Sebuah kisah

Ada seorang imam yang ingin mengirim surat ke kantor pos. Tapi, imam itu tak tahu di mana kantor pos berada. Imam itu memberanikan diri untuk melanjutkan keinginannya. Ia berpikir, seandainya bingung atau nyasar, ia bisa bertanya kepada orang di jalan.

Apa yang dikhawatirkan sebelumnya terjadi. Imam itu tak tahu lagi harus pergi ke arah mana ketika sampai di perempatan jalan. Beruntung di pojok perempatan jalan, ia bertemu dengan seorang anak muda. Begitu imam itu mendekat, anak muda itu langsung menyapanya sebagai Romo. Imam itu kaget karena anak muda yang di hadapannya mengenal dirinya. Rupanya anak muda itu umat parokinya.

“Kebetulan saya pernah ke gereja Romo,” kata anak muda itu, menjelaskan. “Kebetulan?” tanya sang imam dengan bingung. “Iya, Romo,” lanjut anak muda itu, “saya tak selalu pergi ke gereja.” Tak ingin memperpanjang diskusi, imam itu langsung bertanya kepadanya jalan menuju kantor pos. Anak muda tersebut langsung mengarahkan sang imam jalan ke kantor pos. Imam itu akhirnya berhasil menemukan kantor pos.

Usai mengirim surat, sang imam kembali ke pastoran. Ternyata anak muda itu masih ada di situ. Maka, Romo itu mendekatinya berpesan kepada anak muda itu agar Minggu nanti ke gereja. “Saya siapkan khotbah yang bagus dan menarik buatmu,bagar kamu bisa menemukan jalan Tuhan,” ujar sang imam, penuh keyakinan.

Anak muda itu rupanya tak tergiur bujukan pastor parokinya. Ia tak mau ke gereja. Meski pastor parokinya kembali mendesak, anak muda itu bergeming. Ia tetap tak mau. “Bagaimana mungkin Romo menunjukkan jalan Tuhan kepada saya, sementara jalan menuju kantor pos saja Romo tak tahu?” jawab anak muda itu.

“Sementara Romo tidak tahu jalan ke kantor pos, biarkan saya menemukan sendiri jalan menuju Tuhan. Tinggal cari tahu di internet, sudah ada GPS (Global Positioning System) yang canggih sebagai penunjuk jalan.” (hidupkatolik.com 13 Agustus 2017).

Sebuah Sikap

Bagaimana sikap Gereja Katolik atas penggunaan media sosial? Sikap Gereja Katolik sangat jelas, yakni selain menempatkan internet sebagai karunia Allah yang berkarya melalui manusia, Gereja juga turun tangan mengambil bagian membimbing umat bagaimana memanfaatkan media sosial secara bijak.

Gereja tidak boleh tinggal diam membiarkan umat mencari sendiri apa yang mereka perlukan. Gereja tetap penting berperan memimpin. Untuk itu, tepat sekali, Gereja sebaiknya mencontohkan bagaimana media sosial dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai sarana pewartaan kekinian.

Paus Fransiskus  dalam pesan pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 53  menegaskan “Sejak adanya internet, Gereja selalu mendorong pemanfaatannya untuk melayani perjumpaan dan membangun solidaritas antar pribadi”. Bagi Gereja, hari Komunikasi Sosial ini menjadi begitu penting. Mulai tahun 1966 Gereja merayakan hari Komsos pada Minggu setelah Minggu Paskah ke 5.

Peran Gereja adalah pewarta Kabar Baik dan nilai luhur Katolik. Artinya, media sosial merupakan pembaruan bentuk saja, mengikuti perkembangan zaman; tidak untuk ditolak, melainkan untuk dikelola secara bijak. Oleh karena itu, dalam bermedia sosial, penting sekali memegang prinsip untuk mengutamakan kebenaran, kebaikan, dan kemanfaatan dalam berkomunikasi. Kaidah moralitas, etika berkomunikasi dan tatanan hukum wajib dijunjung dalam berkomunikasi di era digital dewasa ini.

Hari Komsos ke 53: Jejaring Humanis

Tema yang diangkat untuk tahun ini adalah “Kita adalah sesama anggota (Ef 4:25). Berawal dari komunitas jejaring sosial menuju komunitas insani”.  Pemilihan tema tersebut merupakan  ajakan Paus kepada siapapun untuk membantu orang muda guna menemukan dan mengalami kemerdekaan di media sosial lewat kebenaran.

Jejaring sosial dapat membantu setiap orang untuk saling terhubung. Tetapi jejaring sosial juga dapat pula dimanfaatkan secara keliru untuk memanipulasi data. Dua sisi jejaring social ini sering kali menjadi ambigu, meskipun sebenarnya sudah ada patokan yang jelas. Gereja mengingatkan bahwa jejaring social (social networking) dipakai untuk mengangkat derajat martabat manusia. Bukan sebaliknya, merendahkan dan menegasikan keluhuran manusia.

Komunitas dan jejaring social di dunia maya mampu menunjukkan  kohesi dan soldaritas, tetapi juga sering kali jatuh dalam pembentukkan kelompok komunitas dan jejaring social yang tidak lebih dari sekedar kelompok individu dengan ikatan lemah. Maka bapa Paus mengajak kita untuk merenungkan tentang pentingnya membangun jejaring yang humanis. Komunitas dan persekutuan kita akan semakin kuat jika menghidupi semangat dengan corak kohesif (melekat satu dengan yang lain) dan suportif (saling memberi dukungan dan semangat).

Bagi kita: dari LIKE ke AMIN

Gambaran  dari ‘Kita adalah sesama anggota (Ef 4:25)’ membawa pengertian bahwa dasar dari jejaring kita adalah Allah yang adalah kasih. Allah bukan Kesendirian, tetapi Persekutuan; Ia adalah Kasih, dan Kasih itu selalu berkomunikasi. Kita sesama anggota atas dasar itu membangun jejaring social yang manusiawi. Internet bukan kita tolak, tetapi menjadi sarana untuk membangun kesatuan dalam keragaman yang humanis.

Terhadap media social yang ada, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekedar ‘LIKE’ menuju kepada ‘AMIN’. Media social kita jadikan sarana untuk semakin mempererat perjumpaan secara nyata, tanpa merendahkan dan menghina. Boleh bangga dengan sekian ribu ‘subsriber’, tetapi harus lebih bangga dengan warga satu RT yang bersama membangun lingkungan, saling mendukung dan menghargai perbedaan. (Wicaksono SCJ, Komsos Tanjungkarang)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *