Author name: Komsos Tanjungkarang

MENGINJILI DUNIA

Jakarta – Komisi Karya Misoner KWI mengadakan Kongres Misi KKI 2019 dengan mangangkat tema ‘Dibaptis dan Diutus Menginjili Dunia’. Diadakan di Ballroom Grand Mercure Hotel, Jakarta, pada 1-4 Agustus 2019, kongres ini dilaksanakan dalam rangka perayaan 100 tahun Maxium Illud. Hadir dalam kongres ini lima utusan dari setiap keuskupan yang ada di Indonesia yang berjumlah 37 Keuskupan. Selain itu juga hadir dosen-dosen misiologi, pengusaha katolik keuskupan, pegiat media sosial, dan dari kelompok awam misi. Utusa dari keuskupan Tanjungkarang adalah: Rm. Y. Samiran SCJ (Vikjen), Rm. Bernardus Budi Widiyatno (Dirdios KKI Keuskupan), dan team KKI Keuskupan (Margaretha, C. Ivan, Livia). Dengan mengangkat sub tema dari Markus 16:15 “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk”, kongres ini akan dikemas dalam bentuk presentasi narasumber, sharing pengalaman dan diskusi kelompok, serta pleno bersama seluruh peserta. Duta besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo, membuka acara ini dengan perayaan Ekaristi. Hadir kurang lebih enam puluh imam konselebran dari seluruh Indonesia. Harapan dan kongres ini adalah terbangkitkannya kesadaran dan gairah misioner dalam Gereja Indonesia. Selain itu kongres ini bertujuan untuk menemukan peluang-peluang dan model atau metode baru bermisi di Indonesai sekarang dan yang akan datang. (ed.ydw)  

MENGINJILI DUNIA Read More »

Renungan Harian, Jumat Biasa XVII

Bacaan: Matius 13:54-58 13:54 Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? 13:55 Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? 13:56 Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” 13:57 Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” 13:58 Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ. Renungan Open Heart Open Mind Penolakan pada umumnya terjadi karena ada unsur kekecewaan. Seringkali kali karena munculnya berbagai macam harapan yang tidak dipenuhi maka kekecewaan muncul dan akhirnya penolakan sebagai jalan pemuasan. Maka menaruh harapan terlalu besar kepada seseorang akan mempunyai peluang besar pula untuk mendapat kekecewaan. Atau dengan kata lain, menaruh harapan berarti harus siap dengan rasa kecewa. Namun berbeda dengan Yesus. Ia ditolak oleh orang-orang yang merasa mengenal latar belakang-Nya yang dulu. Ia banyak membuat orang takjub, tetapi ketika banyak orang merasa mengenal diri-Nya, mereka menjadi menolak-Nya. Latar belakang keluarga menjadi alasan orang banyak menolak Dia. Mereka merasa tau bagaimana kehidupan Yesus dan keluarganya. Pengetahuan yang sempit itu membuat mereka tidak mau menerima orang lain yang berkembang. Tidak jarang kita juga berbuat hal yang sama. Menolak orang yang lebih sukses atau lebih baik menjadi cara yang paling kelihatan bahwa kita tidak mau membuka hati dan pikiran yang baru. Pengetahuan lama kita menutupi jalan pikir dan jalan rasa. Orang lama yang lebih baik biasanya ditolak karena ide-idenya yang baru dan tidak biasa dilakukan oleh orang setempat. Banyak anak yang tidak mampu berkembang baik karena ada macam-macam ide baik yang tidak diakui oleh keluarganya. Banyak anak yang tidak berkembang ketika hanya diam di rumah. Namun ketika dia berada jauh dari rumah, perkembangan dirinya sangat tampak dan membanggakan. Maka berada ‘terpisah’ dari rumah bisa menjadi cara yang baik untuk membuat seseorang berani membuka pikiran dan hatinya untuk kemungkinan-kemungkinan baru yang baik. Doa: Tuhan, semoga aku tidak anti dengan berbagai pembaruan baik yang terjadi. Amin.  

Renungan Harian, Jumat Biasa XVII Read More »

Menghormati dan Memberdayakan Martabat Perempuan

Workshop Rumpun Kemasyarakatan KWI Sorong – Rumpun Kemasyarakatan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) melakukan beberapa program kerjasama antar komisi di KWI dalam beberapa tahun terakhir ini. Salah satunya pernah diadakan bekerjasama dengan Keuskupan Tanjungkarang sebelum moment pemilihan umum April lalu. Kali ini tema Menghormati dan Memberdayakan Martabat Manusia diadakan bekerjasama Keuskupan Sorong diikuti kurang lebih 400 orang dari 13 paroki yang ada di Sorong. Tema ini diangkat karena dari sekian banyak kasus kekerasan yang terjadi, yang paling rentan menjadi korban adalah perempuan dan anak-anak. Kekerasan terhadap perempuan itu kebanyakan terjadi di ranah personal yaitu di sekitar rumah tangga dengan orang-orang  yang mempunyai hubungan darah dan hubungan perkawinan. Stigma terhadap perempuan sebagai makhluk yang lemah dan “kelas dua” kian menempatkan perempuan sebagai korban dengan akses ekonomi, politik dan bidang kehidupan lain yang tidak adil dan setara. Martabat perempuan dipandang sebelah mata. Itulah sebagian dari latar belakang tema ini diangkat oleh Rumpun Kemasyarakatan KWI yang terdiri dari Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP), Komisi Hubungan antar Agama dan Kepercayaan (HAK), Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran Perantau (KPP-PMP), Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dan Komisi Kerasulan Awam (Kerawam). Kegiatan dilakukan pada Jumat – Sabtu, 26 – 27 Juli 2019 bertempat di Aula Lux Ex Oriente Gereja Katedral Sorong. Mgr. Hilarion Datus Lega, Uskup Manokwari Sorong memberikan dukungannya mulai dari awal acara hingga penutupan. “Bicara gender bukan hanya bicara tentang perempuan. Semua pihak harus memberikan perhatian. Maka saya minta semua mengikuti kegiatan ini termasuk orang muda Katolik dari berbagai paroki,” ujar Mgr. Hilarion mengawali sesi-sesi yang dijalankan dalam workshop. Sesi pertama diisi pendasaran konsep gender oleh Sr. Natalia OP, Sekretaris SGPP KWI yang dilanjutkan dengan menggali masalah-masalah ketidakadilan gender oleh Ch. Dwi Yuli Nugrahani, anggota badan pengurus SGPP KWI. SGPP KWI mendasarkan paparannya dari Surat Gembala KWI 2004 tentang Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki sebagai Citra Allah. “Setelah Konsili Vatikan II, ajaran-ajaran Gereja senantiasa menekankan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan setara menurut citra Allah (Bdk. Kej 1:26-27). Allah memberikan kepada mereka tanggungjawab untuk memelihara keutuhan ciptaan-Nya. Sesuai dengan kehendakNya, laki-laki dan perempuan diciptakan setara martabatnya walau berbeda secara biologis. Perbedaan tersebut dikehendaki oleh Tuhan, karena mempunyai makna yang dalam dan tujuan yang khas untuk mengembangkan kehidupan. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi dan memperkaya serta dipanggil untuk membangun relasi yang penuh kasih.” Demikian sebagian dari cuplikan surat gembala tersebut. Gereja meyakini laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut hidup menggereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena itulah dalam sesi kedua, peserta diajak untuk melihat pemberdayaan yang berkeadilan mulai dari keluarga, komunitas, masyarakat dan negara disampaikan oleh Eko Aldilanto O.Carm dari KKPPMP KWI dan Ewaldus PR dari Komisi PSE KWI. Pada sesi ketiga, peserta diajak meluaskan pandangan dengan melihat hubungan antar agama dan politik oleh Heri Wibowo PR dari Komisi HAK KWI dan PC Siswantoko PR dari Komisi Kerawam KWI. Ch. Dwi Yuli Nugrahani, yang juga PJ KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang memberikan satu alternatif pemberdayaan melalui pengembangan komunitas. “Komunitas bisa menjadi salah satu kekuatan bagi perempuan untuk mengembangkan dirinya, keluarganya serta membentenginya dari perilaku yang bisa membuatnya menjadi korban. Persaudaraan saling percaya dan solider dalam komunitas membuat perempuan tidak perlu merasa sendirian.” Salah satu komunitas yang dipakai sebagai contoh adalah komunitas perempuan di daerah Ulubelu Tanggamus yang mengelola Koperasi Simpan Usaha dengan produk kopi. Mengembangkan ekonomi secara kreatif bisa dimulai dari sana. Pertama, mendapatkan akses permodalan alternative dengan nilai-nilai koperasi; kedua, mendapatkan peluang mendapatkan wawasan dan pelatihan; ketiga, melakukan kerja produktif dengan seimbang; dan keempat, mengembangkan pemasaran yang manusiawi melalui berbagai cara termasuk pemanfaatan teknologi digital. Dari sana, para perempuan akan terus berkembang mempunyai posisi tawar yang lebih tinggi di tengah masyarakat. “Saya selalu yakin bahwa perempuan yang mandiri adalah perempuan yang tahu kebutuhannya sendiri secara fisik, psikis dan rohani. Lalu setelah tahu dia berani melakukan pilihannya, dan tidak boleh dilupa harus secara hamonis menjaga keberadaannya sebagai ‘manusia’ yang hidup bersama dengan manusia lain dan ciptaan lain,” demikian diungkap dalam sesi maupun makalahnya. Pada akhir workshop, peserta berkumpul tiap paroki menggali situasi konkret yang mereka alami dalam konteks masyarakat Sorong. Masalah ketidakadilan dan peran Gereja mencuat dalam diskusi mereka. Setiap kelompok merumuskan rencana tindak lanjut dalam sebuah komitmen yang akan mereka lanjutkan dalam kehidupan mereka di tengah masyarakat dan Gereja di mana mereka hidup. Pada penutupan acara, Ketua Panitia Penyelenggara, Matilda menyatakan apresiasinya dan bertekad mengambil kebaikan dari acara tersebut untuk Keuskupan Manokwari Sorong. “Kami harus melanjutkan semangat dari kegiatan ini untuk mengembangkan paroki kami masing-masing. Ada banyak hal baru yang sudah kami dapatkan, dan itu berguna bagi kami semua.” Tandas Matilda. *** (dyn)  

Menghormati dan Memberdayakan Martabat Perempuan Read More »

Renungan Harian, Kamis Biasa XVII

PW St. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup dan Pujangga Gereja Bacaan: Matius 13:47-53 Perumpamaan tentang pukat Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada orang banyak 13:47 “Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. 13:48 Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. 13:49 Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, 13:50 lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. 13:51 Mengertikah kamu semuanya itu?” Mereka menjawab: “Ya, kami mengerti.” 13:52 Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” 13:53 Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Iapun pergi dari situ. Renungan Pertaruhan Pilihan Gambaran Kerajaan Sorga pada akhir jaman dalam perikopa ini memberikan gambaran kepada kita bagaimana harusnya kita menjalani hidup saat ini. Boleh dibilang saat ini antara yang baik dan yang jahat masih menjadi satu tempat dalam pukat yang besar. Di dalam pukat itu semua jenis ikan tertangkap dan terkumpulkan. Pukat yang besar mengambil semuanya, tidak peduli yang kecil atau yang besar, yang berguna atau tidak, yang baik atau yang jahat. Semua menjadi satu. Namun demikian tidak semua yang tertangkap itu diambil dan dipilih. Ada banyak ikan yang tidak memenuhi kriteria pada akhirnya dibuang dan dicampakkan. Kriteria yang dikatakan dalam perokipa ini adalah antara orang jahat dan orang benar. Keduanya tidak bisa menjadi satu. Maka sudah jelas jika hendak diambil dari sekian banyak yang ada dipukat, harus menjadi bagian dari orang benar. Kalau tidak, hanya dapur api yang penuh dengan ratapan dan kertakan gigi akan menjadi tempat bersemayam. Kita tidak bisa memilih untuk masuk pukat atau tidak, untuk dipilih atau tidak. Yang bisa kita lakukan adalah saat ini menjadi orang yang benar. Itu hanya bisa kita lakukan ketika kita masih hidup. Maka hidup kita adalah pertaruhan antara memilih yang benar atau justru memilih yang jahat. Manusia yang hidup bebas memilih untuk menjadi jahat atau menjadi benar. Memilih menjadi benar bukan perkara mudah, sementara memilih menjadi jahat itu ada banyak temannya dan tidak sulit. Memilih menjadi benar itu berarti berjuang dan belajar. Orang yang belajar adalah orang yang mau mengosongkan diri sejenak dan menerima yang apa yang baru. Seperti botol air yang sudah penuh, jika ingin memasukkan air yang lain mau tidak mau botol itu harus dikurangi. Hanya dengan cara itu air yang lain akan bisa masuk. Sering terjadi hidup kita adalah pertaruhan antara dua pilihan ini: mau belajar atau tidak; mau mengosongkan diri atau merasa saudah penuh; mau menjadi ikan yang baik atau yang tidak baik. Kita semua sedang di pukat yang sama. Ada bermacam ikan di dalamnya. Mau menjadi ikan seperti apakah diri kita?? Doa: Tuhan, mampukan aku membukan kepala, hati dan tangan untuk belajar yang baru dan baik. Amin.  

Renungan Harian, Kamis Biasa XVII Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top