PW St. Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja

Bacaan: Matius 23:27-32

23:27 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. 23:28 Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. 23:29 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh 23:30 dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. 23:31 Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. 23:32 Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!

Renungan

Hidup Kepenuhan luar dalam

Dalam proses pengolahan hidup, sering kali terjadi tarik menarik antara mana yang lebih utama, bagian dalam atau bagian luar dari diri seseorang. Ada yang lebih condong ke bagian dalam yang paling penting, ada juga yang lebih condong ke bagian luar yang harus diutamakan. Dan kita tau sebenarnya jawabannya, yakni kedua-duanya harusnya seimbang. Bagian dalam baik, demikian juga bagian luarnya. Tetapi untuk sampai pada keseimbangan itu tidaklah serta merta mudah.

Kita bisa melihat dalam lingkungan sekitar kita, ada orang yang sampai usia lanjut pun masih hobi untuk merawat wajah supaya tetap kelihatan muda. Ada kerut wajah sedikit menjadi begitu gelisah dan tidak lagi percaya diri. Ada juga orang yang tidak peduli sama sekali dengan dirinya, ia tidak merawat tubuhnya dengan baik. Wajah kumal rambut kusam tidak pernah dihiraukannya karena bagi dirinya yang penting adalah dia tetap tenang dan damai.

Yesus hari ini mengingatkan kita yang masih seringkali seolah-olah menampilkan yang baik dari diri kita, tetapi sebenarnya di dalamnya ada banyak kemunafikan dan kedurjanaan. Yesus mengatakan ‘celakah kamu’. Ini menjadi peringatan keras bagi kita semua. Tidak menutup kemungkinan bahwa diri kita masing-masing mempunyai kecenderungan yang besar akan hal itu: munafik dan durjana. Bisa dideteksi dengan mudah: apakah kita pernah mencela orang yang melanggar lampu merah tetapi kemudian kita melakukan hal yang sama? Apakah pernah melihat orang lain celaka dan kita merasa senang dan puas karena dia menerima akibat dari ulahnya sendiri?

Apa yang baik di luar, semoga keluar dari kebaikan dari dalam. Apa yang baik di dalam, mari kita keluarkan dengan wajar dan normal. Lebay ke dalam atau lebay ke luar menjadi tanda yang tidak baik dari hidup kita. Kita akan tetap mampu hidup, tetapi belum hidup dalam kepenuhan dan kelimpahan.

Doa: Ya Tuhan, semoga aku mampu menyatukan rasa, karsa dan karyaku. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *