komsos tanjungkarang

Renungan Harian, Selasa Biasa XXII

St. Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja Bacaan: Lukas 4:31-37 Yesus dalam rumah ibadat di Kapernaum 4:31 Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. 4:32 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. 4:33 Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: 4:34 “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” 4:35 Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!” Dan setan itupun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya. 4:36 Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan merekapun keluar.” 4:37 Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. Renungan Setan saja patuh Menarik merenungkan injil hari ini. Setan yang merasuki seseorang akhirnya keluar dari orang itu ketika Yesus hadir dan menghardiknya. Setan itu tau persis siapa Yesus itu. Sebelum Yesus berkata-kata pun dia tau siapa Yesus. Kekuatan-Nya bertentangan dengan kekuatan setan. Maka setan tidak pernah tahan ketika berhadapan dengan-Nya. Ia pun meninggalkan orang itu ketika Yesus menghardiknya keluar. Dalam pengertian sederhana, setan-setan taat pada Yesus. Ketika Yesus menyuruhnya pergi, maka mereka pun pergi. Setan mentaati Yesus karena mereka takut binasa, bukan karena percaya sepenuh hati dan ingin mendekat. Mereka tau persis siapa Yesus sebenarnya. Pertanyaan sederhana bagi kita, jika setan saja taat dan melaksankan perintah Yesus, apakah aku juga selalu taat dan melaksanakan perintah-perintah-Nya? Jangan-jangan kita jarang taat pada perintah-perintah Yesus? Jika demikian, kita tidak lebih baik dari setan yang taat ketika disuruh pergi oleh Yesus? Yesus tidak pernah menyuruh kita pergi menjauh dari pada-Nya. Yesus mengundang kita untuk selalu dekat pada-Nya. Tetapi bisa jadi justru sering kali kita lari menjauh dari pada-Nya. Jika setan yang pergi menjauh, itu sudah semestinya dan wajar. Tetapi bagaimana jika kita yang pergi menjauh dari pada-Nya?? Semoga kita berani taat pada perintah Yesus bukan karena takut (seperti setan), tetapi karena kita ingin selalu dekat dengan-Nya. Doa: Tuhan, semoga aku selalu berani untuk mengasihi dimanapun dan dalam keadaan apapun. Ajarilah kami untuk selalu yakin bahwa mengasihi adalah perintah yang berasal dari-Mu sendiri. Amin.  

Renungan Harian, Selasa Biasa XXII Read More »

Renungan Harian, Senin Biasa XXII

Bacaan: Lukas 4:16-30 Yesus ditolak di Nazaret 4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. 4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: 4:18 “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku 4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” 4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. 4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” 4:22 Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” 4:23 Maka berkatalah Ia kepada mereka: “Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!” 4:24 Dan kata-Nya lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. 4:25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. 4:26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. 4:27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu.” 4:28 Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. 4:29 Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. 4:30 Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. Renunga Marah Dengan Hati Setiap orang pastilah pernah mengalami rasa marah. Kemarahan menjadi tanda khas makhluk hidup. Binatangpun akan marah jika hidupnya terancam. Apalagi manusia yang berpikir dan berasa. Tidak dalam keadaan terdesak pun manusia sering marah dan mengungkapkannya dengan berbagai bentuk. Yang jelas marah itu menjadi tanda kemanusiaan. Ada marah yang baik, tetapi ada banyak kemarahan yang mengarah ke sebaliknya. Marah sering kali hanya sebagai ungkapan energy negative, atau karena merasa tersinggung dan perasaan negative lainnya. Hari ini orang-orang yang mendengarkan Yesus dikatakan marah. Kemarahan itu diungkapkan dengan menghalau Yesus keluar kota. Tidak hanya itu, Yesus dibawa oleh mereka ke tebing gunung dengan maksud melemparkan Dia ke dalam jurang. Satu orang marah masih bisa ditangai. Tetapi kemarahan komunal menjadi masalah yang susah diatasi. Rasa marah bisa muncul karena bermacam stimulus yang memicunya. Paling sering rasa marah muncul karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Ada yang orang marah dengan cara kasar, tetapi ada orang yang marah dengan cara elegan. Orang-orang yang dihadapi Yesus hari ini marah karena mereka tidak terima dengan apa yang dikatakan Yesus. Pada awalnya semua orang bisa menerima apa yang dikatakan Yesus. Tetapi ketika mulai menyentuh pengalaman lama, mereka mulai tidak menerima. Mereka marah dan hendak membinasakan Yesus. Mereka marah dengan cara kasar karena mereka banyak dan kekuatan kemarahan mereka menjadi berlipat. Menerima kebenaran masa lalu tidak selalu mudah. Ada orang yang menangis dengan sejadi-jadinya ketika ingat masa lalu, ada yang badannya menjadi sakit, ada yang tidak bisa makan atau tidur, ada yang marah dan tidak terima. Berbagai macam ungkapan bisa terjadi. Tetapi ada juga yang tidak peduli, merasa tidak penting, dan menganggap lalu. Akibatnya kita tidak bisa belajar dari pengalaman masa lalu. Kita bisa mengenali diri sendiri, bagaimana ketika saya marah, apakah saya marah dengan cara yang elegan, atau saya marah dengan cara yang sembarangan? Semoga kita berani untuk marah secara Kristiani, yakni dengan memberkati dan mendoakan mereka yang membuat kita marah. Doa: Tuhan, semoga aku tidak hanyut dalam hasrat kemarahan yang sia-sia. Ajarilah aku untuk marah dengan cinta kasih dan pengampunan. Amin.  

Renungan Harian, Senin Biasa XXII Read More »

Mengenal Kardinal dalam Gereja Katolik

Tanjungkarang – Hari ini (waktu Vatikan), Paus Fransiskus mengumumkan sepuluh Kardinal baru untuk Gereja Katolik Roma. Salah satu cardinal yang diumumkan itu adalah Mgr. Ignasius Suharyo (Uskup Agung KAJ) sebagai Kardinal Gereja Indonesia. COVID-19 and Bodybuilding Steroids – Steroids Side Effects for Men in 2021 – IPS Inter Press Service Business methyltrienolone home – cialis for bodybuilding, steroids usa org legit – socratic med Pada tanggal 5 Oktober yang akan datang, para Kardinal baru ini akan diundang ke Vatikan untuk diperkenalkan kepada kolegio pada Kardinal. Berkaitan dengan pengangkatan Kardinal ini, mungkin saja ada banyak dari kita yang belum mengetahui persis siapa dan bagaimana mereka. Maka pada tulisan ini akan disajikan ulasan singkat rm Doddy Sasi, Cmf tentang Kardinal. Saat ini rm Dody adalah Mahasiswa Program Lisensiat Hukum Gereja, Universitas Kepausan Lateran, Roma.   Sepintas Sejarah Kata kardinal: Cardinale—Latin: “cardo” yang berarti engsel pintu (cerniera la porta). Atau kata kardinal bisa diartikan pula sebagai sesuatu yang prinsipil. Abad-abad awal: Paus memilih 25 imam untuk membentuk satu unit kerja sebagai penasihatnya. Dan 25 imam penasihat ini disebut dengan nama cardinal. Masih sebatas pada gereja-gereja local sekitar Roma. Abad XII: mulai digunakan gelar cardinal untuk uskup-uskup lain yang jauh dari Roma.   Sekarang: masih bertahan sampai sekarang 3 tingkatan jabatan cardinal: cardinal diakonia, cardinal presbiteral, cardinal uskup. Ketiga 3 tingkatan ini selalu mempunyai ikatan kuat dengan gereja-gereja di Roma. Para kardinal tingkat episkopal , yakni para kardinal yang oleh paus diberi gelar Gereja Suburbikaris. Sedangkan para kardinal tingkat presbiretal dan diakonal masing-masing diberi gelar atau diakonia di Roma. Alasan dasarnya agar mereka selalu ada ikatan dengan gereja di Roma.   Dalam Kitab Hukum Kanonik 1917: para kardinal disebut dengan nama “senat” dari Paus. Tugas para kardinal adalah mendampingi Paus sebagai penasihatnya (Kan. 230, KHK. 1917) 1983 (kan. 349-359): istilah yang dipakai bukan lagi “senat”tapi “kolegium khusus” (collegio peculiare) yang juga bertugas sebagai penasihat Paus.   Fungsi Utama: ada 2 fungsi utama (kan. 349): Memilih Paus Membantu Paus: dalam 2 cara: secara kolegial melalui konsistori (consistoro) dan secara singular melalui fungsi pemerintahan pada Kuria Romana (dikasteri-dikasteri atau lembaga-lembaga kuria Roma).   Konsistori: ada 4 tipe konsistori**: Ordinari: Paus mengundang dan memanggil paling tidak para kardinal yang berada di Roma. Ekstraordinari: Paus memanggil juga para kardinal lainnya yang berada diluar Roma. Publik: mereka yang tidak termasuk dalam kolegio para kardinal juga diundang untuk berpartisipasi dalam konsistori. Privat: Hanya Paus dengan para kardinal   **Keterangan: Konsisitori selalu atas dasar inisiatif dan undangan dari Sri Paus. Paus juga yang memimpinnya tapi ia tidak termasuk anggota dari kolegio para kardinal. Sebagai contoh, Paus Fransiskus biasanya mengundang adanya konsistori pada waktu sehari sebelum tanggal 29 Juni setiap tahun untuk memperkenalkan para kardinal baru dan pada tanggal 29 Juni biasanya ada penyerahan Palium untuk para uskup agung yang baru terpilih.   Syarat-syaratnya: Yang diangkat menjadi Kardinal adalah para pria yang dipilih dengan bebas oleh Paus, sekurang-kurangnya sudah ditahbiskan imam, unggul dalam ajaran, moral, kesalehan dan juga kearifan bertindak; mereka yang belum Uskup, harus menerima tahbisan Uskup (kan.351.1). Beberapa kali terjadi bahwa yang terplih menjadi kardinal tidaklah harus seorang uskup bahkan dengan usia yang juga sudah melewati 75 tahun. Alasannya jelas sebagai bentuk penghargaan terhadap jasanya dalam gereja universal.   Cara Pengangkatan: Para Kardinal diangkat oleh Paus dengan suatu dekret, yang diumumkan di hadapan Kolegium Kardinal; sejak pengumuman itu mereka terikat kewajiban-kewajiban dan mempunyai hak-hak yang ditetapkan hukum (kan.351.2)   Sede Vacante Yang menjadi figur protagonis pada saat sede vacante adalah kolegio para kardinal Saat sede vacante yang ikut mundur/kosong (decade) adalah: Sekretaris negara Vatikan, Dekan (ketua kolegium cardinal), para cardinal yang mengepalai dikasteri-dikasteri. Dan yang masih tertinggal (rimane): Kardinal Kamerlengo, sekretaris jendral dari dikasteri-dikasteri, Vikaris untuk kota Roma, Vikaris Jendral Kota Vatikan. Kardinal kamerlengo mempunyai tugas utama memimpin selama sede vacante.   Hal-hal terkait lainnya: Para kardinal yang mengepalai dikasteri / kantor-kantor atau lembaga-lembaga tetap kuria Roma dan kota Vatikan, diminta untuk mengajukan pengunduran diri jika telah genap berusai 75 tahun (kan.354) Kardinal dekan yang berwenang mentahbiskan Paus terpilih sebagai uskup, bila yang terpilih itu membutuhkan tahbisan (kan.355). Kardinal proto-diakon yang memaklumkan nama Paus yang baru kepada umat (355.2). Umumnya para kardinal memiliki tugas tambahan, misalnya memimpin suatu keuskupan atau keuskupan agung ataupun memimpin suatu kantor/ lembaga/departemen dalam Kuria Romawi. Akan tetapi fungsi terpenting mereka adalah memilih Paus baru, bilamana terjadi sede vacante karena kematian atau pengunduran diri Paus yang lama. Hak untuk menghadiri konklaf kini dibatasi bagi para kardinal yang berusia tidak lebih dari 80 tahun pada hari kematian Paus.   Ditulis oleh rm Doddy Sasi, Cmf, Mahasiswa Program Lisensiat Hukum Gereja, Universitas Kepausan Lateran, Roma (ed.mrjo)

Mengenal Kardinal dalam Gereja Katolik Read More »

Kardinal Baru Untuk Indonesia

Vatican – Kabar gembira datang dari kepausan untuk Gereja Katolik Indonesia. Setelah pendarasan doa Angelus pada Minggu (1/9/19) waktu Vatikan, Paus Fransiskus mengumumkan bahwa Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta, Mgr. Ignasius Suharyo, diangkat menjadi Kardinal. Mgr. Suharyo diangkat menjadi Kardinal bersama sembilan Kardinal baru. Selain itu, Paus Fransiskus juga mengangkat dua uskup agung dan seorang uskup untuk Keuskupan Benguela. Dalam kesempatan itu, Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa tempat-tempat di mana para Kardinal baru ini berasal mengungkapkan panggilan misionaris Gereja yang diwariskannya untuk terus mewartakan belas kasih Allah kepada setiap orang di bumi ini. Berikut adalah nama-nama Kardinal baru: S.E. Mons. Miguel Angel Ayuso Guixot, MCCJ – Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama. S.E. Mons. José Tolentino Medonça – Pengarsip dan Pustakawan Gereja Roma Suci. S.E. Uskup Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo – Uskup Agung Jakarta. S.E. Mons. Juan de la Caridad García Rodríguez – Uskup Agung San Cristobal de la Habana. S.E. Mons. Fridolin Ambongo Besungu, O.F.M. cap – Uskup Agung Kinshasa. S.E. Mons. Jean-Claude Höllerich, SJ – Uskup Agung Luksemburg. S.E. Uskup Alvaro L. Ramazzini Imeri – Uskup Huehuetenamgo. S.E. Mons. Matteo Zuppi – Uskup Agung Bologna. S.E. Mons Cristóbal López Romero, SDB – Uskup Agung Rabat. R.P. Michael Czerny, SJ – Wakil Sekretaris Bagian Migran – Departemen Layanan Pengembangan Manusia Integral Sementara itu, dua Uskup Agung dan Uskup baru yang diangkat adalah sebagai berikut: Uskup Agung Michael Louis Fitzgerald – Uskup Agung Emeritus Nepte Uskup Agung Sigitas Tamkevicius, SJ – Uskup Agung Emeritus Kaunas Bishop Eugenio Dal Corso, PSDP – Uskup Emeritus Benguela Sumber: https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2019-09/pope-announces-13-new-cardinals-for-the-missionary-church.html  

Kardinal Baru Untuk Indonesia Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top