Author name: Komsos Tanjungkarang

Renungan Harian, Jumat Biasa XXVIII

Pesta St. Lukas, Penulis Injil Bacaan: Luk 10:1-9 Yesus mengutus tujuh puluh murid 10:1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. 10:2 Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. 10:3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. 10:4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan. 10:5 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. 10:6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. 10:7 Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. 10:8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, 10:9 dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu.   Renungan Pada pesta St. Lukas ini, kita diajak untuk merenungkan tentang perutusan para rasul. Mereka diutus untuk pergi berdua-dua dan memberitakan Kerajaan Allah. Para utusan tentu saja menyampaikan apa yang menjadi pesan dari Dia yang mengutus. Maka jelas apa yang menjadi tugas perutusan mereka adalah menyampaikan persis seperti misi Yesus. Kerajaan Allah adalah warta yang mereka bawa. Dasar dan hidup para murid dalam tugas perutusan ini adalah Yesus sendiri. Dialah yang memberi mereka bekal dan menyertai mereka. Jika melihat Lukas sebagai seorang tabib yang mampu menyembuhkan orang yang sakit, maka kita juga bisa membaca perikopa hari ini dalam kerangka itu. Ketujuh puluh murid diutus pergi berdua-dua untuk menyembuhkan banyak orang. Menyembuhkan bukan hanya dalam arti yang sakit fisik menjadi sembuh, tetapi membawa keselamatan kepada mereka yang mau mendengarkan. Apa langkah yang mereka lakukan? Yesus mengatakan “Damai sejahtera bagi rumah ini”. Kedamaian adalah berkat penyembuhan untuk setiap orang. Persis kata-kata itulah yang menjadi obat bagi penyakit banyak orang. Sapaan itu menjadi ramuan obat yang bisa diterima oleh siapapun, tanpa harus bersusah payah. Maka para murid pertama-tama diperintah oleh Yesus untuk membawa obat itu kepada siapapun yang mereka jumpai. Damai sejahtera menjadi suasana khas orang yang mengalami sukacita, menerima berkat dari Tuhan sendiri. Damai sejahtera merupakaan keadaan orang yang dekat dengan Allah sang sumber hidup mereka. Damai sejahtera tidak bisa diukur hanya dengan harta benda dan kemewahan. Damai sejahtera tidak hanya diukur dari banyaknya berbuat derma. Damai sejahtera merupakan anugerah Allah yang dicurahkan kepada mereka yang mau mendengarkan Dia. Orang yang mengalami damai sejahtera adalah orang yang mengalami banyak kesembuhan. Bertekunlah untuk membaca sabda Tuhan, terlebih apa yang disampaikan Lukas. Semoga St. Lukas mencerahkan hidup kita, membuka mata batin kita untuk mengalami damai sejahtera dalam Tuhan. Doa: Ya Tuhan, semoga aku berani dengan mudah mengatakan ‘damai sejahtera’ bagi orang-orang yang kujumpai. Semoga aku pun juga mengalami damai sejahtara-Mu sendiri. Amin.  

Renungan Harian, Jumat Biasa XXVIII Read More »

Renungan Harian, Kamis Biasa XXVIII

St. Ignasius Antiokhia, Uskup dan Martir Bacaan: Luk 11:47-54 11:47 Celakalah kamu, sebab kamu membangun makam nabi-nabi, tetapi nenek moyangmu telah membunuh mereka. 11:48 Dengan demikian kamu mengaku, bahwa kamu membenarkan perbuatan-perbuatan nenek moyangmu, sebab mereka telah membunuh nabi-nabi itu dan kamu membangun makamnya. 11:49 Sebab itu hikmat Allah berkata: Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, 11:50 supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan, 11:51 mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah. Bahkan, Aku berkata kepadamu: Semuanya itu akan dituntut dari angkatan ini. 11:52 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi.” 11:53 Dan setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terus-menerus mengintai dan membanjiri-Nya dengan rupa-rupa soal. 11:54 Untuk itu mereka berusaha memancing-Nya, supaya mereka dapat menangkap-Nya berdasarkan sesuatu yang diucapkan-Nya.   Renungan Akhir dari kritikan Yesus kepada orang banyak dalam perikopa ini adalah orang-orang semakin berusaha untuk membinasakan Yesus. Mereka mengerahkan banyak energy untuk menjebak dan menghancurkan Yesus. Betapa tidak demikian, Yesus sudah mengkritik mereka sedalam dalam dan bisa jadi sangat menyakitkan. Yesus menguraikan panjang lebar pengajaran-Nya yang jelas-jelas dipakai untuk mengkritik pihak-pihak tertentu. Mereka yang sakit hati pastilah akan berusaha bagaimana caranya supaya Yesus tidak berbicara lagi. Berhadapan dengan itu, Yesus nampaknya tidak gentar. Ia tetap menyatakan kebenaran dan mengajak orang untuk memperbaiki hidup mereka. Membutuhkan pengetahuan dan keberanian besar untuk bersikap seperti yang Yesus lakukan. Hanya ada segelintir orang yang berani berbuat seperti itu. Resikonya adalah kematian. Tetapi Yesus mengambil resiko itu. Belajar dari sikap Yesus, apakah sejauh ini kita berani mengatakan yang benar meski akibatnya disingkiri banyak orang? Bisa jadi sikap yang sering kita ambil adalah mencari aman, bersikap damai-damai saja, tidak mau mengambil resiko dengan mengatakan kebenaran. Dalam bulan misi luar biasa ini, kita bisa membangun niat misi yang konkret, yakni tetap berani mengatakan yang benar meski resikonya tidak mudah. Doa: TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai. Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih. Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan. Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran. Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian. Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan. Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang. Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita. Amin.  

Renungan Harian, Kamis Biasa XXVIII Read More »

GEREJA SEBAGAI RUMAH BAGI MEREKA YANG TERASING

Catatan Pertemuan KKPPMP Keuskupan dan JPIC Kongregasi Regio Sumatera Belitung,11 Oktober 2019 Keprihatinan dan seruan Paus Fransiskus yang terangkum dalam Buku Arah Pastoral Perdagangan Manusia menjadi inspirasi bagi para penggiat Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan dan Komisi Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Kongregasi Regio Sumatera dalam pertemuan di Belitung, 8 – 11 Oktober 2019. Pertemuan ini mencuatkan kesadaran bahwa Gereja harus mengembalikan martabat manusia yang hilang atau rusak akibat perdagangan manusia. Paus Fransiskus menandaskan bahwa “perdagangan manusia adalah luka yang menganga di tubuh masyarakat masa kini, menjadi bencana bagi tubuh Kristus”. Tokoh orang Samaria dari Lukas 10: 25 – 37 mengingatkan Gereja untuk menghadirkan wajah Kristus pada korban, terlibat bersamaNya menghentikan setiap tahap perdagangan manusia. Pertemuan KKPPMP Keuskupan dan JPIC Kongregasi se Regio Sumatera berkomitmen bekerja bersama dalam jaringan dengan rekomendasi sebagai berikut : Keputusan orang termasuk umat Katolik untuk mencari pekerjaan merupakan motif dominan di balik alasan orang untuk berpindah atau melakukan migrasi. Untuk itu Gereja Katolik perlu memberikan perhatian bagi umat yang rentan terhadap kemungkinan eksploitasi. Pemetaan kelompok rentan harus dan penting dilakukan. Pendampingan khusus kepada para remaja harus dilakukan sebagai upaya pencegahan melalui kampanye anti perdagangan orang melalui berbagai institusi pendidikan secara berjenjang. Perhatian khusus perlu diberikan kepada keluarga-keluarga Katolik yang melakukan migrasi ke berbagai daerah di Indonesia maupun luar Indonesia untuk mencegah dampak lanjut terhadap keluarga rentan yang melakukan migrasi. Perhatian yang sama juga harus diperhatikan pada keluarga yang ditinggalkan oleh anggota keluarga yang bermigrasi. Mengingat sulitnya menangani kasus perdagangan orang di fase hilir, khususnya di daerah tujuan maupun transit, maka upaya untuk pencegahan perlu dilakukan sejak dini di berbagai daerah atau keuskupan asal. Untuk itu peran para pastor paroki sangat diharapkan untuk turut mendidik dan memberikan wawasan kepada umatnya yang rentan. Pastor paroki juga diharapkan untuk melakukan pendataan umat secara berkala melalui sistem administrasi gereja yang sudah ada, sehingga fenomena migrasi bisa dibaca secara jelas pada level paroki. Dokumen administrasi Gereja merupakan instrument pendukung di peradilan, khususnya untuk melengkapi kelemahan sistem administrasi kependudukan pemerintah. Fenomena migrasi para pencari kerja yang rentan untuk dieksploitasi membutuhkan kajian-kajian serius. Untuk itu masing-masing keuskupan di Indonesia harus memberikan perhatian terhadap fenomena ini, menyiapkan tenaga pastoral dalam bidang migrasi yang kompeten dan mempelajari kajian migrasi secara serius, agar fenomena ini bisa dibaca dan disosialisasikan dengan baik, sesuai konteks lokal secara utuh dan diantisipasi dampak negatifnya. Mengingat tingginya angka pencari kerja, dan kebutuhan pasar kerja yang berubah dengan cepat maka Gereja Katolik diharapkan terlibat merevitalisasi Balai Latihan Kerja (BLK) baik yang sudah ada, maupun BLK yang baru akan terbentuk agar sesuai dan mampu menjawab kebutuhan ekonomi mereka. BLK dapat dibentuk di daerah transit maupun di daerah asal. Hari-hari mendatang dunia akan mengalami kemungkinan resesi global. Krisis di berbagai tempat memicu orang untuk melakukan migrasi karena berbagai sebab. Gereja Katolik perlu mempersiapkan diri untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, dengan tetap membawa kabar gembira bagi mereka yang kehilangan harapan dan tersesat ketika melakukan migrasi. Solidaritas perlu dibangun bersama-sama, dan Gereja  menjadi rumah bagi semua yang terasing.   Belitung, 11 Oktober 2019   Chrisanctus Paschalis Saturnus Koordinator KKPPMP Regio Sumatera  

GEREJA SEBAGAI RUMAH BAGI MEREKA YANG TERASING Read More »

Renungan Harian, Rabu Biasa XXVIII

Bacaan: Luk 11:42-46 11:42 Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. 11:43 Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. 11:44 Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.” 11:45 Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” 11:46 Tetapi Ia menjawab: “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.   Renungan Potongan perikopa hari ini berada dalam konteks besar perikopa Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Sebelum perikopa ini, Lukas mempunyai satu perikopa yang berbicara tentang ‘Pelita Tubuh’. Maka baik sekali merenungan Injil hari ini dengan melihat konteks besar yang diawali dengan pelita tubuh. Dalam perikopa sebelumnya, Yesus mengatakan “jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang”. Demikian juga dengan sebaliknya. Tetapi yang jelas Yesus mengingatkan kita tentang siapa diri kita. Bersama dan dalam Dia, tubuh kita sebenarnya sudah menjadi terang. Tetapi ketika jauh dari pada-Nya, menjadi gelap lah yang terjadi. Dalam terang pengertian itu, kristikan Yesus kepada orang Farisi dan ahli taurat bisa kita lihat lebih jelas. Yesus mengkritik mereka karena mereka seolah dekat dengan Allah, tetapi mereka justru berlaku sebaliknya. Praktek kewajiban mereka tidak dibarengi dengan sikap terang iman. Apa yang mereka lakukan bukan sebagai cerminan dari iman yang mendalam, bukan dari dalam hati mereka. Dorongan utama mereka hanya apa yang kelihatan bagi orang lain. Yesus mengajak kita untuk melihat diri kita masing-masing. Bisa jadi kita juga melakukan hal yang sama. Kewajiban agama hanya kita lakukan dengan pikiran dan tindakan fisik belaka. Sementara disposisi hati sama sekali tidak mengarah kesana. Artinya pelita tubuh kita tidak bernyala dari dalam. Hanya penampakkannya saja. Kita diingatkan bahwa pelita kesuruhan diri kitalah yang membuat hidup kita menjadi terang. Sumber terang kita adalah Yesus sendiri. Maka semakin mendekatkan diri kepada-Nya berarti semakin membuat pelita hidup kita semakin terang. Hanya dengan terang yang demikian maka kita bisa ikut menerangi orang lain. Mendekati Sang Terang adalah panggilan kita terus menerus. Dia selalu membuka diri, membiarkan diri supaya didekati oleh kita manusia. Semoga kita tidak pernah takut untuk selalu datang kepada-Nya, menimba kasih dan kerahiman dari pada-Nya. Doa: Ya Tuhan, semoga hidup senantiasa membawa dan menjadi terang bagi orang lain. Amin.  

Renungan Harian, Rabu Biasa XXVIII Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top