Author name: Komsos Tanjungkarang

Renungan Harian, Selasa Biasa XXX

Bacaan: Lukas 13:18-21 Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi 13:18 Maka kata Yesus: “Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya? 13:19 Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya.” 13:20 Dan Ia berkata lagi: “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? 13:21 Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.”   Renungan Tak tampak tapi berdaya Perikopa hari ini berbicara tentang Kerajaan Allah yang diumpamakan dengan biji sesawi dan ragi. Fokus pewartaan Yesus adalah Kerajaan Allah. Allah yang merajai manusia berarti seluruh hidup manusia terarah kepada-Nya. Manusia yang dirajai oleh Allah sendiri hidupnya akan berbuah dan berkembang kepada kebaikan dan keselamatan. Kedamaian dan sukacita juga akan menyertai setiap orang yang mengandalkan Allah dalam seluruh hidupnya. Perumpamaan hari ini menggambarkan hal itu. Persamaan kedua perumapaan itu adalah biji sesawi dan ragi sama-sama sebagai benda yang kecil, bahkan hampir tak tampak. Tetapi mereka mempunyai daya tumbuh, daya kembang, dan daya pengaruh yang kuat. Mereka mampu mendorong apa yang diluar dirinya, sehingga bukan mereka yang mengecil, tetapi justru mereka ‘mengalahkan’ apapun yang mengahangi mereka untuk bertumbuh kembang. Kita saat ini tidak mampu melihat Kerajaan Allah secara kasat mata, misalnya dengan melihat bangunan megah. Tetapi seperti biji sesawi dan ragi, Kerajaan Allah itu tak tampak namun berdaya ubah, berdaya kembang, dan selalu bertumbuh. Kerajaan Allah mampu menembus setiap tempat yang paling sempit sekalipun, mendorongnya keluar, dan menghancurkan penghalang-penghalang yang ada. Kita selalu berdoa supaya hidup kita dikuasai oleh Allah sendiri. Kita yang dikuasai oleh Allah sudah semestinya menjadi pribadi yang berlimpah sukacita dan kebahagiaan. Sukacita dan kebahagiaan itu lah yang bisa membawa daya ubah, daya kembang, dan daya tumbuh. Kerajaan Allah tidak jauh dari kita. Hanya saja apakah kita mau terbuka atau tidak untuk tumbuh kembangnya kasih Allah dalam diri kita itu. Kita diajak untuk tetap berdaya ubah meskipun tak tampak. Kita dipanggil untuk tetap berdaya buah meskipun tidak ada orang yang melihat dan memuji. Kita dipanggil untuk tetap berdaya tahan meskipun ada banyak kekecewaan dan kesedihan, kemalangan dan penderitaan. Semoga Allah sendiri menguatkan dan meneguhkan kita. Doa: Ya Tuhan, semoga aku mampu bertumbuh sebagai orang yang dewasa dalam iman dan kasih. Amin.  

Renungan Harian, Selasa Biasa XXX Read More »

Renungan Harian, Senin Biasa XXX

Pesta St. Simon dan Yudas, Rasul Bacaan: Lukas 6:12-19 Yesus memanggil kedua belas rasul 6:12 Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. 6:13 Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: 6:14 Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, 6:15 Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, 6:16 Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat. Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang 6:17 Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. 6:18 Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. 6:19 Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya.   Renungan Rasul Masa Kini Dalam pesta rasuli hari ini, kita dihantar dalam permenungan dari injil Lukas. Lukas memberi kisah kepada kita bagaimana proses Yesus memilih para rasul. Perikopa hari ini juga bisa dikatakan sebagai ringkasan dari seluruh karya Yesus. Dia selalu bersukutu dengan Bapa dengan selalu berdoa, Dia juga bekerja bersama para rasul, dan karya-Nya adalah mewartakan kabar gembira kerajaan Allah. Maka para rasul pun juga sebagai perpanjangan tangan Yesus untuk melanjutkan misi-Nya. Simon dan Yudas adalah salah dua dari dua belas rasul. Mereka dipanggil bersama dengan rasul yang lain. Tugasnya sama dengan semua rasul. Maka mereka adalah bagian dari perutusan Yesus sendiri. Mereka diutus untuk seperti yang dikerjakan oleh Yesus: mewartakan kabar gembira, menyembuhkan yang sakit, mengusir roh jahat, dan berskutu dengan Allah sendiri. Mereka juga diberi kuasa oleh Yesus sendiri. Maka sejauh mereka sejalan dengan Yesus, mereka mewarisi kuasa Yesus. Dua belas rasul sudah tidak ada saat ini. Namun demikian, kabar gembira Kristus tetap relevan hingga kapanpun. Orang-orang yang sudah dibaptis mempunyai panggilan seperti para rasul. Kita adalah orang-orang itu. Maka hidup kita sudah semestinya adalah hidup yang rasuli, yakni menjadi pewarta Kerejaan Allah. Seperti para rasul, kita pun juga mempunyai kuasa seperti yang diberikan kepada mereka: menjadi pewarta dan penyembuh. Kita menjadi agen kabar gembira, menyembuhkan luka-luka manusia karena dosa. Tugas rasul masa ini tetap sama dengan Simon dan Yudas serta rasul lainnya. Tugas yang sama perlu dijalankan dengan cara yang baru, sesuai konteks hidup kita. Menjadi penyembuh, pendamai, dan pengampun adalah panggilan kita sebagai rasul masa kini. Maka mari kita selalu menyadari tugas itu. Sampai tetes darah terakhir, semoga kita tetap setia menjadi rasul Kristus. Doa: Ya Tuhan, semoga karya kerasulan Gereja-Mu senantiasa membawa kesembuhan dan keselamatan. Amin.  

Renungan Harian, Senin Biasa XXX Read More »

Renungan Harian, Kamis Biasa XXIX

Bacaan: Lukas 12:49-53 Yesus membawa pemisahan 12:49 “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! 12:50 Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! 12:51 Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. 12:52 Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. 12:53 Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”   Renungan Konteks luas dari perikopa ini adalah bagian pengajaran Yesus kepada para murid. Pola Lukas dalam menuliskan injilnya: pengajaran – perumpamaan – pengajaran – perumpamaan. Perikopa sebelumnya berbicara tentang kewaspadaan. Kapan waktu kedatangan-Nya, tidak ada yang tahu. Maka kita dipanggil untuk selalu siap dan waspada. Perikopa sesudah ini adalah tentang menilai zaman. Yesus mengajar pada murid untuk melihat dan menilai zaman dengan mata batin. Tidak mudah untuk mengerti dan mengikuti Yesus. Sering ada pengajaran yang bertolak berlakang dengan tradisi yang ada. Bahkan kadang terkesan bertentangan dengan hukum yang berlaku. Maka ada banyak orang yang berusaha untuk menyingkirkan Yesus. Meski banyak orang senang sebenarnya, tetapi kemudian seperti membenci karena tidak begitu saja mudah mengikuti-Nya. Dan sering kali ‘kenyamanan’ yang selama ini sudah didapat justru seperti dihancurkan ketika mengikuti Yesus. Sementara kita sering kali hanya senang dengan hal-hal yang menyamankan diri sendiri. Hal seperti itu lah yang hari ini Yesus katakan “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” Ada begitu banyak orang yang tidak mudah untuk menerima yang benar, yang jujur, yang adil, da semua yang diajarkan oleh Yesus. Maka bagi mereka Yesus menjadi ancaman dan kehancuran. Bahkan dalam satu kelompok atau keluarga, ada yang menerima Yesus tetapi ada pula yang menolaknya. Disanalah pertentangan itu menjadi actual dan nyata. Jika kita renungkan lebih dalam, perikopa hari ini justru sebenarnya menantang iman kita, apakah kita sungguh mau berkomitmen atau tidak. Jika hanya setengah-setengah, bisa jadi justru kita menjadi agen perpecahan itu sendiri, bukan hanya dengan orang lain, tetapi dengan diri kita sendiri terjadi perpecahan pribadi. Kita sudah ikut dibaptis bersama Yesus, mati dan bangkit bersama-Nya. Dalam hidup saat ini, kita dipanggil untuk selalu bangkit dalam nama-Nya. Apakah kita berani membawa kebenaran dan cinta kasih seperti yang Yesus ajarkan kepada kita?? Jalan Kristus adalah jalan kita. Doa: Ya Tuhan, semoga komitmen ku semakin teguh dan kokoh kuat untuk mengikuti Engkau. Bagi-Mu aku hidup, bagi-Mu aku mati. Amin.  

Renungan Harian, Kamis Biasa XXIX Read More »

Renungan Harian, Rabu Biasa XXIX

Bacaan: Lukas 12:39-48 12:39 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. 12:40 Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.” 12:41 Kata Petrus: “Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?” 12:42 Jawab Tuhan: “Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? 12:43 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. 12:44 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. 12:45 Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, 12:46 maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. 12:47 Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. 12:48 Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”   Renungan Hidup yang bertanggung jawab Konteks luas dari perikopa ini masih dalam pengajaran Yesus tentang kewaspadaan. Menjadi orang yang selalu waspada itu bukan hal yang baru. Dimanapun dan kapanpun kita perlu waspada. Waspada dalam arti seluruh indra dalam diri kita menjadi efektif dan peka, terlebih waspada akan godaan yang jahat. Yang jahat selalu bisa datang kapan saja dan dimana saja. Apakah kita mau mengikutinya atau tidak, tergantung bagaimana diri kita mengambil keputusan. Maka kita perlu selalu melatih kesadaran seluruh indra, terlebih kesadaran batin. Melanjutkan permenungan itu, Yesus dalam perikopa ini masih melanjutkan pengajaran kepada para murid. Kewaspadaan masih menjadi tema besar yang Yesus ajarkan. Singkatnya, apapun yang datang dari luar tidak akan mengganggu hidup jika selalu mempunyai kesadaran diri, yakni waspada. Jam berapapun tuan rumah datang, tidak pernah menjadi soal bagi kita, karena kita selalu siap dan terjaga. Maka mengisi diri sendiri terus menerus dengan yang baik dan benar adalah jalan yang pas dan tepat. Memaknai pengajaran hari ini, kita bisa meringkasnya bahwa hidup yang waspada itu berarti hidup yang bertanggung jawab. Pertama-tama kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri. Jika bukan saya pribadi yang menjaganya, mau siapa lagi. Bertanggung jawab berarti mengembangkan segalanya menjadi lebih efektif dan berdaya guna. Kita bisa menjadi berdaya guna yang efektif jika dengan kontinyu mengisi hidup kita dengan daya yang ilahi. Tanpa itu, daya manusiawi mudah masuk dalam godaan yang besar. Kita sudah dipercaya banyak, sudah diberi banyak. Pada saatnya kita harus mempertanggungjawabkan itu dihadapan Dia yang memberi segalanya. Maka semoga kita menjadi penjaga ‘rumah’ yang baik, yang lebih kuat dari pada yang di luar ‘rumah’. Kita mohon kekuatan dari pada-Nya agar selalu terjaga dengan gagah perkasa. Doa: Ya Tuhan, semoga kurnia yang kudapat mampu kujaga dan kukembangkan dalam seluruh panggilan hidupku. Amin.  

Renungan Harian, Rabu Biasa XXIX Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top