Artikel

TEMAN KATOLIK : TEMU REMAJA MISIONER PAROKI SE – BANDARLAMPUNG

  Dalam rangka memeriahkan Perayaan Hari Minggu Misi ke – 97, Karya Kepausan Indonesia (KKI) Keuskupan Tanjungkarang mengadakan acara TEMAN KATOLIK. Temu Remaja Misioner Paroki se – Bandarlampung, dengan mengusung tema “Berkobar dan Bergegas Mewartakan Sukacita Injil: Bersahabat, Terlibat, Menjadi Berkat”. Acara dilaksanakan di Kompleks Xaverius Pahoman Bandarlampung dimulai pada hari Sabtu, 21 Oktober 2023 dan berakhir di hari Minggu, 22 Oktober 2023. Kegiatan ini disambut dengan antusiasme yang besar baik dari orangtua maupun anak-anak remaja yang terlibat. Hal ini nampak dari wajah – wajah ceria dan jumlah kehadiran anak yang begitu banyak yaitu sekitar 400 anak. Siang itu, peserta yang sudah hadir di lokasi dipersilahkan untuk mencari nama masing-masing di papan pengumuman untuk melihat kelas yang akan digunakan untuk meletakkan barang-barang pribadi. Setelah itu, peserta melakukan registrasi dan masuk ke dalam kelompok dengan didampingi oleh Angel’s (pendamping) masing-masing kelompok.           Kegiatan dimulai dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo. Didampingi oleh : RD. Pius Wahyo Adityo Raharjo sebagai Dirdios KKI Keuskupan Tanjungkarang dan RD. Nicolaus Agung Suprobo serta beberapa Romo Konselebran lainnya. Dalam pengantarnya, Romo Pius menegaskan bahwa hari ini adalah hari yang dikhususkan setiap tahunnya bagi umat Katolik di seluruh dunia untuk mengingat dan memperteguh komitmen akan tugas murid Kristus sebagai misionaris yang siap mewartakan kabar baik tanpa kenal batas. Yesus mengutus para murid ke dunia tidak hanya untuk melaksanakan misi tetapi juga dan terutama untuk menjalankan misi yang dipercayakan kepada mereka. Bukan hanya bersaksi. Terutama untuk menjadi saksi Kristus dalam hidup kita. Melalui tema ini paus Fransiskus mengingatkan kita khususnya para misionaris cilik. Dan juga kita mendoakan para misionaris di tanah misi yang sedang mengalami masa sulit. Bahwa Tuhan sungguh bangkit bersama kita. Paus Fransiskus juga mengajak kita untuk hidup dari sabda Allah dan tak henti menimba kekuatan dari perayaan ekaristi sehingga layaknya para murid Kristus hati kitapun terus berkobar dalam tugas pewartaan gereja. Bermisi di dalam Gereja dan di luar Gereja Dalam kegiatan ini disajikan pula Wawan Hati bersama Mgr. Avien. Para peserta diberi kesempatan untuk bertanya kepada Bapak Uskup. Beberapa anak berantusias untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar iman dan misi – misi apa saja yang harus dilaksanakan sebagai seorang misioner. Mgr. Avien menjelaskan bahwa misi-misi dilaksanakan tidak hanya didalam gereja saja tetapi bisa keluar dari lingkup gereja. “ Keluar yang konkret tadi itu salah satunya menjaga lingkungan hidup, menjaga kebersihan, kalau misalnya soal perilaku, soal misalnya perkataan atau tindakan, kita membawa misi tidak ikut serta dalam tindakan yang tidak baik. Misalnya membully. Kenapa ? karena kita tidak boleh menghakimi orang lain “ ungkap Uskup. Uskup menegaskan bahwa hal tersebut bukan ajaran moral yang baik. Salah satu misi sebagai anak misioner adalah melawan hal – hal tersebut dengan cara memviralkan hal-hal yang baik. Orang yang mengasihi. Orang yang memperhatikan orangtua dan hormat kepada orangtua. Usai dialog dengan Bapak Uskup, acara dilanjutkan dengan materi yang dibawakan oleh RD. Andreas Sunaryo. “Dasar dari perutusan kita adalah baptisan yang kita terima. Semua orang yang dibaptis memiliki tugas utama untuk bermisi” ujar Romo Andre. Setelah itu, materi dilanjutkan dengan paparan tentang Laudato Si yang disampaikan oleh Sr. Vincent, HK. Suster mengajak dan mengingatkan anak-anak remaja misioner untuk peduli terhadap alam semesta. Penampilan animasi dari masing-masing paroki juga ikut memeriahkan acara TEMAN KATOLIK. Suster-Suter Hati Kudus dan Frater-frater SCJ pun turut serta tampil. Kemudian kegiatan hari pertama ditutup dengan Doa Rosario Misioner. Keesokan harinya, kegiatan diawali dengan ibadat pagi dan senam bersama. Kemudian dilanjutkan dengan outbond seperti : Peluk Balon (bersahabat) Remaja misioner diharapkan dapat bekerjasama dengan baik, mempererat tali persahabatan, dan mempererat hubungan dengan Kristus lewat doa harian, baca Kitab Suci, terutama rajin mengikuti Ekaristi. Estafet sarung (bersahabat) Remaja misioner hendaknya mau peka, peduli, dan cepat tanggap pada lingkungan sekitar. Remaja misioner harus bisa fokus dan konsentrasi terutama jika ada yang membutuhkan atau ada kondisi yang berjalan tidak sebagaimana mestinya. Oper Balon (terlibat) Remaja Misioner selalu menghidupi motto Children Helping Children (CHC) dalam hidup sehari-hari misalnya lebih teliti, saling membantu sesama, dan bisa bekerjasama dengan siapapun. Tali Ruwet (terlibat) Remaja Misioner harus giat dan tekun dalam mewartakan Injil melalui doa, derma. Kurban dan kesaksian. Sebagai remaja misioner kita harus bisa bertindak cepat dan tepat serta gembira saat bekerjasama. Kegiatan TEMAN KATOLIK juga dimeriahkan dengan adanya Devosan Fair. Ada 4 kelompok devosi : Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM), Legio Maria, Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Karismatik Katolik (BPKPKK), dan Paguyuban Devosan Kerahiman Ilahi. Hal ini sebagai salah satu cara untuk menanamkan kehidupan berdevosi pada anak-anak remaja misioner, sehingga mereka semakin giat untuk berdoa. Animasi gerak dan lagu juga diselipkan dalam kegiatan hari kedua sehingga para peserta semakin bersemangat dalam mengikuti kegiatan. Acara ditutup dengan makan siang bersama. Sebelum menyantap makanan, para peserta diajak untuk mendengarkan 7 permenungan sebelum makan. Melalui hal kecil dan sederhana ini remaja misioner diajak untuk berpartisipasi secara serius dalam merenungkan, memikirkan, dan melakukan upaya penyelamatan bumi rumah kita bersama ini.   R.A. Swani Pramesti

TEMAN KATOLIK : TEMU REMAJA MISIONER PAROKI SE – BANDARLAMPUNG Read More »

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS

KEPADA PESERTA FESTIVAL GREEN AND BLUE, PADA KESEMPATAN HARI LINGKUNGAN HINDUP SEDUNIA 2023 Senin, 5 Juni 2023 Saudara dan saudari terkasih! Lima puluh tahun sudah berlalu sejak pertama kali Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelar Konferensi Besar tentang Lingkungan Hidup yang berlangsung di Stockholm, pada tanggal 5 Juni 1972. Pertemuan tersebut memprakarsai beberapa pertemuan yang mengundang komunitas internasional untuk membahas bagaimana umat manusia merawat rumah kita bersama. Dengan demikian, 5 Juni ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Saya ingat, selama kunjungan saya ke Strasbourg, Presiden Hollande saat itu mengundang Menteri Lingkungan Hidup, Nyonya Ségolène Royal, untuk menyambut saya. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia telah mendengar bahwa saya sedang menulis sesuatu tentang lingkungan. Saya menjawab, ya saya sedang berbicara dengan sekelompok ilmuwan dan juga sekelompok teolog. Dia kemudian berkata: “Tolong publikasikan sebelum Konferensi Paris”. Jadi itulah yang terjadi, dan Paris adalah pertemuan yang sangat konstruktif, bukan karena dokumen saya sendiri tetapi karena itu adalah pertemuan tingkat tinggi. Namun, setelah pertemuan di Paris itu … Saya khawatir. Banyak hal yang telah berubah selama setengah abad ini. Kita sungguh perlu memikirkan munculnya teknologi baru dan dampak dari fenomena transversal dan global seperti pandemi atau transformasi masyarakat yang semakin mengglobal yang membuat “kita bertetangga, tetapi tidak bersaudara”. [1] Kita juga telah menyaksikan “meningkatnya kepekaan terhadap lingkungan dan kebutuhan untuk melindungi alam”, yang telah menimbulkan “keprihatinan yang semakin meningkat, baik yang tulus maupun yang terpaksa, atas apa yang terjadi pada planet kita” ( Laudato Si’, 19). Para ahli memahami dengan jelas bahwa dampak dari pilihan dan tindakan yang diambil dalam dekade ini akan terasa selama ribuan tahun. [2] Dengan demikian pemahaman kita telah berkembang tentang dampak tindakan kita terhadap rumah kita bersama dan terhadap mereka yang tinggal di sini, baik sekarang maupun di masa depan. Hal ini juga meningkatkan rasa tanggung jawab kita kepada Tuhan, yang telah mempercayakan kepada kita pemeliharaan atas ciptaan, kepada sesama dan generasi mendatang. “Meskipun periode pasca-industri mungkin dikenang sebagai salah satu yang paling tidak bertanggung jawab dalam sejarah, namun ada alasan untuk berharap bahwa umat manusia pada awal abad ke-21 akan dikenang karena telah dengan murah hati memikul tanggung jawabnya yang berat” (ibid ., 165). Fenomena perubahan iklim dengan tegas mengingatkan kita akan tanggung jawab ini, karena hal itu secara khusus mempengaruhi orang-orang yang paling miskin dan paling lemah yang paling sedikit berkontribusi terhadap terjadinya perubahan tersebut. Pertama-tama ini adalah masalah keadilan, baru kemudian masalah solidaritas. Perubahan iklim juga memanggil kita untuk mendasarkan tindakan kita pada kerja sama yang bertanggung jawab dari semua orang, karena dunia kita sekarang benar-benar saling bergantung dan tidak dapat membiarkan dirinya terbagi menjadi blok-blok negara yang mengejar kepentingan mereka sendiri dengan cara yang tertutup atau tidak berkelanjutan. “Luka yang diderita keluarga manusia kita oleh pandemi Covid-19 dan fenomena perubahan iklim sebanding dengan yang diakibatkan oleh konflik global”, [3] di mana musuh kita sebenarnya adalah perilaku yang tidak bertanggung jawab yang memiliki konsekuensi mendalam untuk setiap aspek kehidupan baik pria, wanita, hari ini, maupun besok. Beberapa tahun lalu, nelayan-nelayan dari San Benedetto del Tronto datang menemui saya. Hanya dalam waktu satu tahun, mereka berhasil menghilangkan dua belas ton plastik dari laut! Seperti setelah Perang Dunia Kedua, “komunitas internasional secara keseluruhan perlu memprioritaskan penerapan tindakan kolegial, solider, dan berpandangan jauh ke depan”, [4] mengakui adanya “daya tarik, besarnya dan mendesaknya tantangan yang kita hadapi ” (Laudato Si’, 15). Tantangan yang menarik, besar, dan mendesak tersebut membutuhkan respons yang kohesif dan proaktif. Ini adalah tantangan yang “sangat besar” dan menuntut, karena membutuhkan perubahan yang pasti, perubahan yang menentukan dalam model konsumsi dan produksi saat ini, yang terlalu sering berakar dalam budaya “sekali pakai” yang acuh tak acuh terhadap lingkungan dan manusia. Hari ini sekelompok dari McDonald’s Corporation berkunjung; mereka mengatakan kepada saya bahwa mereka telah menghapus plastik dan hanya menggunakan kertas yang dapat didaur ulang, untuk semua produknya… Di Vatikan plastik telah dilarang, dan saya mengerti bahwa kita sekarang 93% bebas plastik. Ini adalah langkah-langkah yang nyata yang harus kita lanjutkan. Langkah yang konkrit. Selain itu, banyak komunitas ilmiah telah menunjukkan bahwa perubahan model ini “mendesak” dan tidak dapat ditunda lagi. Seorang ilmuwan besar baru-baru ini berkata – beberapa dari Anda pasti hadir – “Kemarin cucu perempuan saya lahir; Saya tidak ingin dia hidup di dunia yang tidak dapat dihuni tiga puluh tahun dari sekarang”. Kita harus melakukan sesuatu. Ini mendesak dan tidak bisa ditunda. Oleh karena itu, kita harus mengonsolidasikan “dialog tentang bagaimana kita membentuk masa depan planet kita” (ibid., 14), menyadari dengan baik bahwa menghidupi “panggilan kita untuk menjadi penjaga karya tangan Allah adalah penting untuk kehidupan yang bijak; dan dari pengalaman hidup kita, kita tahu bahwa itu bukan sekedar pilihan atau yang sekunder” saja (ibid., 217). Oleh karena itu, tantangan ini “menarik”, merangsang, dan dapat dicapai: beralih dari budaya membuang menuju cara hidup yang ditandai dengan budaya menghormati dan peduli; memelihara ciptaan dan memelihara sesama kita, tidak peduli apakah mereka itu secara geografis maupun rentang waktu dekat atau jauh dari kita. Kita sedang menghadapi sebuah perjalanan pendidikan untuk mengubah masyarakat kita, sebuah pertobatan yang sekaligus bersifat pribadi dan komunal (bdk. ibid., 219). Memang, ada banyak peluang dan inisiatif yang bertujuan untuk menanggapi tantangan ini dengan serius. Di sini saya menyapa perwakilan dari sejumlah kota dari berbagai benua. Kehadiran Anda membuat saya berpikir bagaimana tantangan ini harus diatasi di semua tingkatan, dengan cara tambahan: dari pilihan kecil sehari-hari, hingga kebijakan lokal dan internasional. Sekali lagi, kita harus menggarisbawahi pentingnya kerja sama yang bertanggung jawab di setiap tingkatan. Kami membutuhkan semua orang untuk berkontribusi. Dan ini menuntut pengorbanan. Saya ingat para nelayan dari San Benedetto del Tronto mengatakan kepada saya: “Bagi kami, pilihannya agak sulit pada awalnya, karena membawa plastik dan bukan ikan tidak menghasilkan uang bagi kami”. Tapi ada sesuatu yang lebih dalam: kecintaan mereka pada ciptaan lebih besar. Mereka melihat plastik dan ikan… dan melakukan apa yang harus mereka lakukan. Ini perlu pengorbanan! Kita juga harus mempercepat perubahan ini demi budaya kepedulian – seperti kepedulian kita terhadap anak-anak – yang mengutamakan martabat manusia dan kebaikan bersama. Dan yang dipupuk oleh “perjanjian antara manusia dan lingkungan, yang

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS Read More »

Instruksi Pertobatan Pastoral Komunitas Paroki

Tentang “Instruksi Pertobatan Pastoral Komunitas Paroki” (Untuk mengunduh dokumen klik di sini ) Ensiklik Evangelii Gaudium (EG) merupakan dasar kelahiran instruksi Pertobatan Pastoral Komunitas Paroki. Dokumen ini ingin memusatkan perhatian kita akan pembaharuan Paroki dalam konteks misi pewartaan Injil. Perubahan wajah paroki itu bukan untuk menghilangkan konsep kanonis paroki yang kita kenal, melainkan untuk senantiasa menguatkan identitas misioner Gereja; Gereja hadir untuk mewartakan Yesus. Oleh karena itu, Gereja pun senantiasa memperbaharui diri sehingga mampu menjawab kebutuhan umat. Maka, aktivitas pastoral Gereja harus mampu melampaui batas-batas geografis. Tindakan pastoral gereja harus kontekstual, namun juga bukan sekadar personal. Maka kolaborasi dan kreativitas semua pelaku pastoral di paroki sangat dibutuhkan untuk menciptakan paroki kontemporer tersebut. Paus Fransiskus menyadari perlunya pembaharuan dalam karya evangelisasi bagi dunia dan penggembalaan umat beriman. “Saya berharap bahwa semua komunitas sungguh-sungguh mengusahakan hal-hal yang diperlukan untuk bergerak maju di jalan pertobatan pastoral dan perutusan, yang tidak dapat membiarkan segala sesuatu sebagaimana adanya. Hanya administrasi saja tidak lagi cukup. Di seluruh wilayah dunia, marilah kita ciptakan situasi perutusan yang permanen.” (EG. 25). “Saya memimpikan ‘opsi perutusan’, yakni, dorongan perutusan yang mampu mengubah segala sesuatu sehingga kebiasaan-kebiasaan Gereja, cara-cara melakukan segala sesuatu, waktu dan agenda, bahasa dan struktur dapat disalurkan dengan tepat untuk evangelisasi dunia masa kini daripada untuk pertahanan diri.” (EG. 27). EG menggambarkan bahwa Gereja berhadapan dan berada dalam perubahan sosial dan budaya yang cukup besar dalam beberapa dekade terakhir yang mendorong Gereja harus mengatur kembali cara dimana perawatan pastoral dari komunitas paroki ditugaskan. Dokumen Instruksi Pertobatan Pastoral (2020) merupakan langkah konkret yang diharapkan segera dibuat. Ada tiga hal mendasar yang dapat membantu dalam membaca instruksi ini: Peran para imam ialah menjaga iman dan tradisi. Iman dan tradisi semuanya tentang kabar gembira Yesus Kristus. Imam bukan membuat penjara bagi umat dengan rutinitas yang diulang-ulang tanpa ada refleksi bersama atasnya. Iman umatlah yang harus dijaga dan dilindungi bukan demi rutinitas paroki maka umat yang dikorbankan. Perhatian pada paroki. Paroki pada zaman ini bukan sekedar menyangkut penggembalaan dalam batas-batas geografis, tapi bagaikan sanctuary (tempat ziarah) dimana terbuka bagi semua orang. Paroki ditantang untuk menciptakan seni pendampingan yang lebih memberi perhatian kepada “manusia” lebih utama ketimbang soal “wewenang dan otoritas.” Kontekstual: Perubahan bukan berazaskan pada selera pribadi atau lingkaran pastor paroki tapi konteks yang memerlukan kolaborasi dan kreativitas semua pelaku pastoral di paroki yang berdasarkan norma-norma gerejawi. (Komsos Tanjungkarang)

Instruksi Pertobatan Pastoral Komunitas Paroki Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

You cannot copy content of this page

Scroll to Top