Renungan Katolik

Renungan Harian, Sabtu Prapaskah III

Bacaan: Lukas 18:9-14 Perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai 18:9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 18:10 “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 18:11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 18:12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 18:13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 18:14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”   Renungan Kita bisa merenungkan perikopa ini dengan apa yang terjadi dalam dunia hari-hari ini. Karena virus corona, hampir semua segi kehidupan mendapatkan dampaknya. Perekonomian menjadi kacau balau, demikian juga transportasi, termasuk kehidupan personal menjadi tidak seindah sebelumnya. Kehidupan beragama juga ikut terdampak di dalamnya. Banyak kegiatan bersama dalam keagamaan ditiadakan. Orang menjadi takut untuk berkumpul dan berjumpa dengan yang lian. Tetapi itulah langkah yang sejauh ini dianggap paling efektif oleh para ahli untuk menahan penyebaran virus ini. Sebagai orang beriman, bisa jadi kita sudah berdoa dengan sungguh kepada Tuhan supaya wabah ini berlalu. Dengan iman kita bisa menanggapi kejadian ini dengan penuh harapan, maka juga tidak ada ketakutan apapun. Kita tetap bisa melakukan semuanya seperti biasa. Anjuran dan protokal kesehatan penanganan corona kita abaikan, karena percaya dan mengandalkan Allah. Tetapi kenyataannya virus itu semakin menyebar dan tak terkendali. Banyak orang saleh yang akhirnya meninggal akibat virus itu. Orang beriman bisa bertanya apakah Tuhan tidak mendengarkan doa kita? Keterangan Injil hari ini bisa menjadi bahan refleksi kita yang actual. Sungguh percaya dan berpengharapan yang besar kepada Tuhan bukan berarti kita mengabaikan kemampuan manusiawi. Dalam kasus corona ini, justru kerendahan hati kita lah untuk mengakui dan menerima protocol yang ada sebagai wujud keberimanan kita. Memang kita sungguh percaya kepada Allah. Dia mampu melakukan segalanya. Namun demikian, sejak awal mula Allah memakai manusia dan dunia ini untuk ambil bagian dalam karya keselamatan. Dunia dan manusia di dalamnya mempunyai peran aktif dalam sejarah karya keselamatan. Maka, mematuhi protocol medis yang dianjurkan para ahli menjadi cara yang tepat untuk tetap mempuyai iman yang kuat dalam menghadapi bahaya global saat ini. Jangan pernah malu untuk berdoa seperti pemungut cukai itu: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Karena memang pada kenyataan kita semua adalah pendosa. Kita bisa melihat juga bisa jadi virus corona tersebar karena dosa dan kelalaian kita. Kesombongan iman pun akan membuat virus itu semakin menjalar kemana saja. Semoga kita selalu dianugerahi rahmat kerendahan hati: mau mengakui kesalahan, mau mendengarkan Allah, dan mau mendengarkan sesama manusia. Doa: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Semoga Engkau memampukan kami untuk bersama-sama melawan virus corona ini. Rahmat dan pertolongan-Mu senantiasa kami rindukan, ya Tuhan. Amin.  

Renungan Harian, Sabtu Prapaskah III Read More »

Renungan Harian, Jumat Prapaskah III

Bacaan: Markus 12:28-34 Hukum yang terutama 12:28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” 12:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. 12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” 12:32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. 12:33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” 12:34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.   Renungan Parikopa hari ini menampakkan kepada kita tentang dialog yang benar dan membawa keselamatan. Dalam banyak perikopa, ahli Taurat dan orang Farisi sering diidentikkan dengan pertanyaan yang menjebak atau hanya sekedar ngetes (mencobai) Yesus. Mereka mempersoalkan sesuatu hanya untuk menjatuhkan Yesus. Mereka sebenarnya tahu jawabannya tetapi dengan sengaja memberi pertanyaan yang menjebak supaya keinginan mereka supaya Yesus dipersalahkan terpenuhi. Tetapi perikopa kali ini ada sesuatu yang berbeda. Kalau kita amati, yang bertanya adalah seorang ahli Taurat, sama dengan kisah-kisah yang lainnya. Yesus pun juga menjawa pertanyaan itu dengan baik. Seperti itu terjadi dialog antara Yesus dengan ahli Taurat yang didengar oleh orang banyak. Akhir kisah biasanya menjelaskan bahwa yang bertanya gusar atau tidak senang, atau bahkan merencanakan yang buruk untuk Yesus. Tetapi perikopa ini justru Yesus yang menutup dengan kata-kata-Nya “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”. Itulah berkat dari Yesus untuk orang itu. Maka kita bisa belajar satu hal menarik untuk masa prapaskah ini, yakni bahwa kita mesti menggunakan kecerdasan kita untuk kebaikan dan keselamatan. Kebaikan yang kita miliki sudah semestinya untuk mendukung kebaikan-kebaikan lainnya. Jika selama ini kita masih memakai kecerdasan kita untuk menipu orang lain, saatnya kita perlu bertobat. Kapan saja corona bisa menyerang kita, jangan sampai terlambat. Jika selama ini kita memakai jabatan hanya untuk kepentingan sendiri, saatnya juga untuk pertobatan dan kembali ke jalan yang semestinya. Ahli  Taurat itu tidak memakai kecerdasannya untuk menjatuhkan Yesus. Kebenaran yang Yesus tegaskan diamini olehnya, tidak dibantah apalagi dibelokkan. Maka buahnya ada berkat dari Yesus. Demikian dengan kita, perlu meniru apa yang dilakukan ahli taurat itu. Daya kebaikan yang kita miliki untuk mendukung kebaikan yang lainnya. Maka terbentuklah ‘network’ kebaikan yang tidak berciri multilevel. Cirinya adalah jaringan kebaikan yang kristiani. Doa: Ya Tuhan, semoga sabda-Mu memampukanku untuk selalu berbagi kebaikan dan kasih. Semoga sabda-Mu selalu menjadi kebenaran, kebenaran, dan jalan hidup kami. Amin.  

Renungan Harian, Jumat Prapaskah III Read More »

Renungan Harian, Kamis Prapaskah III

HR St. Yusuf, Suami SP. Maria Bacaan: Matius 1:16.18-21.24a Kelahiran Yesus Kristus 1:16 Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. 1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. 1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. 1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. 1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” 1:24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.   Renungan Mendengar dan Pelaksana Sabda Meski tidak banyak kisah yang ditulis tentangnya, St. Yusuf adalah tokoh besar dan penting dalam sejarah keselamatan Allah. Yusuf punya panggilan agung untuk ambil bagian dalam karya ini. Dia bukan orang yang diekspos dimana-mana. Tidak ada tulisan yang membuktikan bahwa dia adalah pengajar yang ulung, atau pengkotbah yang jaya, atau tokoh agama yang disegani banyak orang. Kitab suci menampilkannya sebenar, dan itupun tanpa kata dan pengajaran. Nampak sekilas lalu saja, tidak banyak dibicarakan dan disebut dalam Kitab Suci. Meski demikian, st. Yusuf bisa kita yakini sebagai bapak yang baik hati. Dia tidak berbicara tetapi mengajarkan banyak hal. Dia tidak bersuara tetapi perbuatannya menjadi kata-kata yang lebih tajam dari pada serangakaian aturan agama dan hukum. Dia hanya memegang peralatan kayu dan bekerja. Fokusnya adalah bekerja. Apa yang dikerjakannya juga pastilah menunjukkan kualitas hidupnya. Tugas membuat kayu mempunyai nilai lebih, merangkai satu dengan yang lain sehingga menjadi sebuah bentuk yang diinginkan. Dia pekerja sekaligus sebagai perancang. Dia juga yang menentukan kualitas kayu mana yang akan dia pilih dan pakai. Maka St Yusuf sebenarnya adalah seorang arsitek ulung yang mampu menyatukan antara ‘head, heart, and hands’. Kualitas itu bisa kita lihat hadir dalam diri Yesus, yang untuk beberapa saat berada dalam pengajaran Yusuf. Tidak banyak kata tetapi bekerja nyata. Demikian juga perikopa hari ini tidak menampilkan Yusuf yang kepo. Dia mempunyai masalah, tetapi dia mau mendengarkan Sabda. Ia mampu melihat yang tidak tampak, dan dia juga mampu mendengar apa yang tidak terkatakan. Kepekaan batinnya mampu melihat dan mendengar yang tidak kelihatan, bahkan ketika dia tidak sadarkan diri. Bekerja dengan diam bukan berarti tidak memperhatikan. Justru diamnya itu menjadi pusat kerjanya. Batinnya ikut bekerja dan merasa Tindakan sederhanya memberi inspirasi kepada kita semua bahwa dia patut menjadi teladan kita saat ini. Ada begitu banyak hal yang bisa membuat kita spontan berkomentar atau mengkritik. Ada saatnya kita memerlukan sungguh-sungguh waktu sendiri dan hening untuk menjernihkan pikiran dan tindakan kita. Sering kali kita tidak mampu bertindak tepat dan benar karena kita kurang berdiam diri. Kita masih kebanyakan waktu untuk berbicara dan sibuk dengan berbagai peralatan. Padahal kita punya telinga dua supaya kita mampu berdiam diri dan mendengar suara yang hampir hilang karena bising dengan suara lainnya. Doa: St. Yusuf yang rendah hati, doakanlah kami untuk mampu mendengarkan sabda Tuhan seperti engkau yang selalu mendengarnya. Amin.  

Renungan Harian, Kamis Prapaskah III Read More »

Renungan Harian, Rabu Biasa III

Bacaan: Matius 5:17-19 Yesus dan hukum Taurat 5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.   Renungan Bagi kita jelas apa yang perlu dilakukan untuk menghidupi sabda hari ini: “siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.” Bisa jadi kita membayangkannya ada sekian ratus hukum yang harus dijalankan. Ada sekian pasal yang harus dihafal, maka bisa menjalankan. Maka seperti terasa berat untuk menjalankannya. Jangankan menjalankan, memikirkannya saja kita sering kali tidak mau dan tidak mampu. Jika berpikiran demikian, sabda ini berhenti hanya sebagai tulisan yang dibacakan saat ibadat atau ekaristi. Tetapi sebenarnya kita juga ingat persis bahwa rangkuman dari hukum taurat itu ialah hukum kasih. Jika aturan taurat itu membatasi, aturan kasih itu membebaskan. Kasih tidak mengenal usia, tidak mengenal tempat, tidak mengenal syarat-syarat yang sering kali menghambat aturan. Kasih itu bisa dilakukan siapa saja, dimana saja, kepada siapa saja, dan dalam wujud apa saja. Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama menjadi rangkuman dari Taurat. Itulah hukum baru yang diberikan oleh Yesus. Maka kita bisa yakin benar bahwa ketika kita mampu melakukannya dengan total, maka Kerajaan Sorga tidak jauh dari kita. Hanya saja masalahnya adalah jangankan sampai total, untuk berpikir sedikit tentang kasih saja kita sudah mempunyai segudang syarat. Saya mau mengasihi dia tetapi dengan syarat. Memang wujudnya kasih, niatnya juga kasih. Tetapi itu bukan kasih yang Yesus kehendaki. Kasih yang benar adalah tanpa syarat. Saya mau mengasihi karena saya adalah murid Kristus. Disitulah letak keagungan kasih. Tetapi disitu pula terletak kelamahan manusiawi yang paling dalam. Sering kali kita kehilangan dan merasa kurang kasih. Maka yang keluar dari diri kitapun juga bukan kasih yang sesungguhnya. Apalagi sekarang dengan adanya wabah covid 19. Kita menjadi semakin jauh dengan yang lain, ada begitu banyak sekat dan batas yang membuat kita curiga kepada yang lain. Demi melindungi diri, kita tidak ikut ambil bagian dalam kebersamaan. Virus ini menjadikan kita seperti tidak berdaya. Di satu sisi kita perlu menjaga diri, tetapi di sisi lain kita juga perlu tidak gentar untuk menghadapinya. Jangan sampai virus ini menjadikan kita tumpul akan rasa kasih. Tetapi semoga peristiwa ini semakin mempertajam aura kasih yang kita miliki. Dalam situasi seperti ini kita ditantang untuk tetap berani mengasihi. Lebih-lebih iman kita juga ditantang untuk mampu bertahan atau meleleh dan habis. Doa: Tuhan, semoga kasihku selalu mengalir dari-Mu. Semoga sabda-sabda-Mu mampu membuatku kuat untuk menghadapi berbagai virus kehidupan. Amin.  

Renungan Harian, Rabu Biasa III Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

You cannot copy content of this page

Scroll to Top