Bacaan: Yohanes 3:1-8

Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.” Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”

 

Renungan

Bacaan Injil hari ini berkisah tentang percakapan antara Yesus dan Nikodemus. Mereka berdialog tentang “kelahiran kembali.” Pernyataan bahwa saat itu malam hari menggambarkan betapa serius percakapan tersebut. Oleh Yesus, kelahiran kembali dihubungkan dengan Kerajaan Allah. “Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah,” demikian Ia berkata.

Karena dipahami secara harfiah, perkataan Yesus itu membuat Nikodemus bingung. Bagaimana mungkin orang yang sudah tua masuk ke rahim ibunya dan dilahirkan kembali? Ternyata kelahiran kembali yang dimaksud Yesus mengandung makna yang lebih mendalam, yaitu kelahiran dalam Roh. Kelahiran kembali ini bisa diartikan sebagai pertobatan atau langkah untuk memperbaiki diri.

Tanpa diduga sebelumnya, tahun ini dunia dihebohkan dengan tersebarnya virus yang mematikan, yakni virus corona. Meskipun mengejutkan, fenomena seperti ini sebenarnya bukan pertama kali terjadi. Konon, seratus tahun lalu (1920), pandemi flu spanyol mengguncang seluruh dunia. Seratus tahun sebelumnya (1820), wabah kolera merebak dan merenggut nyawa banyak orang. Pada tahun 1720, wabah yang merajalela adalah penyakit sampar. Merefleksikan fenomena ini, ada yang kemudian berkata, “Dunia mengoreksi dirinya setiap seratus tahun sekali.”

Ajakan pemerintah untuk memutus mata rantai penularan virus corona dengan “physical distancing” dan “stay at home” dapat kita manfaatkan untuk sekaligus berefleksi bagaimana sikap kita selama ini terhadap alam. Kita ingat kembali bahwa Paus Fransiskus beberapa waktu lalu menerbitkan Ensiklik Laudato Si yang mengajak kita untuk mendengarkan jeritan bumi. Bumi menjerit karena telah rusak akibat tingkah laku manusia yang kurang mampu menjaga kelestarian alam dan menjadi sahabat bagi seluruh ciptaan. Saat ini bumi kiranya tengah dilahirkan lembali. Bagaimana dengan kita? Marilah kita lahir kembali pula dengan meninggalkan perilaku yang sewenang-wenang terhadap alam semesta. Mari kita bersikap peduli, mari kita jaga kelestarian seluruh alam ciptaan. Pace e Bene (Sdr. Yustinus Damai Wasono OFM)

Doa: Ya Tuhan, semoga sabda-Mu hari ini mampu kami hidupi dan kami kembangkan. Bersabdalah hamba-Mu mendengarkan. Amin

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *