ASILO, RUMAH KITA
Suatu hari dengan mengendarai sebuah sepeda motor saya berjalan-jalan menyusuri salah satu jalan di sudut kota Bandar Lampung. Saya tidak tahu mengapa tiba-tiba langkah kaki saya membawa saya ke sebuah tempat yang tidak asing di telinga saya yang selama ini sering saya dengar. Tempat itu namanya Asilo. Awalnya saya kira tempat ini hanya tempat biasa, lahan biasa. Ada bangunan sederhana di depannya dan beberapa pepohonan di sekitarnya. Karena rasa keingin tahuan saya, saya mencoba untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam. Ketika saya masuk, tiba-tiba ada rasa lain yang timbul dari dalam diri saya. Dari suasana hiruk pikuk berubah menjadi suasana tenang, hening, sejuk dan asri. Anehnya, seolah seluruh kehidupan yang ada dan semua yang tumbuh di dalamnya menyambut, menyapa dan berharap kepada siapa pun untuk menjaga serta merawat mereka untuk keberlangsungan hidup mereka supaya mereka pun tetap dapat memberikan kesejukan, keasrian dan keindahan kepada kita yang datang ke sana. Di sanalah saya baru benar-benar paham bahwa Asilo adalah milik kita, rumah kita, milik Keuskupan kita Tanjung Karang. Artinya, Asilo adalah milik kita semua. Bukan milik satu lingkungan. Bukan milik satu panitia. Bukan milik segelintir orang. Asilo adalah ruang bersama. Tempat bertumbuh dan tempat kita untuk belajar melayani. Tempat iman yang diwujudkan bukan lewat kata-kata, tetapi lewat kepedulian dan kerja nyata. Asilo bukan sekedar tanah dan bangunan. Ia adalah aset perutusan. Ia adalah titipan Gereja untuk dirawat dengan hati yang tulus, dijaga dengan kebersamaan, dan dihidupi dengan semangat gotong royong, dan inilah yang digagas oleh Bapa Uskup kita Monsinyur Vinsensius Setiawan Triatmojo. Karena itu, Asilo tidak akan hidup jika hanya dirawat oleh beberapa orang. Asilo akan bernafas jika kita datang dan merawatnya bersama-sama. Asilo akan bertumbuh jika kita merasa memiliki. Mari kita datang ke Asilo. Bukan sebagai tamu, tetapi sebagai keluarga yang dihidupi, disemangati yang dilandasi dengan kasih Kristus. Mari kita rawat rumputnya, bangunannya, lingkungannya dan terutama semangat kebersamaannya. Asilo artinya adalah suaka, tempat pengungsian, tempat perlindungan. Sesuai namanya, maka Asilo ini dipersembahkan untuk menjadi tempat semua orang yang datang bisa bertemu saudara-saudarinya untuk saling menjaga dan melindungi diikat oleh hakekat kemanusiaan yang sama. Ini juga selaras dengan visi membangun persaudaraan yang sejati, sesuai amanat Gereja Universal. Asilo ini juga menjadi ekologi center, camping ground, jogging track, dapur umum selasih, campus ministry dan sanggar seni budaya. Semua bisa dibuat di sana. Tempat untuk mencari inspirasi, sekaligus mewujudkan mimpi untuk berbagi kasih serta menjaga spirit untuk terus mencintai segenap ciptaan. Kalau kita bisa berkumpul untuk hal lain, mengapa tidak berkumpul untuk sesuatu yang menjadi milik kita bersama? Mari, teman-teman, saudara-saudaraku Kita jaga, kita rawat, kita hidupkan Asilo. Karena ketika kita mencintai dan merawat Asilo, sejatinya kita juga mencintai dan merawat Gereja kita sendiri. Dan semangat ini selaras dan sejalan dengan ARDAS TAHUN IX 2026 kita yaitu “Tahun Cinta Kehidupan Dan Lingkungan Hidup” Semoga artikel ini dapat memotivasi dan menjadi penyemangat dalam menghidupi dan merawat rumah kita: ASILO. Bandar Lampung, Desember 2025. Wardoyo & Utoyo. Disempurnakan oleh: Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo.



