Keuskupan Tanjungkarang

Renungan Harian, Senin Biasa XVII

PW. St. Marta Bacaan: Matius 13:31-35 Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi 13:31 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. 13:32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” 13:33 Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” 13:34 Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, 13:35 supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: “Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” Renunga Jadilah orang yang berpengaruh Salah satu hal yang membuat orang bisa sukses adalah karena dirinya mampu mempengaruhi orang lain. Rasa belum pernah ada orang yang tidak berbuat apa-apa kemudian menjadi sukses dan terkenal. Paling banter dia akan mati mengenaskan. Atau kalau hidup pun juga tidak banyak mengenal dan dikenal orang. Tokoh-tokoh dunia terkenal karena karya-karya mereka yang mampu mempengaruhi orang lain. Dalam cara yang paling ampuh untuk mengubah sesuatu adalah dengan memberikan pengaruh yang besar. Injil hari ini berbicara tentang biji sesawi dan ragi. Keduanya dipakai Yesus untuk memberikan penjelasan tentang Kerajaan Sorga. Seumpama biji sesawi karena biji itu selalu bertumbuh. Dia yang paling kecil tetapi justru menjadi yang terbesar. Dari tidak kelihatan menjadi kelihatan, bahkan bisa menjadi pelindung bagi yang lain. Seumpama ragi karena ragi itu mampu meresap kesegala penjuru. Mengubah tepung menjadi adonan yang siap menjadi roti. Ragi itu mampu masuk meresak dan bahkan mengubah bentuk dari dalam. Hidup kita juga dalam perjalanan menuju ke kerajaan Sorga. Kerajaan sorga itu bukan hanya saat nanti, atau nun jauh disana, tetapi sudah datang dan sedang dalam perjalanan kepenuhan. Kita masuk di dalamnya. Maka seperti biji sesawi dan ragi, hidup kita adalah menggambarkan kerajaan sorga yang mampu member daya dorong bertumbuh dan meresap dalam segala sendi kehidupan. Dalam kehidupan bersama, biasanya yang terjadi adalah siapa yang kuat itulah yang paling dominan. Seperti biji sesawi dan ragi, kita sebenarnya dipanggil untuk menjadi orang yang berpengaruh. Hanya dengan kekuatan itulah kita akan mampu membawa perubahan. Jika tidak, kita hanya akan ikut arus. Dengan menjadi orang yang berpengaruh, kita bisa ikut menentukan arah kebaikan bagi banyak orang. Sebaliknya, jika yang merasuk itu bukan kebaikan, maka hidup kitapun juga akan jauh dari kebaikan. Doa: Tuhan, semoga kebaikanku member pengaruh bagi orang lain juga untuk melakukan kebaikan lainnya. Amin.  

Renungan Harian, Senin Biasa XVII Read More »

Renungan Harian, Minggu Biasa XVII

Bacaan: Lukas 11:1-13 Hal berdoa 11:1 Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya: “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.” 11:2 Jawab Yesus kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. 11:3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya 11:4 dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” 11:5 Lalu kata-Nya kepada mereka: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, 11:6 sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; 11:7 masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. 11:8 Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. 11:9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 11:10 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. 11:11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? 11:12 Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? 11:13 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” Renungan Tekunlah Ber-DOKAR Injil hari ini membawa kita pada permenungan akan diri kita sendiri. Pertanyaannya adalah manakah yang selama ini lebih dominan dalam diriku: kebanyakan waktu untuk berdoa? Atau kebanyakan waktu untuk bekerja? Kita masing-masing yang mampu menjawabnya. Bisa jadi pada umumnya mengatakan ‘selama ini aku lebih banyak bekerja dari pada berdoa’. Jawaban itu yang sangat logis terdengar. Berdoa dalam arti duduk diam terhening dalam kesendirian atau dalam keramaian biasa dilakukan oleh para pertapa, memang mereka mengkhususkan untuk itu. Namun demikian, mereka biasanya juga tetap bekerja. Kita sebagai manusia biasa sudah hampir pasti memilih untuk bekerja supaya menghasilkan sesuatu untuk bertahan hidup. Maka hampir seluruh waktu habis untuk bekerja dan bekerja. Tidak ada salah sama sekali ketika kita merasa untuk bertahan hidup harus bekerja. Justru memang untuk hidup orang harus bekerja. Yang tidak mau bekerja lebih baik juga tidak mau hidup harusnya. Bekerja menjadi ciri khas manusia. Kita diingatkan oleh Injil hari ini bahwa memang kita harus bekerja dengan tekun. Tetapi ternyata ada sisi lain yang juga harus menjadi perhatian: tekun berdoa. Kita diingatkan karena sering kali lupa bahwa doa kita perlukan untuk menyatukan jiwa raga kita dengan Sang Empunya kerja. Doa kita mengalir dalam pekerjaan, dan pekerjaan kita dijalani dengan semangat doa. Berdoa mempunyai daya yang dahsyat: “setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan”. Orang yang tekun berdoa menunjukkan kualitas hidupnya yang tekun juga dalam hal lainnya. Daya doa itu menjadikan kita mungkin untuk mendapatkan yang kita cari, menerima apa yang kita perlukan, dan membuat kita masuk dalam kebahagiaan Tuhan. Semoga doa sederhana ‘Bapa Kami’ menjadi pujian kita setiap hari, dimanapun dan kapanpun. Doa: Tuhan, ajarilah aku tekun mendoakan dan menghidupi doa Bapa Kami. Amin.  

Renungan Harian, Minggu Biasa XVII Read More »

Kesetiaan dalam Pelayanan

Hanura – Pengurus Komisi-komisi Keuskupan Tanjungkaran dan seluruh pegawai Kantor Sekretariat Albertus, Keuskupan Tanjungkarang, mengadakan penyegaran rohani dengan acara rekoleksi bersama. Rekoleksi ini diadakan di kompleks gereja St. Martinus, Hanura, pada Selasa (23/7). Tema yang diangkat pada penyegaran ini adalah ‘Kesetiaan dalam Pelayanan’. Vijken Keuskupan Tanjungkarang, rm Y. Samiran SCJ, selaku kepala kantor secretariat, menjadi pemberi materi selama rekoleksi ini. Hampir seluruh anggota komisi-komisi, baik yang di sekretariat maupun ditempat lain, berjumlah 23 orang mengikuti kegiatan ini. Bapak uskup juga hadir untuk meneguhkan dan menyertai seluruh proses perjalanan acara ini. Acara ini terselenggara berkat bantuan Bimas Katolik Propinsi Lampung yang mendukung seluruh prosesnya. Dalam materinya, rm Samiran mengajak seluruh peserta untuk melihat tentang perumpamaan tentang talenta dalam Kitab Suci. Refleksi semangat melayani mengambil inspirasinya dari sana. Semua penerima talenta mampu mengembangkan milik masing-masing, kecuali dia yang menerima satu talenta. Dia justru menyembunyikannya, bukan mengembangkan. Dia punya pandangan yang buruk atas tuannya, dan juga atas dirinya sendiri tentu saja. Dia yang mendapat satu talenta dikatakan oleh tuannya ‘hai hamba yang jahat dan malas’. Bukan karena dia tidak mampu, namun karena dia jahat dan malas maka talentanya tidak berkembang. Lebih jauh rm Sam mengajak seluruh peserta melihat bahwa semangat melayani bisa dilihat dari perumpamaan itu. Setiap orang mempunyai tugasnya sendiri. Tugas itulah yang dikerjakan dan dikembangkan dengan penuh syukur. Mengenai berkembang menjadi berapa talenta adalah urusan nanti. Tetapi sekarang yang perlu adalah tidak menjadi hamba yang jahat dan malas. Pada bagian akhir, rm vikjen mengajak peserta untuk berefleksi pada empat point: manakah yang diakui sebagai pekerjaan; bagaimana bidang itu dihidupi; apakah sudah merasa mengembangkannya dengan sepenuh hati; apakah merasa puas dan sudah berhasil optimal. Setelah penyegaran rohani dengan rekoleksi, acara dilanjutkan dengan rekreasi bersama di pulau Tegal Mas. Dari Hanura rombongan melanjutkan perjalanan menuju ke pantai Sari Ringgung. Dari sana lah kemudian semua peserta dengan menggunakan dua perahu ‘Abdulgani’ menyeberang menuju ke pulau Tegal Mas. Acara rekreasi dibuka dengan makan siang bersama yang dibawa dari wisma Albertus. Kemudian dilanjutkan dengan mancing, snorkling, poto-poto, keliling pulau dan acara menurut seleras masing-masing. Semua peserta kembali menuju ke Bandar Lampung pada pukul 15.30 WIB. (ydw) Video bisa dilihat disini https://www.youtube.com/watch?v=5008_hPBpiQ&t=282s    

Kesetiaan dalam Pelayanan Read More »

Renungan Harian, Kamis Biasa XVI

Pesta St. Yakobus Rasul Bacaan: Matius 20:20-28 Permintaan ibu Yakobus dan Yohanes 20:20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 20:21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” 20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” 20:23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” 20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Renungan Bukan memerintah melainkan melayani “Melayani dengan hati” akan selalu menjadi jargon yang tetap revelan kapanpun dan dimanapun. Banyak tokoh dunia yang terkenal baik karena mempunyai semangat melayani yang luar biasa. Apa yang mereka kerjakan bukan pertama-tama demi dirinya sendiri atau keluarganya. Mereka bukan melayani dengan ‘tangan besi’ tetapi melayani dengan kuasa yang mereka miliki. Kekuasaan itu bukan untuk kesenangan dan kepuasan sendiri, namun untuk memperbaiki yang rusak, meluruskan yang bengkok, menghidupkan yang mati, bahkan memberi peluang kepada mereka yang hampir tidak punya peluang. Sikap demikian justru mendatangkan banyak kebaikan yang langgeng, dan pasti akan dikenang sepanjang masa. Sikap rendah hati menjadi kunci juga dalam seluruh pelayanannya. Tetap menghargai dan menghormati mereka yang lebih senior, bahkan kepada para lawan yang tak kurang-kurang berusaha menghancurkan. Tetapi jurstru sikap rendah hati itu membuat lawan-lawannya hancur sendiri. Kekuatan melayani dengan hati sungguh berdaya ubah, entah secara parsial maupun secara universal. Demikianlah Yesus mengingatkan para murid untuk mempunyai semangat itu, melayani dengan hati, bukan memerintah dengan kuasa tangan besi. Tidak perlu kuatir dengan orang-orang yang anti atau bahkanberusaha membinasakan semangat itu, karena mereka sendiri akan terkikis habis. Syaratnya adalah kita tetap mampu berdiri kokoh dalam kekuatan Allah sendiri. Tantangan dan hambatannya tentu tidak mudah. Kita perlu mencapai ‘kekuasaan’ yang tinggi untuk melayani dengan hati. Kita selalu berharap mereka yang mempunyai peluang besar untuk mengatur lebih luas mampu mempunyai semangat melayani yang tinggi. Bukan demi diri mereka sendiri, tetapi demi kebaikan semakin banyak orang. Doa: Tuhan, anugerahilah kami dengan semangat melayani dengan hati, bersikap rendah hati dan tulus. Amin.    

Renungan Harian, Kamis Biasa XVI Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top