Author name: Komsos Tanjungkarang

Renungan Harian, Senin Biasa XXVI

St. Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja Bacaan: Lukas 9:46-50 Siapa yang terbesar di antara para murid 9:46 Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. 9:47 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, 9:48 dan berkata kepada mereka: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” Seorang yang bukan murid Yesus mengusir setan 9:49 Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” 9:50 Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”   Renungan Hari ini Gereja memperingati St. Hieronimus. Dia adalah penerjemah Kitab Suci ke dalam bahasa Latin, yang disebut dengan Vulgata (popular). Sampai sekarang Gereja tetap memakai terjemahan st Hieronimus ini. Dengan menterjemahkan, ia mengajak semua orang untuk mengenal dan dekat dengan Kitab Suci. Kitab Suci berisi sabda-sabda Tuhan. Maka dengan mengenal dan dekat dengan Kitab Suci, kita diharapkan juga semakin dekat dengan Tuhan. Mendengarkan sabda-Nya hari ini juga menjadi usaha bagi kita untuk semakin dekat dengan-Nya. Seorang anak kecil menjadi contoh yang diberikan oleh Yesus kepada para murid sebagai gambaran bagaimana mereka menerima Dia. Yesus menampilkan itu sebagai reaksi atas sikap para murid yang bertengkar karena berebut siapa yang terbesar diantara mereka. Menjadi terbesar, terkemuka, dan yang utama menjadi impian dari para murid. Tetapi ternyata apa yang mereka pikirkan tidak sejalan dengan apa yang diajarkan Sang Guru. Bukan soal tinggi atau rendahnya kedudukan seseorang yang membuatnya besar. Bagi Yesus dan para murid-Nya, yang terbesar adalah justru yang berani melayani, tidak dikenal namun karyanya nyata, tidak mempunyai kedudukan tetapi tulus tindakannya, tidak mempunyai jabatan tetapi rela berkorban. Pertanyaanya, sabda Tuhan hari ini mengubah apa dalam hidupku? Doa: Ya Tuhan, semoga sabda-Mu membawa daya perubahan untuk hidup dan imanku. Amin.  

Renungan Harian, Senin Biasa XXVI Read More »

Renungan Harian, Minggu Biasa XXVI

Bacaan: Lukas 16:19-31 Orang kaya dan Lazarus yang miskin 16:19 “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. 16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, 16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. 16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. 16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. 16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. 16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. 16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. 16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, 16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. 16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. 16:30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. 16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”   Renungan Merenungkan Injil hari ini, ada beberapa point yang bisa menjadi pelajaran hidup bagi kita. Pertama, dua dunia yang berbeda antara yang kaya dan yang miskin menjadi kenyataan panjang dalam sejarah hidup manusia. Selalu saja ada perbedaan yang sering kali kita sendiri tidak mampu mengertinya dengan penuh. Kenyataan kemiskinan menjadi kepirhatinan yang susah untuk dihilangkan. Sementara orang yang kaya hidup dengan segala kebaikan yang sepenuhnya berbeda dengan yang miskin. Dua kenyataan itu sampai sekarang belum mampu didamaikan. Tetapi sudah ada banyak usaha yang dilakukan memperkecil jurang pemisah diantara yang miskin dan yang kaya. Kedua, kedua kenyataan ini mempunyai akhir di dunia yang sama, yakni kematian. Kenyataan kematian adalah kepastian hidup yang dialami oleh semua orang, tanpa kecuali. Orang miskin akan mati, demikian juga dengan orang kaya. Segala usaha manusiawi akan terhenti begitu kematian sudah datang. Orang kaya maupun miskin tidak tahu persis kapan mereka akan mati. Setiap orang bisa mengusahakan pengobatan untuk menyembuhkan penyakit, tetapi tidak seorangpun mampu menghentikan kematian. Ketiga, alam kematian mempunyai kenyataan yang berbeda dengan alam kehidupan. Seperti bertolak belakang, alam kematian menjadi pancaran dari alam kehidupan. Orang yang beruntung ketika masih hidup di dunia, tidak sepenuhnya sema ketika masuk alam kematian. Gambaran injil hari ini menampakkan situasi yang berkebalikan. Keempat, di dalam dunia kematian, manusia sudah tidak bisa melakukan pertobatan. Pertobatan hanya bisa dilakukan ketika masih hidup. Kita tidak tahu kapan akan berakhir hidup ini. Hidup kita bisa berakhir kapan saja dan dimana saja. Jika demikian, maka sudah semestinya kita mengalami pertobatan setiap hari. Pertobatan itu tidak hanya berarti setelah melakukan kesalahan besar kemudian bertobat. Tidak melakukan tindakan yang jahat pun bisa menjadi sumber kesalahan. Seperti orang kaya yang tidak mau peduli dengan Lazarus. Dia tidak jahat, tetapi dia tidak mampu melakukan kebaikan maksimal yang sebenarnya mampu dia lakukan. Itu juga menjadi dosa bagi kita. Maka, dalam hidup ini mari kita melakukan kebaikan-kebaikan yang bisa kita lakukan kapan saja dan di mana saja. Tidak perlu menunggu saat-saat akan mati, karena kita persis tidak tahu kapaan saatnya kematian. Kebaikan-kebaikan yang kita lakukan sebagai wujud nyata dari sikap pertobatan kita. Hanya ketika masih hiduplah kita bisa melakukan pertobatan. Apa yang kita lakukan, ikut menentukan dimana kita ketika sudah mati. Doa: Ya Tuhan, semoga aku tidak lelah untuk berbuat kebaikan dan melakukan yang benar dalam perjalanan hidupku. Amin.  

Renungan Harian, Minggu Biasa XXVI Read More »

Renungan Harian, Sabtu Biasa XXV

Bacaan: Lukas 9:43-45 Pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: 9:44 “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” 9:45 Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.   Renungan Senantiasa menangkap apa yang Tuhan kehendaki atas hidup kita bukanlah perkara yang sepenuhnya mudah. Juga ketika membaca sabda-Nya, tidak serta merta kita sekaligus menangkap maksud dan isinya. Mungkin juga itu menjadi alasan bagi kita untuk tidak rajin membaca sabda Tuhan. Apa yangkita baca dengan apa yang kita alami sering kali dirasa tidak ada sangkut pautnya. Akibatnya sabda Tuhan seperti tidak berbicara dalam hidup kita. Tetapi pertanyaannya adalah apakah memang harus bahwa saat itu juga kita mengerti apa yang kit abaca dalam Kitab Suci misalnya?? Perikopa hari ini menampilkan para murid yang tidak mengerti akan apa yang dikatakan oleh Yesus. Arti dari kata-kata Yesus ditulis oleh Lukas tersembunyi bagi mereka. Para murid yang saat itu mendengarkan Yesus tidak mampu memahami perkataan-Nya. Mereka juga tidak berani menanyakan artinya. Lukas mau menakankan juga soal sisi misteri mesianik Yesus. Para murid baru mengerti perkataan Yesus itu sesudah peristiwa Golgota. Artinya ada rentang waktu yang cukup panjang antara Yesus yang berkata dengan saat para murid mengerti apa yang dimaksud Yesus. Dan persis itulah perjalanan iman, perjalanan yang terus mengalir untuk akhirnya menemukan arti dan maknanya. Semoga kita juga tidak pernah berhenti untuk membaca dan mendengarkan Sabda-Nya. Meski kita tidak sepenuhnya mampu mengerti saat ini, suatu ketika Tuhan sendiri akan membuat kita mengerti dan mengamini apa yang disabdakan-Nya. Doa: Ya Tuhan, bukalah selalu telinga, pikiran, dan mata hatiku untuk mendengarkan sabda-sabda-Mu. Bersabdalah ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan. Amin.  

Renungan Harian, Sabtu Biasa XXV Read More »

Renungan Harian, Jumat Biasa XXV

St Vinsenius a Paulo, Imam Bacaan: Lukas 9:19-22 Pengakuan Petrus 9:18 Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?” 9:19 Jawab mereka: “Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” 9:20 Yesus bertanya kepada mereka: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus: “Mesias dari Allah.” 9:21 Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapapun. Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia 9:22 Dan Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.”   Renungan Bersahabat dengan penderitaan Pengakuan iman para rasul ini menjadi dasar pengakuan iman kita juga. Iman yang apostolic adalah iman yang diakui oleh para rasul dan kita teruskan serta kita akui juga. Inti iman itu adalah mengakui dan menerima Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup. Rumusan pengakuan iman itu tertuang jelas dalam syahadat para rasul. Setiap hari kita bisa mengulangi syahadat itu sebagai ungkapan kesungguhan dan komitmen iman kita masing-masing.  Kita patut bersyukur atas warisan iman yang berharga itu. Sisi lain yang bisa menjadi permenungan kita untuk hari ini adalah apa yang disampaikan Yesus pada bagian akhir dari perikopa ini. Yesus menjelaskan tentang bagaimana ‘nasib’ dari Mesias. Ia harus menanggung banyak penderitaan, ditolak para tua-tua dan iman kepala serta ahli Taurat. Ia akan dibunuh, tetapi bangkit pada hari ke tiga. Yesus mengungkapkan sisi lain dari Mesis yang menjadi pengharapan bangsa Israel. Mereka mempunyai pandangan dan gambaran yang berbeda tentang Mesias. Bagi mereka Mesias adalah super hero yang siap berjuang bersama mereka untuk mencapai kejayaan kembali seperti jaman Daud. Yesus memberi penjelasan yang berbeda, bahkan cenderung ditolak oleh masyarakat pada umumnya. Bukan Mesis yang demikian yang mereka harapkan. Maka sudah wajar Mesis yang seperti itu akan mendapat penolakan dari tokoh-tokoh penting dari bangsa Yahudi. Mereka tidak akan memberi ruang kepada-Nya. Hal itu sudah dikatakan oleh Yesus sejak awal. Maka para rasul diajak untuk membuka pikiran dan hati mereka untuk mempunyai cara pandang yang lain. Kita mengerti bagaimana dan siapa Mesias lewat Kitab Suci yang kita baca dan renungkan. Maka kita bisa mempunyai pandangan yang jauh lebih lengkap. Sikap hidup kitapun juga sudah seharusnya demikian. Sisi sederhana yang bisa menjadi kabar gembira bagi hidup kita setiap hari adalah bahwa Mesias tidak jauh dari kita, bahkan sangat dekat dengan kita. Ia adalah Mesias yang rela menerima penderitaan dan bahkan kematian. Penderitaan yang disebabkan penolakan, kelemahan fisik, kebencian, hampir selalu menjadi kenyataan manusiawi kita. Mesias yang tidak menolak penderitaan menjadi tanda yang sangat jelas bahwa Ia selalu bersama kita. Ia adalah yang peduli dan solider pada keadaan manusiawi. Maka menjadi berkat bagi kita bahwa kita tidak pernah sendirian bahkan dalam situasi yang paling hancur pun. Dengan keyakinan itu, kita mampu menjalani hidup setiap hari dengan jauh lebih bersyukur, sumeleh, semangat dan tulus. Semoga dengan demikian, hidup kita senantiasa menjadi tanda hadirnya Allah yang meraja atas hidup kita. Doa: Ya Tuhan, semoga aku Engkau mampukan untuk tidak putus asa dan mudah goyah iman karena situasi hidup. Semoga  aku berani belajar untuk bersyukur dan solider. Amin.  

Renungan Harian, Jumat Biasa XXV Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top