Katekese

Renungan Harian, Jumat Biasa XVI

Peringatan Wajib (PW) St. Yoakin dan St. Ana, Orang Tua SP Maria Bacaan: : Matius 13:16-17 Sekali peristiwa, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, 13:16 “Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. 13:17 Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” Renungan “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” kiranya menjadi gambaran yang pas dalam keluarga St. Yoakim. Maria dipilih untuk mengandung Sang Sabda karena keutamaan hati dan sikapnya menjadi gambaran yang baik pula dari orang tuanya. Maria menjadi baik dan bersahaja tidak datang dengan tiba-tiba. Maria pasti banyak mewarisi dan belajar dari orang tuanya. Maka bisa dipastikan juga bahwa orang tua Maria mempunyai banyak keutamaan yang bisa diwariskan. Nilai-nilai kebaikan hidup Maria berasal juga dari orang tuanya. Belajar dari St. Yoakim dan Sr. Ana, setiap dari kita yang berkeluarga akan menjadi orang tua. Bagaimana anak-anak akan berkembang, bisa dilihat dari bagaimana orang tua mendidik mereka. Tidak mudah juga jika orang tua memberi nilai baik tetapi tidak mewariskannya kepada anak-anak mereka. Sering terjadi orang tua baik namun anak-anak justru sebaliknya. Orang tua mempunyai nilai baik, namun tidak tega untuk ‘memaksakan’ kehendak baik kepada anak-anak. Menjadi orang tua yang baik dan bijak adalah panggilan setiap orang. Karena hanya dengan begitu setiap orang tua bisa mewarisi kebaikan dan kebijakan. Mampu mewarisi kebaikan dan kebijakan menjadi sumber sukacita bagi setiap orang tua. Melihat anak-anak bertumbuh menjadi baik adalah kebahagiaan yang mendalam. Setiap orang tua mempunyai panggilan untuk membawa keluarga kepada hidup kekudusan. Semoga setiap orang tua menyadari panggilannya, mendekatkan anak-anak pada Tuhan. Orang-orang kudus berasal dan lahir dari orang tua. Suami istri saling menguduskan adalah panggilan perkawinan kristiani. Doa: Ya Tuhan, semoga para orang tua semakin mampu meneladan St. Yoakim dan St. Ana. Amin.  

Renungan Harian, Jumat Biasa XVI Read More »

Renungan Harian, Kamis Biasa XVI

Pesta St. Yakobus Rasul Bacaan: Matius 20:20-28 Permintaan ibu Yakobus dan Yohanes 20:20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 20:21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” 20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” 20:23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” 20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Renungan Bukan memerintah melainkan melayani “Melayani dengan hati” akan selalu menjadi jargon yang tetap revelan kapanpun dan dimanapun. Banyak tokoh dunia yang terkenal baik karena mempunyai semangat melayani yang luar biasa. Apa yang mereka kerjakan bukan pertama-tama demi dirinya sendiri atau keluarganya. Mereka bukan melayani dengan ‘tangan besi’ tetapi melayani dengan kuasa yang mereka miliki. Kekuasaan itu bukan untuk kesenangan dan kepuasan sendiri, namun untuk memperbaiki yang rusak, meluruskan yang bengkok, menghidupkan yang mati, bahkan memberi peluang kepada mereka yang hampir tidak punya peluang. Sikap demikian justru mendatangkan banyak kebaikan yang langgeng, dan pasti akan dikenang sepanjang masa. Sikap rendah hati menjadi kunci juga dalam seluruh pelayanannya. Tetap menghargai dan menghormati mereka yang lebih senior, bahkan kepada para lawan yang tak kurang-kurang berusaha menghancurkan. Tetapi jurstru sikap rendah hati itu membuat lawan-lawannya hancur sendiri. Kekuatan melayani dengan hati sungguh berdaya ubah, entah secara parsial maupun secara universal. Demikianlah Yesus mengingatkan para murid untuk mempunyai semangat itu, melayani dengan hati, bukan memerintah dengan kuasa tangan besi. Tidak perlu kuatir dengan orang-orang yang anti atau bahkanberusaha membinasakan semangat itu, karena mereka sendiri akan terkikis habis. Syaratnya adalah kita tetap mampu berdiri kokoh dalam kekuatan Allah sendiri. Tantangan dan hambatannya tentu tidak mudah. Kita perlu mencapai ‘kekuasaan’ yang tinggi untuk melayani dengan hati. Kita selalu berharap mereka yang mempunyai peluang besar untuk mengatur lebih luas mampu mempunyai semangat melayani yang tinggi. Bukan demi diri mereka sendiri, tetapi demi kebaikan semakin banyak orang. Doa: Tuhan, anugerahilah kami dengan semangat melayani dengan hati, bersikap rendah hati dan tulus. Amin.    

Renungan Harian, Kamis Biasa XVI Read More »

Renungan Harian, Rabu Biasa XVI

Bacaan: Matius 13:1-9 Perumpamaan tentang seorang penabur 13:1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. 13:2 Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. 13:3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 13:4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 13:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 13:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 13:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. 13:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. 13:9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” Renungan Bersyukur dan bersyukur Bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa masing-masing dari kita sudah mendengarkan sabda-Nya namun mempunyai buah yang berbeda-beda. Tidak jarang karena buah yang berbeda, kita menjadi iri satu dengan lainnya. Kita tidak tau perisis buah berapa kali lipat yang kita dapatnya. Anugerah itu berasal dari Sang Penabur, dan tentu saja bagaimana kita dengan tekun mengusahakannya. Dan pasti tidak akan pernah berbuat jika hanya tinggal diam saja tanpa berbuat apa-apa. Kesuburan hidup jasma atau rohani setiap orang beriman berbeda. Perbedaan itu bukan menjadi alasan bagi kita untuk saling iri dan akhirya menjatuhkan. Satu-satunya kepastian yang bisa kita lakukan adalah bersyukur atas buah-buah yang kita hasilnya. Kesuburan hidup adalah hasil dari usaha setiap orang. Allah sudah memberikan benihnya, tinggal kita manusia bagaimana mengusahakannya. Jika tidak diawali dengan syukur, bisa jadi kita adalah benih yang jatuh dipinggir jalan, habis dimakan oleh burung. Sikap syukur mempunyai daya rohani yang dahsyat. Daya itu mendorong jasmani kita untuk menjadi kuat juga. Bersyukur menjadikan jiwa kita cukup, membuat raga kita damai. Hidup menjadi jauh lebih berdaya guna. Buah berlipat-lipatpun sangat mungkin didapatkan. Doa: Tuhan, semoga aku mampu bersyukur senantiasa. Amin.  

Renungan Harian, Rabu Biasa XVI Read More »

Ilustrasi: brotherness in Christ

Renungan Harian, Selasa Biasa XVI

Bacaan: Matius 12:46-50 Yesus dan sanak saudara-Nya 12:46 Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. 12:47 Maka seorang berkata kepada-Nya: “Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau.” 12:48 Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: “Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” 12:49 Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! 12:50 Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Renungan Satu darah, satu daging Masih ingat kiranya lagu ‘Dalam Yesus Kita bersaudara’ yang hampir dalam setiap kegiatan dinyanyikan, dulunya. Sekarang ada banyak lagu pilihan yang bisa dinyanyikan ketika rekoleksi atau pertemuan-pertemuan OMK, atau dalam kesempatan lain. Namun demikian, makna kata-kata dalam lagu itu membuat kita meyakini bahwa memang di dalam Yesus Kristus kita satu keluarga. Seperti ditegaskan hari ini, kita satu keluarga karena kita mendengarkan dan melaksankan sabda-sabda-Nya. Tidak peduli dari tingkat golongan apa, dari daerah mana, berbahasa seperti apa, karena sabda-Nya kita adalah saudara. Maka tidak relevan lagi jika karena berbeda bahasa, berbeda suku, berbeda pendidikan, membuat kira menjadi terpecah belah. Justru kekhasan kita masing-masing itulah yang membuat kekeluargaan kita menjadi lebih indah. Tidak semua sama, tidak semua bareng-bareng, tidak semua harus seragam, karena memang kenyataannya demikian. Tetapi yang jelas kita dasatukan karena iman akan Kristus. Kedua, kita disatukan karena kita satu daging dan satu tubuh, yakni tubuh dan darah Kristus. Tubuh dan darah-Nya menjadi santapan kita setiap hari. Dia lah daya kekuatan ilahi yang melawan dosa. Karena dari tubuh dan darah yang satu, maka kita pun bersaudara. Kurban Kristus di salib yang mempersatukan kita. Kurban itu bukan hanya untuk golongan tertentu, atau kelompok tertentu, tetapi bagi siapa saja yang mau menerimanya. Kita adalah keluarga Gereja. Kita memang tidak sama, tetapi kita disatukan oleh Pribadi yang satu dan sama, Kristus Yesus. Tugas dan panggilan kita sama, mewartakan sabda-Nya dalam peran masing-masing. Semoga kita tetap mau bersatu. Bersatu bukan berarti tidak ada masalah, bersatu bukan berarti tidak ada perkelahian. Jikapun ada, mari kita tetap berdoa, semoga kita tetap mampu mengutamakn Kristus di dalam segalanya. Doa: Tuhan, semoga kami tetap bersatu. Amin.  

Renungan Harian, Selasa Biasa XVI Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top