Radio Suara Wajar

PKSN 2020 Online: Membangun Cerita Indah dan Manis di Tengah Pandemi

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) Konferensi Waligereja Indonesia tahun ini diselenggarakan bukan di satu Keuskupan melainkan di ranah virtual atau online. “Awalnya, Komsos KWI sudah menunjuk Keuskupan Atambua untuk menyelenggarakan PKSN pada 1-7 Juni. Namun, Pandemi Covid-19 memaksa kita tinggal di rumah dan menjalankan social distancing. Mau tidak mau kita juga harus membatalkan (aktivitas offline PKSN ini) dan menundanya,”ujar Sekretaris Eksekutif Komsos KWI, RD Steven Lalu Pr. Penundaan ini menurut Romo Steven, tidak meniadakan PKSN untuk menyebarkan pesan Paus di Hari Komunikasi Sedunia ke-54 yang mengajak setiap orang membagikan cerita-cerita positif  khususnya di saat Pandemi Covid-19 yang memaksa orang tinggal di rumah dengan segala dinamikanya. Masih melanjutkan tema-tema sebelumnya yang banyak bicara tentang hoaks, cerita palsu dan membangun komunitas, kali ini Paus Fransiskus fokus pada tema “cerita”.  Dengan tema “Hidup Menjadi Cerita : Menjahit Kembali yang Terputus dan Terbelah,” PKSN yang sudah diselenggarakan ketujuh kalinya ini, menurut Romo Steven mengajak kita semua agar merajut cerita yang mampu memandang dunia dan peristiwa dengan penuh kelembutan. “Di tengah hiruk pikuk suara dan pesan  yang membingungkan, kita butuh cerita manusiawi yang bicara tentang diri sendiri dan segala keindahan di sekitar,”ujar Paus seperti dikutip dari pesan resminya. Dengan dasar Kitab Keluaran (10:2) yang berbunyi “Supaya engkau dapat menceritakan kepada anak cucumu” Paus menyerukan agar kita menenun kisah-kisah manis dan indah tentang bagaimana kita menjalin benang dan membangun hubungan satu sama lain dalam hidup ini antara sesama, lingkungan dan Tuhan. Kata Paus, Keluaran 10:2 menekankan kesetiaan Allah yang selalu hadir untuk manusia dan membebaskan manusia dari penindasan. Kesetiaan Allah diceritakan turun temurun dalam Perjanjian Lama dan diteruskan dalam Perjanjian Baru yang menceritakan pewahyuan Allah dalam diri Yesus. Ini membuat Allah terajut dalam kemanusiaan kita memberi cerita baru, menjadi cerita Ilahi. Banyak cerita manusia kemudian menjadi kisah dan karya agung yang menginspirasi dan melengkapi Injil. Di dalamnya  Roh Kudus berperan menuliskan dalam hati manusia meski ditulis pada garis bengkok sekalipun. “Cerita kita menjadi bagian dari setiap cerita agung itu ketika kita menaruh cinta dalam cerita-cerita itu setiap hari. Jangan sekadar menyesal dan sedih tetapi ceritakanlah hati yang terpenjara itu kepada Allah Yang Maha Kasih supaya kita dapat menyimpul kembali jalinan hidup. Bahkan bila cerita kita buruk, kita bisa belajar memberi ruang untuk penebusan,”kata Paus. Yang utama, kata Bapa Suci, cerita itu adalah sarana mengingat siapa diri kita di hadapan Allah, memberi kesaksian apa yang ditulis Roh Kudus.   Lomba-lomba dan Pelatihan Online Masih seperti sebelumnya, kegiatan PKSN ( 24 – 30 Mei ) yang bertujuan menggemakan pesan Paus ini juga diisi dengan berbagai macam lomba selain ekaristi online dan sosialisasi pesan paus lewat media sosial (Facebook, Twiiter, Instagram, Website Mirifica). “Hanya saja kali ini semua kegiatan dilakukan secara online. Dan kita sudah memulainya (lomba-lomba) sejak awal Mei,”ujar Romo Steven. Lomba-lomba yang sudah direncanakan akan diselengarakan antara lain : Lomba Konten Kreatif Digital (Lomba Caption, Rosary Challenge, Cerita Berantai), Lomba Podcast Pewartaan, Lomba Menulis Opini, Lomba Menulis Feature- 4 Tahapan, dan Lomba Bercerita yang divideokan. Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligeraja Indonesia (Komsos KWI) sebagai penyelenggara dibantu komsos seluruh keuskupan di Indonesia juga menyelenggarakan pendampingan serta online course untuk memantapkan para peserta dalam mengikuti lomba. Kegiatan pendampingan dan kursus online ini, menurut Romo Steven bahkan bakal berlanjut hingga setahun ke depan. Jadi memungkinkan para pegiat komsos, para biarawan dan biarawati serta Orang Muda Katolik (OMK) yang punya minat di bidang pewartaan bisa mengikuti berbagai kegiatan secara online dan belajar banyak hal. Mulai dari menulis kreatif, memproduksi podcast/ radio, mencipta lagu, jurnalistik, dan masih banyak lagi. Diharapkan, seluruh umat Katolik dan masyarakat Indonesia, juga keluarga-keluarga yang sedang tinggal di rumah karena Pandemi Covid-19, orang-orang muda yang sangat aktif di media sosial dan para pegiat karya komsos Keuskupan dan Paroki ikut serta meramaikan kegiatan ini. “Kami ingin menggerakkan umat dan masyarakat untuk berbagi cerita positif, inspiratif dan menyatukan sesuai pesan Paus di Hari Komunikasi Sedunia ke-54 (24 Mei) tahun ini,”ujar Romo Steven. (Abdikwi)

PKSN 2020 Online: Membangun Cerita Indah dan Manis di Tengah Pandemi Read More »

Renungan Harian, Senin Paskah III

Bacaan: Yohanes 6:22-29 Roti hidup 6:22 Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. 6:23 Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. 6:24 Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. 6:25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” 6:26 Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. 6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.” 6:28 Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” 6:29 Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”   Renungan Berhadapan dengan situasi yang sekarang ini terjadi, kita tidak bisa begitu saja menyerah dan diam. Meskipun kita tidak mampu berbuat atau bergerak leluasa, tetapi bukan berarti kita menyarah. Dengan tinggal di rumah, memakai masker, dan jaga jarak, itu merupakan tanda yang baik bahwa kita aktif untuk tidak menyerah. Ada tidak sedikit orang yang sudah merasa bosan, merasa tidak nyaman, merasa putus asa, sehingga mereka tidak lagi peduli dengan dirinya. Berbeda dengan yang memang terpaksa harus keluar rumah dan bekerja tetapi tetap mematuhi protocol kesehatan yang dianjurkan. Situasi yang terjadi saat ini pastilah membuat kita semua tidak nyaman. Tadinya kita bisa bergerak kemanapun, dengan siapa saja, dan kapan saja. Sekarang semuanya kelihatan serba terbatas. Saat-saat inilah sebenarnya kita bisa menyadari bahwa ternyata begitu berharganya hidup kita, betapa berharganya orang-orang disekitar kita, betapa indahnya kita masih mampu bekerja dengan normal. Dengan situasi sekarang ini kita bisa mempunyai hidup dan dunia baru. Kebaruan itu semoga juga menjadi cara pandang baru yang baik untuk hidup selanjutnya. Seperti orang-orang yang mencari Yesus hanya karena mencari enaknya saja, kita diingatkan bahwa hidup beriman kita juga bukan hanya sekedar mencari enaknya. Orang banyak ditegur oleh Yesus karena mereka masih mencari-Nya perkara makan kenyang. Yesus mengajak mereka untuk mencari makna yang lebih dalam dan lebih murni. Apakah mereka kalau tidak kenyang tetap mencari Yesus? Bisa jadi sama sekali tidak. Maka yang utama hari ini ditampilkan oleh Yesus. Bukan soal makan, bukan soal enaknya, bukan soal mudahnya. Yesus menekankan soal KEPERCAYAAN. Apakah mudah? Bisa mudah jika kita selalu mendapat untung, tetapi jika tidak? Kencenderungan manusiawi adalah menghujat dan meninggalkannya. Maka bagi kita jelas, kita menjadi pengikut Kristus tidak hanya mau menerima yang baik-baik dan menguntungkan saja. Kita sebagai murid Kristus juga haru siap menerima salib. Tidak mudah dan tidak murah, tetapi kita punya sumber jaminan kepercayaan, Kristus sendiri. Semoga iman dan raga kita tetap dikuatkan dan selalu sehat untuk terus hidup dan berjuang. Kita masih hidup, maka kita harus berjuang. Jika tidak mau berjuang, hidup kita akan berakhir. (mrjo.com)  

Renungan Harian, Senin Paskah III Read More »

Renungan Harian, Selasa Pasakah II

Bacaan: Yohanes 3:7-15 3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” 3:9 Nikodemus menjawab, katanya: “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” 3:10 Jawab Yesus: “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? 3:11 Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. 3:12 Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi? 3:13 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. 3:14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, 3:15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.   Renungan Kenyataan ‘Dilahirkan kembali’ jika kita pahami lebih mendalam sebenarnya terjadi dalam tahap-tahap kehidupan manusiawi kita. Dari balita menuju ke usia sekolah kita juga ‘hidup baru’ dengan banyak kenyaataan baru yang kita alami. Demikian juga dalam tiap tahap-tahap perkembangan sekolah. Kita selalu mengalami dunia baru dan disana kita belajar terus. Dunia kerja dan dunia keluarga juga menjadi moment saat kita seperti memulai sesuatu yang baru lagi. Apalagi hidup dengan membangun keluarga. Kita seperti menghadapi kenyataan yang tidak pernah dialami sebelumnya. Mamasuki usia tua juga menjadi saat kita mempunyai dunia baru, dilahirkan kembali. Moment-moment saat dilahirkan kembali itu sering kali diwarnai dengan situasi yang tidak nyaman, takut dan kuatir. Dengan orang-orang baru dan situasi yang baru kita tidak selalu dengan mudah menerima atau menyesuaikan diri. Tidak jarang pula ada aroma penolakan dalam diri, ingin kembali ke tahap sebelumnya. Tetapi nyatanya hidup kita harus terus berjalan. Kitapun mampu untuk masuk dan menghidupi kenyataan baru itu. Sebagai orang beriman kita sudah ‘dilahirkan kembali’ lewat baptisan yang kita terima. Sudah semestinya kita hidup sesuai dengan martabat yang melekat dalam diri kita. Bisa jadi kita sudah lama dibaptis tetapi sering kali kembali hidup seperti orang yang tidak mengalami rahmat baptisan. Meski roh dan keinginan kita kuat, tetapi nyatanya daging kita banyak mengalami kelemahan. Kita dengan mudah kembali ke dunia lama. Jalan Kristus yang harusnya juga menjadi jalan kita, sering kali kita hindari dan kita tolak. Bisa jadi peristiwa yang hari-hari ini terjadi di seluruh dunia, mewabahnya virus corona, akan membuat kita bisa ‘terlahir kembali’ menjadi manusia baru yang peduli kepada sesama dan peduli pada kehidupan. Tuhan sudah menyediakan banyak hal lewat alam dan orang-orang yang ada di sekitar kita. Tetapi mungkin saja kemarin-kemarin kita tidak menaruh peduli pada mereka. Kita acuh dan tak acuh, bahkan cenderung menghacurkan mereka. Orang lain sering kali kita anggap sebagai penghambat, atau bahkan mangsa yang bisa kita jadikan makanan kita. Demikian juga dengan lingkungan sekitar yang dengan tanpa malu kita habiskan hanya untuk kepentingan diri. Semoga kita tetap mampu bertahan, beriman, dan berkawan dengan orang sekitar dan alam semesta. Mari kita mohon rahmat Tuhan agar dalam setiap peristiwa, oleh karunia Roh, kita dimampukan terlahir kembali, menjadi manusia Kristus dalam segalanya. Amin  

Renungan Harian, Selasa Pasakah II Read More »

SEJUTA MASKER UNTUK SANG BUMI RUWAI JURAI

#solidaritaskeuskupantanjungkarangbersamalawancovid19 Sejuta masker untuk Lampung, Gerakan ini merupakan gerakan spontan yang awalnya diprakarsai oleh rekan-rekan muda dan ibu-ibu yang peduli pada situasi terkini karena menyebarnya virus Covid 19. Akibat dari situasi ini, masker menjadi barang yang sangat langka, kalau pun ada harga melambung tinggi. Gerakan spontan ini hadir sebagai bentuk sikap peduli, berbagi dan solider. Kami para relawan menyebutnya #solidaritaskeuskupantanjungkarangbersamalawancovid19.  Mereka yang terlibat di dalamnya adalah Caritas Keuskupan Tanjungkarang, KKPPMP Keuskupan Tanjungkarang, Wanita Katolik RI Lampung, Paguyuban Devosan, Kerahiman Ilahi (PDKI) Lampung, Serikat Sosial Vincentian (SSV) Lampung, Kelompok Pemerhati LP Keuskupan Tanjungkarang, Gerakan Aktif Tanpa Kekerasan (GATK) Lampung, Bidang Diakonia Paroki Katedral Tanjungkarang, Komisi Kepemudaan Keuskupan Tanjungkarang, OMK, Komsos Keuskupan Tanjungkarang, suster CB, HK, FSGM, dan siapa pun yang tergerak hati untuk peduli. Solidaritas bukan hanya sekedar slogan tetapi spirit dari gerakan ini. Di daerah Bandarlampung dan Margo Agung, dibuat satu koordinasi untuk mensinergikan internal sesama relawan jahit misal butuh bahan kain, karet, benang dan sebagainya. Selain itu juga sinergi dengan jaringan lain yang ada di Bandarlampung dalam gerakan sejenis. Sedangkan untuk daerah di luar Bandarlampung seperti UP Bakauheni, UP Jati Baru, Paroki Pringsewu, Paroki Kota Gajah, Paroki Bandarjaya mereka melakukannya di tempat masing-masing untuk kebutuhan masing-masing. Begitu banyak orang yang sangat peduli dan solider. Semangat solidaritas tersbut sangat nampak dalam proses pembuatan sejuta masker. Masker-masker ini di peroleh dari pengumpulan kain-kain, benang dan karet dari para donatur yang peduli pada situasi pandemik ini. Setelah semua bahan terkumpul lalu di distribusikan ke relawan-relawan jahit terkhusus para ibu-ibu dan suster yang sangat telaten menjahit masker. Mbak Yuli sebagai salah satu penggiat gerakan solidaritas ini,  selalu siap memberikan tutorial untuk pembuatan masker secara langsung maupun online, sehingga masker yang dibuat bisa berguna walaupun tidak 100% seperti standar yang diharapkan. Kebanyakan masker-masker dibuat dari dua lapis kain katun dengan lubang untuk memasukkan filter tambahan jika dibutuhkan. Filter tambahan bisa menggunakan tisu basah yang dikeringkan. Masker-masker ini dijahit manual atau menggunakan mesin oleh banyak orang kemudian dikumpulkan di tiga tempat, yaitu susteran CB Tanjungseneng, FSGM Pasirgintung dan HK Wisma Albertus Pahoman untuk dicuci dan seterika sebelum diedarkan.  Sebisa mungkin bahan menggunakan kain perca atau kain bekas sehingga mengurangi samp moah. Penerima masker adalah orang-orang yang tidak bisa di rumah saja karena harus terus bekerja, khususnya yang tak mampu membeli masker karena langka dan mahal.  Misal pedagang keliling, pekerja pasar, pekerja transportasi, pemulung dan sebagainya. Masker hasil solidaritas ini dibagikan di sejumlah Pasar di Bandar Lampung dan Marga Agung total sekitar 20 pasar, pinggir jalan dan lampu merah. Selain di bagikan kepada mereka yang tidak mampu, beberapa masker juga di bagikan di puskesmas dan rumah sakit-rumah sakit seperti di RS Bob Bazar Kalianda dan puskesmas di Bakauheni. Masker-masker ini juga akan di dibagikan di Lapas-Lapas yang ada di Bandar Lampung. Hingga hari ini, Rabu 11 April 2020, masker yang terkumpul sekitar 3000 buah, sebagian di antaranya sudah dibagikan kepada yang membutuhkan. Dalam proses pembagian masker para relawan juga memberikan Edukasi bagi penerima masker tentang bagaimana cara pencucian dan anjuran penggunaan masker yang tepat. Selain Penerima makser para relawan yang membagikan juga harus mengikuti Protap yang sudah ada untuk tetap menggunakan masker, hand hygiene dan physical distaning. Produksi jahit terus berlanjut di tempat masing-masing sembari proses selanjutnya dijalankan. Selain masker, gerakan bersama ini juga mengumpulkan hand sanitizer untuk dibagikan ke orang-orang yang rentan akan covid-19. Sementara, baru ada 200 botol kecil yang terkumpul dan siap diedarkan. Kepedulian lain yang dibangun adalah perhatian untuk para pekerja rumah sakit. Mereka sangat minim fasilitas padahal sangat beresiko karena menghadapi pasien segala jenis yang belum ketahuan sakit apa. Misal seperti baju untuk tenaga medis di rumah sakit. Kita juga bisa menunjukan kepedulian dan solidaritas kita dengan cara tetap di rumah saja, dengan kepedulian tersebut, kita bersama melawan Covid-19, rantai penyebaran virus Korona dapat diputus dan tidak lebih meluas. #solidaritaskeuskupantanjungkarangbersamalawancovid19 (Gisela Novena Vivi)  

SEJUTA MASKER UNTUK SANG BUMI RUWAI JURAI Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

You cannot copy content of this page

Scroll to Top