Renungan Harian, Rabu Biasa XVI

Renungan Harian, Rabu Biasa XVI
Bagikan:

Bacaan: Matius 13:1-9

Perumpamaan tentang seorang penabur

13:1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. 13:2 Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. 13:3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 13:4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 13:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 13:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 13:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. 13:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. 13:9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Renungan

Bersyukur dan bersyukur

Bacaan hari ini mengingatkan kita bahwa masing-masing dari kita sudah mendengarkan sabda-Nya namun mempunyai buah yang berbeda-beda. Tidak jarang karena buah yang berbeda, kita menjadi iri satu dengan lainnya. Kita tidak tau perisis buah berapa kali lipat yang kita dapatnya. Anugerah itu berasal dari Sang Penabur, dan tentu saja bagaimana kita dengan tekun mengusahakannya. Dan pasti tidak akan pernah berbuat jika hanya tinggal diam saja tanpa berbuat apa-apa.

Kesuburan hidup jasma atau rohani setiap orang beriman berbeda. Perbedaan itu bukan menjadi alasan bagi kita untuk saling iri dan akhirya menjatuhkan. Satu-satunya kepastian yang bisa kita lakukan adalah bersyukur atas buah-buah yang kita hasilnya. Kesuburan hidup adalah hasil dari usaha setiap orang. Allah sudah memberikan benihnya, tinggal kita manusia bagaimana mengusahakannya. Jika tidak diawali dengan syukur, bisa jadi kita adalah benih yang jatuh dipinggir jalan, habis dimakan oleh burung.

Sikap syukur mempunyai daya rohani yang dahsyat. Daya itu mendorong jasmani kita untuk menjadi kuat juga. Bersyukur menjadikan jiwa kita cukup, membuat raga kita damai. Hidup menjadi jauh lebih berdaya guna. Buah berlipat-lipatpun sangat mungkin didapatkan.

Doa: Tuhan, semoga aku mampu bersyukur senantiasa. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Radio Suara Wajar (RSW)