Ngisonando – Dalam rangka bina lanjut dan pengembangan diri, team Bina lanjut FKPR (Forum Komunikasi Pemimpin Religius) Sumatera Bagian Selatan, mengadakan workshop di rumah kalwat Ngisonando. Workshop ini diadakan mulai Jumat (30/8), hingga Minggu (1/9).

Pada tahun ini, workshop bina lanjut FKPR ini mengangkat tema tentang “Truly and Fully Happy”. Biarawan-biarawati yang hadir dalam workshop ini berasal dari beberapa tarekat yang ada di Propinsi Gerejawi Palembang (KA Palembang, K. Tanjungkarang, dan K. Pangkalpinang). Beberapa yang hadir antara lain dari kongregasi Bruder FIC, kongregasi Suster FCh, kongregasi suster FSGM, kongregasi suster SJD, kongregasi suster HK, kongregasi suster KKS, dan kongregasi imam-imam SCJ.

Biarawan-biarawati Sumatera Bagian Selatan mengikuti workshop bina lanjut FKPR di rumah kalwat Ngisonando, 30/8 – 1/9 2019

8 Sabda Bahagia

Sebagai dasar permenungan, rm V. Teja Antara SCJ mengajak seluruh peserta untuk mendalami delapan sabda bahagia sebagai pondasi memahai tentang sukacita yang mendalam. Sumber utama kebagahagian itu adalah Allah sendiri. Yesus memberikan delapan sabda bahagia sebagai pengajaran kepada para rasul untuk menjadi orang yang terberkati. Orang yang berbahagia menjadi ukuran tentang orang yang terberkati, orang yang berbahagia. Itulah yang menjadi jalan kekudusan. Rm Teja juga mengajak peserta untuk memperdalam surat apostolik paus Fransiskus, G.audete et Exultate. Menurut rm Teja, paus Fransiskus mempu menafsirkan delapan sabda bahagia dengan sangat jelas dan sederhana dan mudah diterapkan dalam hidup harian. Kekudusan bukan perkara yang jauh dari hidup kita. Apa yang kita kerjakan dan alami setiap hari adalah yang menjadi cara kita menjadi kudus.

Team Bina Lanjut FKPR

Wokshop bina lanjut ini dilaksanan dengan metode kuliah, dialog, diskusi, sharing, refleksi dan dibarengi dengan gerak lagu sebagai animasi ice breaking. Hadir sebagai pembicara rm Teja Antara SCJ, Sr. M Levita FSGM, rm Yoh. Rasul Susanto SCJ. Team lain yang hadir yakni sr. Winanda HK, sr. Yulisa FCh.

La Vita e Bella

Malam hari pada hari pertama, seluruh peserta diajak untuk melihat dan merenungkan film klasik berjudul la Bella e Vita (The Beautiful of Life). Berdurasi lebih dari 120 menit, seluruh peserta diajak untuk melihat bahwa hidup yang indah itu bukan pertama-tama selalu yang menyenangkan. Moment-moment beratpun bisa menjadi sumber hidup yang membahagiakan. Dalam keadaan yang tidak ideal, kitapun diajak untuk menghadirkan suasana indah dan sukacita. Hidup yang indah bukan pertama-tama soal tidak adanya penderitaan. Hidup yang indah terjadi ketika setiap moment dihidupi dengan sukacita, membuat orang lain selalu memiliki harapan dan sukacita.

Hari ke dua

Sesi pertama hari kedua diisi dengan melihat dalam perspektif psikologis beberapa aspek hidup yang fully and truly happy. Sesi ini disampaikan oleh sr M. Levita FSGM. Dalam pemaparannya, sr Levita mengungkapkan beberapa hal yang bisa membuat hidup tidak integral, diantaranya adanya kecenderungan compulsive giving dan poor self image. Hidup dalam komunitas menjadi tidak seimbang ketika kedua kecenderungan ini menjadi dominan dalam setiap diri anggota komunitas. Apa yang dilakukan, meskipun terlihat baik dan kudus, pada akhirnya akan menjadi masalah baik bagi diri sendiri maupun sebagai komunitas. Misalnya ada anggota komunitas yang mempunyai kebutuhan untuk memberi. Barang-barang kecil dalam komunitas akan menjadi habis ketika ada anggota komunitas yang mempunyai kebutuhan ini. Hidup berkomunitas akan menjadi tidak seimbang.

Dalam perkembangnnya, setiap manusia juga mempunyai kecenderungan co-dependency. Ini merupakan bentuk keterikatan yang bisa membuat seseorang tidak bisa lepas bebas dan meredeka. Ini menjadi bahaya ketika seorang biarawan-biarwati tidak menyadari kencederungan ini. Kelekatan itu bisa membuat tidak integrasinya diri sendiri, sehingga selalu mempunyai masalah dari masa muda hingga masa tua. Dalam rangka menyadari itu, sr Levita mengajak semua peserta untuk selalu sadar diri dimana letak kebahagiaan setiap pribadi.

Setelah turun minum, seluruh peserta diajak untuk masuk dalam dinamika sharing dalam kelompok kecil. Tema utama bahan sharing ini tentang pengalaman sukacita dalam hidup. Ada banyak moment yang membuat kita sukacita, ada juga pemicu-pemicu yang membuat bahagia itu. Kitapun perlu untuk selalu mengusahakan menemukan cara-cara supaya saya tetap mampu bersukacita secara penuh.

Sesi kedua hari ini diisi dengan how to be truly and fully happy person. Sesi ini dibawakan oleh rm Yoh. Rasul Susanto SCJ. Pertama-tama rm Santo mengajak semua peserta untuk mempunyai sudut pandang yang sama tentang kebahagiaan. Menurutnya, kebahagiaan itu bukan soal tidak adanya masalah dalam diri setiap orang, tetapi tentang kehadiran Allah. Enam point utama yang disampaikan adalah happiness is a choice; katakan tidak pada hal-hal negative; keep having positive relationship; bertekun dalam passion diri; merayakan small winning; meditasikan hal-hal positif.

Menjadi sungguh bahagia dan mencapai kebahagiaan penuh pertama-tama soal pilihan. Saya mau bagiamana dan seperti apa tergantung dari pilihan-pilihan yang saya lakukan setiap saat. Mulai dari lagu, hobi, film, dan apapun yang kita piliha akan mempengaruhi perasaan kita. Menjadi bahagia berarti salah satu jalannya adalah memilih yang membuat suasana bahagia dan penuh harapan. Puncak tertinggi dari hidup membiara menurut rm Santo adalah self giving. Pemberian diri menjadi kekuatan utama untuk seorang religious mampu hidup secara penuh. Tidak mudah dan tidak pernah instan. Seluruh pilihan diri ikut menentukan arah itu.

Dalam perjalanan hidup, menurut rm Santo, kita juga perlu untuk memberi ‘hadiah-hadiah’ kecil pada diri sendiri atas perjuangan-perjuangan yang pernah dilakukan. Memanfaatkan hobi juga bisa menjadi cara untuk menyeimbangkan diri. Namun demikian, hal-hal itu menjadi ‘selingan’ hidup yang membuat semakin penuh kebahagiaan diri, bukan yang menggantikan panggilan utama. Maka pesannya adalah jangan pernah menganggap tidak perlu untuk memuji diri sendiri, atau juga memberi hadiah untuk diri sendiri.

Dalam segalanya, ‘Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera’ (1 kor 7:15).

Delapan tanda bahagia

  1. Jiwa: memiliki sikap syukur dan sukacita
  2. Hati: merasakan kepercayaan memadai
  3. Budi: kreatif dan lebih focus pada sini kini
  4. Telinga: mampu dan mau mendengarkan
  5. Mulut: murah senyum, bicara positif dan memiliki nafsu makan yang baik
  6. Mata: bisa diajak tidur nyanyak
  7. Tangan: memiliki banyak sahabat yang bahagia
  8. Kaki: mempunyai semangat bekerja yang stabil
Biarawan-biarawati Sumatera Bagian Selatan mengikuti workshop bina lanjut FKPR di rumah kalwat Ngisonando, 30/8 – 1/9 2019

Hari ke tiga

Hari ke tiga workshop bina lanjut FKPR lebih banyak diisi untuk mengaktualisasikan truly and fully happy dalam masing-masing kelompok. Dibagi dalam lima kelompok, semua peserta diajak untuk membuat sebuah aksi yang menggambarkan sukacita dan kebahagiaan.

Selain itu, setiap peserta diundang untuk membuat sebuah resolusi pribadi tentang menjadi pribadi yang sepenuhnya bersukacita. Ditulis dalam sebuah kartu, resolusi-resolusi pribadi itu dipersembakan dalam perayaan ekaristi yang merangkum seluruh rangkaian workshop ini. Pada akhirnya diharapkan bahwa apa saja yang didapatkan dalam pertemuan ini bisa dibawa pulang dan menjadi usaha baru bagi setiap peserta untuk hidup dalam gaudete et exultate pada karya dan tugas masing-masing.

 

Penulis: mrjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *