LIWA – Gereja Keuskupan Tanjungkarang patut bersyukur atas kelimpahan kasih dan penyertaan Allah kepada umatnya, khususnya umat Paroki St. Theodorus Liwa. Pada Sabtu (8/9/19) yang lalu uskup Keuskupan Tanjungkarang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, memimpin perayaan ekaristi pemberkatan gereja yang baru di paroki ini.

Di dampingi pastor paroki, rm Bovan OFM, pastor rekan dan sepuluh konselebran lainnya, uskup Harun membuka perayaan Ekaristi dengan memberkati patung Pieta yang ada di depan pintu masuk gereja. Pada kesempatan ini, ada dua pastor OFM yang bertugas di Tanah Suci ikut serta hadir dalam perayaan syukur. Kemudian dilanjutkan dengan pemberkatan pintu utama gereja. Hadir hampir sebagian besar umat paroki Liwa dengan beberapa tamu undangan dari berberapa daerah lainnya.

Dalam homilinya, uskup Harun mengungkapkan bahwa yang ada di pikiran kita, di hati kita, itulah yang akan dikeluarkan sebagai aksi kepada orang lain. Maka benar perintah Tuhan, kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan kasihilah sesama mu seperti dirimu sendiri, vertikal dan horizontal.

Bapak uskup member contoh binatang lalat. Dimanapun dia akan mencari barang busuk. Dia tidak tertarik pada madu. Tetapi yang jelek, meski jaraknya jauh, akan tetap dicari lalu disebarkan hingga menjadi penyakit. Lain dengan lebah, meski kelihatannya garang tetapi karena kodratnya baik, tetaplah baik. Yang jahat melahirkan kejahatan, yang baik melahirkan kebaikan.

Uskup mengajak semua umat bersyukur karena mempunyai gereja yang megah. Tetapi gereja bukanlah batu yg mati. Tiga hal yang  mesti diingat pakerti, lati dan ati. Ketiganya menjadi satu kesatuan, tak terpisahkan. Kemanunggalan ati (gagasan, pikiran), lati (bibir, ucapan, uni) dan pakarti (sikap, perbuatan, tingkah laku) yang dikenal dengan ‘satunya kata dan perbuatan’, harusnya menjadi sikap setiap orang beriman. Hal ini dilakukan untuk “hamemayu hayuning kulawarga”, “hamemayu hayuning negara”, “hamemayu hayuning bawana”.

Lebih jauh uskup mengajak umat untuk selalu menyadari bahwa bukan gereja yang megah sisi gadungnya yang utama, tetapi gereja sebagai sakramen keselamatan.

Acara pemberkatan Gereja dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan peresmian oleh Bupati Kab. Lampung Barat, Hi. Parosil Mabsus.

Parosil dalam sambutannya mengatakan bahwa dengan diresmikannya Gereja Katolik Santo Theodorus Liwa ini diharapkan semakin meningkatkan kualitas umat, baik dalam iman maupun dalam kehidupan sehari-harinya. “Dengan diresmikannya gereja hari ini atas partisipasi semua pihak diharapkan dapat membantu memperkuat persatuan dalam keberagaman agama. Karena dengan terciptanya kerukunan antar umat beragama tentunya akan semakin meningkatkan peran serta umat beragama dalam pembangunan bangsa, termasuk dalam upaya mengatasi krisis ekonomi, krisis budaya dan juga krisis moral yang kita alami sekarang ini,”.

Sehubungan dengan hal tersebut, kata dia, pemerintah sangat mengharapkan peran dan bantuan semua umat beragama, para pemuka agama termasuk para pastur dan tokoh gereja serta tokoh masyarakat dalam memberikan kontribusi dan partisipasi aktif dan nyata.

Dalam kesempatan itu pula, bapak bupati berharap semua pihak mampu menjaga ketenangan dan kejernihan dalam bertindak dan berpikir, sehingga kita tidak mudah terpancing dengan isu yang menghasut masyarakat, dan mampu mengatasi dan memandang persoalan hidup dengan bijaksana. “Kepada seluruh umat beragama di wilayah Kabupaten Lampung Barat, saya harapkan untuk mampu menjaga ketenangan dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan NKRI,”.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *