Radio Suara Wajar

Renungan Harian, Sabtu Biasa XXVI

Bacaan: Lukas 10:17-24 Kembalinya ketujuh puluh murid 10:17 Kemudian ketujuh puluh murid itu g  kembali dengan gembira dan berkata: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu. h ” 10:18 Lalu kata Yesus kepada mereka: “Aku melihat Iblis i  jatuh seperti kilat dari langit. j  10:19 Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular k  dan kalajengking 1  dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. 10:20 Namun demikian janganlah bersukacita 2  karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga. l ” Ucapan syukur dan bahagia 10:21 Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil 3 . m  Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. 10:22 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku n  dan tidak ada seorangpun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu. o ” 10:23 Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. 10:24 Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. p ”   Renungan Dari Injil hari ini, kita bisa belajar untuk mendapat sukacita yang penuh. Sukacita bukan karena hal-hal hebat yang sudah kita lakukan dengan sukses, tetapi lebih dari itu sukacita yang penuh itu dikarenakan nama kita sudah tercata di surga. Tercatat di surga karena kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Kebaikan yang kita lakukan berbuah sukacita, keselamatan, dan kebahagiaan. Itu lah yang lebih kita pentingkan dan kita perjuangan. Artinya, selama hidup kita selalu berjuang untuk mengusahakan kebaikan dan keutamaan dalam hidup. Jika Allah yang selalu hadir dalam hidup kita, maka kuasa jahat dan kejahatan akan menjauh dari kita. Kuasa-kuasa yang lain akan menjauh jika kuasa Allah meliputi dan menguasai hidup kita. Itu lah sukacita yang jauh lebih besar yang bisa kita rasakan. Kedua kita bisa belajar untuk selalu bersyukur. Seperti Yesus yang bersyukur, kita pun juga dipanggil untuk senantiasa bersyukur karena Allah yang senantiasa menyelenggarakan hidup kita. Setiap hari kita menjalaninya, tetapi sering kali kita tidak sadar dan tidak mensyukurinya. Seandainya kita bernafas harus berpikir dulu, bisa kita bayangkan betapa lelahnya kita. Padahal kita harus bernafas setiap saat dan setiap tempat. Bahkan ketika tidur, kita pun selalu bernafas. Maka hanya syukur yang harusnya kita lakukan. Syukur itu diwujudkan dalam tindakan kebaikan yang setiap hari kita lakukan. Hanya kebaikan kecilpun itu bisa mempunyai makna yang mendalam. Maka, jangan alergi untuk melakukan tindakan kebaikan sekecil apapun. Jangan pernah merasa rugi dengan melakukan tindakan yang baik. Tuhan sendiri yang memberi perhatian kepada kita. Ketiga kita bisa belajar untuk senanitasa melihat dengan kejernihan mata batin. Bersyukur bagi yang kedua indra penglihatannya masih normal dan sehat. Artinya kita bisa melihat apapun dengan baik dan jelas. Masih ada penglihatan yang perlu selalu kita jaga kejernihannya, yakni kejernihan mata batin. Untuk menjaga itu kita perlu selalu waspada dan melatih selalu melihat kebaikan dan harapan. Kita bersyukur boleh melihat rahmat keselamatan dalam iman yang kita terima. Maka mari kita jaga terus kejernihan mata batin kita dengan mendengarkan dan melihat Allah yang selalu hadir dalam hidup kita. Hal sederhana yang selalu bisa kita lakukan: mencintai keluarga dalam perkara-perkara sepele setiap hari. Doa: Ya Tuhan, semoga aku selalu mampu menggunakan seluruh indera dalam hidupku untuk kebaikan, dengan baik, dan dalam kebaikan. Amin.  

Renungan Harian, Sabtu Biasa XXVI Read More »

Renungan Harian, Jumat Biasa XXVI

St Fransiskus Asisi Bacaan: Luk 10:13-16 Yesus mengecam beberapa kota 10:13 “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. 10:14 Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. 10:15 Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! 10:16 Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”   Renungan Setiap saat kita mengalami banyak peristiwa. Dari peristiwa yang ada, kita hanya mampu memilih beberapa saja yang bisa kita lakukan, sesuai kapasitas dan kemampuan kita. Sering kali peristiwa yang kita pilih adalah yang sesuai dengan minat dan keinginan pribadi. Sakit adalah peristiwa yang bisa saja kita alami, padahal kita tidak menginginkannya. Tetapi toh itu terjadi. Ada peristiwa yang mampu kita kendalikan, tetapi ada begitu banyak peristiwa yang diluar jangakauan dan kemampuan kita. Berhadapan dengan banyak peristiwa yang terjadi, tidak jarang orang menjadi stress dan seperti tidak tahu apa yang akan dibuat. Kepentingan yang bersangkutan dengan pribadi yang harusnya menjadi focus, justru menjadi kacau semuanya. Memang ada banyak kejadian yang menarik perhatian, tetapi kita harus tetap mengambil satu yang sudah menjadi panggilan kita masing-masing. Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa menghadapi berbagai macam peristiwa atau fenomena hidup yang hadir di depan kita? Satu kata kunci yang bisa kita pegang adalah senantiasa bersyukur. Yesus mengecam beberap kota dalam Injil hari ini bisa jadi karena mereka tidak mampu bersyukur. Sudah ada banyak peristiwa yang harusnya menjadi bahan permenungan dan pembelajaran, tetapi mereka tidak mau. Sudah ada banyak berkat yang sudah mereka terima, tetapi justru mereka memilih yang lain. Ada banyak tanda-tanda kehadiran Allah dalam hiduo mereka, tetapi diabaikan, bahkan mencari tanda yang lain. Jangan sampai kita menjadi celaka hanya karena keteledoran sendiri. Jangan sampai kita dikatakan ‘celaka’ karena memilih yang salah. Apa yang ada pada kita, itulah yang kita nikmati, syukuri, dan hidupi. Karena hanya dengan demikian kita sungguh mampu selalu sadar diri dan melihat hidup kita dengan baik. Doa: Ya Tuhan, semoga aku selalu mampu mensyukuri nikmar karunia-Mu dalam semua peristiwa hidupku. Amin.  

Renungan Harian, Jumat Biasa XXVI Read More »

Renungan Harian, Kamis Biasa XXVI

Bacaan: Lukas 10:1-12 Yesus mengutus tujuh puluh murid 10:1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. 10:2 Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. 10:3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. 10:4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan. 10:5 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. 10:6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. 10:7 Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. 10:8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, 10:9 dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. 10:10 Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: 10:11 Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. 10:12 Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.” Renungan Membangun Komunitas Perikopa hari ini berkisah tentang Yesus yang mengutus para murid pergi berdua-dua. Mereka tidak diutus untuk pergi satu demi satu, tetapi berdua-dua. Kiranya Yesus mengajak para murid untuk selalu membangun hidup berkomunitas di dalam seluruh karya mereka. Tugas utama perutusan mereka adalah mewartakan kerajaan Allah. Dengan membangun komunitas, Yesus mengajak para murid untuk meyadari bahwa memang seluruh perutusan mereka berasal dan kembali kepada komunitas. Yesus pun juga tinggal dalam komunitas, yakni komunitas cinta kasih Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Maka panggilan untuk membangun komunitas dan hidup sebagai komunitas adalah panggilan kita semua. Dengan hidup sebagai komunitas, Yesus menghendaki juga para murid mampu saling mengingatkan. Jika ada yang keluar dari tugas utama perutusan, masih ada orang yang mau mengingatkan dan mengajak kembali kepada tugas utama mereka. Jika menemui kesulitan, merekapun bisa saling membantu dan menemukan solusi bersama. Jika bersedih, mereka tidak sendirian, tetapi ditanggung bersama. Demikian juga ketika dalam kegembiraan. Komunitas menjadi ciri khas dari komunitas murid-murid Yesus. Kita selalu hidup bersama dengan orang lain. Dalam keluarga pun sebenarnya masing-masing orang berdiri sendiri. Maka kesadaran akan hidup komunitas itu menjadi penting untuk membawa semua anggotanya kepada keselamatan dan kesejahteraan. Tugas utama kita adalah sama, yakni mewartakan Kerajaan Allah dalam kesaksian hidup kita masing-masing. Jika ini menjadi kesadaran yang terus menerus, maka keluarga dan komunitas kita menjadi para rasul di jaman ini. Doa: Ya Tuhan, semoga kami mampu mengalahkan ego sendiri untuk mampu hidup bersama yang lain. Amin.  

Renungan Harian, Kamis Biasa XXVI Read More »

Renungan Harian, Rabu Biasa XXVI

PW Malaikat Pelindung Bacaan: Matius 18:1-5.10 Siapa yang terbesar dalam Kerajaan Sorga 18:1 Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” 18:2 Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka 18:3 lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 18:4 Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. 18:5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.” 18:10 Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.   Renungan Hari-hari ini permenungan dalam Injil selalu menampilkan tentang perdebatan siapa yang terbesar. Para murid berdiskusi siapa diantara mereka yang terbesar dan terdepan. Nampaknya bagi mereka yang terbesar atau yang terdepan berarti yang terhebat atau yang terbaik. Pandangan para murid menjadi gambaran pandangan dari banyak orang, termasuk kita. Bisa jadi kita juga memikirkan hal yang sama. Dan begitulah yang menjadi pikiran normal banyak orang. Yang terbesar adalah mereka yang terkemuka, yang terkenal, yang mempunyai jabatan tinggi dan dihormati banyak orang. Maka tidak sedikit juga yang berusaha untuk mencapai kebesaran itu. Kita sebagai murid Kristus diajak untuk mempunyai pandangan dan pengertian yang berbeda. Boleh saja menjadi orang yang besar dengan jabatan yang tinggi. Tetapi setiap orang Katolik diajak untuk melampaui pengertian yang seperti itu. Persis seperti perikopa hari ini, kita diajak untuk mengerti bahwa justru kebalikan dari pandangan duniawi, yang terbesar adalah mereka yang berani merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil. Pandangan yang sepenuhnya berkebalikan. Apakah kita mudah menerima? Bisa jadi kitapun tidak sependapat. Jika masih demikian, kita diajak untuk terus belajar mendengarkan apa yang dikatakan Kitab Suci. Memang tidak mudah dan tidak lazim. Tetapi apakah kita mau terus menerus mempunyai pengertian dan hidup yang tidak tepat? Seperti seorang anak kecil, mari kita terus menerus belajar untuk menjadi dewasa dalam iman dan pengharapan. Seorang anak kecil digambarkan sebagai yang lemah dan polos. Tetapi justru manusia yang seperti itulah yang mempunya perlindungan dari para malaikat. Malaikat menjadi makhluk Allah yang menjaga dan melindungi mereka. Usaha dan perjuangan kitapun juga akan mendapat pendampingan dan penyertaan para malaikat. Dengannya jalan hidup kita akan dituntutn dan diarahkan, sejauh kita mau dan percaya. Doa: Ya Tuhan, ajarilah aku untuk selalu menjadi manusia yang tulus dan iklas dalam seluruh hidupku. Amin.  

Renungan Harian, Rabu Biasa XXVI Read More »

Keuskupan Tanjungkarang

keuskupantanjungkarang.org adalah website resmi Keuskupan Tanjungkarang yang dikelola langsung oleh Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Tanjungkarang

Kritik, usul, dan saran dapat menghubungi kami melalui komsosktjk18@gmail.com

Lokasi Kantor Keuskupan Tanjungkarang

© 2018-2024 Komsos Tanjungkarang | Designed by Norbertus Marcell

Scroll to Top