Keuskupan Tanjungkarang

Renungan Harian, Kamis Prapaskah II

Bacaan: Lukas 16:19-31 Orang kaya dan Lazarus yang miskin 16:19 “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. 16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, 16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. 16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. 16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. 16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. 16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. 16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. 16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, 16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. 16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. 16:30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. 16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”   Renungan Menyebar ‘Virus Corona’ Seiring dengan hebohya virus COVID-19 (corona), kita bisa memaknai perikopa Injil hari ini juga untuk menyebarkan ‘virus corona’. Sengaja diberi tanda petik karena yang dimaksud berbeda dengan COVID-19. Corona berarti mahkota yang dipakai oleh seorang raja atau ratu, atau pembesar tertentu. Bentuk dari mahkota itu hampir selalu melingkar, atau lingkaran. Corona juga berarti lingkaran, misalnya corona adevent (lingkaran Advent). Dalam tradisi Katolik, setiap santo santa juga digambarkan memakai mahkota (corona) yang melambangkan mahkota surgawi. Maka sebenarnya ‘corona’ itu mempunyai pengertian yang positif sejak awalnya. Bahkan istilah itu dipakai untuk identifikasi orang kudus. Dalam pengertian untuk orang kudus itulah kita bisa memakai istilah ‘menyebar virus corona’. Injil hari ini mengajak kita untuk berani ‘memakai’ corona dalam diri kita, ketika kita masih hidup sekarang ini. ‘memakai corona’ berarti berani menjadi agen kebaikan bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. Tidak perlu menunggu nanti atau besok atau lusa, kebaikan itu kita berikan saat ini, saat kita bisa melakukannya. Persis seperti kebalikan dari gambaran orang kaya dalam injil hari ini. Orang kaya itu tidak diberi nama, dan juga suadar-saudaranya tidak ada namanya. Hanya Lazarus yang diberi label nama dalam kisah ini. Maka sebenarnya kita bisa memaknai jangan-jangan nama kita menjadi bagian dari orang kaya itu. Ketika melihat orang lain yang menderita, kita tidak melakukan apapun. Disanalah nama kita tertera. Berani menyebar ‘virus corona’ tidak perlu menunggu besok-besok. Setiap dari kita bisa melakukannya sekarang ini, tanpa menunggu perintah, tanpa menunggu kematian. Dimanapun kita berada, kita bisa menyebarkan kebaikan dan kebajikan. Hanya persoalannya adalah apakah kita mau atau tidak. Yang jelas kita masing-masing sudah diberi kemampuan itu. Ada begitu banyak virus yang membuat kita terpisah dan jauh dari yang lain. Maka jika tidak hati-hati, kita menjadi hanya nyaman dengan diri sendiri. Nyaman dengan diri sendiri bisa menjadi virus yang mematikan jika kita tidak peduli kepada yang lain. Persis seperti orang kaya yang tidak mau sekedar pergi ke pintu depan rumahnya. Saat ini kita diajak untuk menjaga kesehatan tubuh, menyeimbangkan berbagai macam kegiatan dan aktifitas yang ada. Demikian juga kita diingatkan untuk menjadi hidup rohani dan hidup batiniah kita. Jangan sampai kita justru menyingkirkan yang lain hanya demi kenyamanan pribadi. Doa: Ya Tuhan, semoga hidupku menjadi saluran berkat bagi yang lain. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan kami. Amin.  

Renungan Harian, Kamis Prapaskah II Read More »

Renungan Harian, Rabu Prapaskah II

Bacaan: Matius 20:17-28 Pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus 20:17 Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: 20:18 “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. 20:19 Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” 20:20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 20:21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” 20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” 20:23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” 20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”   Renungan Memerintah dengan rendah hati bisa menjadi kata kunci untuk mencoba mengerti perikopa hari ini. Dalam pengertian sempit, memerintah tetapi dengan rendah hati mempunyai nuansa bertentangan. Orang yang memerintah biasanya itu dengan kekuasaan, atau power. Tanpa itu, perintah akan dengan mudah tidak dijalankan. Orang yang punya ‘tangan besi’ akan dengan mudah menguasai orang lain yang akhirnya bisa menjalankan perintah-perintahnya. Maka memerintah dengan rendah sering kali mempunyai logika terbalik bagi kekuasaan dunia ini. Tetapi jika kita renungkan lebih jauh, memerintah dengan rendah hati sebenarnya bukan berarti memerintah tanpa ‘power’. Memerintah dengan rendah hati bukan berarti tidak ada ketegasan dan kejelasan. Memerintah dengan rendah hati bukan berarti perintah itu lemah. Rendah hati itu berkaitan dengan sikap diri, cara berpikir hati dari seorang pribadi. Orang yang rendah hati belum tentu orang itu tidak powerfull. Orang yang rendah hati pastilah punya kharisnya yang mendalam, meskipun tidak memerintah, kita bisa merasakan bagaimana aura ‘kuasanya’. Ketika seseorang memimpin hanya dengan perintah, kita bisa dengan mudah mengabaikannya, tidak peduli, dan bahkan tidak ada kepercayaan, meskipun kita melaksanakan perintahnya. Dengan jelas kita bisa merasakan aura yang tidak kharismatis dari pemimpin yang memerintah itu. Maka perintah yang diberinya juga akan dijalankan hanya dengan asal jadi saja, tidak ada keterlibatan batin di dalamnya. Ada banyak contoh yang bisa kita lihat dan rasakan di dunia sekitar kita. Yesus hari ini mengingatkan tentang logika kerendahan hati dalam memerintah, atau lebih luas kerendahan hati bagi seorang pemimpin. Dalam seluruh karya-Nya, Ia menampakkan hal itu. Justru kerendahan hati-Nya lah ada begitu banyak orang yang terpengaruhi, bahkan para pemimpin juga menjadi tertarik untuk ‘mendekat’ pada-Nya. Kerendahan hati-Nya mendapat puncaknya dalam peristiwa salib. Salib itulah yang menjadikan kita ‘tak berdaya’ mendekat dan menimba kekuatan daripadanya. Salib menjadi tada paling jelas dari kekuasaan yang rendah hati. Dalam salib terpancar sekaligus kekuasaan Allah dan kerendahan hati. Maka kita yang selalu memakai tanda itu juga dipanggil untuk memancarkan ‘kekuasaan’ dan kerendahan hati. Semoga kita tidak pernah lelah memakai salib untuk hidup kita. Doa: Ya Tuhan, semoga sabda-Mu berbuah dalam hidupku. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan kami. Amin.  

Renungan Harian, Rabu Prapaskah II Read More »

Renungan Harian, Jumat Prapaskah I

Bacaan: Matius 5:20-26 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 5:21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. 5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 5:23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 5:24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 5:25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 5:26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.   Renungan Iman berdimensi sosial Satu hal kecil yang bisa kita alami dari perikopa Injil hari ini adalah tentang keindahan beriman bersama yang lain. Secara umum kita ketahui bahwa kita tidak pernah bisa hidup sendirian. Orang lain mempunyai pengaruh besar dalam diri kita masing-masing. Demikian juga dalam keselamatan, bisa jadi secara tidak sadar orang lain membawa kita kepada keselamatan. Pasti suatu ketika kita pernah mengalami itu. Hanya saja ada orang yang bisa sangat peka akan pengalaman itu sehingga selalu bermakna, tetapi ada juga orang yang sama sekali tidak peka. Orang yang tidak peka itu akan biasa-biasa saja, hidup seolah tidak pernah ada campur tangan Tuhan, apalagi orang lain. Dirinya sendiri menjadi pusat segalanya, semua usaha dan kesuksesannya adalah usaha sendiri. Injil hari ini mengingatkan kita bahwa orang lain adalah bagain dari diri kita, entah bagian besar atau bagian kecil. Apapun yang kita katakan tentang orang lain, itupun juga kembali kepada kita. Kalau berkata yang baik, maka juga akan kembali pada diri sendiri. Demikian juga ketika berkata yang tidak baik, akan kembali pada diri sendiri. Maka Yesus mengingatkan kita supaya tidak dengan mudah mengacap ‘kafir, jahil’ kepada orang lain. Itu artinya juga mengatakan diri sendiri. Apalagi tindakan membunuh yang lain. Hanya marah saja sudah menjadi bagian pelanggaran yang berat. Maka dari itu, kita diajak untuk belajar membawa damai bagi dan bersama yang lain. Jika kita percaya hidup kita diberkati, sudah semestinya kata dan tindakan kita selalu mamba dimensi damai. Damai itu diwujudkan dengan cara keberanian untuk saling mengampuni. Hanya orang yang bisa bersyukur yang akhirnya mampu sampai pada pengalaman mengampuni. Berdamai bukan berarti tidak ada masalah. Berdamai bukan berarti tidak pernah konflik. Kita harus berani ‘bermasalah’ ketika ada dimensi kebenaran, keadilan, dan kejujuran yang dilanggar. Berdamai berarti berani mengampuni, tetapi berani mencintai meski dibenci, berani menjumpai meski tidak disenangi. Doa: Ya Tuhan, semoga sabda-Mu senantiasa menguatkan iman dan perjuangan ku. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan kami. Amin.  

Renungan Harian, Jumat Prapaskah I Read More »

BAHAN APP 2020 LINGKUNGAN

Pertemuan Prapaskah I Bumi adalah Titipan Tuhan (Imamat 25:23 – 28. 35 – 38) Tujuan: Keluarga Katolik semakin terbuka dan mengerti akan nilai-nilai Kitab Suci Setiap pribadi beriman semakin menyadari bahwa bumi adalah titipan Tuhan Keluarga Katolik semakin bersyukur bahwa Allah menganugerahkan kehidupan Lagu Pembuka: “Ya Tuhan, Engkau Sumber Air Hayat” (PS 486) Tanda Salib dan salam P : Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus U : Amin P : Semoga rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus selalu beserta kita U : Sekarang dan selama-lamanya Pengantar: Bapak, ibu, saudara, saudari yang terkasih. Tidak terasa kita sudah memasuki Masa Prapaskah lagi. Dimana kita diberi kesempatan untuk memulihkan hubungan dengan Tuhan. Sebagai bahan permenungan di Masa Prapaskah tahun 2020 ini Keuskupan Tanjungkarang mengambil tema besar yaitu Bumi Sumber Kehidupan. Tema besar ini akan kita renungkan dalam 5 pertemuan, yaitu : Pertemuan Pertama     : Bumi adalah Titipan Tuhan Pertemuan Kedua       : Bumi Sumber Ekonomi Pertemuan Ketiga       : Ekonomi yang Bermartabat Pertemuan Keempat   : Bumi Rumah Kehidupan Pertemuan Kelima      : Gerakan Pertobatan dan Aksi Solidaritas. Pada Pertemuan Prapaskah I ini, kita hendak membagikan pengalaman hidup kita akan titipan Tuhan yaitu bumi dimana kita tinggal dengan tema “Bumi adalah Titipan Tuhan”. Dalam Kitab Imamat ditegaskan, “Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagiKu” (Im 25:23). Kita semua adalah orang-orang yang menerima anugerah dari Tuhan dalam rupa, tanah atau bumi tempat dimana kita tinggal sekarang ini. Melalui Sabda Tuhan dari Kitab Imamat, kita akan memaknai Bumi sebagai Titipan Tuhan. Oleh karena itu marilah saat ini kita mempersiapkan diri untuk pertemuan hari ini. Kita hening sejenak mempersiapkan diri dan hati kita, mengakui segala kelemahan dan dosa kita. (Hening) P          : Saya mengaku…. P+U   : Kepada Allah yang Mahakuasa….. P         : Semoga Allah Bapa yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal. U         : Amin. Doa Pembuka Ya Allah Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur atas segala kemurahan hati-Mu yang telah kami terima sampai saat ini. Kami bersyukur kami boleh mengalami masa ini dimana kami diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami dengan Engkau melalui tobat, puasa, pantang dan doa. Kami mau mengisi masa Prapaskah ini dengan lebih mendekatkan diri kepada-Mu dengan Ibadat bersama. Pada pertemuan ini kami akan merenungkan sabda-Mu dan berbagi pengalaman hidup agar kami lebih merasakan kasih-Mu dalam diri kami masing-masing. Kami mau bersama-sama bertumbuh akan iman, kasih dan pengharapan kepada-Mu. Kami mau merenungkan Sengsara, Wafat dan Kebangkitan-Mu agar kami lebih mencintai kehidupan ini melalui apa yang telah Kau berikan pada kami yaitu bumi ini. Ya Roh Kudus, kobarkan Api Cinta-Mu, agar dengan semangat yang teguh kami dapat menjadi pelaku Firman-Mu bukan hanya pembaca atau pendengar saja. Kami berdoa pula bagi saudara-saudari kami yang saat ini belum bisa hadir di tempat ini. Berilah mereka kekuatan dan kehendak agar suatu saat bisa berkumpul bersama kami dalam ibadat-ibadat selanjutnya.Semua doa ini kami sampaikan ke hadapanMu dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin Bacaan :KitabImamat 25:23 – 28. 35 – 38 Pertanyaan Pembantu Pendalaman: Siapakah pemilik bumi dan apakah status manusia? Berdasarkan bacaan di atas, apa tugas manusia terhadap bumi? Apa yang dilakukan masyarakat Yahudi dalam tahun Yobel? Bagaimana sikap anda melihat lahan tidur atau lahan yang tidak dioptimalkan penggunaannya? Dan bagaimana sikap anda melihat lingkungan yang kumuh? Bagaimana solusinya? Menurut anda bagaimana cara mengungkapkan rasa syukur atas bumi tempat kita hidup? Peneguhan: Orang Yunani menyebutnya rumah (oikos). Bumi adalah rumah bersama dan rumah utama bagi semua mahluk hidup. Bumi dalam pelbagai budaya disebut “ibu”: Ibu Pertiwi. Dengan menyebutnya IBU maka diakui bahwa bumilah yang melahirkan dan menumbuhkan kehidupan. Menyebut bumi sebagai rumah, mengacu kepada perlindungan dan pemeliharaan. Dalam Kitab Suci, sumber hak hidup ekonomi utama masyarakat adalah tanah. Tema-tema moral sosial dalam Perjanjian Lama selalu dihubungkan dengan ekonomi berbasis tanah (sumber ekonomi), seperti peduli pada orang miskin ( Kel 23:6; Ul 15:7-11), perhatian pada orang asing (Bdk. Kel 21:21-24), kepada janda dan yatim piatu (Bdk. Ul 24:19-22) serta lingkungan hidup (Bdk. Im 25:8-55). Demikian juga dalam pewartaan para Nabi, tema keadilan ekonomi terkait dengan komoditi hasil bumi objek transaksi di pasar, yang berujung pada ketidakadilan, pemerasan dan penindasan. Inilah dasar dari pengaturan tahun Yubileum di mana korban kejahatan sosial dan ekologis mesti dihapuskan. Utang dihapus dan tanah diistirahatkan agar terpulihkan dari eksploitasi manusia. Bela rasa sebagai penyelesaian masalah sosial. Tanah adalah milik Allah. Dari tanah yang satu dan sama itu warga Israel harus dapat hidup. Tidak diperkenankan ada orang miskin di tanah yang diberikan Tuhan itu ( Im 25:25.35). Masyarakat Israel memiliki tradisi berbagi hasil ladang waktu panen dengan sesama, terutama mereka yang miskin dan kelaparan. Maksudnya adalah supaya semua manusia yang hidup di atas tanah terjanji dapat hidup (Bdk. Rut 2-3). Kemiskinan adalah aib di atas tanah yang diberikan Tuhan, yang berlimpahkan susu dan madunya. Dalam pengertian luas manusia hanya sebagai pengelola tanah dan bertujuan untuk kesejahteraan bersama serta menjunjung tinggi nilai keadilan dan semangat bela rasa supaya orang lainpun mengalami kesejahteraan. Hak untuk hidup adalah hak yang paling dasar dan hal-hal yang lain bertumpu padanya. Kehidupan manusia adalah sesuatu yang diterima, sebagai anugerah. Allah Pemberi kehidupan menopang kehidupan manusia dengan pelbagai ciptaan lain, yang mengitari kehidupan manusia. Allah menganugerahkan hidup kepada manusia, sekaligus melengkapi hidup manusia dengan ciptaan lain yang menopang, menunjang dan mempertahankan hidupnya. Atas dasar itu, maka prioritas utama dalam ekonomi adalah kehidupan manusia. Bukan hanya segelintir atau sebagian besar, tetapi semua manusia, siapapun dia. Dia berhak atas akses terhadap sumber-sumber hidup atau sumber-sumber ekonomi dan hak itu harus dijamin dan dipertahankan di atas prinsip keadilan. Doa Umat : P   Ya Bapa, pada kesempatan ini kami juga hendak mengantar doa-doa kami, berkenanlah Engaku mendengarkannya L  Bagi Para Pemimpin Masyarakat Ya Bapa, bimbinglah para pemimpin masyarakat kami dalam mengambil keputusan yang bijaksana dan untuk kepentingan masyarakat terutama mengenai kelangsungan ekosistem di bumi ini.Marilah kita mohon….. L  Bagi Para Gembala Umat Ya Bapa yang Mahabaik, sertailah dan bimbinglah para gembala umatMu dalam karya penggembalaan mereka. Semoga mereka senantiasa dengan rendah hati

BAHAN APP 2020 LINGKUNGAN Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top