perikopa ini, muncul rasa yang tidak enak terhadap mereka yang tidak mau berbagi minyak. Kalau dipikir-pikir, kenapa tidak dibagi sedikit saja supaya mereka yang tidak membawa minyak bisa ikut bersama-sama masuk ke perjamuan kawin. Tetapi itu yang terjadi, mereka yang tidak membawa persiapan minyak akan kehabisan, mereka yang membawa persiapan minyak bisa dengan tenang masuk ke perjamuan kawin. Hal masuk kerajaan surga bukan soal bagaimana dengan orang lain, tetapi tentang bagaimana persiapan saya pribadi. Urusan masuk surga adalah urusanku dengan Tuhan, bukan soal memperhatikan orang lain ketika sudah siap masuk. Artinya setiap orang dipanggil masuk kerajaan sorga secara personal, bukan komunal. Maka persiapan pribadi menjadi yang utama. Orang lain masuk atau tidak sebenarnya kita juga tidak bisa berbuat apa-apa. Pertanyaanya jelas apakah kita siap atau justru lengah? Orang yang selalu punya kesiapan bisa dikatakan sebagai right man in the right place. Orang yang selalu siap dan waspada adalah orang yang mampu menempatkan diri di waktu dan tempat yang tepat. Artinya dalam keadaan apapun dan dimanapun dia berada bisa menjadi berkat. Maka perlulah selalu waspada dan siap sedia. Perempuan bijaksana adalah mereka yang tau harus bagaimana mengadakan persiapan untuk menyambut pengantin yang tidak jelas waktu kedatangannya. Mereka adalah bagian dari right man in the right place. Perhitungannya bukan soal apakah yang dibawa sia-sia atau tidak, tetapi melihat berbagai kemungkinan yang mungkin akan terjadi dan mengadakan persiapan yang matang. Diawal pasti akan sangat repot untuk mempersiapkannya dan membawanya. Sementara mereka yang tidak membawa perisapan minyak bisa pergi dengan tenang-tenang, tidak ada ‘beban’tambahan, mereka bisa pergi dengan cepat. Tetapi ketika ada perpanjangan waktu menunggu, mereka menjadi kalut dan gelisah. Mari kita selau belajar menjadi orang-orang yang bijaksana, mampu menempatkan diri dimanapun dan dalam keadaan apapun. Kita mempunyai pegangan kuat, yakni Yesus sendiri yang selalu menjadi kekuatan kita. Hidup kita saat ini adalah masa persiapan, masa berjaga. Maka jangan gelisah ketika harus repot, harus berjuang, bahkan mungkin harus mengalami penderitaan. Semoga kita selalu didapati berjaga dengan minyak yang selalu penuh pada lentera kita masing-masing. Doa: Tuhan, semoga aku berjaga dan waspada, mengisi tabung minyak setiap saat, dan ketika Engkau datang, aku siap untuk ikut masuk ke dalam perjamuan surgawi. Amin.  

Renungan Harian, Jumat Biasa XXI Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top