komsos tanjungkarang

Renungan Harian, Senin Biasa II

Bacaan: Markus 2:18-22 Hal berpuasa 2:18 Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus: “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” 2:19 Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sedang mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. 2:20 Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. 2:21 Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. 2:22 Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”   Renungan Spiritualitas ‘KEPO’ Secara sederhana, kita bisa melihat bahwa rasa ingin tahu mempunyai makna yang positif pula. Dalam bahasa sekarang, orang yang ingin tahu tentang orang lain sering dikatakan ‘KEPO’. Sebenarnya bukan menjadi urusannya, tetapi karena rasa ingin tahu menjadi orang itu dikataan ‘kepo’. Dalam pengertian ini, rasa ingin tahu itu dimaknai secara negative, atau dengan kata lain mau mencampuri urusan orang lain. Dalam pengertian ‘rasa penasaran dan rasa ingin tahu’ itu, kita bisa merenungan perikopa hari ini. Spiritualitas ‘kepo’ bisa kita maksudkan untuk mengerti apa yang menjadi pertanyaan orang-orang kepada Yesus. Mereka merasa heran mengapa murid Yesus ‘beda’ dengan murid-murid dari padepokan lainnya. Perbedaan itu pertama-tama dilihat dari apa yang kelihatan, kebiasan-kebiasaan yang terjadi, dan penampilan-penampilan yang ada. Orang-orang ingin tahu dan mencari jawabnya langsung kepada ‘guru’ dari mereka yang beda itu. Seperti kita ikuti kisahnya, ke-kepo-an mereka mendapat jawaban langsung dari sumbernya. Yesus menjelaskan kepada mereka mengapa murid-murid-Nya berbuat demikian. Rasa penasaran mereka mendapat tanggapan yang jelas. Rasa ingin tahu mereka dipuaskan oleh jawaban dan penjelasan Yesus. Memang tidak dicerikan bagaiman reaksi mereka setelah Yesus menjawab demikian. Tetapi kita bisa memaknai bahwa segudang pertanyaan yang ada di benak mereka sudah terjawab langsung. Kita bisa memaknai perikopa hari ini dengan dua point besar. Yang pertama yaitu bahwa beriman itu bukan berarti hanya menerima begitu saja. Kita bisa selalu mempertanyakan iman kita. Inilah spiritualitas ‘kepo’ yang mesti selalu kita hidupi. Jangan sampai kita beriman tetapi tidak tahu apa yang kita imani. Kalau tidak tahu, bagaimana kita mampu beriman secara benar dan baik. Ada begitu banyak sumber dan orang yang bisa kita tanyai soal-soal kebenaran iman kita. Seperti Yesus yang memberi jawaban, kita pun bisa yakin bahwa kita akan mendapat jawaban pula. Ketika kita bertanya, sebenarnya kita juga mengajari orang lain untuk memperdalam iman. Yang kedua, kita bisa belajar bahwa mencari jawaban atas ‘isu-isu’ yang ada kepada sumbernya adalah jalan yang paling bijaksana, bukannya justru meng-gosip. Sering kali masalah menjadi besar karena ada begitu banyak ‘editing’ dari sumber-sumber yang tidak bertanggung jawab. Kita sering kali terhasut oleh pernyataan-pernyataan yang bukan aslinya. Bertanya atau klarifikasi kepada sumbernya adalah jalan keluar yang pas yang bisa kita lakukan. Ini juga mengajari kita bahwa ketika ada masalah, kita diajak untuk mencari penyelesaikan langsung kepada orangnya. Kita juga belajar untuk senantiasa rendah hati dan mau mengampuni. Doa: Ya Tuhan, bersabdalah, dan kami, hambu, hendak mendengarkan. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan kami. Amin.  

Renungan Harian, Senin Biasa II Read More »

Renungan Harian, Jumat Biasa I

Bacaan: Markus 2:1-12 Orang lumpuh disembuhkan 2:1 Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. 2:2 Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, 2:3 ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. 2:4 Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. 2:5 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!” 2:6 Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: 2:7 “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” 2:8 Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? 2:9 Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? 2:10 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” — berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –: 2:11 “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” 2:12 Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat.”   Renungan Salah satu nilai yang bisa kita ambil dari perikopa ini tentang bagaimana kita belajar beriman. Kita percaya bahwa kuasa Yesus itu sempurna. Dalam Dia segala sakit penyakit bisa disembuhkan. Dia bisa melakukann segalanya dengan mudah. Namun beriman ternyata bukan hanya soal keyakinan yang demikian. Beriman berarti kita ikut ambil bagian terlibat dalam berbagai hal kenyataan hidup. Seperti orang-orang yang mengusung orang yang sakit itu. Mereka melibatkan diri untuk membawa yang sakit kepada Yesus. Itulah yang juga diperhitungkan oleh Yesus. Biasanya secara personal Yesus melihat iman orang yang sakit. Tetapi kali ini Yesus melihat iman mereka yang membawa orang sakit itu: “Ketika Yesus melihat iman mereka”. Iman orang banyak itu membawa pengaruh bagi dia yang sakit, dan ikut menjadikan Yesus terlibat dalam pergumulan iman mereka. Hasilnya adalah kesembuhan orang yang sakit itu. Yesus tidak hanya berususan dengan yang sakit saja, tetapi Yesus juga berususan dengan mereka yang ada di sekitar orang sakit itu. Kita punya tradisi yang sangat indah, yakni mendoakan orang-orang yang sakit. Bahkan kita juga punya tradisi mendoakan orang-orang yang sudah meninggal. Kita percaya bahwa doa-doa yang kita panjatkan mempunyai ‘efek’ untuk mereka yang kita doakan. Kita juga percaya bahwa Tuhan mendengarkan doa-doa kita, meskipun kita tidak mengenal orang yang kita doakan misalanya. Maka, pastoral berharga yang bisa kita lakukan adalah janganlah pernah merasa rugi untuk mengingat orang lain dalam doa-doa kita. Meski kita tidak kenal, misalnya tidak sengaja berjumpa dengan orang di bandara atau di bus atau dimanapun yang bercerita tentang anaknya yang sakit, adalah sangat indah apabila kita mambawanya dalam doa kota. Doa yang singkat, tidak perlu bertele-tele, tidak perlu diketahui banyak orang, hanya saya yang tahu dengan Tuhan, cukuplah itu. Niscaya terjadilah ‘Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”.’. Doa: Bersabdalah ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan. Sabda-Mu adalah jalan, kebenaran, dan kehidupan kami. Amin.  

Renungan Harian, Jumat Biasa I Read More »

Renungan Harian, Kamis Biasa I

Bacaan: Markus 1:40-45 Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta 1:40 Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” 1:41 Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” 1:42 Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. 1:43 Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: 1:44 “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” 1:45 Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.   Renungan Sudah tidak diragukan lagi bahwa Yesus mempunyai kuasa atas berbagai macam penyakit. Bahkan Ia juga berkuasa untuk mengusir setan-setan. Periko hari ini pun juga semakin mempertegas bagaimana kuasa Yesus itu bekerja. Hanya dengan kata-kata, orang yang sakit kusta itu bisa menjadi sembuh. Ada beberapa penyembuhan dimana Yesus melakukan ‘ritual’ atau gerakan tertentu, tetapi ada juga dimana Yesus hanya mengucapkan kata-kata tanpa ada tindakan apapun. Maka menjadi semakin jelas bahwa sejak awal karya-Nya, Yesus berkarya dengan penuh kuasa. Namun kita bisa merenungkan sisi lain dari perikopa ini. Kita bisa bercermin dari orang yang sakit kusta. Diawal kisah kita bisa menduga baha orang ini mempunyai iman dan kepercayaan yang penuh kepada Yesus. Kita bisa mengira bahwa dia adalah orang yang saleh sehingga nada permohonannya pun nada yang tidak memaksa. Yesus pun juga mengabulkan ‘permohonan’ orang kusta itu hanya dengan kata-kata. Kita ingat bagaimana perwira yang memohon kesembuhan untuk bawahannya. Ia memohon dengan iman yang teguh, maka terjadilah yang menjadi permohonannya. Demikian juga dengan orang kusta hari ini. Permohonannya dikabulkan. Dia menjadi tahir, dikembalikan martabatnya yang telah rusak. Dia digabungkan kembali dengan himpunan orang banyak. Yesus meminta supaya orang yang sudah sembuh itu melakukan apa yang menjadi kewajibannya sebagai orang Yahudi: pergi kepada imam dan mempersembahkan kurban syukur. Tetapi apa yang terjadi? Apakah orang itu menuruti perintah Yesus? Markus mencatat dengan jelas bahwa orang yang sudah tahir itu sama sekali tidak menuruti apa yang diperintahkan Yesus. Ia justru berbuat sekehendaknya sendiri, padahal dia sudah sembuh dan permohonannya dikabulkan Yesus. Sekilas nampak baik bahwa dia memberitakan apa yang terjadi pada dirinya. Tetapi perintah Yesus tidak ia laksanakan. Disitulah kita bisa belajar beriman sekarang ini. Semoga kita tidak seperti orang yang sudah tahir itu. Ketika sakit kita memohon-mohon kepada Tuhan supaya sembuh. Ketika sudah sembuh, tak satupun perintah Tuhan kita lakukan. Beriman bukan hanya mewartakan apa yang baik tentang Tuhan, tetapi juga melakukan apa yang menjadi perintah-Nya. Seperti Samuel, mari kita berseru “bersabdalah ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan”. Kita mohon rahmat itu agar kita tidak ‘lupa daratan’. Tidak hanya waktu sakit kita ingat Tuhan, ketika sehat pun kita selalu bersyukur kepada-Nya. Doa: Ya Tuhan, sabda-Mu adalah jalan, kebenaran dan hidup kami. Amin.  

Renungan Harian, Kamis Biasa I Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top